Verhaal Van Sambas

Terminal Sambas

Bis Pontianak-Sambas yang tadi saya tumpangi seperti mesin waktu. Membawa saya dari Singkawang, kota masa depan, ke Sambas yang tampak seperti kota tua di majalah usang.

Terminalnya lusuh dan berdebu. Persis seperti foto terminal Lintas Andalas di Padang medio 80-an yang saya lihat di album kepunyaan Ayah. Terminal itu sepi. Hanya beberapa bis yang parkir. Di seberang sana, di depan selusin ruko yang berjejer memagari terminal, dua armada oto pagar terlihat sedang memuat barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Pukul sepuluh nanti oto pagar itu akan berangkat ke Paloh. Kota perbatasan yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari Sambas. Konon di sana sedang dibangun pos lintas batas seperti di Entikong.

Lazimnya daerah perbatasan, Sambas jelas sekali kurang diperhatikan pemerintah pusat. Di sini angkot jarang sekali. Transportasi umum andalan masyarakat adalah ojek. Untungnya ojek di sini masih mematok tarif yang manusiawi bagi pendatang.

“Lima ribu ja.” Lima ribu saja. Jawab salah seorang tukang ojek ketika saya menanyakan ongkos ke Istana Kesultanan Sambas. Tarifnya cukup fair untuk jarak sekitar lima kilometer dari terminal.

Berpose bersama tukang ojek

Saya dan empat orang kawan menumpang lima armada ojek, melintasi Pasar Sambas, Sungai Sambas yang keruh, Makam Sultan Mohammad Tsafioedin II, kemudian berbelok ke kiri memasuki gerbang kuning kompleks Kesultanan Sambas.

Kami berhenti di depan dermaga kecil yang pondasinya terbenam jauh sampai ke dasar Sungai Sambas. Di kejauhan langit biru cerah berawan kapas beradu dengan horizon perkampungan bantaran sungai. Perahu mesin tempel dan sampan tradisional berseliweran, seolah tidak peduli dengan temperatur yang merayap semakin tinggi.

Di depan sana berdiri dengan gagah bangunan kayu Istana Kesultanan Sambas, Istana Alwatzikhoebillah. Di sebelah kanan, Masjid Sambas berdiri gagah, seolah sengaja mengambil tempat di sana untuk melindungi istana. Tepat rasanya menyebutkan bahwa Keraton Sambas adalah sisa-sisa kejayaan. Tembok pertahanannya, luar dan dalam, sudah berganti dengan pagar besi. Lapangan luasnya tampak lusuh, tiang tinggi untuk mengibarkan pataka pun sudah lama tidak dihinggapi bendera. Yang paling menyedihkan adalah gerbang dalamnya; lama tidak dihuni prajurit jaga, sekarang berubah menjadi rumah bagi ratusan kelelawar yang seenaknya saja membuang kotoran di sana.

Sungai Sambas

Istana Kesultanan Sambas

“Silakan masuk, dik,” sapa Bu Yuli ramah. Beliaulah yang membukakan pintu bangunan utama. “Dari mana?”

Sambil berbasa-basi, kami dipersilakan Bu Yuli masuk ke ruang tamu. Ruang tamu itu berbentuk persegi berukuran sekitar 10×4 meter. Benda paling menyolok dari ruangan itu adalah dua pasang cermin raksasa yang tertempel di dinding. Dua yang terpajang di pojok diding sebelah luar merupakan hadiah dari kerajaan belanda, sedangkan dua yang menempel di dinding sebelah dalam adalah hadiah dari kerajaan inggris.

Di atas pintu tinggi yang menuju ruangan lebih privat, terpajang sebuah prasasti kayu oval bertuliskan “Sulthan Van Sambas” dan “15 Juli 1933”. Tanggal tersebut menandakan dibangunnya Istana Sambas yang sekarang. Meskipun bangunan tersebut baru dibangun pada awal abad ke 20, sejarah Kesultanan Sambas tidak bisa dibilang pendek. Kerajaan Sambas telah eksis sejak abad ke-13 dan pernah disebut dalam Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca. “Sebelum-sebelumnya juga ada bangunan istana kerajaan sambas di sini. Tapi masih bangunan kecil. Baru pada tahun 1933 Sultan M. Mulia Ibrahim membangun istana seperti ini,” ungkap Bu Yuli.

Di Keraton Sambas saya melangkah dengan hati-hati agar tidak terlalu ribut. Maklum, hampir seluruh bangunan tersebut terbuat dari kayu, mulai dari lantai, diding, tiang, sampai pasaknya. Lantainya berwarna coklat tua, dindingnya dipoles dengan warna khas melayu: kuning.

Kami melanjutkan tur kecil itu semakin ke dalam. “Ini kamar Sultan,” ujar Bu Yuli sambil membuka pintu sebuah ruangan. “Sultan Ratu Winata Kusuma meninggal dua tahun lalu (2008). Penggantinya masih kecil sekali, masih SMP, belum bisa dinobatkan sebagai sultan.”

Ruangan itu juga bernuansa kuning. Di dalamnya terdapat ranjang buatan eropa, porselin, lemari, dan beberapa etalase yang memajang beberapa pakaian kebesaran sultan serta barang-barang berharga lain.

Sesudah menyelesaikan tur singkat keliling Istana Kesultanan Sambas, kami duduk-duduk sebentar di tepian Sungai Sambas. Menikmati birunya langit dan bersahajanya Sambas, sang beranda nusantara yang terlupa.[]

13 pemikiran pada “Verhaal Van Sambas

  1. ulasannya keren, bukan ulasan tentang tempat wisata yang umum dikunjungi orang. Love it.

    Miris rasanya mendengar kondisi-kondisi tempat bersejarah yang tak terurus di negeri sendiri. NEgara yang kaya akan budaya justru menelantarkan situs situs budaya nya. Kisah nya mirip mirip dengan peninggalan sejarah di Yunani, sangat tak terawat

  2. @cipu: trims bro. kalau dilihat-lihat sih, di Indonesia yang dimaksud dengan obyek wisata cuma tempat-tempat yang menghibur (i.e pantai, kebun binatang, dll). padahal kalau mau mencari, masih banyak tujuan lain seperti tempat2 bersejarah atau kerajaan-kerajaan tua.

    sayangnya tempat2 seperti ini jarang diekspos. dinas terkait lebih concern ke tempat2 seperti dive site, pantai-pantai berair jernih, dll.🙂

    @mila: sekarang sambas masih mengalami kekosongan tahta karena raja terakhir meninggal sekitar 2008 lalu, sedang penerusnya masih belia.

    kalau dianalogikan dengan kerajaan di jawa, sambas seperti solo atau cirebon. mereka gak punya posisi di pemerintahan, namun sesekali akan dimintai pendapat demi menghormati sejarah panjang kerajaan2 itu.

    btw, sekali sambas masih ada beberapa kerajaan lain di kalimantan barat. misalnya kesultanan kadriah, kerajaan landak, dll.

  3. Sambas adalah kota kerajaan islam tertua ke 2 di nusantara, setelah keSultanan Aceh,,
    keSultanan Sambas berdiri setelah runtuhnya kerajaan majapahit,,
    itu hasil penelitian saya, tentang sejarah keSultanan Sambas,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s