My Travel Gadgets

Saya bukan tipikal traveler yang suka bawa banyak tetek bengek ketika bepergian. Sukanya yang sederhana saja. Setiap kali jalan, seringkali bawaan saya cuma sebuah ransel tiga puluh liter yang cuma cukup untuk memuat beberapa helai pakaian, sebuah buku tulis, beberapa buku bacaan, dan piranti paling penting bagi experience buyer traveler macam saya; kamera.

Bagaimanapun caranya, pokoknya setiap bepergian saya harus membawa sebuah kamera. Lha, selain kamera? Paling cuma ponsel nokia 3110c warna oranye butut yang sangat berguna untuk memperbaharui status twitter atau facebook. Sekali-sekali saya membawa penyumbat kuping; mp3 player.

Kamera

Kamera pertama yang saya punya adalah Kodak Easyshare C1013. Hasil bidikannya bagus sekali. Kamera saku digital ini pernah menemani saya ke tempat-tempat menarik seperti Gunung Bromo, Candi Ratu Boko, Kepatihan Yogyakarta, dan berhasil mengabadikan event dua tahunan Jogja Biennale.

Sayang sekali umurnya pendek. Sekitar tiga bulan setelah dibeli kamera ini rahib secara misterius di Pulau Lombok. Hilang begitu saja di Mataram sekembali jalan-jalan dari permukiman Suku Sasak di Sade Rambitan. Pembaca yang mengikuti blog ini tentu sudah membaca cerita ketika saya kehilangan kamera Januari lalu.

Sebelum punya kodak itu, saya selalu meminjam kamera kawan. Langganan saya adalah Canon Powershoot, serinya saya lupa. Kamera ini lumayan bandel, tahan banting dan perubahan suhu ekstrim. Sudah menemani saya ke puncak-puncak yang tinggi sampai ke pantai dan pulau terpencil.

Kamera termahal yang pernah saya pakai sewaktu jalan-jalan adalah DSLR Nikon D90. Kamera pinjaman dari seorang teman orang Bali. Tepat sehari setelah kodak saya hilang. Canggih dan menggunakannya membuat saya gugup. Masalahnya, salah-salah memperlakukan kamera ini bisa rusak. Bagaimana menggantinya? Masa saya harus menggadaikan semua pakaian di badan dan pulang jalan kaki?

Dan sejak ba’da lebaran lalu saya menggunakan kamera analog Canon Prima Junior keluaran tahun 1995. Motret-motret pakai kamera tanpa display bikin deg-degan karena kau harus menunggu sampai film selesai dicuci dulu sebelum bisa melihat hasilnya. Jelek pun tidak bisa di-delete.

Ponsel

Bagi saya yang hobi mengupdate twitter, sekedar sebagai pengingat bahwa suatu waktu di masa lalu kita pernah melakukan sesuatu, kehadiran sebuah ponsel yang bisa terkoneksi ke internet sangat penting.

Sudah tiga ponsel pernah menemani saya malala (jalan-jalan, bahasa Minang); nokia 3530, motorolla C168, dan nokia 3110c. Di antara ketiga ponsel itu yang paling sangar adalah nokia 3530. Sudah pernah jatuh berkali-kali di segala medan namun tidak pernah sekalipun restart sendiri. Namun sedihnya rekor 3530 saya cuma sampai kebun teh Kajoe Aro di Alahan Panjang, Sumatra Barat. Beberapa bulan sebelum naik gunung pertama waktu SMA handphone ini saya jual.

Yang paling tidak bisa diandalkan sewaktu jalan-jalan adalah motorolla C168. Seingat saya sebenarnya ponsel ini memiliki fitur GPRS. Namun pengaturannya yang ribet karena mereknya tidak umum membuat saya malas untuk mengaturnya. Nasibnya berakhir dengan tragis. Hilang di kota tempat nenek saya bermukim; Pariaman.

MP3 Player

Waktu tahun-tahun pertama kuliah, sebuah mp3 player pasti masuk dalam list perlengkapan yang harus saya bawa waktu melakukan perjalanan. Tujuan saya membawanya sebenarnya hanya untuk membunuh rasa bosan ketika harus duduk di dalam sebuah gerbong kereta selama berjam-jam.

Namun entah kenapa lama kelamaan saya tidak begitu suka menyumbat telinga untuk mendengarkan musik. Saya menjadi lebih betah mendengarkan suara dentum kereta sambil mengamati sekeliling. Nyanyian kehidupan kadang lebih mendayu-dayu, lebih enak untuk dinikmati, daripada sekadar alunan musik biasa.[]

Foto-foto di atas diambli dari sini, sini, sini, dan sini.

