Jazz Mben Senen

Selama ini pertunjukan musik jazz pasti identik dengan kata “mahal” dan “eksklusif”. Konsernya jika tidak diadakan di dalam gedung berpendingin, pasti di dalam kafe terkenal yang harga menu-menunya tidak ramah di kantong. Dan biasanya penontonnya pun pasti semua berpenampilan rapi, mencerminkan status sosial mereka yang di atas rata-rata.

Itulah yang tertanam dalam benak saya sebelum dibawa seorang kawan menonton “Jazz Mben Senen”. Jamming musik jazz yang diadakan oleh Komunitas Jazz Jogja setiap senin malam di pelataran parkir Bentara Budaya Jogja, Kota Baru.

 

doc. Ajie Wartono (Warta Jazz)

“Nonton jazz nggak harus mahal.” Bagaikan slogan, sebaris kalimat itu hampir selalu diucapkan kedua MCnya setiap minggu. Memang tidak dipungut bayaran untuk menonton pertunjukan ini, setiap orang bebas  menonton tanpa harus mengeluarkan uang serupiahpun. Akibatnya penonton datang dari berbagai kalangan dengan gaya macam-macam. Ada sekawanan rambut gimbal berpenampilan kumal, serombongan mahasiswa yang sengaja mencari hiburan cuma-cuma, ada juga keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anaknya.

Untuk duduk, biasanya penyelenggara menyusun kursi beberapa deret di sebelah selatan dan menggelar tikar di sebelah utara. Acara biasanya dimulai pukul 20.00 – 01.00 WIB. Namun jika Bentara Budaya sedang mengadakan even-even tertentu, dan Jazz Mben Senen diminta untuk membuka acara, pertunjukan akan dimulai lebih awal.

doc. Zulkarnaen SL

Karena gratisan, jangan dibayangkan musisi yang tampil kacangan. Musisi lokal Jogja dan sekitarnya yang biasa ngejam di sini sebagian besar sudah sering tampil di acara-acara pertunjukan jazz dan bahkan sudah banyak yang menciptakan lagu sendiri (lihat kompilasi Ngayogjazz 2009). Banyak juga yang sudah biasa mengiringi musisi-musisi terkenal sekaliber Trie Utami.

Nama-nama terkenal juga pernah tampil di sini. Sebut saja Waljinah, Dwiki Dharmawan, Trie Utami, dan Iga Mawarni. Musik jazz yang dimainkan pun bervariasi, mulai dari lagu-lagu jazz swing gubahan komposer Duke Ellington, bebop, fusion, sampai lagu-lagu smooth jazz dalam negeri.[]

Foto header doc. Wind N Win

37 pemikiran pada “Jazz Mben Senen

  1. jazz memang asoy. padahal di negeri asalnya Amerika Serikat, Jazz dulunya diciptakan ama budak-budak Afrika. ndak disangka, musik yang dulu dihasilkan oleh para “budak” justru menjadi barang klangenan orang berduit..😀

    hehehe..

  2. dulu, jaman kuliah, sabtu atau minggu pagi di depan Gd.Sonobudoyo UGM sering ada Jazz on the street *opolah jenenge lali*, lumayan buat hiburan selain liat yang “seger2”😀

  3. klo di Sastra Reboan yang sering kutu datengin juga sering ada Artis yang manggung, n gratis pula masuknya, hee. Padahal kan artis dah banyak duit yah, apa salahnya sih sekali 2 kali bikin pertunjukan gratis, fufufu

  4. Iriiiii…jd kepengen tinggal di jogja ji gr2 baca blogmu…hehehe
    Apikkk!!!
    Salut buat sobat gue ini..tulisannya menarik dan gue pun menjadi irii…hahahaha

  5. gratisan tapi tak murahan…

    Itulah yang sering tersaji dengan indah di Jogjakarta.

    The place that i wanna go every time..

  6. Musik jazz gratis waduh, jadi ingin nonton ke Yogya. Aku suka banget jazz, favoritku Utha Likhumahua, Ermy Kullit, Keny G, Norah Jones……..kapan ya bisa ke Yogya nonton jazz gratis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s