Sunset Yang Tenggelam*

Walaupun sebenarnya belum pernah ada yang bertanya pada saya “Di manakah sunset terbaik yang pernah kau lihat?”, saya yakin akan menjawabnya dengan garukan di kepala. Bukannya bingung karena semua sunset menurut saya sama indahnya. Sebaliknya, menurut saya sunset itu di mana-mana sama.

Benda bundar yang bersinar jingga, bayangkan sunset ideal di mana awan tidak menutupi surya, perlahan terbenam di cakrawala. Dan bertepatan dengan hilangnya matahari, suara azan menggema. Standar. Di mana-mana begitu. Lantas apa yang bikin beda?

Baru sekitar dua minggu yang lalu saya main ke Pantai Siung di kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Dibutuhkan waktu dua-tiga jam untuk mencapai pantai ini dari Yogyakarta. Jalanannya mulus walaupun belokannya seringkali membuat jantung pengendara motor atau mobil dagdigdug. “Habis tanjakan ini belok kiri apa kanan, ya?”

Pantai itu terkenal di kalangan pemanjat karena memiliki sederetan tebing batugamping yang pernah menjadi wahana pertandingan panjat tebing internasional beberapa tahun silam. Para pemanjat tebing perlu berterimakasih pada gaya endogen yang telah menyebabkan Gunung Kidul terangkat dari kedalaman sekitar 200 meter berjuta-juta tahun silam.

Biasanya para pemanjat tiba di sana sabtu sore, baru kemudian memanjat seharian pada hari minggu. Lalu sepanjang sabtu sore dan malam minggu ngapain saja? Malam minggu tentu saja semua berkumpul mengelilingi api unggun sambil bernyanyi diiringi petikan gitar dan menikmati apapun yang bisa dimakan. Sabtu sorenya… tentu saja menikmati sunset.

Ada sebuah bukit di sisi timur yang biasa dipakai orang-orang untuk menonton surya tenggelam. Sabtu itu saya dan kawan-kawan memanjat bukit kecil itu, foto-foto, kemudian duduk sambil mengobrol-ngobrol akrab dan tertawa-tawa kecil sambil menunggu matahari kembali ke peraduan. “Di mana-mana matahari terbenam sama saja,” saya berkata. “Di Padang matahari juga bundar dan horizonnya juga sama lurus persis di sini.”

Suatu ketika di tahun 2008 saya naik Gunung Merapi bersama tiga orang kawan dengan tenda dome berwarna hijau pinjaman dari seorang kawan cewek. FYI sebenarnya pakaian dan sesuatu yang berwarna hijau merupakan pantangan di Merapi. Rucksack yang bocor bawahnya serta tenda berwarna hijau menyala tidak menghalangi saya untuk sengaja berlama-lama di pelukan Merapi. Berangkat jumat tengah malam, sabtu sore kami baru tiba di Selokopong atas. Tepat ketika matahari terbenam kami tiba di Pasar Bubrah.

Matahari yang terbenam dari ketinggian sekitar 2600 mdpl di dekat puncak sebuah gunung tak lebih dari sekedar semburat jingga yang jika boleh saya bilang, “Nggak ada indah-indahnya sama sekali. Sama saja seperti matahari terbenam dilihat dari kamar kos.” Tapi saat itu saya sedang bersama kawan-kawan naik gunung. Tidak berlama-lama di luar, kami langsung mendirikan tenda dan mulai memasak sambil bercengkrama. Menertawakan jempol si Bayu yang hampir putus gara-gara khilaf ketika memotek batangan coklat hitam menggunakan pisau-set milik saya.

Kembali ke masa-masa ketika SMA. Saya tergolong siswa yang rajin mencari kesempatan untuk bisa bebas dari kegiatan belajar mengajar, termasuk les tambahan di luar. Suatu hari, seperti banyak hari-hari lain, saya dan dua orang kawan yang sudah seperti saudara memilih untuk bolos daripada les kimia. Dengan kijang kapsul merah marun si Iip yang sebenarnya dipinjam dari ayahnya untuk keperluan pendidikan, kami menghabiskan sore dan malam hari di pantai. Yang populer di kalangan anak muda sebagai taplau (tapi lauik).

Sunset-nya sama saja. Tapi sore dan malam itu kami habiskan dengan bercerita. Tentang segala macam hal mulai dari gosip terkini di sekolah, politik ecek-ecek, filsafat ecek-ecek, sepakbola, tentunya sambil basbus rokok sampoerna mild. Sekarang setelah kami berpencar dan semua sibuk menyelesaikan kuliah atau memulai karirnya setelah tiga tahun kuliah di PTK, momen-momen seperti itulah yang saya rindukan.

