Gedong Songo – Blitar Stop Motion

Kamu pasti pernah menonton video stop-motion, kan? Nah, jika dinarasikan, versi stop-motion dari perjalanan Gedong Songo – Blitar kemarin kira-kira seperti berikut. Dari Gedong Songo saya ke Semarang. Terus ke Lasem menumpang bis Semarang-Surabaya. Di Lasem saya berhenti sebentar sekadar makan bakso dan nongkrong di warung es tepi jalan. Kemudian saya kembali mencegat bis dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya lewat pantura; bertemu dengan sekelompok pencari tokek lintas propinsi, lewat daerah bernama Bancar yang agak-agaknya merupakan daerah asal dari salah seorang teman sesama blogger, dan akhirnya tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih.

Dari Bungurasih saya jalan kaki 19 km ke Gubeng menyusuri rel kereta api, sempat kewalahan menyeberang di jalanan Surabaya yang padat mengerikan, namun akhirnya terpesona menyaksikan kehidupan malam Surabaya. Melewati kawasan nongkrong DBL arena, kawasan prostitusi di Stasiun Wonokromo, dan akhirnya benar-benar diberikan kesempatan untuk menikmati Pintu Air Jagir di malam hari.

Lewat tengah malam saya tiba di Stasiun Gubeng. Dalam keadaan letih, kantong tidur saya gelar dan menghamparlah diri ini di teras keramik stasiun tua itu. Belum sempat tidur karena terus-menerus bertarung dengan nyamuk ganas Surabaya, saya dipaksa bangun dari pembaringan demi mendengar suara riuh rendah pengantri tiket kereta pagi jurusan Malang-Blitar. Karena mau ke Blitar saya ikut larut dalam kerumunan.

Pukul setengah empat pintu kayu stasiun dibuka dan orang-orang berhamburan berebut posisi terdepan dalam antrian. Ketidakngototan menyebabkan saya terlempar ke posisi paling belakang dan ketika tiba di depan berhadap-hadapan dengan penjaga loket, saya hanya kebagian gerbong tanpa nomor kursi Kereta Api Cepat Doho. Tiket Penataran yang lewat Malang habis, saya harus lewat Kediri.

Di kereta saya duduk berhadap-hadapan dengan sepasang suami-istri lanjut usia. Tiap awal bulan mereka ke Surabaya mengambil uang pensiun sang bapak, namun sisanya mereka tinggal bersama anak-cucu di Tulungangung. Mereka tampak akur sekali. Ajaib melihat bagaimana sepasang manusia bisa tetap akur setelah hidup bersama selama puluhan tahun.

Sekitar pukul sepuluh pagi kereta tiba di Stasiun Blitar. Stasiun tua itu tampak seperti baru dipugar, beberapa gunduk pasir tampak diletakkan sekenanya di lahan parkir. Setelah membeli tiket kembali ke Surabaya via Malang, saya melesat ke peristirahatan terakhir Bung Karno. Sekitar dua kilometer ke utara.

3 pemikiran pada “Gedong Songo – Blitar Stop Motion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s