32 pemikiran pada “My Travel Gadgets

  1. Saya juga bawaannya sama: kamera, ipod sama kadang netbook kecil tersayang (kalo mo daily update seperti waktu perjalanan ke Ho Chi Minh dan Phnom Penh)

    Nice post, Gan

    Cipu

  2. @cm: berarti posting ini lumayan panjang ya, cit? :p

    @alamendah: kamera sendiri/kamera pinjaman sebenarnya sama saja, bro. asal perjalanan kita ada dokumentasinya aja. kata orang kan sebuah foto bisa mengungkapkan ribuan kata.😀

    @cipu: kalo soal membawa netbook, pertimbangan saya adalah mengenai tujuan perjalanan. kalau cuma ke kota dan nggak terlalu mblusuk oke2 aja.. tapi kalo udah berencana untuk ke tempat2 terpencil yang mungkin bahkan belum ada listrik, mending bawa hp aja..

    thanks gan…😀

    @mila: hahaha… lumayan tuh. duit abis di jalan tinggal bikin salon kecantikan dadakan buat ngumpulin uang. :p

  3. hmmm, klw gadged…
    kamera mah ga ada, soalnya rada kurang sreg klw make camdig biasa.. tunggu kaya dulu, biar bisa bawa DSLR…
    cukup HP saja, Samsung B3410GT bisa sekalian ngupdate status, MP3, bahkan kamera (kalau tiba2 perlu)

    selain itu, cukup my Red Carrier… si teman perjalanan yang setia menemani sampai akhir……

  4. @pink paris: kamera emang vital banget, kk.. bagaimanapun, kamera harus menyertai setiap trip yang saya lakukan.😀

    @dhilla13: kalo gadget sih keknya bakalan sama aja. soalnya kalo traveling yang dibutuhkan cuma itu…

    kalo soal barang2 lain… hm, cowok paling cuma butuh pasta dan sikat gigi, sabun badan, paling banter sabun muka. hehe..😀 tapi cewek juga bisa jalan dengan bawaan minimalis kok.😀

    @sutanrajodilangik: pengennya sih bawa kamera dslr. tapi apa mau dikata, masih mahasiswa, belum ada penghasilan sendiri.

    handphone saya kurang bisa diandalkan untuk mengabadikan momen2 bagus. makanya lebih seneng minjem kamera orang daripada harus motret2 pake kamera ponsel.😀

  5. Kalau gadget saya nggak selengkap ente dah bro, saya cuma ada hape dengan kamera 3 megapixelnya aja. MP3 player punya sih tapi malah jarang dipake, Pingin banget punya kamera huhuhu

  6. wuaaa..gilaaa..hari gini masih berani motret pake kamera analog ?
    luar biasa..!!!
    salut saya…:D

    saya punya kamera analog Yaschia tipe SLR, tapi sekarang tinggal dimusiumkan padalah kondisinya masih bagus. alasan utama gak mau make lagi, yaaa karena saya gak berani motret pake analog, apalagi klo travel. takut hasilnya jelek..:D

  7. @iman: wah keren tuh pasti hp 3mp. hp saya cuma 1.3mp.😀

    @ipul dg. gassing: gara-gara gak ada kamera lain, daeng.😀

    saya juga ada sih sebenernya Yashica FX-3 pinjaman temen. tapi belum diservis, dalemnya masih jamuran.. mudah2an bisa segera diperbaikin.😀

  8. Kangeeeeennnn baca tulisan Shige.

    Aku juga lagi nabung nih, pengen beli Canon EOS 500D. Gateeell kalo liat sesuatu yang unik tapi ngga bisa diabadikan dengan maksimal. Oia, kemaren ngoprek2 lemari, terus ketemu kamera SLR tua punya papa. masih manual, pake roll film, kalo mau ambil foto juga musti diengkol dulu. hiaaayyy, mau belajar pake kamera itu tapi takut gimana-gimanaaaa gitu…..

  9. setuju ma yg kamera mas. jangan sampe kita pergi tapi ga sempet mengabadikan situs yang dikunjungi sekalian ma diri kita disitu. hehe..

  10. Kodak juga kamera pertamaku, pixelnya masih 2Mp qe3, beli tahun 2004 Rp 1,7. Dengan harga segitu, kita sekarang bisa bawa pulang Canon Ixus 105, 12 Mp hahaha

    Setelah itu ganti Kodak 3 Mp lantas Canon PowerShot A430, 6 Mp.

    Sepakat Bro, Canon lebih tangguh dan terasa sekali fokusnya jauh lebih cepat dibanding Kodak yang, menurut saya, lambat. trims 4 sharing

  11. Sepakat dengan kalimat terakhir. MP3 terasa berada di dimensi lain sebuah perjalanan. Saya jarang sekali menyumbat telinga dengan ini dalam perjalanan.

    Kamera? fardhu ‘ain! :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s