Hari Terakhir di Belitung

Hari terakhir di Belitung adalah yang paling menguras tenaga. Pagi-pagi sekali saya sudah  meluncur dari Tanjung Kelayang dengan Honda CS1. Motor “meleset” itu dari kemarinnya memang sudah berulah. Tidak bisa digeber ngebut. Digas sedikit saja langsung meraung-raung. Tidak mungkin motor itu kehausan, bensinnya terus saya isi penuh. Agak-agaknya koplingnya yang bermasalah. Motor itu berkopling tapi seperti tanpa kopling.

Jadi senin pagi itu, dengan motor yang meraung-raung, saya turun ke Tanjung Pandan. Beberapa belokan pertama kondisi motor masih dalam antisipasi saya; jalannya agak pelan tapi kalau dipaksa sedikit bisa laju. Saya masih bisa meliuk-liuk kanan kiri sesekali, walaupun memotong kendaraan lain agak susah.

Bencana datang tepat sebelum masuk Kampong Batu Itam. Persis sebelum plang bertuliskan “Anda Memasuki Kampong Batu Itam.” Motor itu tiba-tiba tidak bisa maju lagi, hidup tapi tidak mau jalan, persnelingnya masuk tapi koplingnya nggak bisa ngangkat.

Saya langsung turun dan menendang bagian belakang motor itu sekenanya. “Sialan! Saya dikerjain motor,” seingat saya begitu saya mengumpat.

Berhubung ketika itu masih belum genap pukul tujuh pagi, orang masih banyak lalu-lalang. Ada anak sekolah, ibu-ibu yang sedang mengantarkan anaknya sekolah, para pekerja berpakaian rapi, para pekerja lapangan, pegawai negeri, dan lain-lain. Saya pura-pura mengutak-atik mesin motor, walaupun sebenarnya sama sekali nggak ngerti mesin, siapa tahu ada yang menghampiri dan menanyakan, “kenape, Boi?”

Saya coba hidup-matikan mesin motor, berharap keajaiban datang dan motor itu kembali bisa berjalan. Sepuluh menit berlalu, saya masih tetap di situ.

Dengan sisa-sisa baterai ponsel, saya hubungi Pak Herman sang juragan tempat saya meminjam motor. Saya jelaskan panjang lebar, tapi beliau cuma bilang, “kamu sekarang di mana? Minta tolong sama tukang ojek saja.” Aih! Ingin rasanya saya banting ponsel itu, tapi tidak jadi karena sadar bahwa nasib saya ditentukan olehnya.

Saya lihat kanan-kiri, tidak ada tanda-tanda keberadaan ojek baik perorangan ataupun pangkalan. Mobil-mobil bak  pun penuh semua, ada yang mengangkut kayu, kotak-kotak besar tempat ikan, pasir, tidak ada yang kosong.

Tidak ada jalan lain, motor itu harus saya dorong. Dan dalam keadaan perut kosong dan memanggul ransel depan-belakang saya seret langkah untuk mendorong motor. Jalan datar saya senang, mendorongnya ringan. Jalan menurun apalagi, motor bisa saya naiki dan saya bisa meluncur menuruni jalanan mulus. Nyaman! Barulah ketika menemui tanjakan saya mengumpat-umpat dalam hati. Ancang-ancang untuk mendorong kencang sudah saya ambil jauh sebelum tanjakan dimulai, biar mendorongnya enak.

Begitulah, saya mendorong terus, sesekali menghamparkan badan di aspal untuk menarik napas, sampai sekitar 3 km. Sampai tangan kanan gemetar, muka pucat, dan perut keroncongan.

Di sebuah tanjakan, tanpa sengaja saya melihat ke belakang. Di kejauhan terlihat seorang bapak tua tengah jalan santai mendaki bukit. Mengenakan baju partai, celana pendek, topi hijau, dan sandal jepitnya ditenteng di tangan. Walaupun jalannya santai, sebentar saja saya sudah dipapas.

Kenape, Boi?”, tanya bapak itu. Akhirnya ada yang menanyakan juga.

Saya jawab sambil nyengir. “Rusak, Pak.”

“Di kampong ada bengkel, dorong saja sampai ke sana,” saran sang bapak bertopi. Suara itu membuat saya gembira, seperti mendengar suara di bank ketika akhirnya nomor antrian kita dibacakan.

Saya tambah semangat mendorong, apalagi di depan ada turunan, saya bisa ikut meluncur bersama motor. Ketika saya meluncur dan memapas sang bapak bertopi, saya sempatkan untuk melambai-lambai sambil mengucapkan terima kasih. Sang bapak hanya membalas dengan senyum geli.

