Menyusuri Jalan-Jalan Kecil Kotagede

Di suatu Sabtu, ketika panitia Jogja Java Carnival sedang sibuk-sibuknya melakukan persiapan terakhir, saya dan kawan-kawan bersepeda ria ke Kotagede. Rencananya sepulang dari Kotagede nanti kami akan langsung ke Malioboro, ikut melarut dalam kemerihan “Harmonight”.

Tepat jam satu siang seperti yang ditentukan, kami berangkat dari kontrakan Like di bilangan Urip Sumoharjo. Dari starting point ada tiga sepeda yang berangkat; Like, Obi, dan saya. Deli sudah menunggu di depan Kantor Balai Kota.

Saya sangat menyukai bepergian dengan rombongan kecil. Berangkatnya hampir selalu tepat waktu karena tidak banyak yang perlu ditunggu. Selain itu, mudah sekali untuk menyatukan gagasan.

Setengah jam kemudian kami tiba di Kotagede. Selepas gerbang selamat datang, kami langsung disambut oleh jalanan kecil dengan trotoar bersih di kanan-kiri. Toko-toko kerajinan perak berjejeran dan terbuka lebar menunggu pembeli. Saya terpesona dengan pemandangan di Kotagede. Empat tahun menetap di Jogja baru dua kali saya ke sini, dua kali pula saya dibuat terkagum-kagum oleh kerapian jalan-jalan kecil Kotagede.

Di Kotagede, rumah-rumah dan gedung-gedung tua masih gagah terpelihara. Seakan menjadi penanda bahwa dahulu, jauh di masa lalu, daerah ini pernah menjadi ibukota Kerajaan Mataram Islam.

Pasar Legi

Perhentian pertama kami adalah Pasar Kotagede. Pasar ini lebih dikenal sebagai Pasar Legi oleh masyarakat setempat karena hari pasarannya adalah Legi. Setiap Legi, salahsatu hari dalam penanggalan Jawa, pasar ini selalu lebih ramai daripada hari-hari biasa.

Secara fisik tidak ada yang istimewa dari Pasar Legi. Biasa saja, seperti pasar-pasar kebanyakan. Yang istimewa adalah umurnya, pasar ini sudah eksis sejak abad ke-16 lalu.

Makam Raja-Raja Mataram

Dari Pasar Legi, kami berbelok ke arah kiri. Sebentar kemudian kami tiba di Makam Raja-Raja Mataram. Mudah sekali menemukan tempat ini karena di gerbangnya berdiri sebuah plang besar berbunyi “Makam Raja-Raja Mataram”.

Akan halnya sebuah ibukota kerajaan, Kotagede juga memiliki kompleks pemakaman para raja. Di sini bersemayam nama-nama besar seperti Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, dan Kanjeng Ratu Kalinyamat.

Di dalam kompleks itu juga terdapat masjid tua yang dikenal sebagai Masjid Kotagede. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1640, lebih tua dari Masjid Kauman yang dibangun setelah Kerajaan Mataram Islam “dipecah” oleh Perundingan Giyanti.

Pabrik Coklat Monggo

Kami bersepeda semakin ke dalam. Beberapa menit kemudian kami tiba di Pabrik Coklat Monggo. Anda yang sudah pernah ke Jogja pasti pernah mendengar tentang Coklat Monggo. Coklat lokal ini dijual di banyak kedai di Jogja. Jika Jogja punya Dagadu sebagai oleh-oleh kaos, Coklat Monggo pantas disebut sebagai oleh-oleh makanan khasnya.

Pabriknya terletak di pelosok. Namun meskipun begitu bangunannya menarik dan halamannya luas. Cukup untuk menampung beberapa armada bis pariwisata.

Setelah memarkir sepeda, kami langsung masuk melewati pintu ganda toko. Etalase yang memajang bermacam-ragam coklat buatan Monggo terletak di ruang kedua bangunan itu, tepat setelah beranda yang dihiasi beberapa kursi tamu.

Pramuniaga-pramuniaga Monggo menyambut kami dengan ramah. Mereka murah senyum dan tidak berjanggut. Ya, semuanya perempuan dan berpenampilan menarik.

Kedai Coklat Monggo menyediakan tester semua jenis coklat untuk dicicipi pelanggan. Ketika ditawari, kami langsung melibas habis semuanya. Semua tandas kecuali satu; rasa penyesalan. Kami menyesal telah menghabiskan semua tester karena kalau sudah begitu berarti kami harus membeli. Untuk menyelamatkan muka, kami semua urunan.

Begitu saja urunan? Oh, kawan. Jika boleh mengatakan satu hal yang tidak saya sukai dari Coklat Monggo, itu adalah harganya. Tidak ramah untuk kantong mahasiswa. Untuk coklat edisi Halloween yang kami beli ketika itu, kami harus mengumpulkan uang sebesar IDR 25,000 untuk menebusnya.

Rumah Rudy Pesik

Setelah beberapa saat melepas penat di Pabrik Coklat Monggo, kami kembali ke jalan besar. Obyek berikut yang dituju adalah sebuah gang kecil tempat rumah kuno milik Rudy Pesik berdiri.

