Tak perlu ramai

Kenyataan bahwa pekarangan Goa Jomblang telah dikuasai perorangan membuat kami harus kemping agak jauh malam itu–di Pantai Wedi Ombo. Semua demi menemani Kukuh, teman kami yang selama sekitar setengah tahun ini bermukim dalam selimut halimun Dataran Tinggi Dieng, mengobati rasa rindunya terhadap tanah Gunung Kidul.

Ketika tiba, suara ombak bersahut-sahutan menyambut. Suara yang takkan pernah habis sampai nasib dunia tamat nanti, atau sampai saat Gunung Kidul kembali tertutup laut tenang sehingga garis pantai kembali bergeser. Kami memarkir motor di satu-satunya pondok penyedia jasa parkir di sana. Pondok itu hanya berpenerangan lampu teplok dan dijaga oleh seorang lelaki dan anjing kesepian bernama Temon. Wedi Ombo relatif lebih sepi dibandingkan pantai-pantai lain yang terletak lebih ke barat. Ditambah oleh belum masuknya sambungan listrik, malam hari di sana menjadi sunyi sebab satu-satunya keributan hanya berasal dari suara ombak.

Kami turun, lewat tangga beton tak terurus ke jalan kecil yang diapit oleh warung-warung kosong. Jalannya masih terbuat dari tanah, persis seperti ketika terakhir kali saya ke sana medio 2008.

43020030

Barang-barang kami taruh pada sebuah bale-bale di samping posko SAR. Kami mendirikan tenda di atasnya. Memang bale-bale itu cukup besar, mungkin bisa menampung sekitar dua belas tenda. Perlengkapan dan bahan standar kami keluarkan dari ransel masing-masing–makanan, trangia, lampu penerangan, dan instrumen hiburan.

Setelah semuanya beres, kami berkerumun di depan tenda, bercerita dan mengobrol tentang segala (ketika itu yang sedang hangat-hangatnya adalah: dagelan yang terjadi dalam tubuh partai pemenang pemilu 2009, jenderal polisi yang menjadi tersangka korupsi pengadaan simulator SIM, korupsi impor daging sapi, dll). Sekali-sekali Kukuh menyelingi obrolan dengan menyanyikan lagu Sheila on 7 dengan iringan Ukulele. Kami bernyanyi bersama, sekalian mengingat-ingat masa remaja ketika lagu-lagu itu merajai tangga lagu dalam negeri.

43020031

Saya tak mengerti apa yang kawan-kawan saya rasakan, namun saya merasa seperti itulah seharusnya kemping. Bersenang-senang bersama sekelompok kecil kawan-kawan dekat–tak perlu ramai-ramai, cukup beberapa orang saja, mengobrol, bernyanyi bersama merubungi kompor yang hangat, saling melempar lelucon, spontan. Dan ketika tengah malam sudah lewat, kita bisa bersama-sama menengadah ke langit mengamati galaksi bimasakti yang berpusar-pusar, merenungi betapa kecilnya kita dibandingkan semesta. Namun di sisi lain juga memasang mata dan telinga lekat-lekat terhadap segala permasalahan yang tampak ketika berada dalam perjalanan, juga ketika sudah berada di lokasi kemping.

Saya naik gunung, ke pantai, atau ke manapun yang saya suka, sebab saya ingin melepaskan diri dari orang-orang, segala kondisi, nilai, dan aturan konyol yang membelenggu dalam kehidupan kota. Orang-orang yang semaunya sendiri dalam berlalu lintas, orang-orang yang enggan antre di fasilitas publik, kewajiban mengenakan kemeja dan sepatu di berbagai tempat. Setiap orang memiliki prinsip, saya sadar itu, dan prinsip saya… adalah konyol jika saya ke gunung ramai-ramai dan diatur-atur seperti lembu yang akan dibawa ke rumah jagal, harus ditentukan menginap di tenda mana bersama siapa, dan harus ikut permainan-permainan konyol yang biasanya hanya diselenggarakan pada setiap tanggal 17 agustus.

43020032

Sesungguhnya yang membedakan antara mall dan gunung hanyalah pada jumlah manusia yang ada di sana–pohon-pohon, bunga, buah, dan rumput bisa dianalogikan sebagai toko dan isinya. Namun sekarang menjadi rancu sebab manusia juga sudah senang ramai-ramai ke gunung. Jika mau ramai-ramai, lebih baik ke mall atau pasar malam sebab pulangnya pasti akan lebih cepat dan mudah serta tidak capai.

Soe Hok Gie lain lagi. Mungkin perenungannya sudah sangat mendalam sehingga salahsatu tujuannya naik gunung dan ke daerah-daerah terpencil adalah untuk mengenal Indonesia. “Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Tentu dahulu Gie harus memilih salahsatu: foto narsisnya atau tulisan tajamnya yang beredar luas di media massa.

Anyway, pagi itu kami terbangun dalam mood yang positif. Laut, langit biru, dan mentari menyapa, pagar tebing batugamping ambil bagian di tengah-tengah pandangan, ombak berdebur. Beberapa orang tampak kepayahan mencari ikan di laut luas, hanya dengan bekal seruas pancing dan seutas senar nilon. Dan di masa lalu, Thales, bapak filosofi Yunani, pernah menyampaikan gagasan ke murid-muridnya: “Semuanya itu air!”

43020033

7 pemikiran pada “Tak perlu ramai

  1. Perjalanan seringkali membuat kita mengeluarkan sisi-sisi yang berbeda, sisi-sisi yang tak pernah disadari kita miliki. Perjalanan membuat kita lebih bebas. Lebih berani menjadi diri sendiri. Tidak terikat dengan norma dan nilai. Hanya kita, jalan, dan petualangan yang menanti.

  2. jadi kepikiran, what if Gie dulu seorang narsis alay yang lebih suka mengekspos wajahnya. akankah dia jadi “sebesar” sekarang?😕

    btw, bebatuan di pantainya itu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s