Kompas dan Kompresor

Mendung memayungi perahu kami ketika akan berangkat ke Gosong Cemara Kecil. Setelah kemarin berlatih watermanship dan melakukan latihan kemampuan dasar scuba diving di dermaga, hari ini kami akan mempraktekkannya di laut lepas. Jantung saya berdetak lumayan kencang sebab saya rasa laut lepas pasti sangat berbeda kondisinya dengan dermaga. Begitulah, mendapatkan sertifikat selam memang gampang-gampang susah.

Di dermaga tadi mesin perahu agak-agak susah dihidupkan. Syaiful, anak sang pemilik perahu, tampak kepayahan memutar tuas pemicu mesin. Gagal terus meskipun sudah beberapa kali dicoba. Melihat Syaiful yang kepayahan, sang ayah turun tangan. Baginya gampang saja, sekali coba Pak Mulyadi sudah bisa menghidupkan mesin perahu.

38250025

Perjalanan ke Gosong Cemara memakan waktu sekitar satu jam. Mas Jeki, instruktur kami, sengaja memilih Gosong Cemara sebagai lokasi penyelaman perdana karena tempat ini memiliki dasar pasir disamping dinding coral yang menarik. Cocok untuk berlatih kendali buoyancy (daya apung). Pemula seperti kami jika disuruh menyelam di lokasi yang dasarnya koral pasti akan merusak saja.

Di laut, satu jam terasa lama sebab yang tampak hanya pulau dan cakrawala. Cakrawala hanya lurus dan pulau mendekat dengan perlahan, membosankan. Jika sedang bosan di jalan biasanya saya memulai obrolan. Dan beberapa menit kemudian, obrolan dengan Pak Mulyadi yang bermula dari topik cuaca sudah berjalan dengan seru. Pembicaraan bergeser pada kekhawatiran Pak Mulyadi tentang penggunaan teknologi yang terlalu kelewatan.

“Dulu nggak pakai satelit kami sanggup berlayar semalam ke arah laut dan balik ke Karimun dengan selamat,” ungkap Pak Mulyadi. “Tapi anak-anak sekarang tergantung sekali dengan satelit.”

38250021

Satelit yang dimaksud Pak Mulyadi adalah perangkat Global Positioning System (GPS). Perangkat canggih itu memang melenakan, sebab tanpa melakukan orientasi medan terhadap daerah sekitar pun GPS dapat memberitahukan posisi tepat seseorang. Bagai pedang bermata dua, ia memudahkan namun jika tidak digunakan dengan bijaksana ia dapat menumpulkan daya kreasi. Masih bernostalgia, Pak Mulyadi mengungkapkan bahwa dulu mereka melaut hanya dengan bekal kompas dan kemampuan membaca bintang. “Bahkan kadang jika nggak ada kompas, kami hanya membaca bintang,” tambah Pak Mulyadi.

Sejak membaca Edensor dan The Old Man and The Sea, saya menganggap bahwa salahsatu pekerjaan paling cool adalah nelayan pelaut. Kenyataan bahwa mereka dapat bertahan dalam kehampaan samudra raya dan berhasil pulang setelah membawa ikan yang banyak membuat saya menyimpan rasa kagum pada mereka. Merekalah navigator ulung, GPS ada di dalam kepala mereka.

“Bapak pernah menyelam juga?” Gema, buddy saya yang asli Surabaya, ikut nimbrung dalam obrolan.

38250024

Kemarin sore setelah latihan di dermaga, saya dan Gema yang kelaparan mencari tempat makan di alun-alun. Kebetulan sekali bapak penjaga kios yang kami singgahi adalah seorang mantan penyelam kompresor. Sambil menyamil tahu baksonya yang lezat, kami mendengarkan cerita sang bapak.

Ia dahulunya bekerja sebagai nelayan pencari ikan ekor kuning. Harga ikan ekor kuning yang lumayan mahal membuatnya mengabaikan segala risiko yang mungkin terjadi akibat menyelam dengan kompresor. “Kami menyelam di tiga puluh meter selama tiga jam,” kenangnya. “berganti-gantian sampai pagi.”

Sampai pada suatu ketika tubuh bapak itu mendadak lumpuh terkena penyakit dekompresi, gelembung nitrogen yang terakumulasi dalam tubuhnya menyumbat aliran darah dan sistem syaraf. Baru tiga hari kemudian ia dapat dilarikan ke rumah sakit dan dimasukkan ke dalam deco chamber. “Badan saya yang sebelah kiri kadang-kadang masih kebas,” ungkapnya. “Ya, sekarang saya nggak mau menyelam lagi. Jualan saja, lebih aman.”

38250030

Uang adalah kebutuhan mutlak dalam dunia modern, namun setiap orang bebas memilih dengan cara apa ia akan mencari uang. Sadar akan bahayanya, Pak Mulyadi memilih untuk berhenti menjadi penyelam kompresor dari jauh hari, ketika ia muda. “Tidak seperti kalian ini, saya menyelam dengan kompresor. Dahulu sekali. Tapi sekarang tidak lagi,” begitu Pak Mulyadi menjawab pertanyaan Gema.

Relativitas. Obrolan membuat waktu terasa berlalu dengan cepat. Tidak terasa kami sudah tiba di Gosong Cemara Kecil. Mas Jeki langsung menyuruh kami untuk menyiapkan alat. Sejenak kemudian saya sudah berada di kedalaman, dengan peralatan scuba di badan, siap untuk menyingkap tabir baru petualangan.

6 pemikiran pada “Kompas dan Kompresor

    1. aku nggak sempat nanya itu bakso pake daging apa. kalo beneran pake daging barracuda, kasian juga. soalnya di perairan karimun sekitar pantai kebanyakan barracuda-nya masih kecil-kecil.

  1. Yes, nenek moyangku seorang pelaut…
    Argh sayang cuman sampai di kakek saya aja, ilmu melaut dan berenangpun saya pun tak tau *dasar manusia modern*.
    Bekerja di laut sepertinya punya kenikmatan dan passsion sendiri bagi orang2.
    *kangen laut*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s