Yang membuat istimewa adalah bangunannya. Megah, seperti bangunan-bangunan tua bergaya kolonial lain yang masih bertahan sampai sekarang. Di sebuah prasasti yang dipajang di salahsatu pintu rumah, tertulis bahwa Lech Wałęsa pernah menginap di sana.

Omong-omong siapa, sih, Rudy Pesik dan Lech Wałęsa ini? Informasi tentang Lech Wałęsa gampang saja di cari google. Beliau adalah mantan Presiden Polandia periode 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993. Referensi soal Rudy Pesik yang agak susah ditemukan, tapi agaknya beliau seorang pengusaha.

Harmonight, Jogja Java Carnival

Titik akhir perjalanan sepedaan kami adalah Harmonight. Sebuah karnaval di malam hari yang merupakan puncak acara Jogja Java Carnival 2010. Acara ini berlangsung di sepanjang Jl. Malioboro dan Jl. A. Yani.

Penonton tumpah ruah sampai-sampai tiada lagi tersisa sudut bagus untuk melihat karnaval. Kami memarkir sepeda berjejeran di depan gedung BNI kemudian berjalan bergerombol ke depan Gedung Agung. Untuk mendapatkan pandangan, kami bergantian memanjat pagar Gedung Agung. Untung tidak ditembak Paspampres.[]

Lech Wałęsa

18 pemikiran pada “Menyusuri Jalan-Jalan Kecil Kotagede

  1. Iiiihhh… Jadi gatel pengen ke Jogja setiap baca tulisan Shige. Tapi kalo maen ke Jogja nanti pinjem sepeda siapa ya supaya bisa ikut sepedaan bareng😉
    Saya baru denger coklat monggo, aih kuno banget dong ya. Kalo saya ke Jogja temenin muter2 ya Shigeeee ;))

    1. 🙂 sepertinya di jogja ada tempat buat nyewa sepeda, kk. sekarang sepedaan udah jadi lifestyle kok di jogja. termasuk yang berhubungan dengan pariwisata.

      coklat monggo sih sebenernya belum tua-tua amat. nuansanya aja yang tua.. baru muncul tahun 2001. mirisnya yang punya bukan orang Indonesia, tapi orang belgia.😦

      sip2.. ntar kita kopdar ya kalau kk ke jogja.:mrgreen:

  2. Keren Shigeeeee,

    Hebat bisa bertualang keliling Jogja dan menunjukkan tempat-tempat wisata yang bukan mainstream parisiwisata Yogya.

    Akhir akhir ini agak jarang nulis yah. Ayo semangat dong nulis lagi seperti dulu.

    I like your posting bro, tulus dan sederhana namun enak dibaca

  3. asik banget naek sepeda-an keliling kota gitu ya? ide bagus tuh hihihihi..
    Btw, baru tau Pabriknya Coklat Monggo, aku sukaaaaaaaa banget tuh ama coklat itu, tp sayangnya cm ada di jogja doang😦

    1. iy asik bgt, kk. kalo naik sepeda, kita bisa memperhatikan hal-hal kecil yang gak akan keliatan kalo naik kendaraan bermotor.🙂

      kapan2 kalo ke jogja main aja ke kotagede. banyak obyek menarik di sana. yang di atas itu belum lengkap karena kita juga ngejar buat nonton Jogja Java Carnival waktu itu.🙂

  4. ahoy.. postingan yang amat-sangat-hebat-dan-sentimental, mengingat saya menghabiskan masa kecil saya di Kotagede, lengkap dengan pasar yang nggak jelas posisi administratifnya lantaran berada di perbatasan kota-bantul itu..

    dan foto pas di gang itu nostaljik banget buat saya, masbro🙂

  5. @p49it: patut dicoba banget tuh kk.. apalagi sekarang populasi pesepeda tambah banyak di jogja.🙂

    @kurology: wow.. nggak nyangka masbro kuro kecilnya di kotagede. pasti asyik main-main di gang2 kecilnya, di depan rumah-rumah kunonya..🙂

    saya juga masih penasaran nih sama gang2 yang lebih kecil, yang herannya bersih2.:mrgreen:

  6. Astaga, salah banget saya mampir ke postingan ini *jambak rambut* Bikin kangen sama Jogja dan kangen sepedaan juga😦

    Sampe sekarang saya ngga tau lho pabrik Cokelat Monggo itu di Kotagede sebelah mana, soalnya emang jarang ke Kotagede sih seringnya ke Kotabaru . Pengen ke sana sekali-kali, makan testernya tapi ga sampe habis biar ga usah beli😆

  7. kotagede adalah cita rasa yang penuh warna. Lahir disana dan besar disana adalah kebanggaan tersendiri. Dan ketika sekarang harus merantau keluar, kotagede masih tetap di hati.
    Sindrom kangen tanah kelahiran: kotagede dg segala pernik uniknya..🙂
    thx for posting bot kotagede

  8. Cokelat Monggo itu di Kotagede sebelah mana, soalnya emang jarang ke Kotagede sih seringnya ke Kotabaru . Pengen ke sana sekali-kali, makan testernya tapi ga sampe habis biar ga usah beli😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s