Garis Khayal Khatulistiwa Bonjol

Saya termenung tepat di garis imajiner yang membagi bumi menjadi dua, khatulistiwa. Satu langkah ke utara, saya berada di lintang utara, begitu juga jika saya melangkah ke selatan, akan tiba di lintang selatan. Lama-lama di sini hobi saya bisa bertambah satu; latitude hopping.

Banyak yang berkecamuk dalam kepala; perasaan bingung, perasaan dibohongi mentah-mentah, kekecewaan. Apa pasal? Empat jam berkendara ke utara dengan motor matic hanya mengantarkan saya ke sebuah gerbang bertuliskan “Anda Melintasi Khatulistiwa” beserta terjemahan, dengan gedung bundar rusak di sisi baratnya.

Arsitek gerbang ekuator sepertinya memiliki visi yang melangkahi zamannya. Gerbang tersebut seperti ini; dua gerbang besar yang dibatasi oleh sebuah gedung berbentuk lingkaran. Agak-agaknya sang arsitek mengharapkan di masa depan ruas jalan Bukittinggi-Medan di Bonjol akan dibuat menjadi dua jalur.

“Ini aja?” ujar Abeng, kawan baik sedari SMP, rekan perjalanan saya kali ini. Abeng dan saya bertukar pandang tidak percaya.

Kami masuk ke gedung bundar di sebelah barat gerbang, tampak terbengkalai. Sekeluarga, yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak, sedang berusaha keluar dari bangunan tersebut, susah payah menggeser teralis berat yang diletakkan sekenanya sebagai pengganti pintu. “Tidak ada apa-apa di dalam,” begitu yang dikatakan sang Ayah.

Ketika telah masuk, kami memang tidak melihat apa-apa. Hanya kelam dan bau campuran kotoran kelelawar dan manusia yang ada. Dinding bangunan bundar tersebut ternyata terbuat dari sejenis seng yang bolong di mana-mana.

Untuk apa lama-lama di sana? Kami keluar, mengedar pandangan ke sekitar. Ternyata di seberang gedung bundar ada sebuah museum; “Museum Tuanku Imam Bonjol dan Museum Ekuator.” Penamaannya persis seperti kementerian di kabinet; dua hal yang tidak berhubungan dengan paksa disatukan.

Bayaran untuk masuk ke kawasan museum hanya seribu rupiah, dibayar di muka, tidak ada karcis ataupun bukti pembayaran lain. Lengang, mungkin karena waktu itu bukan akhir pekan. Hanya beberapa orang anak bersepeda dan seorang dewasa yang ada di halaman museum. Halamannya dihiasi beberapa wahana permainan, seperti di taman kanak-kanak.

Bangunan museum tersebut berbentuk rumah gadang dengan atap bagonjong. Beberapa meter di depan pintu masuk berdiri patung Tuanku Imam Bonjol yang sedang menunggangi kuda perang. Kaki kiri depan kuda tersebut terangkat, menyimbolkan bahwa penunggangnya meninggal akibat luka parah setelah perang.

Namun ketika akan masuk ke museum, kami mendapati pintu depannya digembok. Belum pukul tiga namun pintunya sudah tertutup rapat.

“Tadi orangnya ada, sekarang entah ke mana,” jawab seorang bapak pedagang kaos yang saya tanyai. “Ya, di dalamnya cuma begitu-begitu saja. Ada jubah Tuanku Imam Bonjol, kerisnya juga ada, tapi ya begitu-begitu saja.”

Kondisi ekuator Bonjol sungguh berbeda dengan ekuator Pontianak. Pemerintah Kalimantan Barat sepertinya mengerti betul bagaimana memanfaatkan potensi. Monumen ekuator Pontianak diisi dengan berbagai macam foto, peta, dan alat peraga yang berhubungan dengan garis imajiner khatulistiwa. Untuk masuk pun harus mengisi buku tamu. Tidak hanya dibiarkan terbengkalai seperti ekuator Bonjol. Setiap tahun, ketika equinox, diadakan festival di Tugu Khatulistiwa Pontianak. Undangan, pamflet, iklan, dan lain sebagainya disebarluaskan agar semua orang datang ke festival itu. Tampaknya di Bonjol juga ada acara festival sejenis, namun publikasinya belum maksimal. Belum banyak orang yang mengetahui eksistensi festival tersebut.

