Buang Jong

Luar biasa sekali pagi di Tanjung Kelayang hari itu. Matahari terbit dari balik deretan pohon kelapa, jauh di timur sana. Jingga, bulat sempurna, dan tampak tidak ragu-ragu menunaikan tugas wajibnya; menerangi kehidupan makhluk-makhluk Tuhan. Agak ke tengah laut, puluhan yacht peserta Sail Wakatobi-Belitong 2011 terparkir rapi, terpatri dengan mantap di sauhnya masing-masing.

Senyum saya masih belum reda ketika tiba kembali di bibir pantai. Tadi ketika snorkling ke Pulau Burung saya melihat banyak bintang laut merah jambu gemuk. Mereka tampak nikmat sekali “bermalas-malasan” di tengah pasir putih yang mengisi dasar laut, persis seperti tokoh Patrick dalam kartun Spongebob. Biasanya, ketika melihat hal-hal natural seperti ini untuk pertama kali, seperti ada gelombang kegembiraan yang menjalari tubuh saya, berujung di mulut, kemudian berubah menjadi senyum. Sambil senyum saya berjalan ke warung Bang Ardi, tempat saya menginap.

Ketika sedang melahap pisang goreng tiba-tiba mata saya tertumbuk pada keramaian di kejauhan. “Mungkin acara Buang Jong-nya sudah mulai, boi,” ujar Bang Ardi. Kemarin sore Bang Ardi memang menyinggung-nyinggung soal Buang Jong, ritual yang dilakukan Suku Sawang menjelang angin musim barat bertiup. Sekitar bulan november jika merujuk pada kalender acara keluaran Kementerian Pariwisata. Buang Jong pagi itu sepertinya dilaksanakan khusus untuk memeriahkan acara Sail Wakatobi-Belitong 2011. Kata Bang Ardi, puncak ritual Buang Jong adalah melarung replika kapal ke laut sebagai persembahan. Penasaran, saya langsung mengambil kamera dan berjalan nyeker ke arah keramaian.

Ritual berasik baru saja dimulai ketika saya tiba, seorang pemuka adat suku sawang seperti berada dalam keadaan trance, terasuki oleh makhluk halus yang memang sengaja dipanggil. Sang pemuka adat yang telah dirasuki roh halus tersebut bertingkah aneh, ekspresinya janggal, dan seperti mendapat kekuatan dari langit, tetua berusia lanjut itu menjadi begitu lincah sampai-sampai memajat palang kayu segitiga yang tertancap di pasir. Konon, zaman dahulu ketika melakukan ritual ini, angin akan bertiup kencang dan ombak akan menjadi tinggi. Namun pagi itu biasa saja, angin sepoi-sepoi dan laut datar-datar saja.

Sesudahnya dipentaskan sebuah hikayat tentang pertarungan Suku Sawang dan Kaum Lanun. Suku Sawang dipimpin oleh seorang lelaki, lain dengan Kaum Lanun yang ternyata dipimpin oleh seorang perempuan (anda tentu masih ingat sepenggal cerita di novel Maryamah Karpov?). Dalam akhir kisah, suku sawang yang ternyata nenek moyangnya berasal dari Sulu, Filipina, berhasil mengalahkan kaum lanun.

Sebelum jong (replika kapal) dibuang, dilakukan prosesi numbak duyung. Pada prosesi ini seorang anggota suku sawang berkali-kali menombak replika ikan duyung dari gabus, sampai kena. Duyung adalah perlambang keberuntungan. Pada upacara yang sebenarnya, tombak yang digunakan untuk numbak duyung sudah dimantrai sehingga menjadi sangat tajam sampai-sampai bisa membunuh ikan duyung. Juga, pada upacara yang sebenarnya, numbak duyung diikuti dengan mencari ikan di laut.

Setelah prosesi-prosesi awal selesai, ramai-ramai orang membuang jong ke tengah laut. Jong yang juga diisi dengan sesajen dan ancak (replika rumah) diangkat dan diarak ke perahu, dibawa ke tengah sampai ke dekat Pulau Penyu, kemudian dilepas begitu saja ke laut lepas. Melalui persembahan ini, orang-orang suku sawang berharap diberi perlindungan dan keselamatan oleh penguasa laut agar terhindar dari bencana.

Sayang sekali upacara Buang Jong pada Sail 2011 ini tidak tampak sesakral yang sering digambarkan pada banyak tulisan. Mungkin karena prosesinya yang sebenarnya bisa sampai dua hari itu ditekan menjadi hanya beberapa jam, atau mungkin juga karena beberapa orang pemuda yang melaksanakan ritual kerap tersenyum dan tertawa bersama kawan-kawannya sepanjang prosesi, seperti kurang menghayati?[]

9 pemikiran pada “Buang Jong

  1. Weleh, beruntung banget. Saya blom pernah menyaksikan langsung ritual seperti itu. Ini di Belitong pulak. Mori, beruntung banget yah.

    Menanti postingan selanjutnya

  2. Wuiihh… keren!!!

    Belitong? mau dong ke sana. Beruntung banget ya bisa menjadi saksi mata ritual budaya langka ini.

    Ditunggu share jalan2 lainnya ya🙂

  3. Pertama: Foto-fotonya kereeennn.
    Kedua: Pengalamannya nggak kalah keren. Bisa nikmatin upacara adat pas liburan seperti dapet bonus.
    Ketiga: Hal-hal seperti ini —–> “seperti ada gelombang kegembiraan yang menjalari tubuh saya, berujung di mulut, kemudian berubah menjadi senyum”, selalu bikin kegiatan traveling nagih ya. Apalagi kadang hal tersebut diiringi perasaan terpesona sampai bulu kudung ikut berdiri (in positive way for sure).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s