Bertandang Ke Candi Muara Jambi

Seminggu yang lalu saya berkesempatan untuk berkeliling Jambi dan sekitarnya selama sehari. Kali ini yang menemani saya, selain para sepupu tercinta, adalah sebuah kamera analog Canon Prima Junior keluaran tahun 1995 yang baru-baru ini dihibahkan ayah.

Obyek pertama yang saya sambangi hari itu adalah Candi Muara Jambi. Sebuah kompleks candi cukup luas yang terletak sekitar 22 kilometer dari kota Jambi, ke arah hilir sungai batanghari.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai lokasi candi. Dahulu sebelum Jembatan Batanghari II yang bermasalah itu dibangun, perjalanan ke candi memakan waktu jauh lebih lama. Konon kabarnya jalan baru plus jembatan batanghari II ini sengaja dibangun oleh seorang petinggi propinsi Jambi untuk memudahkan akses transportasi ke kebun sawitnya.


Setelah melintasi Jembatan Batanghari II, di kanan-kiri jalan yang tampak di mata hanya hutan belantara yang sesekali diselipi perkebunan luas kelapa sawit. Sesekali juga tampak pohon-pohon durian yang tumbuh berjejer. Tinggi besar dan rimbun menaungi jalan aspal kecil beraspal mulus menuju Desa Muara Jambi.

Begitu memasuki kompleks Candi Muara Jambi, hal pertama yang saya lihat adalah ketidakteraturan. Tempat parkir pengunjung disediakan namun sedikit sekali kendaraan yang parkir di sana. Loket pembelian karcis masuknya pun tidak jelas keberadaannya. Alih-alih menemukan antrian manusia di loket pembelian karcis, saya malah terjebak dalam antrian panjang sepeda motor yang menunggu dihampiri oleh “petugas” yang menarik bea masuk.

Berbeda dengan candi-candi besar dan terkenal di pulau jawa (seperti Borobudur, Prambanan, dan Keraton Ratu Boko) yang telah dikelola secara profesional oleh pihak swasta, Candi Muara Jambi masih diurus oleh masyarakat setempat.

Hari itu kami ditarik bea masuk sebesar 12 ribu per motor. Padahal menurut sepupu saya pada hari biasa satu motor hanya ditarik uang masuk 5 ribu rupiah.

Sekilas candi ini mengingatkan saya pada Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Kompleksnya besar sekali dan wilayahnya yang luas itu dialasi oleh rumput yang tampak lumayan terawat. Kompleks candi ini sebenarnya cantik sekali. Sayangnya tidak ada tempat parkir yang jelas untuk kendaraan bermotor. Akibatnya setiap orang memarkir motor seenak jidatnya. Ada yang memarkir di bawah pohon durian, di bawah pohon duku, bahkan di depan warung.

Kata sepupu saya hanya ada dua tempat menarik untuk dikunjungi di Jambi; permukiman suku kubu dan Candi Muara Jambi. Sebuah baliho di Bandara Sultan Thaha juga menjelaskan bahwa candi ini merupakan salahsatu ikon pariwisata Propinsi Jambi. Selayaknya obyek ini bisa terkelola dengan lebih baik.

Pada sekitar tahun 1920’an pasukan ekspedisi tentara Inggris menemukan situs yang sekarang diberi nama Candi Muara Jambi ini. Menurut perkiraan lokasi candi ini merupakan pusat peradaban melayu kuno sekitar 1000 tahun lalu karena menurut ahli arkeologi candi-candi yang berada di kompleks Muara Jambi ini dibangun antara abad ke-9 sampai abad ke-13 masehi.

Ada banyak bangunan candi di sini antara lain Candi Astano, Candi Kembar Batu, Candi Gedong Satu, Candi Gedong Dua, Candi Kedaton, Candi Koto Mahligai, dan lain-lain. Namun yang paling dikenal karena sudah terestorasi dengan baik adalah Candi Gumpung dan Candi Tinggi.

Candi Gumpung adalah candi pertama yang terlihat ketika masuk. Terletak di tengah-tengah sebuah lapangan luas dengan rumput yang menghijau. Candinya standar saja. Berbentuk kotak dengan sebuah gerbang di bagian depan. Sayang sekali ketika saya ke sana kemarin tulisan “Dilarang Naik Ke Atas Candi” tertulis besar-besar di sebuah plang.

Dua ratus meter ke arah tenggara Candi Gumpung, berdiri dengan gagah Candi Tinggi. Sesuai dengan namanya, candi ini tinggi dan berundak-undak. Sejauh ini candi inilah yang paling terestorasi dengan baik. Pengunjung pun sudah bebas naik-turun candi.