Kau melewatkannya dengan para sahabat tercinta, atau kau melihat sunset sambil berkelakar di sebuah pulau (dan duduk-duduk di samping artis yang sedang bekerja) yang berjarak seribu kilometer dari kamar kosmu dan kau capai dengan menggunakan motor, atau justru kau hanya melihatnya sendirian setelah sorenya diputuskan pacarmu… momen-momen itulah yang sebenarnya berarti. Karena di mana-mana sunset itu sama saja.[]

*) Judul diambil dari sepotong lirik lagu “Sunset” – Steven & Coconut Treez

42 pemikiran pada “Sunset Yang Tenggelam*

  1. dimanapun tempatnya sunset selalu indah untuk dipandang, itulah ciptaan Tuhan yang Kuasa, Ia menciptakan sesuatu yang indah untuk dinikmati umatNya agar bisa mensyukuri segala yg diciptakanNya.

    sorry ya kepanjangan…..
    petualangan kamu banyak sekali ya, dari semua tulisanmu. sungguhnya menyenangkan menjadi dirimu, bebas mau kemana aja sepertinya.

  2. Hehehe bener gan, sebenarnya yang lebih berkesan itu memang suasana yang melingkupi kita. Kenapa sunset menjadi lebih “redup” dan “syahdu” ketika jauh dari hectic Jakarta ya karena memang ada semacam rasa syukur kita bisa terbebas dari semrawutnya Ibukota.

    Sampai sekarang sih sunset terbaik masih di Santolo. Mungkin karena masih jarang yang dengar, padahal pantainya bagus. Jadi kayak ada semacam WAW tersendiri menikmati deburan ombak ditemani mentari yang tenggelam di sana.

  3. qe3 mangtaps banget deskripsi liak-liuk jejalanan di Gunung Kidul, “Habis tanjakan ini belok kiri apa kanan, ya?”

    Dah lama ndak jelajah kawasan karst itu😀

    Salam gunung dari Kebayoran, tabik cadas dari Jogja🙂

  4. @tary sonora: panjang2 gpp kok. justru lebih baik.:mrgreen:
    saya sih cuma nyoba menikmati kehidupan mahasiswa, yang masih bebas.. kalo harus nunggu sampe bebas dari ortu secara finansial keknya kelamaan. bisa-bisa bungkuk duluan sebelum bisa jalan kemana-mana.:mrgreen:

    @dhodie: Santolo yang pantai landai, backgroundnya gunung itu ya, masbro? keren tuh… saya sempat baca bebarapa tulisan soal Santolo, keknya menarik tuh lihat sunset di sana.😀

    @inung gunarba: pengalaman paling mendebarkan tuh waktu saya pertama kali ke Pantai Sundak, mas. awal tahun 2007 lalu. jadi pas pulangnya saya lewat jalan besar, bukan lewat jalan kecil Semanu.

    di suatu ruas jalan ada tanjakan. kami kira tanjakannya bakal panjang, tau-tau udah abis aja dan langsung menggol jalannya. untung aja selamat.:mrgreen:

  5. Ah masa sih sunset di mana-mana sama Shige? Matahari tenggelam itu indah ketika hati kita terbuka untuk bersyukur dan benar-benar menikmati keindahannya. Sunset di pantai Kuta tak terlupakan, tapi memang di ujung desa di tengah hamparan sawah sunsetny juga wow… Yang satu perlu ongkos dan waktu, satunya cukup jalan kaki beda tempat tapi Ahhamdulillah rasa syukur dan kagum padaNya sama.
    Ayo Shige lebih menikmati keindahan matahari tenggelam dong< kurang romantis ni tampaknya dari jendelakatatiti.wordpress.com

  6. Setujuuu…

    sunset itu selalu sama dimanapun kita berada. Yang membuat beda adalah suasana saat kita menikmati sunset tersebut. Apakah saat memandang berdua dengan orang terkasih, atau saat hati gundah, atau saat melihat sunset dan memutar kembali semua kenangan dengan sang matahari.

    Ah Shige, kamu jadi mengingatkan saya dengan seseorang🙂

  7. hmm, shige benar.. jangan tunggu harus menikmati sunset di pantai Kuta.. bahkan lewat jendela kamar kost pun sunset bisa dinikmati.

    **momen-nya yang ngga tahan, ‘setelah sorenya diputuskan pacar..’ pedih banget shige..:mrgreen:

  8. @jendelakatatiti: bukannya kurang menikmati sih, cuma mau bilang kalo waktu melihat sunset itu, sebenernya, bukan sunsetnya yang kita nikmati. suasananya.:mrgreen:

    @areeavicenna: hayoo imajinasinya apaan?:mrgreen:

    @sauskecap: yoa. mendaki gunung lewati lembah dulu.:mrgreen:

    @merrygoround: siapa tuh?:mrgreen:

    @nakjadimande: yoi, bundo. dari kamar kos pun juga bisa menikmati sunset kok…:mrgreen:

    @zephyr.us: di jawa tengah dan sekitarnya sekarang dah mulai kering kok. udah bisa nanjak nih keknya.:mrgreen:

    yep, ditelan akismet. saya juga nggak ngerti kenapa.:mrgreen:

  9. Jadi yang menentukan indah nggaknya sunset adalah suasana hati. Palagi kalo dingin-dingin sabil ngopi dan ada yang menemani spesial gitu”. Ahhhhhhh……indahnya.

