Di Jalan Daendels

Keajegan itu melenakan. Tadi, selama beberapa saat saya harus berkonsentrasi berkendara di jalan bukit selepas Pantai Ayah. Sekarang kami berada di Jalan Daendels Selatan yang lurus bukan main. Membujur sekitar 150 kilometer dari Cilacap sampai Purworejo. Mata saya harus bekerja ekstra menahan kantuk yang sesekali datang menyerang. Terkadang motor yang kami tumpangi oleng kanan-kiri karena berpapasan dengan truk. Jalan militer yang dibangun pada dekade pertama abad ke-19 itu menyusur pesisir selatan Jawa, berjarak sekitar satu kilometer dari pantai. Jejeran pepohonan kelapa seolah secara sukarela memagari Jalan Dandels dari ganasnya Samudra Hindia. Saat itu pagi menjelang siang namun matahari sudah garang. Bahkan, sesekali saya dapat melihat fatamorgana di kejauhan; awalnya tampak seperti genangan air di tengah jalan, namun setelah didekati ia hilang. Lagu “This Time Tomorrow” gubahan The Kinks terngiang-ngiang dalam kepala saya.

Kemarin pada jam segini Taufik dan saya sedang duduk di bawah pohon jambu, menikmati sarapan mie instan dan secangkir kopi hangat. Kami baru tiba di Pangandaran setelah berkendara sekitar 5-6 jam dari Yogyakarta, plus menginap di SPBU Sidareja. Badan masih pegal akibat sibuk bermanuver di jalanan Sidareja yang rusak parah.

Saya rasa istilah rusak parah tidaklah terlalu berlebihan. Terbiasa di Jogja, saya jarang menemui jalan rusak. Jikapun ada itu hanyalah jalan kampung, jalan tikus yang hanya akan ditempuh untuk menghindari macet. Bukan di jalan propinsi. Jika anda pernah ke Jogja, coba bayangkan kondisi jalan tepian Kali Code dari Sayidan ke utara, kemudian gandakan keburukannya lima puluh kali lipat. Hanya seperti kerakal-pebble campur lempung yang ditumpahkan sekenanya di jalan; begitulah keadaan sebagian besar ruas jalan sekitar Sidareja, Cinyawang, sampai Kalipucang.

Selepas sarapan kami meluncur ke Green Canyon. Dan saya tidak membayangkan Green Canyon sebegitu turistik. Berhadap-hadapan dengan loket dan dermaga terhampar tempat parkir yang luas, dipenuhi oleh bis-bis besar dan mobil-mobil pribadi. Sebagian besar berpelat Bandung, beberapa Jakarta. Warung dan toko suvenir yang tak pernah sepi memagari lahan parkir itu. Di dermaga seorang petugas meneriakkan nomor antrian. “240! Siap-siap 241.”

Kami termenung di undakan, melihat perahu-perahu datang dan pergi silih berganti. Untuk menyewa sebuah perahu biayanya Rp. 77.500 dan bisa diisi oleh paling banyak lima orang. Perahu itu akan membawa pengunjung menyusuri Sungai Cijulang selama sekitar 15 menit menuju Green Canyon. Pergi-pulang. “Kalau mau berenang-berenang atau loncat-loncat biayanya nambah lagi, mas,” ujar petugas yang tadi menghampiri kami di dekat loket. “Biayanya nego saja sama yang punya perahu.”

Saya memeriksa dompet. Tujuh puluh tujuh ribu lima ratus rupiah terlalu banyak untuk dihamburkan. Hanya ada dua cara jika benar-benar ingin pergi ke Green Canyon; temukan jalur trekking atau cari rombongan lain, share cost.

“Kata kawanku yang sudah pernah ke sini, Citumang lebih keren sih,” jawab saya ketika Taufik menanyai pendapat; mau tetap cari alternatif murah naik perahu atau lanjut ke tempat lain. “Bayar pemandunya juga cuma 50 ribu.”

“Ayo menggelinding. Let’s roll, then.”

Tapi Tuhan tidak mengendaki kami untuk sekadar mampir. Agaknya Ia menginginkan kami untuk melihat langsung karyaNya. Sang Tangan Tak Terlihat mengirimkan seorang petugas parkir untuk mencarikan rombongan yang mau share cost dan kami hanya perlu membayar Rp. 32.000 berdua. Singkat cerita kami sudah di atas perahu nomor 290, bersama rombongan dari Cikarang, menyusuri sungai hijau kebiruan. Hutannya masih hijau dan pematang sisi sebelah dalam sungai dipenuhi ornamen stalaktit seperti dalam goa. Beberapa malah ada yang membentuk kolom sampai menusuk ke dalam air sungai.

Di Green Canyon perahu berhenti. “Ini bagaimana, Aa?” Sang pemilik kapal bertanya sebelum kami turun. “Mau lanjut ke tempat berenang-berenang dan loncat-loncat apa tidak?”

