Arupadhatu

Saya keluar dari kantong tidur, mengumpulkan nyawa, kemudian meregangkan badan. Pagi, rumput Taman Lumbini masih dibasahi embun. Burung-burung berterbangan sembari berkicau bercengkrama. Para pelari pagi melintas, riang walaupun wajah pias. Borobudur terlihat menawan. Mentari kemudian menyinari kelabu raksasa itu. Perlahan, ia mendapatkan kembali warnanya yang sejati.

27440009

Damai itu tak bertahan lama sebab sesaat kemudian ratusan orang telah memadati boulevard dua arah menuju Candi Borobudur. Loket tiket sepertinya sudah dibuka. Saya membayangkan loket itu sebagai pintu air pada sebuah bendungan. Pintu air murahan yang hanya akan membuka palangnya pada air yang bersedia membayar tiket masuk.

27440010

Saya dan kawan-kawan bergabung bersama barisan panjang pelancong yang mendaki candi. Ada pemandangan yang baru bagi saya; banyak orang memakai kain batik di pinggang. Ternyata sekarang, untuk ke candi, pengunjung dewasa diwajibkan melilitkan kain batik di pinggang. Suatu bentuk penghormatan terhadap Borobudur, patut diapresiasi.

Kami mendaki lantai demi lantai. Menyusuri relief demi relief dalam putaran searah jarum jam, pradaksina. Pagi membuat bayangan arca Buddha dan para pengunjung menggelayut di sebelah barat.

27440012

Bisa dikatakan ini adalah ekskursi atau kuliah lapangan yang gagal. Ayu Utami dalam bukunya yang terbaru, Lalita, menuliskan bahwa sebenarnya Candi Borobudur merupakan sebuah kitab raksasa, dengan relief-relief sebagai tulisan. Maka setelah pradaksina, para biksu yang berziarah ke Borobudur akan seolah mengkhatamkan sebuah kitab. Saya berusaha mengenali lalitavistara dan jatakamala, tapi gagal.

27440011

Sayang sekali. Kelihatannya bagi sebagian besar pengunjung Candi Borobudur hanyalah sebuah tempat wisata. Sedikit sekali pengunjung yang tampak antusias mengamati relief dan lebih banyak yang sekadar berfoto-foto bersama kerabat. Sebuah ironi karena sesungguhnya Borobudur merupakan pengibaratan dari alam purna rupa. Dalam Buddhisme dikenal tiga alam; kamadhatu (alam angan), rupadhatu (alam rupa), dan arupadhatu (alam purnarupa). Candi Mendut, Pawon, dan Borobudur berturut-turut merupakan perlambang ketiga alam itu.

27440019

E.S. Ito dalam Negara Kelima menjadikan serat ilmu sebagai metafora sebuah kebanggaan masa lalu yang dapat menginspirasi dan memotivasi bangsa ini untuk dapat setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Barangkali Borobudur dapat disebut sebagai versi nyata dari serat ilmu.

27440032

Memang sudah saatnya masyarakat Indonesia mengubah cara pandang terhadap Borobudur. Borobudur bukan sekadar sebuah susunan andesit raksasa yang indah. Selayaknya ia dipelajari dan dijadikan inspirasi. Keberadaan Borobudur akan sia-sia jika hanya sekadar dijadikan lokasi berburu foto atau tempat berfoto pra-nikah. Maknanya lebih dalam sebab ia lahir dari sebuah penghayatan terhadap nilai-nilai spiritual Buddha. Ia adalah bukti bahwa pada suatu ketika di masa lalu nusantara memiliki sebuah peradaban maju. Peradaban yang dapat menciptakan sebuah candi yang tak lekang oleh zaman.

27440036

4 pemikiran pada “Arupadhatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s