Ngayogjazz 2011, Stormy Weather

Saya sempat mengira keramaian di parkiran Ngayogjazz kemarin adalah nikahan. Soalnya ada janur kuningnya segala. Untung di parkiran-parkiran itu ada tulisan “Parkir Ngayogjazz”, kalau tidak mungkin saya sudah bablas sampai ke Kasongan.

Ngayogjazz 2011 diadakan pada hari sabtu (15/1) di halaman rumah mbah Djoko Pekik, salah seorang seniman kenamaan asal Yogyakarta. Tapi jangan anda bayangkan halamannya seperti halaman-halaman biasa; ada pagar beton, lantainya paving block keras, dan dengan kanopi sebagai pelindung dari terik panas. Halaman rumah mbah Pekik berbeda, sama sekali.

Dua kata yang bisa mengekspresikan keadaan rumah mbah Pekik adalah hijau dan luas. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sanggar alih-alih rumah. Jalan masuk ke venue Ngayogjazz 2011 adalah sebuah jalan kecil yang kedua sisinya dihiasi rerimbunan pohon, kebanyakan pohon Sengon. Antara pepohonan dan jalan dibatasi oleh pagar bambu yang tampak berbaur dengan alam sekitar. Nah, ini nih yang bisa bikin melting cewek-cewek, kedua sisi jalan dihiasi oncor-oncor yang dimasukkan ke dalam wadah pelindung warna-warni.

Ada tiga panggung di Ngayogjazz 2011. Panggung Siter yang pertama kali tampak ketika masuk, panggung Slompret yang berada di timur laut Siter, dan yang ketiga adalah panggung “tersembunyi” di sebelah utara Siter; panggung Tambur.

Ketika saya tiba acara baru saja dimulai. Di Siter sedang main sebuah grup dari Komunitas Jazz Jogja (KJJ), Erwin Zubiyan Quintet. Mereka membawakan versi jazz dari lagu Cublak-Cublak Suweng, komposisi karya mereka yang masuk dalam album kompilasi KJJ kedua. Ngayogjazz 2011 memang sekalian menjadi ajang peluncuran album kedua KJJ yang berjudul “Sasarengan”. Sekitar pukul 3 sore, Djaduk Ferianto secara simbolis mengurai pita yang membalut sekeping album “Sasarengan”.

Setelah rangkaian acara di Siter selesai, penonton diarahkan ke Slompret untuk menonton Gugun Blues Shelter. Gugun dan kawan-kawan berhasil menarik perhatian penonton dengan lagu-lagu blues dengan beat menghentaknya. Di sela-sela lagu Gugun sempat bersahutan dengan pemain bassnya, John. “Ini pertama kalinya ya kita main di…. on the jungle,” celoteh Gugun sontak membuat penonton gerr.

Turn it on menjadi lagu pamungkas Gugun Blues Shelter. Kemudian kerumunan penonton berpindah ke Tambur. Dari ketiga panggung Ngayogjazz, Tambur adalah yang paling eksotis. Berada di sebuah tanah lapang kecil di bawah rumpun bambu raksasa, di belakangnya sungai mengalir. Panggung ini kecil dan rendah, hanya terbuat dari papan, namun suasananya guyub. Ketika musisi tampil, penonton berkerumun setengah lingkaran seperti di amfiteater. Agaknya Tamburlah yang paling mewakili semangat kebersamaan Ngayogjazz 2011, mangan ora mangan, ngejazz.

Tapi sayang sekali panggung ini tidak bisa terus digunakan. Sesaat setelah gelap turun, hujan lebat datang. Membuat acara-acara di sana harus dipindah ke panggung lain. Seterusnya, hujan rintik-rintik dan angin kencang seolah-olah ikut menyaksikan festival jazz tahunan ini.

