Banyak Cara Menuju Bandung (1)

Bandung meninggalkan catatan tersendiri dalam kenangan saya. Dari kecil sebenarnya saya berkeinginan besar untuk kuliah di kota kembang. Kota dingin yang menyimpan segala pesona; kampusnya, udaranya, gadisnya. Namun takdir berkata lain dan menuntun saya ke Jogja.

Untung saja walaupun tidak jadi kuliah di sana, saya sempat beberapa kali berkunjung Bandung, yang pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika.

Pengalaman pertama datang ketika SMA. Sekolah saya mengadakan darmawisata ke Jakarta-Bandung. Sebenarnya judulnya “Study Tour” tapi lebih banyak hura-huranya daripada studi bandingnya. Waktu itu saya naik bis dari Padang. Sebenarnya biro perjalanan menawarkan dua paket. Pertama paket jalan-jalan full naik bis Padang-Jakarta-Bandung-Padang, kedua paket menggunakan pesawat Padang-Jakarta-Padang terus selama di Jawa berkeliling naik bis.

Saya tentu saja memilih yang pertama. Selain segan meminta duit banyak-banyak untuk perjalanan sekitar seminggu, perjalanan dengan bis kelihatannya seru.

Saya sering mendengar kisah-kisah seru paman-paman yang ketika lebaran pulang dari jakarta via darat. Bagaimana serunya berhari-hari dalam kendaraan dan melewati tempat-tempat sepi dengan jalan berlubang-lubang yang katanya banyak bajing loncat. Sebelumnya, perjalanan paling jauh saya cuma ke Jambi. Ke tempat nenek-kakek dari pihak ayah. Jambi ke selatan masih buram, masih peta buta.

Tidak tanggung-tanggung, kami berangkat naik Handoyo. Dari jauh kau akan melihat sebuah armada Handoyo sebagai sebuah bis elegan yang akan mengantarkanmu ke Jakarta tepat waktu. Karoserinya (rumah-rumah) memang menarik sampai-sampai kau tidak akan menyangka jika bisnya lari pelan sekali. Normalnya Padang-Jakarta bisa putus sehari-semalam. Handoyo perlu 2 hari semalam.

Beberapa jam pertama semua masih baik-baik saja. Keadaan memburuk ketika ada yang mulai mengoleskan minyak kayu putih dan mulai membuka kulit jeruk bekal dari rumah. Setengah hari mulai ada yang muntah. Seingat saya ada kejadian lucu sore harinya. Magrib-magrib ketika sedang asyik nyanyi-nyanyi sambil diselingi tertawa-tawa tiba-tiba hidung saya mencium bau busuk. Bau yang biasa kau temui di toilet umum tak terurus yang penjaganya lebih sibuk main game ponsel alih-alih membersihkan kloset. Semua serentak teriak sambil mentup hidung, “BAU!!”

Begitu hari mulai gelap dan Pak Supir menghidupkan lampu remang-remang, satu per satu dari kami terlelap. Hanya beberapa kawan yang pacaran di pojokan atau mencuri-curi kesempatan ngebul di deretan belakang yang bertahan. Lainnya tidur pulas dan serentak terbangun pagi-pagi sekali ketika bis terguncang-guncang di jalanan lahat yang berlubang-lubang. Lubangnya besar-besar sekali sampai-sampai kau bisa berendam dengan nyaman di dalamnya. “ADUH!” suara mengaduh yang memenuhi udara pagi.

Naik bis dari Padang ke Bandung awalnya memang terasa menyenangkan. Tapi lama kelamaan, seiring punggung yang semakin pegal, seiring bau minyak kayu putih dan aroma jeruk yang semakin memenuhi bis, kau akan merutuki nasib. Dan akhirnya ketika berada di atas ferry yang akan membawa kami ke tanah jawa, semua hanya bisa saling senyum, senyum menahan sakit sambil memijit-mijit pinggang sendiri. “Panek (capek)“[]

19 pemikiran pada “Banyak Cara Menuju Bandung (1)

  1. halah shige! masih saja Bandung menarik karena ‘gadisnya’😀

    Bundo lagi di Bandung sekarang, tentu saja banyak yang berubah. Tapi tetap bikin kangen [haredang euy!]

  2. Wahahaha….ngga kebayang deh Padang-Bandung pake bis, bisa patah tulang tengah jalan tuh :p
    Saya yang pulang kampung ke Bengkulu pake mobil pribadi aja maleeeesss bangeeetttt…..salutlah sama jiwa petualang kamu yang sudah terbentuk sejak SMU🙂

  3. kalo disuruh milih antara pake pesawat ama pake bis, saya jadi bingung, klo pesawat mah mahal pastinya, klo bis, bisa muntah saya, g tahan klo naik bis/mobil lebih dari 2 jam…hehehe…kemaren aja dari jogja ke magelang (mau ke merbabu) saya mabuk,hehee…

  4. AFAIR, sekalinya saya ke bandung yaa cuman pas ada study-tour pas jaman sma. diiringi lagunya WAYANG yang ‘Kecewa’ itu, scenery patah hati, mini-konstruksi budaya indonesia di maerokoco, dan muntah2 lantaran mansup angin😛

    ngemeng2, selama perjalanannya memintas hutan pinus yang ijo dengan relief naik-turun itu, rasa capek dan pegelnya lenyap koq😀

  5. bandung emank indah,,aku juga pengen kuliah disana,,,tapi kalau ngerasain padang-bandung naik bisa,,nggak deh mening naik pesawat..heheh

  6. setap perjalanan itu pasti ada cerita suka dan dukanya….yang pasti nambah pengalaman dan cerita yang bakal di kenang se umur hidup! klo aku lebih senang pake angkutan darat karna lebih lama di perjalanan jd lebih banyak yang di lihat di tmbah pengalaman seru ketemu ma orang2 yang unik2!

  7. Hehehehe … menarik sekali. Saya naik bis terjauh adalah dari Merak ke Madiun. Dan itu pun diisi dengan tidur yang nyenyak karena bisnya memang eksekutif dan perjalanannya pun malam. Kapan ya bisa jalan2 ke Sumatera?

  8. Shige dulu aku ke Bandung tahun 1988 , waktu itu Bandung indah, bersih, nyaman, pohon-pohon di pinggir jalan besar dan rindang, banyak tumbuh bunga. apakah sekarang Bndung masih seelok itu?

  9. Kalau saya pribadi kalau mudik lebih memilih naik bis karena romantikanya beda dengan naik pesawat. nuansa lebaran dan perjuangan untuk pulang kampung terasa sekali ditambah lagi bis berhenti mandi dan makan sampe 5 kali dengan nasi padang plus nambah 2 piring, wuih tak akan pernah terlupakan . beda dengan naik pesawat, bukannya saya tidak aada duit tapi terlalu sebentar perjalannya . kalau ingin cepat sampe dan cepat pulang belajar ilmu rogoh sukmo saja cuma satu kerdipan mata sudah sampe. tapi tidak ada nuansa lebarannya.

  10. Didalam hidup sekarang boleh memilih…yang berduit dan cengeng lebih enak naik pesawat, bagi petualang berduit atau tidak berduit semua dinikmati lebih lama perjalanan banyak suka dukanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s