Ketika saya dan para sepupu sedang asyik berkeliling sambil berfoto, langit mendadak gelap. Sebentar kemudian petir menyambar-nyambar diikuti hujan lebat. Kami, seperti halnya puluhan pengunjung lain yang kehujanan, berteduh di sebuah pondok yang sejatinya merupakan sebuah candi yang sedang digali. Ada perasaan tidak enak ketika menginjak dengan seenaknya susunan batu bata yang miring itu. Namun harus bagaimana lagi jika jumlah pengunjung tidak sebanding dengan kapasitas tempat berteduh?[]

16 comments

  1. alamendah · September 29, 2010

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Candi Muara jambi, belum pernah saya ke sana. sutu saat saya ingin sekali mengunjunginya

  2. Jiewa · September 29, 2010

    Sayang ya, mestinya kalau ada fasilitas publik yg memadai tentunya bisa lebih ramai lagi yg berkunjung 🙂

  3. Ping-balik: Tweets that mention Bertandang Ke Candi Muara Jambi « jejaka petualang -- Topsy.com
  4. morishige · September 29, 2010

    @alamendah: amin.. mudah2an sempat berkunjung ke sana, masbro. 🙂

    @jiewa: iya nih, jie. padahal candi muara jambi ini adalah salahsatu dari 2 ikon pariwisata jambi, lho. mungkin baik juga kalo pemerintah menyerahkan urusan pengelolaannya ke pihak swasta. seperti candi-candi terkenal di jogja dan jawa tengah..

  5. Mila Said · September 29, 2010

    waaaah… baru tau di Jambi ada candi juga. heheheee

  6. Asop · September 29, 2010

    Asal gak merusak situs candinya, tak masalah. 🙂

  7. morishige · September 29, 2010

    @mila said: sebenernya di sumatra ada dua candi yang lumayan terkenal; candi muara takus di riau dan candi muara jambi di jambi.. coba deh ntar kalo ada kesempatan main ke candi-candi itu. 😀

    @asop: seharusnya sih kalo pengelolanya serius, pasti dibikinin banyak tempat buat berteduh dan beristirahat setelah lelah mengelilingi kompleks candi. bikinin yang agak gede supaya ntar pengunjung gak malah berteduh di situs yang bakalan direstorasi… 😦 lebih baik mencegah daripada menunggu hal buruk terjadi.. 😀

  8. yoyon · Oktober 6, 2010

    salam kenal,,senang saling berbagi informasi,,kunjungi

    http://yoyon12.wordpress.com

  9. rio praditia · Oktober 12, 2010

    tempat terkenal yang deket situ apa lagi?? biar sekali menyelam minum air

  10. rahmadi ganteng · Desember 29, 2010

    aku belum punya pacar tolong cariin donk pacar yang cantik……dem itu bae pesan dari aQ……salam sejahtera…but jambi..????????/

  11. rahmadi ganteng · Desember 29, 2010

    asalamualaikum.wr.wb
    kita sebagai umat islam tolong cepet bertaubat
    karena sebentar lagi udah mau kiamat
    ityu adja pesan aku
    wong kito galo……………..

  12. rahmadi bae · Desember 29, 2010

    asalamualaikum.wr.wb
    kita sebagai umat islam tolong cepet bertaubat
    karena sebentar lagi udah mau kiamat
    ityu adja pesan aku
    wong kito galo……………..yekkkkkkkkkkkkkkk

  13. Dicky Astrada · Februari 24, 2012

    dan inilah yg sedang menjadi objek penelitian skripsi saya “sistem pengelolaan objek wisata sejarah candi muaro jambi sebagai aset wisata desa muaro sebo kabupaten muaro jambi provinsi jambi”
    semoga ada manfaat sebagai masukan buat pemerintah…

  14. morishigerishige · Februari 25, 2012

    saya doakan penelitiannya berjalan lancar. mudah-mudahan hasilnya nanti difollow up sama pemerintah setempat. 🙂

  15. Dicky Astrada · Februari 26, 2012

    amiiiinnn….
    mudah-mudahan deh…
    makasih doanya mas… ^_^

  16. W Jastra A K · Maret 24, 2012

    candi adalah bukti warisan leluhur peradaban bangsa kita sepatutnya kita menjaga warisan itu agar kita menjadi bangsa yg bangga dan percaya diri bahwa leluhur kita dulu sama dengan bangsa2 lain di dunia memiliki peradaban yg agung andai saja peradaban leluhur kita dulu tidak hancur mungkin kita sama dgn bangsa2 eropa kejayaannya…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s