Nggowes Ke Helipad, Parangndog

Akhir-akhir ini saya sering sepedaan mengunjungi obyek-obyek menarik di Jogja. Seringnya, sih, bersama kawan-kawan. Di hari Jogja Java Carnival kami bersepeda ke Kota Gede. Beberapa waktu setelah itu kami nggowes sedikit lebih jauh, ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul. Setelah itu Merapi meletus dan kegiatan bersepeda bersama vakum.

Walaupun sekarang status Merapi telah turun menjadi siaga, tetap masih susah mengumpulkan kawan-kawan. Sementara saya kangen sekali mengayuh pedal, mengeluarkan peluh, dan sensasi menebak-nebak berapa lama perjalanan ke suatu tempat akan ditempuh.

Sabtu dinihari setelah menonton ulang “Saving Private Ryan” tiba-tiba muncul ide gila di kepala. Kalau kawan-kawan belum bisa diajak, kenapa saya tidak bersepeda sendirian saja?

Ada dua tujuan yang saya pikirkan. Suroloyo dan daerah Tebing Parangndog di Parangtritis. Setelah browsing sebentar di google, dan mengalkulasi hubungan jarak dengan waktu tempuh dengan google earth, saya mentepkan tujuan; helipad Parangndog, Parangtritis. Cocok, lah, buat pemula.

Jam setengah enam, segera setelah sarapan, saya langsung melaju ke arah selatan dengan sepeda “Polygon Monarch Gent” kesayangan. Sepeda yang telah menemani saya dari tahun 2008 ini bertipe MTB hardtail. Sama sekali tiada suspensi baik di fork depan, bawah sadel, atau di manapun. Cocok untuk jalan datar dalam kota dan pengendaranya akan sial jika berani membawanya ke gunung.

Polygon saya ini pernah dicuri. Lebih tepatnya hampir dicuri orang. Pencurinya sudah tiba di pagar kampus. Sialnya ketika akan mengangkat sepeda itu ke luar pagar, dia keburu dipergoki SKK kampus. Dia gelagapan. Akhirnya yang berhasil dibawanya hanya pedal, sebelah.

Jogja – Parangtritis sekitar 30 km. Dari kos saya di Pogung, saya meluncur lewat Jl. Monjali, terus ke Jl. Mangkubumi. Lalu setelah perlintasan kereta api di timur Stasiun Tugu saya memutar arah ke timur. Kemudian kembali ke utara menyusuri Jl. Mataram. Nah, dari Jl. Mataram tinggal ambil jalan lurus saja kau akan tiba di Parangtritis.


Perjalanan baru terasa menarik setelah saya melewati ringroad selatan, perbatasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Karena masih pagi, saya kerap berpapasan dengan pesepeda lain. Di daerah-daerah ramai yang masih dekat dengan Jogja kebanyakan yang saya temui adalah anak sekolah. Lebih ke selatan pesepeda yang saya temukan lebih variatif.

Saya melihat beberapa anak kecil bersemangat yang sepertinya baru menanggalkan “roda bantu” sepedanya. Ada pula rombongan pemuda dan orang dewasa bersepeda onthel yang jika dilihat dari pakaiannya kemungkinan petani, atau buruh bangunan. Suasana pedesaannya kental sekali dengan sawah yang menghampar di kanan-kiri.

Entah kenapa saya menganggap suasana pedesaan lebih hidup daripada perkotaan. Padahal segalanya ada di kota. Mungkin yang membedakan adalah senyum. Semakin jauh dari kota, senyuman penduduk setempat akan lebih mengembang.

Enaknya bersepeda, kau tidak perlu membayar retribusi kendaraan. Setelah melewati jembatan panjang kali opak, saya deg-degan. Bertanya-tanya sendiri apakah saya akan dicegat dan dimintai retribusi. Berapa kira-kira yang akan mereka tarik dari sepeda? Dengan cuek saya mengayuh melewati para petugas. Syukurlah ternyata sepeda bisa masuk dengan bebas. Free as a bird.

