Di Gedong Songo

Senja

Jika ingin menikmati sebuah tempat indah, pergilah ke sana ketika tempat itu berada dalam keadaan sepi. Suatu sore di awal Oktober, saya turun di pertigaan Poli, Ambarawa. Dari Poli saya menyambung naik elf, bergelantungan bersama penduduk lokal sampai ke pertigaan jalan masuk Candi Gedong Songo.

Dari pertigaan saya berjalan kaki sekitar tiga kilometer sampai ke gerbang Gedong Songo. Sebenarnya di pertigaan ada pangkalan ojek. Namun saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Naik ojek pasti akan mahal. Ongkosnya barangkali lebih mahal daripada yang saya bayar untuk naik bis sekitar 100 km dari Jogja ke Ambarawa. Dan selain hemat, jalan kaki ke Candi Gedong Songo juga menyenangkan karena kau akan melewati perkebunan bunga. Sesekali tengoklah ke belakang, gemunung tersibak di balik awan, dan di kakinya air Rawa Pening berpendaran.

“Kemping nggak, mas?” Tanya petugas loket ketika saya membayar retribusi masuk.

Saya menjawab tidak karena saya memang tidak akan kemping. Pengunjung yang kemping harus membayar biaya tambahan. Saya hanya membawa kantong tidur dan berencana akan menginap di gazebo, pelataran, atau musholla, di manapun asal tempatnya datar dan terlindungi dari hawa dingin.

Saya berjalan menyusuri jalan setapak semen, melewati para tukang kuda yang masih saja menawarkan jasa di penghujung hari, melewati Candi Gedong I yang kesepian, dan akhirnya saya duduk di sebuah bangku taman. Sebatang kretek saya hisap dan mengepulkan asap.

Ketika terdiam dalam lamunan, sebuah suara perempuan tua datang menyapa. “Piyambakan, mas? Sendirian, mas?” Ia bertanya sambil mengais-ngais sampah plastik di tempat sampah.

Nggih, bu.” Jawab saya.

“Hari-hari seperti ini memang sepi, mas,” ungkapnya. “Sabtu-minggu baru ramai.”

Andaikan ia tahu bahwa saya memang tidak mencari keramaian. Omong-omong, dalam keadaan sepi seperti ini kau akan lebih bisa merasakan Ungaran. Menyaksikan petani yang merapihkan kebun, tukang kuda yang beriringan ke istal sebelum pulang ke rumah masing-masing, ibu-ibu tua yang mengais-ngais sampah botol plastik, penjual jagung rebus yang tampak putus asa menjajakan sisa-sisa dagangan, muda-mudi yang turun dengan raut wajah puas setelah asyik bermesraan sesorean di naungan candi-candi… Dan hayatilah bahwa sesungguhnya kaulah yang asing.

Semburat jingga yang menggantung di ufuk barat perlahan mulai memudar. Sang surya hampir tenggelam sepenuhnya, membiarkan Ungaran kedinginan diterpa angin malam. Kemeja flanel saya keluarkan dari ransel, kemudian kenakan. Sejak dari Jogja tadi saya hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Mengagumkan, hanya dua jam jarak dan beberapa ratus meter beda ketinggian mampu membuat suhu berbeda begitu rupa.

Azan mulai berkumandang. Suaranya datang bersahut-sahutan dari tempat-tempat rendah. Dan ibu-ibu penjual jagung rebus tadi masih saya berusaha merayu: “Rebuse, mas.”

Pagi 

Saya duduk bersila di sebuah bangku beton, tepat di samping Candi Gedong V. Di sebelah timur menghampar sebuah bumi perkemahan. Enam tahun yang lalu saya dan ketigapuluhempat kawan geofisika seangkatan diospek di sana. Saya masih ingat ketika pagi-pagi kami semua terkagum-kagum oleh pemandangan kaki langit yang tampak seperti dalam lukisan. Dahulu beramai-ramai, sekarang sendirian. Keberadaan saya di sini seolah menjadi penyadar bahwa tiada yang abadi. Cepat atau lambat segala sesuatu pasti akan berubah, teman-teman datang dan pergi.