Walaupun hujan sehingga harus rela berpayung-payung, ribuan penonton tetap setia menonton Ngayogjazz. Di malam hari, panggung Siter dan Slompret seolah-oleh berebut massa. Kedua panggung sama-sama menampilkan musisi-musisi ibukota. Siter menampilkan Simak Dialog dan ESQI:EF (Syaharani and The Queenfireworks), Slompret menampilkan Iga Mawarni, Tohpati Bertiga, dan Glenn Fredly. Untuk dapat menikmati penampilan semua musisi, saya harus bolak-balik antara kedua panggung itu.

Ngayogjazz 2011 ditutup oleh penampilan Glenn Fredly. Glenn Fredly, seperti biasa, tampil bersahaja dan senang berdialog dengan penonton. Ada satu lagu yang dia persembahkan buat penduduk Jogja yang diawali dengan ucapan; “Lagu ini buat kalian yang percaya bahwa setelah erupsi pasti ada pelangi harapan buat kalian (masyarakat Jogja).”[]

14 pemikiran pada “Ngayogjazz 2011, Stormy Weather

  1. saya nyesel baca postingan ini, sungguh !
    karena mustinya bisa dateng kesitu juga kmaren,
    tapi beralasan hujan di sekitar kos, ditambah males mencari posisi rumah joko pekik ditambah tak ada teman kesana, lengkap sudah

    tapi sekali lagi saya nyesel senyeselnya
    apalagi ada iga mawarni dan tohpati pula
    *sigh*

    1. saya udah stand-by di tkp dari jam 3 sore. bela2in buat nonton Gugun.๐Ÿ˜€ berangkatnya juga sendiri, cuma janjian sama temen di sana. rata2 pada mau berangkat malem sih makanya saya berangkat duluan biar gak ketinggalan momen.:mrgreen:

  2. (Sekali lagi) Kok gambarnya hitam putih sihh…bikin suasana ngga idup..hehehe. ehh, ternyata tulisannya yang bikin postingan ini menarik…

  3. @mila: halamannya luas banget pokoknya mbak.๐Ÿ˜€ bisa dipake buat main bola beberapa pertandingan sekaligus.๐Ÿ˜€

    @roseta::mrgreen: inilah mbak susahnya pake kamera analog, film yang ada mesti dihabisin dulu. hehehe..

    @merry go round: iy mbak rossa.๐Ÿ˜€
    kemarin MCnya ada yang anak hip-hop juga keknya. tapi kemarin ga ada band hip-hop yang tampil.. paling yang agak beda Gugun Blues Shelter.๐Ÿ˜€

  4. Kereeen bisa nonton jazz gitu. Musik nya easy listening jazz gak? Soalnya kalo jazz nya terlalu berat, kuping saya gak kuat dengernya. Malah bisa jadi ngantuk๐Ÿ˜€

  5. poto bareng mbak IM๐Ÿ˜ณ

    selaku orang yogya, belum sekalipun saya menghadiri hajatan jazz di situ๐Ÿ˜ฆ mungkin sekali waktu ada kesempatan sampeyan bisa membawa saya mengisi buku tamu di acara jazz dengan ikon janur kuning itu๐Ÿ˜†

  6. @cipu: kalo ngayogjazz sih cenderung ke yang easy listening. lounge jazz yang enak di kuping. soalnya kan tujuannya buat memasyarakatkan jazz.๐Ÿ˜€ tapi banyak juga yang bawain dixie dan swing.๐Ÿ˜€

    @jumialely: kapan2 mesti nonton kk.๐Ÿ˜€

    @kurology: waduh, turut prihatin bro. karena ngayogjazz biasanya diadain akhir pekan, acara tahun depan nonton aja bro. berangkat dari ibukota sana jumat, minggu sore balik lagi.๐Ÿ˜€

    @rio praditia: aku dari jam 3 di sana. pasti kita pernah papasan tapi gak ngerti satu sama lain.๐Ÿ˜€

  7. Waduh kebayang asyiknya nonton Jazz, saya suka banget musik jazz. Sayang baru nonton konser langsungnya satu kali saat Luluk Purwanto dan trionya tampil di Unsud Purwakerta. Kapan ya bisa nonton Ngayogyajazz…..salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s