Kapuas

Ketika itu Pontianak sudah larut ditelan malam. Salah satu malam yang berkesan selama saya menapakkan kaki di Bumi Khatulistiwa, Kalimantan Barat. Saya melipat tangan di dada berusaha melindungi badan dari serangan dingin malam. Begitu juga ketiga kawan saya yang lain. Sama-sama menggigil.

Kami berjalan di tepian Sungai Kapuas yang saat itu mengalir deras, di antara rumah-rumah panggung berpondasikan dasar sungai, menuju sebuah dermaga kayu. Kayu yang kami pijak berderit-derit, mudah-mudahan tidak mengganggu orang-orang yang sedang asyik berkelana di alam mimpi masing-masing.

“Katanya kalau mencuci muka pakai air Sungai Kapuas, orang itu nanti bakalan balik lagi, lho, bang ke sini.” Ujar Tika ketika kami sudah duduk di dermaga. Saya mengangguk-angguk. Untuk sekarang saya memilih untuk men-skip saja tantangan itu. Air Kapuas sedang keruh. Dari tadi sampah-sampah tidak berhenti-berhenti melintas.

Sebenarnya tidak perlu sampai mencuci muka dengan air sungai supaya bisa kembali lagi ke Pontianak. Pesonanya cukup untuk membuat kota ini terus terngiang-ngiang di kepala dan merayu-rayu untuk dihampiri kembali.

Lihat saja malam itu. Temaram lampu dari permukiman diseberang dipantulkan secara sempurna oleh permukaan Sungai Kapuas. Suasananya sungguh syahdu.

Di seberang sana, agak ke barat, berdiri dengan gagah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Masjid Kesultanan Kadriah Pontianak. Atapnya yang lancip menjulang membuat masjid itu tampak lebih menyolok dari Keraton Kadriah sendiri.

Dingin malam mendesak kami untuk segera pulang. Kami kembali menuju tempat parkir motor. Kayu kembali berderit-derit, orang-orang tetap di tempat tidur, dan Kapuas terus mengalir sampai ke muara.

Berbuka Puasa di Atas Sungai Kapuas

Waktu paling tepat untuk mengunjungi Keraton Kadriah adalah sore hari. Setelah berputar-putar di dalam istana yang berbentuk seperti rumah panggung raksasa itu anda bisa bersantai-santai di sebuah gazebo di depan Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, sekedar menikmati suasana Sungai Kapuas yang khas.

Di sungai besar itu kapal tarik berlalu-lalang, perahu kecil tanpa henti membawa orang menyeberang, dan di ujung sebelah muara terparkir puluhan kapal barang dan penumpang. Jika ingin lebih merasakan kehidupan Sungai Kapuas, anda bisa menyewa perahu untuk melakukan river tour.

Suatu sore di bulan Ramadhan, saya dan kawan-kawan menyewa perahu untuk menyusuri Sungai Kapuas. Harga sewanya terbilang murah. Untuk sebuah perahu bermotor tempel dengan muatan 12 orang, biayanya cukup IDR 70,000. Nahkodanya membawa kami bersampan sampai ke bawah Jembatan Kapuas kemudian berbalik arah ke muara sampai ke Kodim.

River Tour kilat itu sudah bisa memberi pengertian pada saya bahwa Sungai Kapuas adalah urat nadi Kota Pontianak sekaligus pesona utamanya. Ribuan orang menggantungkan hidupnya pada Sungai Kapuas. Ibu-ibu menggunakan airnya untuk mencuci baju. Anak-anak berenang riang di air yang keruh dan tertawa-tawa setiap kali difoto. Para lelaki dewasa tampak sibuk mengurus perahu masing-masing, siap untuk berangkat melaut.

Beruntung ketika itu masyarakat bantaran sungai sedang bersiap-siap untuk berpartisipasi dalam Festival Meriam Karbit, festival tahunan dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri. Setiap beberapa ratus meter meriam karbit raksasa seukuran pohon kelapa sawit berderet rapi, siap untuk ditembakkan. Semuanya indah dalam bingkai temaram.

Tak lama kemudian adzan berkumandang. Kami yang berpuasa serentak menyeruput es kelapa yang tadi sengaja dibeli di depan keraton. Senyuman puas tersungging dari mulut saya dan kawan-kawan.[]

13 pemikiran pada “Kapuas

  1. hehe mirip dengan di kaltim, katanya kalo udah minum air mahakam bakal balik lagi..πŸ˜€ jd ingat dulu pernah menyusuri sungai mahakam … asik banget..πŸ˜€

  2. ya ya ya…

    saya pernah nguli di sana, mendarat di Ponti, lalu terbang melayang ke Ketapang, habis itu berkendara melewati jalan maha jelek menuju Tumbangtiti. sempet mampir di salah satu resto di tepi sungai besar itu

    sungai Kapuas kesannya mistis, dan membikin saya sedikit yakin ada ular raksasa sebesar gelondongan kayu hasil illegal logging sama buaya putih😐

  3. Fotonya bagus banget yah…..
    Sayang nya sungai2 keren gini (musi, kapuas, mahakam) di Indonesia ga di rawat dengan baik, banyak sampah nya & bau. Pdhal keren tuh klo dibikin River Cruising, bisa narik minat turis2 mancanegara hehee

  4. @ojat: iy suasananya paling juga mirip2.πŸ˜€ kalo bisa saya pengen ke Barito dan Mahakam juga, kk.πŸ˜€

    @indrakh: amin, mas. kalimantan itu luas banget, saya jamin traveler yang ke sana gak bakalan bosen karena banyak sekali yang bisa diamati.πŸ˜€

    @kantong plastik: martapura kota intan itu?πŸ˜€

    @kurology: waktu ke kalbar dulu saya ada rencana pergi ke ketapang. namun urung karena akses ke sana begitu terbatas (kalo gak numpang pesawat baling-baling, ya naik ekspress, kata orang Ponti)πŸ˜€ , kalau dipaksakan bisa-bisa separuh waktu saya di kalimantan terbuang pada usaha menjelajahi ketapang.πŸ˜€

    pasti masih ada makhluk2 aneh di sana.. gede dan mistis gitu. kanan kiri hutan rimbun tak berpenghuni.πŸ˜€

    @mila: iy kk.. mestinya kalo bisa dikelola dengan bagus bisa nyaingin river cruising sungai mekong tuh.πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s