Ternyata, menurut penuturan bapak itu, kebanyakan pengunjung Museum Tuanku Imam Bonjol dan Museum Ekuator justru adalah turis mancanegara. “Biasanya mereka mampir dalam perjalanan Medan-Bukittinggi. Ramai-ramainya bulan november-desember.” Ujar sang bapak.

Turis mancanegara sudah melirik Khatulistiwa Bonjol. Ini konyol, entah pemerintah setempat yang kurang peka atau memang tidak ada sinergi antara pusat dan daerah dalam menyukseskan “Visit Indonesia”, saya tidak tahu. Ibarat mengundang orang ke rumah, akan sangat memalukan jika para tamu sudah berdatangan, sementara sang tuan rumah masih sibuk berbenah-benah. Ketika menulis ini, saya teringat obrolan dengan seorang pegawai kementerian pariwisata di Belitung kemarin. “Kita nggak berani mempromosikan daerah yang belum siap,” ujar perempuan manis, akhir 20-an, dan berkacamata itu. “Malu nanti sama turis, kita sudah menjanjikan macam-macam, tahu-tahu nggak sesuai harapan.”

Matahari sudah semakin condong ke barat. Ketika itu bulan puasa dan kami berniat untuk berbuka di Bukittinggi. Pukul empat lebih sedikit Abeng dan saya kembali ke arah selatan, mengendarai motor melintasi indahnya persawahan dan perbukitan, meninggalkan khatulistiwa Bonjol yang sampai saat ini masih luput dari perhatian.[]

13 pemikiran pada “Garis Khayal Khatulistiwa Bonjol

  1. Di banyakkasus terkesan pemerintah kita kurang memberdayakan dan mempromosikan potensi wisata yang dipunyai. Garis equator seharusnya menjadi sebuah tempat yang fenomenal jika kita mampu mengelola dan mengemasnya dalam paket wisata.

  2. Sungguh mengenaskan ya Shige…
    Sebuah potensi daerah yang dilewatkan begitu saja..
    Semoga pihak-pihak terkait segera menyadarinya dan mengurus tempat ini dengan sebaik-baiknya..🙂

  3. Sayang sekali,, padahal merupakan aset bangsa untuk menarik wisatawan. Seharusnya dapat dimanfaatkan dengan dibenahinya fasilitas-fasilitas yang ada sehingga wisatawan tak kan kecewa untuk berkunjung ke sana.

  4. Sedih banget ya, melihat kondisi museum equator Bonjol ini. Soalnya dari tahun 2003 saya kesana, ya gedung museumnya kagak ada apa-apanya. Jadi kalau sampai sekarang nggak ada apa-apanya, buat apa ya gedung itu di buat ? Pengelolanya nggak kreatif. Sebenernya banyak sih materi yang bisa diletakkan di situ, kalau memang ada orang yang mikirin. Pasti a bisa. Study banding ke museum-museum lain. Nanti untuk mendatangkan orang bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Kayaknya pemda di sana nggak memiliki kebanggaan sama sekali yaaaaaa.

  5. Wah sayang sekali potensi wisata yang disia-siakan. Kok tidak menangkap peluang untuk mengeruk uang dari wisatawan ya? Padahal jika dikelola dengan baik potensi itu bisa mendatangkan wisatawan dalam negeri mau pun manca. Salam Shige….

  6. Setelah membaca artikel di atas saya pula rasa ragu-ragu untuk berkunjung ke sana. Sebenarnya dalam aturcara percutian saya di Bukittinggi bulan Disember ini, saya memang berhajat untuk melawat objek wisata ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s