Sehari di Solo

Beberapa waktu belakangan ini adalah saat-saat yang mengesalkan bagi mahasiswa Jogja umumnya dan saya sendiri khususnya. Yang paling anyar, ya, bencana Merapi, yang membuat berpuluhribu orang yang bermukim di lingkar gunung mengungsi ke tempat-tempat yang lebih jauh. Jogja penuh pengungsi; sekolah-sekolah, universitas, bahkan stadion. Mahasiswa pun turut kena imbas karena wisuda November ditiadakan dan ujian mid-term diundur.

Saya turut dalam aliran empati mahasiswa-mahasiswa dan pemuda yang ikut membantu “menjamu” pengungsi Merapi. Beberapa hari nongkrong di Balai Desa Kepuharjo (yang beberapa hari kemudian hancur digilas awan panas), menyalurkan bantuan ke Srumbung Muntilan, dan sekitar seminggu berjaga di gudang logistik Stadion Maguwoharjo. Melelahkan namun mengasyikkan, memberikan banyak pengalaman baru.

Bencana Merapi juga mengundur beberapa rencana bepergian. Segan rasanya jalan-jalan ketika semua orang sibuk menyingsingkan lengan baju meranting bantuan yang datang, ketika banyak relawan menembus abu mengevakuasi jenazah yang meninggal di cangkringan, ketika anak-anak dan orang-orang tua merana meratapi rumah mereka yang sudah rata.

Maka minggu kemarin saat merapi sudah agak mendingan, saya dan kawan-kawan jalan-jalan ke Solo. Satu hari saja. Sekadar untuk merayakan hari baru ketika merapi sudah tidak seganas beberapa hari yang lalu.

Pukul 8.35 saya dan empat orang kawan berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Naik Prameks berwarna pink yang diimpor dari Negeri Matahari Terbit sana. Ongkosnya sekarang sudah tidak IDR 7,000 lagi, naik jadi IDR 9,000.

Satu jam di kereta suasananya selalu ceria karena kawan baru kami dari Papua punya banyak cerita. Untuk pertama kalinya saya mendengar istilah mop, lelucon khas yang biasanya menjadi bumbu obrolan penduduk asli Papua sana. Lucu sekali, walaupun sedikit rasis. Pasalnya yang menjadi bahan lelucon melulu orang-orang […].

Satu jam di kereta. Kemudian kami tiba di Stasiun Purwosari yang  berada di ujung barat Jl. Slamet Riyadi. Sasaran jalan-jalan kali ini adalah obyek sekitar citywalk. Sekadar informasi bagi yang belum mengerti, citywalk adalah pedestrian-nya Solo. Jalan selebar sekitar dua meter yang rindang oleh pepohonan dan di beberapa titik dihiasi oleh bangku taman. Nyaman sekali dijadikan tongkrongan.

Obyek pertama yang kami kunjungi adalah Museum Radya Pustaka. Museum tertua di Indonesia. Untuk masuk setiap pengunjung dikenai biaya sebesar IDR 2,500.

Koleksinya lumayan, meskipun banyak yang replika karena benda asli sudah banyak yang dicuri atau dioper ke museum lain. Di sana barang-barang dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Ada sudut khusus wayang kulit, khusus topeng, ruangan khusus keris dan senjata perang, khusus porselein, khusus alat musik, khusus kepala Perahu Rajamala, dan pojok paling belakang khusus untuk maket (Astana Imogiri dan Gedung Sanggabuana) dan uang-uang kuno.

Ada satu benda yang paling menarik bagi saya. Sebuah porselein merah hadiah dari Napoleon Bonaparte untuk Pakubuwono IV. Menakjubkan membayangkan Kasunanan Surakarta menjalin diplomasi sampai ke Eropa.

Selepas dari Radya Pustaka kami melanjutkan perjalanan menyusuri citywalk. Matahari sudah semakin condong ke barat, membuat setiap langkah kaki terasa semakin nikmat. Perjalanan yang dibumbui candaan sungguh menyenangkan. Dan tidak terasa kami tiba di Kraton Kasunanan Surakarta.

Jalan masuknya teduh karena ditumbuhi beberapa batang pohon beringin yang sangat besar. Mungkin umurnya sudah ratusan. Dari gerbang, Bangsal Sasono Senowo sudah kelihatan.