Dasar mahasiswa, saya dan kawan-kawan sering mengakali petugas dengan berkilah bahwa kami hanya akan ke Parangndog untuk panjat tebing. Jika kami bilang tujuannya ke parangndog, gratis. Padahal ujung-ujungnya kami juga main air di Parangtritis barang sebentar.

Setelah pos retribusi jalannya jadi lumayan naik-turun. Sesekali ketika menurun saya melepas stang dan memejamkan mata, untung tidak kenapa-kenapa.

Beda kendaraan, beda pengalaman dan pemandangan yang akan kau temui. Saya baru sadar bahwa gurun pasir parangkusumo, yang ada miniatur ka’bah tempat manasik haji, tembus sampai ke jalan Parangtritis. Kawan-kawan yang belum pernah menginjakkan kaki di gurun pasir mungkin bisa ke sini. Cukup luas. Lumayan sebagai pendahuluan sebelum ke “sahara” yang sebenarnya. Hehe.

Etape Parangtritis – Parangndog paling menguras tenaga. Jika Jogja – Parangtritis datar, Parangtritis – Parangndog terjal. Saya sering menuntun sepeda karena kemiringannya benar-benar “wow”. Sepasang mbah-mbah bahkan ada yang meledeki saya begini, “Masih muda kok sepedanya dituntun?” Tapi percayalah, jalannya memang benar-benar miring.

Semakin mblusuk jalannya semakin parah. Dari yang tadinya “hanya” benar-benar miring bertambang menjadi “benar-benar miring” dan “rusak”. Ketika helipad sudah dalam pandangan mata, saya ambruk ke jalan semen licin tak terurus itu. Dari tempat saya ambruk itu Parangtritis kelihatan. Karena posisinya memang sudah sangat tinggi, orang-orang hanya berupa titik dan kendaraan seperti mainan. Kecil sekali.

Stopwatch saya lihat, sudah 1 jam 45 menit berlalu. Lumayan cepat untuk perjalanan sekitar 30 km. Dua puluh menit terakhir habis di tanjakan.

Sebentar kemudian, setelah menguatkan tekad, saya mengayuh, menuntun, dan mendorong sepeda ke atas. Lalu mengangkatnya dari jalan semen ke atas, ke helipad, lewat jalan setapak berbatu.[]

Ket: Sebenarnya Helipad Parangndog bukanlah tempat pendaratan helikopter namun starting point paralayang. Dinamakan begitu karena bentuknya yang mirip helipad.

 

 

16 pemikiran pada “Nggowes Ke Helipad, Parangndog

  1. Wah hebat Bro…..

    Saya suka tulisan tulisan seperti ini. Sederhana namun kena…..

    Oh iya, waktu SMP saya juga harus bersepeda sekitar 10-15 km setiap hari. Tapi jalannya datar saja, dulu pake sepeda merk Mustang hehehehe

  2. wah, keren. Rasa petualangannya agak mirip dgn Into the wild versi sepeda. Maksudnya, yg bagian ‘menjelajah alam sendirian.’

    Btw, Foto parangtritis dari atas itu juga keren bgt.

  3. Wah Shige, selalu saja ada kegiatan baru yg tidak disangka saat mempublish satu postingan. Bersepeda sendiri? Seru, keren! Suka dengan foto-fotonya yang ‘diwakilkan’ oleh si sepeda😀

    I always love your posting🙂

  4. shige, saya sudah jarang sekali maen ke sini, berkomen di sini.
    Ternyata tips nya bisa saya gunakan untuk berkunjung ke parangtritis

  5. wah saya belum sempat mengunjungi yogya bagian ini, pemandangannya terlihat, kalo di kota sudah bangunan2nya aja.

    eh apalagi itu melihat parangtritis dari atas ya… wow keren….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s