Lamunan Gesing

Pesisir selatan Pulau Jawa dihiasi deretan pantai yang memanjang dari barat ke timur. Dari Gunung Kidul sampai ke ujung Jawa Timur. Tipikal pantai-pantai tersebut mirip; pantai pasir putih, dihiasi dengan karang dan perbukitan batugamping. Namun meskipun hampir serupa, masing-masing pantai memiliki keunikan tersendiri.

Sabtu lalu angin membawa Deli, Eka, dan saya ke Pantai Gesing yang terletak di Kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Kami sebenarnya ingin mencari pantai tersembunyi bernama Wokudu, yang semalam ditemukan Deli ketika berselancar di internet. Pantai Wokudu yang masih jarang dijamah ini, menurut informasi, terletak sekitar satu kilometer dari Gesing. Entah ke barat, entah ke timur. Keterbatasan waktu menyebabkan pencarian kami hanya berakhir sampai Pantai Gesing.

Perjalanan menuju Pantai Gesing sendiri sudah menyenangkan mulai dari awal. Selepas pertigaan Imogiri, jalanan berisi permukiman digantikan oleh sawah yang menghampar. Di cakrawala, persawahan tampak dibatasi oleh Pegunungan Selatan Jawa. Jalan aspal mengecil, kendaraan berkurang, begitu juga asap polusi.

Ketika elevasi semakin tinggi, persawahan digantikan oleh hutan jati. Tandanya secara adminisratif kami sudah berada di Gunung Kidul. Sekilas hutan jati tersebut tampak tidak beraturan seperti di Hutan Caruban, seperti secara alami telah berada di sana dari zaman ke zaman. Namun obrolan dengan Deli yang sedang menyetir motor di depan membuka horison lain. “Dulu katanya setiap anaknya lahir, orang Gunung Kidul menanam minimal sebatang pohon jati,” ujarnya. “Pohon tersebut dirawat dan nanti dipanen dan dipakai untuk membiayai kuliah anaknya.” Bisa jadi setiap pohon jati yang tidak terawat itu nantinya akan menjadi penentu nasib pendidikan generasi muda pedesaan Gunung Kidul.

Entah benar entah tidak, saya selalu menyukai cerita-cerita tentang kearifan masyarakat nusantara dahulu kala, yang sekarang sudah terkikis oleh modernisasi. Yang oleh Ayu Utami di Manjali dan Cakrabirawa disebut sebagai orang kota yang hanya menuntut jawaban praktis “ya” atau “tidak.”

Mendekati Pantai Gesing, mulai banyak petani yang menjemur kacang tanah. Mereka menggelar terpal di tepi jalan dan membiarkan matahari mengeringkan hasil panen. Kebanyakan panennya tidak seberapa. Mungkin jika dibungkus hanya akan mampu dimuat dalam beberapa bungkus besar kacang garuda. Selintas terpikir dalam benak saya, apakah panen yang tidak seberapa itu mampu menghidupi keluarga mereka?

Dan ketika matahari berada segaris dengan ubun-ubun, tibalah kami di Pantai Gesing yang sepi. Dari kejauhan sudah tampak deretan perahu terparkir rapi di bibir pantai. Jejeran perahu tersebut seolah berkiblat ke sebuah bangunan kecil tempat nelayan melelang ikan tangkapannya saban pagi pukul sembilan. Ingin rasanya menyaksikan bagaimana nelayan mendarat di pagi hari, bergotong-royong mengangkat hasil tangkapan, untuk kemudian menimbang dan menjualnya ke pengepul. Di beberapa tempat berdiri menara suar, yang memandu nelayan dari kapal-kapal besar yang berlayar di laut selatan.

Kami sudah tiba di Pantai Gesing namun tidak melanjutkan ke Wokudu. Saya tidak ambil pusing karena yakin rupanya tidak akan jauh berbeda dengan Gesing. Jaraknya juga hanya sekitar satu kilometer dari Gesing, jarak segitu dalam skala peta Pulau Jawa mungkin sudah terwakili pada sebuah titik saja. Barangkali bagi masyarakat setempat Wokudu itu masih merupakan lanjutan Pantai Gesing. Toh yang gemar memberi nama sebuah tempat sebenarnya cuma kita orang kota. Nama yang kita butuhkan agar bisa diakui orang bahwa kita sudah pernah ke sana. Rasa-rasanya akan lebih romantis jika sebuah tempat tidak dinamai, cukup dengan kita sama-sama paham bahwa ia “memang” berada di sana.

Lagian, di sana tidak ada manusia. Dan apa menariknya sebuah tempat jika tidak ada manusia di sana?[]

6 pemikiran pada “Lamunan Gesing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s