Bentuk kratonnya tidak jauh beda dengan Kraton Jogja karena, memang, kedua kraton ini aslinya bersaudara. Berasal dari akar yang sama. Hal mendasar yang membedakannya hanyalah Kraton Surakarta tidak memiliki jalan besar di utara dan selatan yang biasa digunakan untuk menggelar arak-arakan.

Di depan bangsal, seorang bapak-bapak berblangkon menghampiri dan menuntun kami ke loket pembelian tiket masuk Bangsal Sasono Senowo. Harganya IDR 2,500. Tidak begitu banyak yang bisa dilihat di sana. Bangsal-bangsal yang ada di sana kebanyakan selalu tertutup dan benda-benda yang diletakkan di luar tampak tidak terurus.

Tour Kraton Surakarta tidak berhenti di sana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Selatan, ke Museum Kraton. Pengunjung harus membayar IDR 8,000 lagi untuk masuk ke Museum Kraton ini. Isi Museum Kraton standar-standar saja, selayaknya museum yang memuat benda-benda pusaka peninggalan sebuah kerajaan yang pernah jaya di masa lalu.

Di sebelah barat Museum Kraton berdiri dengan megah bangunan utama Kraton Surakarta. Sebuah pendopo luas yang dikelilingi patung-patung bergaya Yunani.

Bangunan inilah yang paling disakralkan diantara seluruh bangunan di kompleks Kraton. Ibarat pelindung, Sanggabuana berdiri tegak di sebelah utara. Untuk berjalan-jalan di halamannya saja pengunjung diharuskan untuk mencopot sandal jepit dan bertelanjang kaki. Dilarang tertawa kencang, apalagi berlari-larian atau loncat-loncatan. Saya dan kawan-kawan kemarin sempat dimarahi karena tidak bisa menjaga tabiat.

Ojo playon neng Kraton, mas…” Jangan loncat-loncatan di Kraton. Begitu bunyi peringatan seorang abdi dalem yang air mukanya tampak sengit.

Jalan-jalan mengitari Solo hari itu sabtu itu ditutup dengan menumpang Batik Solo Trans (BST),  busway-nya Solo. BST menggunakan koridor seperti halnya transjakarta. Sayang perancangan jalur dan sistemnya tidak sebaik transjogja; masih menaikkan penumpang seenaknya di tengah jalan, tidak semua shelter memiliki penjaga, dan sampai sekarang karcisnya masih lembaran kertas. Mungkinkah karena yang menjalankan BST adalah Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ)? Siapa yang tahu?[]

11 pemikiran pada “Sehari di Solo

  1. Bro, lama banget tak nulis blog. Kami kami pembaca setia mu merindukan tulisan tulisan mu yang sederhana dan tulus.

    Wah saya salut lho sama mahasiswa relawan. Dan saya selalu salut dengan jejaring siap siaga bencana yang ada di sana. Dua jempol deh buat kalian.

    Saya sudah pernah main ke tempat ini di Solo, baru sadar kalo ternyata banyak sejarah di tiap kota yang sebenarnya menarik untuk disimak

    Mori, ditunggu postingan selanjutnya yah

  2. Yaaayyy… bisa baca tulisan bari Shige lagi. Senangnyaaaa :))

    Belum pernah mampir ke Solo. Selama ini cuma kenal Solo dengan batikknya aja, ternyata banyak catatan sejarahnya juga ya.

    Shige, tulis pengalaman jadi relawan Merapi kemaren di satu postingan dong. Pasti banyak hal menarik yg ditemui.

  3. kkkeke…

    ojo playon nang kraton, mas

    persis bgt, dulu sy dan kawna2 juga digituin sama salah satu abdi dalem.😀
    *sy yg di solo aja belum pernah masuk ke museum radya pustaka😆

  4. weeww….di kepuharjo berarti kita juga pernah ketemu bang morishige….
    aku juga waktu itu bolak-balik kesana bua salurin bantuan
    sesekali kita harus benar2 ketemu muka.
    coz kita beredar di tempat2 yang sama

  5. Tapi tetap saja kita tidak boleh melupakan satu hal penting bahwa pengobatan penyakit ini harus diberikan oleh orang yang ahli dan harus mengikuti petunjuk medis hal ini dimaksudkan untuk meminimalkan resiko kekambuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s