Sesederhana antre

Ketika menulis ini saya sedang berada di terminal 3B bandara Soekarno-Hatta. Kali terakhir saya ke Padang adalah lebih dari satu setengah tahun yang lalu. Sekarang, karena suatu alasan, saya harus pulang.

Saya menumpang pesawat dari Yogyakarta, transit di sini–bandara Soekarno-Hatta–dan nanti pukul 12.40 saya akan boarding dan berangkat ke Padang. Perjalanan yang sederhana sebab memang tak ada istimewanya naik pesawat dari Yogyakarta ke Padang, kecuali bagi orang yang baru pertama kali mencoba naik pesawat.

36200016

Tadi saya berbagi bangku dengan seorang ibu. Di sebelahnya seorang cewek berjilbab. Dari yang saya curi dengar dari pembicaraan mereka, maafkan telinga saya yang kelewat sensitif ini, mereka akan ke Padang. Dengan tujuan perjalanan yang berbeda. Sang ibu akan mengunjungi saudaranya, sedangkan si cewek berjilbab akan menghadiri acara seorang teman. Lihat, begitu pekanya telinga saya.

Tapi bukan mereka dan urusannya yang akan saya bahas sebab saya sama sekali tak menjalin kontak dengan mereka. Ya, anggap saja sebuah usaha untuk mengurangi berbasa-basi busuk yang sebenarnya tak terlalu saya suka. Juga anggap saja proses untuk menjadi dewasa–tampaknya semakin dewasa seseorang semakin sedikit kalimat yang mengalir dari mulutnya–mencontoh orang-orang tua kaku yang menganggap berdehem sebagai sebuah suku kata.

Yang saya amati adalah perilaku mereka (jangan terburu-buru menjustifikasi sebab saya sama sekali tak keberatan jika mereka, sebaliknya, juga mengamati saya). Bagaimana mereka seperti tak menyimak instruksi pramugari untuk tidak membuka sabuk pengaman sampai lampu tandanya dimatikan, padahal itu semata demi keselamatan mereka. Bagaimana ketika mendarat, sang ibu dengan santainya menempati bangku saya setelah ia meminta tolong untuk mengambilkan tas kresek putihnya, membiarkan saya yang seharusnya berada di “bangku saya” berdiri menunggu selama sekitar sepuluh menit sampai pramugari membukakan pintu.

36200018

Hal yang sederhana memang. Namun jika kebiasaan itu dipertahankan, dicontoh orang, sampai menjadi budaya, agak-agaknya tak akan membawa kemaslahatan.

Jika ingin dihargai orang lain, terlebih dahulu seseorang harus menghargai orang lain. Seperti frasa jawa ojo dumeh, yang dipopulerkan oleh Anas Urbaningrum. Jangan mentang-mentang perempuan, bisa berlaku seenaknya. Giliran lelaki semena-mena, dikatakan tidak gentle. Atau jangan mentang-mentang tua, bisa mengambil hak orang lain dengan tralala. Pokoknya, jangan mentang-mentang. Lain soal jika kau sama sekali tak peduli dengan orang lain, dan berdikari untuk melakukan semua hal sendiri. Hidup dalam utopiamu.

Lalu dari atas pesawat yang mengantarkan saya dari Yogyakarta, saya turun. Kemudian dengan menumpang bis bandara, saya diantarkan ke terminal B. Dari bis, penumpang transit diarahkan ke loket transit, yang ternyata mengarahkan lagi penumpang ke luar untuk menumpang, lagi, bis bandara. Sungguh benar-benar efisien pelayanan bandara terbesar di Indonesia ini.

36200019

Mungkin ini adalah rekor saya, sehari dua kali menumpang bis bandara di satu bandara yang sama. Kemudian saya tiba di terminal B, menyusuri ubin merah bata Soekarno-Hatta, dan tiba di kerumunan massa. Ternyata mereka semua penumpang transit seperti saya.

Jika ditilik dari pembatasnya, sebenarnya ada tiga lajur antrian. Jumlah petugas yang tersedia juga tiga orang. Namun massa itu, para penumpang transit itu, mengepung loket transit dari berbagai penjuru. Petugas transit sampai kewalahan melayani mereka sebab masing-masing tampak ngotot ingin dilayani terlebih dahulu, tak mempedulikan kenyataan bahwa mereka datang belakangan, tanpa memperhatikan sekeliling bahwa sebenarnya ada antrean.

Tampaknya kampanye antre yang didukung oleh lagu “Antrelah di Loket” P-Project hanya masuk kanan keluar kiri. Kita sebagai bangsa bahkan belum mampu mempraktikkan disiplin yang sederhana: antre.

36200015

Lalu setelah antre dan mendapatkan konfirmasi tentang gerbang keberangkatan, saya naik ke atas lewat tangga manual, sebab eskalator begitu penuh oleh para penumpang yang memuja kenyamanan. Saya masuk ke dalam antrean panjang penumpang yang akan menuju ke gerbang keberangkatan masing-masing.

Ketika akhirnya berhadap-hadapan dengan petugas pemindai boarding pass, sesuatu terjadi. Boarding pass saya tidak dapat dipindai. “Masnya transit, ya? Minta bar code boarding pass transitnya dulu ke bawah,” itu kalimatnya yang membuat saya harus balik kanan dan turun kembali ke bawah.

Baru kali ini saya disuruh turun kembali ketika akan masuk gerbang keberangkatan. Sebelumnya lancar-lancar saja sebab petugas transit akan langsung memberikan bar code transit tanpa penumpang harus berhenti terlebih dahulu di sana sini. Perubahan seharusnya ke arah yang lebih baik. Dalam kasus bandara, atau airlines, harusnya menjadi lebih efisien.

Tapi, ya, apa mau dikata. Saya di Indonesia.

6 pemikiran pada “Sesederhana antre

  1. Merubah satu budaya yang telah mendarah daging memang sulit. Paling tidak pribadi berbudaya dapat diterapkan pada diri sendiri dan disiplin melaksakannnya. Walau harapan agar orang lain tergerak untuk menjadi lebih disiplin pun akan terdengar muluk.

  2. Hahahaa… ngeri ya sistem bandara di indonesia, bahkan naik maskapai kelas internasional macam garuda aja aku pernah loh disuruh 3 kali ganti waiting room. trus emang paling sebel pas mau boarding, orang2 pada desak2an kayak berebutan naik bus kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s