What doesn’t kill you

Tangan saya meraih-raih sekuat tenaga mencari pegangan yang tak kunjung ditemukan. Tubuh ini tetap saja merosot dan tergerus kerikil tajam. Perih. Teguh dan Eka yang berada di bawah memanggil-manggil nama saya dengan cemas. Saya tahu sejenak lagi mereka pasti akan menahan napas, saya sudah di ujung punggungan kecil itu dan sedikit lagi akan jatuh menggelinding ke dalam mulut jurang.

Tekad untuk bertahan hiduplah yang menyelamatkan saya. Setengah mati saya dekapkan tubuh ke tebing kemudian saya tahan lajunya dengan perut. Berhasil, saya berhenti merosot. Kedua kawan bernapas lega. Di atas tebing yang stabil, saya duduk sambil menghela napas panjang. Di bawah, sambil sesekali tertutup kabut, tampak Pasar Bubrah, camp terakhir Gunung Merapi sebelum puncak, ramai dihiasi tenda beraneka warna. Hari ini Merapi sedang berbaik hati, saya tidak jadi ditelannya. Mungkin karena ia ikut bersuka cita menyambut tahun baru 2013.

19480007

What doesn’t kill you makes you stronger. Begitu kata pepatah. Saya melanjutkan perjalanan ke puncak dengan lebih hati-hati. Tapak demi tapak saya pilih dengan cermat agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Syukurlah, secara fisik dan mental saya masih hidup. Ya, tidak hanya hal konkret seperti tubuh yang bisa mati, semangat untuk bertualang juga bisa hilang oleh musabab tertentu.

Musim hujan di awal masa kuliah dulu, saya bersama enam orang kawan mendaki Gunung Sumbing dengan bersemangat. Beberapa sudah pernah naik gunung, beberapa masih meraba-raba. Dinihari, di sebuah tempat setelah Pasar Setan, salah seorang kawan saya terjerembab ke dalam jurang sedalam lima meter. Keril besar yang ia sandang membuat badannya limbung ketika beristirahat di pematang yang menghadap ke jurang.

19480008

Beruntung, dasar jurang ternyata ilalang dan ia jatuh dalam posisi tertelentang, punggungnya ditahan keril, ia hanya mendapat luka-luka kecil. Sejak itu ia tidak pernah lagi ikut mendaki gunung, melewatkan banyak kesempatan untuk mencicipi petualangan. Insiden itu telah membunuh semangatnya.

Jika ia mempertahankan semangatnya setelah insiden itu dan tetap mendaki gunung, saya rasa ia akan menjadi pribadi yang berbeda. Ia pasti akan menjadi pendaki ulung yang akan selalu tertawa saat mengingat cerita pendakian perdananya itu, alih-alih malu. Tapi saya sadar, tidak baik berandai-andai. Dan pula, siapalah saya?

19480006

Langkah hati-hati itu membawa saya ke Puncak Merapi. Rupanya berbeda sekali dibandingkan ketika saya ke sana terakhir, 2009 lalu sebelum erupsi. Kawah mati sudah menghilang, menyatu dengan kawah aktif raksasa yang menganga. Puncak Garuda sudah raib digantikan oleh pucuk tanpa nama yang sangat sulit untuk direngkuh.

Di puncak, saya berjumpa banyak orang yang teguh dalam pendirian. Orang-orang yang mengenyampingkan penderitaan demi mencapai sebuah tempat bernama puncak. Memang benar bahwa perjalanan, termasuk mendaki gunung, tidak melulu soal mencapai puncak, melainkan perjalanannya itu sendiri. Namun jika dipikir-pikir lagi, mendaki gunung lebih dari sekedar perjalanan. Langkah-langkah menanjak itu adalah tentang kekuatan tekad dan keberanian menembus batas, untuk sampai ke dalam diri sendiri.

19 pemikiran pada “What doesn’t kill you

  1. Judulnya menuju puncak yah…. hebat fuji… salut gua. Gua blom pernah naik gunung, apalagi sampai puncak gitu…. ada juga ke puncak pass hahahaah

  2. klo menurut film apa gitu yang mengejar tornado. “you’re never too young to die”…

    jadi inget puisi terjemahan “Coba saja sekali lagi—mati itu sangat mudah / Bertahan hiduplah yang susah.”

  3. Jalur Merapi lumayan keren, terutama dari pasar bubrah ke puncak, November lalu ke sana ketemu kabut dan angin kencang.

    hmmm yeah, mendaki gunung memang membawa nuansa (jiwa) tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s