  10. @aulia: trims ya.:mrgreen: pantai sepanjang, saya belum pernah ke sana tuh. bikin reviewnya dong di blog?😀

    @iron3001::mrgreen: sepenggal cerita dari sma, wan.😀

    @masnur::mrgreen: bener juga sih, masbro. wedew…😀

    @zhaomali: deket turen kan ada tempat bagus tuh buat liat sunset; sendang biru dan pulau sempu.😀

  11. sedikit banyak kita identik ternyata bang shige… aku juga suka matahari terbenam.. sangat suka malah…. namun yah, dimana-mana memang sama….

    NB: hobi bolos dengan mobil teman dan lari ke taplau itu ternyata adalah budaya abadi… orang yang menulis komentar ini adalah salah satu pelestarinya….

  12. @asop: yoa bro..:mrgreen:

    @zhaomoli: keren tuh pantai sama pulaunya. saya baru sekali ke sana..😀

    @aurora::mrgreen:
    nongkrong di taplau sambil menikmati jagung dan pisang bakar, dihembus angin pantai, dan waktu semburat jingga udah menghilang giliran cahaya-cahaya lampu kapal nelayan di lautan yang kelihatan.

    tapi jangan pake ngerokok2 ya? nggak baik buat kesehatan.😀

  13. poto nomer satu: itu tebing legendaris yang juga keliatan kalo dari parangtritis-parangkusumo bukan sih? bentuknya koq mirip banget?😕

    kalo naik gunung demi ngeliat sang surya klelep saya enggak mau, masbrur. males, kaki bisa patah pulak:mrgreen: e tapi kayaqnya asik ya rame-rame gitu

    kek-nya kapan2 kita kudu ketemuan, masbrur😀

  14. kalo disuruh milih, saya lebih senang melihat sunrise daripada sunset.
    tapi benar, momen saat melewatkannya yang benar2 bikin spesial.

    denger2 sunset di candi barong sangat mempesona masbro, kesana yok, tapi tunggu saya habis mondok dulu di Pare😀

  15. Ya iyalah sama masbro, lhawong pemeran utamanya sama-sama matahari. Cuma tempat terbenamnya saja yang kadang-kadang beda. Saya sudah lama ndak memperhatikan “prosesi” sunset dengan santai dan seksama. Biasanya, sibuk kerja.. tiba-tiba sudah gelap. Hehe..

  16. Sunset memang sama saja di mana2, karena mataharinya ya sama saja😀. tapi sunset selalu menyenangkan untuk dinikmati, apalagi dipotret🙂

    *salam bro, maaf lama tidak berkunjung😀

  17. Entah kenapa. aku selalu suka sama sunset. dimanapun!
    meski bentukannya sama, meski ya gitu2 ajah, tapi tiap kali aku liat sunset, RASANYA selalu ada yang beda. Entah itu dipengaruhi oleh pikiran yang tiba2 melanglang buana entah kemana, atau karena adanya teman-teman pada saat itu. Entahlah…, yang pasti. sunset selalu terlihat cantikkk. sexy. ahh, i dont know how to describe it. hehehe ^_^

    oya, pantai siung itu di deretannya kukup, krakal, baron itu kah ? aku kok blum pernah kesana ya ? mungkin udah saatnya ke pantai di gunung kidul lagi, setelah bertahun2. hehe

    salam kenal ^_^

  18. @nurrahman::mrgreen:

    @hey, jude!: tebing selatan jogja bentuknya memang seperti itu semua bro. kalo yang kelihatan dari parangtritis itu tebing parangndog. siung sih masih jauh ke timur, di timurnya sundak.

    iya nih, keknya kita mesti ketemuan kapan-kapan. ya, minimal ntar di pesta blogger lah ya?:mrgreen:

    @backpackerman: monggo masbro. ayo digendong lagi tuh ranselnya.. kalo gak dipake lagi, buat saya aja. hehe..

    @lilliperry: sama juga sih sebenernya sunrise di mana-mana. tapi ada sekali sunrise yang paling berkesan buat saya, waktu naik merbabu. waktu matahari terbit saya lagi di padang sabana. menghadap ke timur duduk bertiga sama temen-temen. kita mandangin sunrise dan venus.:mrgreen:

    iye nih keknya kita juag mesti ketemuan.:mrgreen: wow.. lagi belajar bahasa linggis ke Pare ya bro? pengen juga tuh ke sana. ntar dipost ya di blog.:mrgreen:

    @zam: wedew, bikin ngiler kang.:mrgreen:

    @agung pushandaka::mrgreen: iye sih pemerannya itu-itu aja..

    @den mas: hehe… kemana aja nih.:mrgreen: update dong itu blognya.😀

    @ocha: iya. di timurnya sundak. teluknya lebih kecil daripada sundak, krakal, baron… pasirnya lebih putih (keknya sih, walaupun nggak seputih wedi ombo). salam kenal juga.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s