Pasir yang hitam

Beberapa waktu yang lalu saya ke Pantai Sadranan bersama kawan-kawan. Sudah sore ketika saya menyentuh pasir lembut berwarna kremnya. Seperti biasa, saya langsung meletakkan ransel, membuka baju dan sandal, lalu menceburkan diri ke dalam ombak yang menggulung. Agak besar memang, musim sedang basah dan berangin kencang. Berbahaya kata orang. Tapi bukankah manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri?

Saya biarkan air laut yang asin dan dingin meraba kulit, menyentuh tepian lubang pori-pori saya yang mengecil karena dinginnya temperatur. Terpikir, betapa air adalah petualang ulung. Wujudnya yang cair membuat partikel-partikelnya mampu menjelajah ke tempat-tempat yang tak masuk akal. Air yang menyentuh kulit saya ini mungkin pernah berada di kutub selatan, setelah mengalami kondensasi dan terangkat dari sesungai amazon yang lebar dan legendaris.

89720008

Selain saya dan kawan-kawan, di sore yang dingin itu Pantai Sadranan juga dikunjungi oleh beberapa rombongan. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya – berkejaran dengan ombak, mengubur temannya dengan pasir, sepasang manusia saya lihat sibuk berkodak dengan mengambil latar ganasnya samudra.

Pantai selatan wilayah Gunung Kidul benar-benar sudah termahsyur. Sebutlah Ngobaran, Drini, Sadranan, Ngandong, Sundak, Indrayanti, Siung, atau Wedi Ombo di ujung. Pantas saja sebab hamparan itu memiliki pasir berwarna cerah, meskipun tidak secerah pantai-pantai yang membentang di Belitung atau pulau-pulau kecil gugusan Karimunjawa. Tapi itu cukup untuk membuat ribuan orang penasaran. Mata manusia cenderung suka kepada yang putih-putih dan mulus. Kawan-kawan dari Jakarta ini contohnya, mereka sengaja datang jauh-jauh naik kereta, di musim hujan, hanya untuk melihat wujud pesisir Gunung Kidul.

89720023

Maka bernasib malanglah pantai-pantai di sebelah barat, sebab pesisir dari Parangtritis sampai ke Pantai Baru Pandansimo sana memiliki pasir yang hitam. Mereka tidak tampak keren dalam foto, langit biru tidak pantas untuk dikontraskan dengan pasir hitam dan laut keruh. Begitulah jika yang dianggap sebagai tujuan wisata baru sebatas tempat-tempat yang segar dipandang mata seperti Belitung, Karimunjawa, Lombok, Bali, atau Sempu.

Pantai sebelah barat lebih mudah dicapai. Jalannya datar dan tidak menantang. Mungkin itu juga salahsatu faktor pendorong yang membuat pejalan muda enggan mengunjungi kawasan ini – kurang menantang. Pantai Pandansimo, Kwaru, dan Samas lebih banyak disambangi orang tua dan anak-anak, sementara Gunung Kidul primadona di kalangan anak muda. Agaknya sekarang banyak yang menganut prinsip; biarlah mengekor asal tiba di tempat bagus.

89720025

Padahal banyak yang dapat ditemukan di gugusan pantai sebelah barat. Di pantai Baru Pandansimo ada bangkai Hiu Tutul yang diawetkan (sekaligus mengundang pertanyaan; kenapa tidak diselamatkan), di Pandansimo kita dapat menyaksikan barisan kincir angin yang digunakan sebagai pembangkit listrik, di dekat Goa Cemara berdiri sebuah mercusuar setinggi empat puluh meter yang bisa dinaiki, sementara di dekat Samas engkau bisa melihat hamparan air yang terkurung dalam laguna.

Di masa ketika komunitas dan forum jalan-jalan menjamur seperti sekarang ini, masih jarang saya lihat orang yang bertanya tentang pantai sebelah barat yogyakarta. Minat pejalan masih cenderung ke yang bening dan putih-putih. Tapi saya yakin bahwa ini adalah sebuah proses. Setidaknya sudah tumbuh generasi yang ingin tahu tentang negerinya sendiri, yang tidak serta merta percaya apa yang disajikan televisi dan merasa harus langsung melangkahkan kaki.

Mungkin tidak semua manusia mampu menjelajahi dunia yang luas, seperti ombak yang terhempas ke daratan di depan saya itu. Tapi ada baiknya kita merenungi sekalimat dari Chris Johns, editor in chief National Geographic; “…Sesungguhnya kegiatan eksplorasi itu berada sedekat pekarangan belakang rumah anda.”

89720029

15 pemikiran pada “Pasir yang hitam

  1. Gua kayaknya masih masuk ke kelompok anak muda yang masih mengejar pantai berpasir putih dan berair biru itu hehehe, itu semua demi keperluan narsis kok… biar narsis nya didukung dengan background yang mantap

    1. @zeph: mudah-mudahan.

      @cipu: haha.. saya sadar kok bang kalau tiap orang berhak jalan-jalan dengan caranya. jalan-jalan itu personal kok, mungkin saya aja yang kebanyakan protes.🙂

      @kantongplastik: saya pernah juga ke depok, dulu banget abis rampung acara himpunan.🙂

      @felicity: tergantung batuan induknya, mbak. yang di sebelah timur jogja, batuan induk asal pasir pantainya batugamping. cerat (warna ketika hancur) nya warna cerah, hampir2 putih. mungkin di sebelah barat batuan induknya memiliki cerat warna hitam (soalnya bukan batugamping), lagian pantai sebelah barat juga lebih terekspos abu vulkanik merapi.

  2. Aku tidak pernah melihat pantai sebagai yg mulus atau kusam, karena sebenarnya aku tidak terlalu suka ke pantai karena biasanya langsung diiringi masuk angin. Lebih memilih menghabiskan hari di gunung saja.

    Btw, udah baca aja NG edisi terbaru

    1. Pantai ya sama aja kayak gunung, masing-masing memiliki sifatnya sendiri-sendiri. Dan yang bisa manusia lakukan hanya memaklumi dan menyesuaikan diri.

      Udah. Kemarin dulu waktu ke togamas liat NG edisi 125 tahun. Langsung kebawa ke kasir.🙂

  3. Sementara ciri kanker serviks yang juga mudah diamati adalah adanya penurunan berat badan secara drastis. Turunnya berat badan tersebut terkait dengan mekanisme dan kerja organorgan dalam tubuh yang terganggu karena keberadaan selsel kanker serviks. Ciriciri kanker serviks tersebut diawali dengan bersarangnya HPV (Human Papilloma Virus) dalam tubuh. HPV memiliki jenis yang sangat banyak. Tercatat lebih dari varian virus HPV yang sudah diketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s