Artinya kalau jawabannya “ya” kami harus mengeluarkan biaya ekstra. Taufik dan saya menyerahkan jawabannya ke rombongan Cikarang sebab kami hanya menumpang. Setelah tawar menawar, separuh rombongan Cikarang memilih untuk lanjut ke pemberhentian selanjutnya dan membayar ekstra. Separuh lainnya, rombongan kami, memilih balik. Sementara mereka tawar-menawar dan berfoto, kami berenang di sungai. Dalamnya sekitar 2.5 meter, airnya biru jernih dan segar. Tapi belum apa-apa sang pemilik kapal sudah memanggil dan menyuruh balik ke kapal. Baru lima menit jatah waktu kami sudah habis dan harus kembali. Wajahnya agak-agak merengut karena rombongan kami memilih untuk tidak lanjut. Walhasil suasana balik agak-agak canggung, awkward.

Kalau sudah begini tidak akan ada orang yang mau ke Green Canyon untuk kedua kali, kecuali yang berduit. Masalahnya tidak semua orang Indonesia berduit. Dan siapa pula yang mau naik perahu yang pemiliknya hanya menggeram ketika kita mengucapkan terima kasih? Seharusnya pengelola memikirkan keberlanjutan kedatangan pengunjung. Jika semua dibuat transparan niscaya semua akan senang. Bikin saja di loket rincian harganya. Misal: perjalanan PP plus berhenti di Green Canyon 5 menit = Rp. 77.500, perjalanan PP plus berenang-renang 30 menit = Rp. 150.000, dst. Pelancong, terlebih yang datang dari tempat jauh, pada prinsipnya tidak mau repot untuk melakukan tawar-menawar dan akan lebih senang jika harga yang ditetapkan jelas.

Green Canyon sudah mendapatkan reputasi nasional dan seharusnya pengelola sadar akan hal tersebut. Tidak ada salahnya pengelola Green Canyon mengadaptasi cara karang taruna Desa Wisata Gelaran mengelola Goa Pindul. Mereka menyediakan beberapa pilihan petualangan; tube rafting, tube caving, dan caving. Harga sudah dituliskan secara terperinci dan pengunjung tidak harus dalam rombongan besar untuk menikmatinya. Pemandu benar-benar hanya memandu dan tidak ikut mengurusi tarif. Suasananya enak, pengunjung betah dan pasti mau ke sana lagi untuk kedua kalinya.

Citumang menurut saya lebih baik. Mungkin karena dibanding Green Canyon tempat itu lebih sepi pengunjung. Seperti Goa Pindul, yang mengelola adalah karang taruna setempat. Kami harus membayar Rp. 75.000/orang untuk bisa menikmati body rafting. Namun rasanya kami lebih ikhlas mengeluarkan uang sebanyak itu di Citumang daripada di Green Canyon tadi, yang notabene tidak seberapa. Kenapa, ya?

Mungkin karena pemandu kami, Danang, tidak tampak terburu-buru. Ia sabar menemani kami loncat-loncat dari ketinggian sekitar delapan meter di mulut Goa Kalinumpang dan air terjun kecil di depannya. Ia sabar menunggui kami mengayuh di ruas-ruas sungai berarus kecil. Ia pun sabar menunggu kami mengumpulkan tenaga untuk memanjat tangga tali setinggi sepuluh meter, disambung mengumpulkan keberanian untuk terjun bebas dari dahan pohon tinggi yang menyangganya. Lebih dari semuanya, kami bertiga mengobrol dengan enak seperti teman lama yang sudah sekian tahun tak bersua. Tidak ada suasana terburu-buru seperti di Green Canyon.

Brak!

Lamunan saya tentang hari kemarin terganggu oleh lubang kecil yang menganga di Jalan Daendels. Kami hanya berjarak beberapa jam saja dari Jogja. Tapi kemudian jalan lurus tersebut kembali melenakan saya ke dalam ingatan. Sepulang dari Citumang kami ke Batu Hiu; ketika bertanya ke Danang di mana tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam, ia menyarankan untuk ke Batu Hiu. “Batu Karas biasa saja,” ujarnya. “Mending ke Batu Hiu.” Anyway, sore itu matahari tertutup awan. Pendarnya saja yang sampai ke Pangandaran.[]

6 pemikiran pada “Di Jalan Daendels

  1. Hmmm…ternyata banyak potensi wisata lokal buat dikembangkan ya… Sayang ngga semua sadar tentang pentingnya meninggalkan kesan yang baik ke pengunjung….kayak si tukang perahu yang terburu2x dan tidak ramah itu (ngebayanginnya aja saya udah sebel duluan, ikutan emosi loh :D)

    BTW, saya kadang penasaran dengan cerita jalan raya Daendels….kebayang dari cerita buku2x sejarah gimana dulu penjajah memaksa rakyat buat kerja di sana…150 km yak…ckckck….

  2. @rossa: bingun juga sih. harusnya ada sebuah badan atau lembaga yang ngontrol pariwisata setempat agar gak kebablasan. misalnya masyarakat sadar wisata.

    @felicity: iya mbak.. mereka keknya cuma mengharapkan 200 juta pengunjung datang. abis itu sepi.🙂

    saya rekomendasiin buat baca Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karangan Pram. ia nulis tentang jalan daendels mulai dari banten sampai panarukan. sebagian dari pengalaman dan referensi, sebagian lagi cuma dari referensi aja karena dia belum pernah ke sana. tapi saya jamin, pembaca bakal dapet pengetahuan yang lumayan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s