Sri Gethuk’s untold stories

Mendung itu perlahan berubah menjadi hujan. Semula hanya rintik, namun ketika saya dan ketiga kawan tiba di parkiran Sri Gethuk, ia berubah deras. Deras itu membuat air Sungai Slempret menjadi keruh, berbeda drastis dibandingkan alirannya ketika musim kering–biru jernih kehijauan, walau tak sampai toska.

Perbukitan batugamping yang mengapit sungai disamarkan oleh tirai hujan yang tebal. Di kejauhan malah sebagian sudah berselimut halimun. Meskipun begitu, alam tetap tak kuasa menyembunyikan puncak air terjun yang menyembul di antara rekahan gemunung.

Kami berteduh di sebuah warung yang tampaknya sudah tutup. Di ketiga mejanya tak tampak minuman, makanan, atau apapun yang dapat dijual. Alih-alih, di meja paling ujung teronggok seikat rumput gajah yang siap diangkut ke manapun yang diinginkan orang yang telah menuainya. Mungkin pemilikinya adalah lelaki akhir tiga puluhan yang sedang duduk bertopang dagu di salahsatu bangku panjang itu.

89740031

Saya membuka sarung ukulele kesayangan, melihat apakah benda bersenar empat itu basah terkena hujan. Sementara saya mengelap tabung resonansi ukulele dengan ujung flanel, ketiga kawan saya sudah merubung lelaki yang bertopang dagu itu. Sebentar saja mereka sudah terlibat dalam obrolan seru.

Ketika akhirnya saya bergabung, lelaki itu sedang bercerita bahwa dahulu jauh sebelum Sri Gethuk dikenal, di daerah Slempret marak terjadi penebangan hutan. “Kalau kata orang sekarang; illegal logging,” katanya seraya menyebutkan beberapa data statistik yang entah valid entah tidak. Dari dekat saya dapat mengamati bahwa ia memakai baju olahraga yang di bagian sakunya tertulis “MTsN Gubuk Rubuh.”

“Semua bekerjasama untuk membabat hutan. Lihat bukit yang di sana?” Ia berkata sambil menunjuk bukit batugamping yang menjulang di hadapan kami. “Dulu pepohonan di sana lebat.”

Kami mengangguk-angguk takzim mencerna informasi yang baru saja didapat. Angin semakin kencang dan hujan tak kunjung reda. Saya menyedekapkan tangan untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Di permukaan tanah lempung depan warung sudah mulai bermunculan aliran air, menuruti kodratnya untuk menuju ke tempat yang lebih rendah.

89740037

Rupanya bapak itu senang mengobrol sebab jelas sekali ia tak mau membiarkan vakum muncul di udara warung itu. Ia kemudian bertanya apakah diantara kami ada yang sudah pernah ke sini sebelumnya. Saya dan Obi mengangguk. Anggukan itu ditimpali dengan kalimat, “Orang kampung sini sendiri mungkin nggak berani jalan-jalan di sekitar sungai ini.”

Konon di dasar sungai itu, entah di ruas mana, ada talang atau lubang. “Sangat dalam sampai-sampai ketika bambu dimasukkan ke dalamnya nggak nyampe dasar,” ujar lelaki Gubuk Rubuh itu.

Jadi, katanya, ada sebuah legenda yang menceritakan bahwa suatu hari seorang pemuda kampung tiba-tiba saja hilang di sungai. Bertahun-tahun kemudian tubuhnya yang sudah hijau dan bersisik mengambang ke permukaan dan anehnya ketika diangkat oleh penduduk ia masih hidup. “Tapi saya nggak pernah diceritakan ke mana pemuda itu pergi setelahnya,” ujar Bapak Gubuk Rubuh sambil mengelus-elus dagu tak berjanggutnya. “Nggak tahu juga apakah cerita itu benar atau tidak.”

89740034

Di balik folklore, mitos, atau legenda pasti selalu terselip kearifan lokal. Baiknya, cerita seperti itu jangan direspon dengan sekadar bergidik sebab sesungguhnya ia diciptakan leluhur untuk direnungkan. Legenda pemuda hijau bersisik itu mungkin sengaja diciptakan untuk mencegah anak-anak untuk tidak berkeliaran di pematang Sungai Slempret sendirian sebab jika terjadi apa-apa tak akan ada yang dapat membantu (tahu sendiri bahwa walaupun kita hidup di negara maritim, tak semua orang mampu berenang). Sama halnya seperti kisah yang kerap diceritakan para ibu di kampung saya pada anaknya, mengenai orang gila yang gemar menebas kepala anak-anak, yang senang berkeliaran di tengah hari bolong, untuk dijadikan fondasi jembatan. Pasti ada sebuah kearifan yang tersimpan dalam cerita itu.

Bapak Gubuk Rubuh melanjutkan kisah-kisahnya. “Lihat, di tepi sungai itu ada yang namanya Batu Meja,” ujarnya sambil menunjuk singkapan batupasir berlapis di tepian seberang sungai. “Itu juga ada ceritanya.”

Konon, dahulu orang-orang yang akan pesta menyewa gamelan di sana. Diambil di sana, kemudian setelah selesai juga dikembalikan ke sana. Entah siapa pemilik gamelan sewaan itu, tak ada yang tahu. Suatu hari sebuah kampung menyewa set gamelan itu dan ketika mengembalikannya di Batu Meja ternyata alatnya kurang satu alias kelong. Sejak itu kampung tempat para penyewa itu bermukim dinamakan Kalongan. Menarik.

Seperti gelap yang perlahan mulai turun, hujan juga perlahan mereda. Ketika hanya tinggal rintik, lelaki Gubuk Rubuh itu pamit dan bergegas untuk pulang. Diikatkannya rumput gajah itu di jok belakang Shogun generasi kedua miliknya, kemudian ia berlalu.

89740033

5 pemikiran pada “Sri Gethuk’s untold stories

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s