Ternyata masih jauh, masih beberapa tanjakan lagi. Dengan sisa-sisa kekuatan dan dengan menahan panas yang semakin menyengat, saya dorong dan dorong lagi motor itu. Sampai akhirnya saya lelah sekali dan menghempaskan diri ke pinggir jalan.

Ketika itulah saya mendengar suara surga, “itu di depan ade bengkel, Boi.” Enam kata itu mampu mengisi kembali energi saya, seperti pengembara padang pasir yang menemukan oasis di tengah sahara. Agak berlebihan memang, tapi itulah kenyataannya. Kan saya pernah bilang di tulisan sebelumnya bahwa kadang kehidupan sebenarnya lebih dramatis daripada cerita sinetron.

Spare-part CS1 masih jarang di sinek. Paling inden.” Kata abang yang punya bengkel. Aneh sekali distributor motor jepang di negeri ini. Berani menyalurkan motor canggih ke pelosok, tapi tidak memikirkan soal ketersediaan perangkat pengganti.

Pagi itu saya harus ke bandara, cari tiket untuk pulang ke Jogja. Sebenarnya saya akan pulang dengan kapal, ke Tanjung Priok kemudian terus naik kereta ke Jogja. Tapi kemarin saya sudah menghampiri loket penjualan tiket kapan Tristar, tapi mereka sendiri tidak bisa memastikan kapan kapalnya akan berangkat dari Tanjung pandan. Jadwalnya tidak menentu, belum lagi perjalanannya yang akan sangat lama, sekitar 24 jam perjalanan laut. Karena itu saya memilih untuk naik pesawat saja, siapa tahu dapat tiket promo.

“Kalau begitu saya minta tolong saja sama abang buat ngantar saya ke tempat rental motor di Tanjung,” pinta saya ke abang bengkel. “Biar nanti mereka saja yang menjemput motornya ke bengkel abang.”

“Iya, lebih bagus begitu,” dengan serta merta abang itu mengabulkan permintaan saya. Spontan, seketika, hanya dengan niat ingin membantu, padahal kenal dengan saya saja tidak. Dalam hati saya terharu, di dunia ini memang masih banyak orang baik. Orang-orang yang akan menolong karena memang ingin menolong, tanpa tendensi apapun.

Akhirnya abang yang tidak sempat saya tanyakan namanya itu mengantarkan saya dari Batu Itam ke Tanjung Pandan, kemudian kembali lagi ke Batu Itam untuk mengambil dua ransel saya, terus kembali lagi ke Tanjung Pandan. Di tanjung pandan saya menjabat tangannya erat, benar-benar berterima kasih atas kebaikannya, sungguh tidak akan saya lupakan.

Tuhan ternyata punya cara untuk membuat umatNya tidak merasa diabaikan. Derita Dia imbangi dengan sukacita. Karena ada penerbangan ekstra, saya dapat tiket murah langsung ke Jogja. Ketika pesawat saya tinggal landas dan meninggalkan tanah Belitung yang dari atas tampak bopeng-bopeng akibat dikeruk penambang timah, ketika itu pula sebuah lembar manis pengalaman hidup saya habis. Seperti adegan di film, ketika itu ingatan saya flashback ke Sungai Musi yang ramai, mercusuar Muntok di pelosok Bangka yang menyambut saya sendu ketika berlabuh di sana, Tanjung Belikat dan kawanan lumba-lumba di sana yang dengan riang meloncat mengikuti kapal cepat, Manggar, Gantung, dan sungai Linggang yang hitam, yang ternyata memang terletak di Belitung paling ujung, orang-orang yang saya temui, dan semua hal yang tidak disangka… Sungguh pengalaman tiada tara.[]

14 pemikiran pada “Hari Terakhir di Belitung

  1. Wah cerita yang menarik bro, detail, dramatis, dan penuh sumpah serapah #hahaha

    Omong2 ngapain ya di Belitong? Dinas ya? Maaf baru mampir di sini. Semua memang pasti mengandung hikmah ya🙂

    #alhamdulillahya #sesuatubanget

  2. Wuahh sudah ke Belitong yah. Pengen ah… disana pasti orang2 pada awet muda. Setua apapun tetep dipanggil Boi LOL

    Mori, rajin nulis dong. I love your posts

  3. pada dasarnya stiap motor dari pabrikan sudah standar dan sudah di uji ketangguhannya.
    apapun motornya, kerusakan dapat terjadi…
    1. Pengguna yang kurang terampil
    2. Salah stel mesin
    3. benturan pada mesin dll.
    4. dan yang pasti udah taqdir dari ilahi…
    yang terpenting ada hikmah yang harus diambil dari setiap kejadian,,
    bukan makian dan sumpah srapah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s