Semalam saya tidur di musholla tanpa pintu dekat pos retribusi. Musholla yang agak-agaknya dibangun hanya untuk pengunjung sebab dari magrib sampai subuh tidak ada orang yang datang. Tidur saya nyenyak sampai pagi.

Ketika kabut masih menyelimut, saya mulai trekking ke atas. Jalan semen itu menuntun saya ke Candi Gedong I, II, III, IV, dan V, juga ke fumarol dan sumber air panas. Kompleks candi ini begitu anggun. Sulit dipercaya bahwa Gedong Songo ini merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Warisan nenek moyang dari sebuah bangsa yang sekarang senang berkelahi dan menghancurkan.

Plang bertuliskan “Cagar Budaya Adalah Peninggalan Yang Tak Terhingga Nilainya” disebarkan di antara candi-candi. Namun kalimat sarat makna itu seolah-olah mengalami penyempitan arti. Selama ini di Indonesia, untuk hal-hal yang berkaitan dengan benda-benda kepurbakalaan, “nilai” hanya identik dengan uang. Situs-situs bersejarah dibuka hanya untuk menangguk keuntungan, sementara nilai edukasinya kebanyakan hanya digali oleh ilmuwan luar negeri.

Tengoklah bahwa akhir-akhir ini pemerintah gencar sekali mempromosikan keindahan alam dan sisa-sisa kejayaan masa lalu: Komodo, Raja Ampat, segitiga terumbu karang, candi-candi. Tampak sekali bahwa bangsa Indonesia tidak memiliki budaya masa kini yang otentik dan dapat dibanggakan. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan penetrasi budaya asing, yang sangat dominan akhir-akhir ini. Karena jika bangsa ini punya budaya yang kuat, budaya asing akan mampu disaring. Budaya hanya dapat “dilawan” dengan budaya.

Budaya bukan untuk sekadar diklaim sebab ia merupakan produk sebuah peradaban. Budaya adalah sebuah penghayatan. Ia juga tidak dapat dipaksakan, seperti menyuruh para pegawai negeri atau pekerja kantoran menggunakan batik di hari jumat sementara sehari-hari mereka tidak berpakaian demikian. Apalagi di daerah-daerah yang sebenarnya tidak memiliki batik sebagai produk budaya. Budaya menjadi budaya karena masyarakat di suatu tempat terus-menerus memelihara sebuah kebiasaan. Ia tidak turun dari atas, ia dibentuk di akar rumput.

Perlahan biru langit menyemburat dari balik Candi Gedong V. Ungaran berdiri kokoh di utara, menaungi candi-candi kecil yang tampak tak berdaya di bawahnya. Fumarol dari sumber air panas di lereng terus menerus menguarkan putih abadi.

6 pemikiran pada “Di Gedong Songo

  1. Budaya adalah tradisi dan nilai2 moral masyarakat yang telah mengakar kuat dalam lingkungannya. Tidak dapat dipaksakan, terbentuk seiring jalannya waktu dan sayangnya tergerus pula oleh waktu dan masuknya budaya baru.

  2. Kalau gw liat, fenomena semacam itu bukan hanya terjadi di indonesia aja.. Banyak juga negara2 di asia yg identitas kebudayaan nya ada di masa lalu, dan mereka menjual nya sbg daya tarik pariwisata, sementara jaman skrg kehidupannya lbh terpengaruh budaya asing. Tapi gw pernah baca sih, katanya kebudayaan manusia itu pasti cenderung tepengaruh sama pengaruh dr luar yg lbh kuat. Ya kayak waktu jamannya candi itu kan pengaruh budaya indianization juga. Ya ga? Ya ga? Kyk ya ini komen gw yg terpanjang seumur2 deh hahahaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s