Selubung Anjani

Foto oleh @failureproject

Di dalam kamar yang sempit ini kening saya berkeringat. Barangkali bukan karena lupa menghidupkan kipas angin. Sudah sekitar setengah jam saya mengubek-ubek folder demi folder dalam hardisk komputer jinjing ini untuk mencari tulisan pembuka saya mengenai Pendakian Rinjani, yang saya buat sebelum wisuda, namun tiada kunjung saya temukan. Padahal, sepanjang ingatan, saya puas sekali dengan tulisan itu. Dan apa yang lebih berarti dari kepuasan terhadap karya sendiri?

Semesta berpendapat lain mungkin, bahwa tulisan itu belum layak terbit di blog, masih prematur, masih perlu perenungan yang lebih mendalam. Apapun, saya berusaha untuk memulai kembali cerita Rinjani dari awal.

DSC_0096

Sebuah pendakian tak ubahnya bagai perjalanan seorang manusia yang dimulai dari pertemuan sel gamet, lahir, tumbuh besar, menanjak ke atas, mengalami masa keemasan secara fisik dan mental, untuk kemudian perlahan kembali melemah, menurun kondisinya sampai pada suatu ketika meninggal, membusuk, terurai. Nol, hampa, suwung, tiada. Jarang sekali manusia yang mampu mengingat tahap demi tahap perkembangan yang mereka alami. Begitu juga saya. Yang dapat saya ingat hanya minggu pagi itu kami bertiga masuk ke dalam peron Stasiun Lempuyangan, menyandang keril besar di pundak dan ransel kecil di depan.

Kami melangkah ke dalam gerbong lima Kereta Api Sri Tanjung yang membuat saya pangling. Sebuah kejutan dari PT KAI, kereta legendaris itu sekarang punya pendingin ruangan. Perusahaan jawatan itu berbenah. Hilang sudah pengap, bau, dan orang-orang yang berjejalan. Tak lagi dijual tiket berdiri, setiap orang dengan tiketnya masing-masing duduk pada bangku yang telah ditentukan.

Lalu setelah Sri Tanjung melaju, rasanya seperti ada bising yang hilang. Di mana para pedagang asongan? Biasanya sepagian ini sudah berlalu-lalang mbok-mbok penjaja nasi goreng atau nasi rames berlauk ayam atau ikan. Juga para pedagang minuman dan rokok. Ah, ya, tidak boleh lagi merokok di dalam gerbong dan di bordes.

Sebagai ganti, pagi itu yang beredar adalah petugas berseragam dari gerbong restorasi. Mereka menjajakan nasi, minuman, dan menawarkan bantal. Ada juga yang diberi tugas khusus untuk menyapu sampah penumpang, menggantikan peran orang-orang yang biasa menyapu sampah dengan menuntut imbalan.

Sebelum memulai aktivitas, para petugas itu berkumpul di bangku-bangku kosong. Di samping latar persawahan yang bergerak cepat, mereka berkelakar, bersenda gurau, tertawa kencang, dan terkadang terasa berlebihan. Namun, setelah mengamati mereka seharian, saya menjadi maklum bahwa itu semua mereka lakukan untuk mengisi energi sebelum tenggelam dalam derita jam kerja yang panjang. Tiada pergantian giliran tugas dalam perjalanan sekitar dua belas jam itu. Mereka harus tetap bugar dan tampak segar sepanjang perjalanan.

Melihat ransel di kompartemen dan penampilan kami, salah seorang dari petugas itu bertanya, “Mau ke mana, Mas?”

“Ke Lombok, Mas. Mau naik Rinjani,” jawab Eka yang duduk paling dekat dengan lorong.

Kemudian mengalirlah pembicaraan. Salah seorang lalu mengungkapkan bahwa ia telah menjelajah sampai ke pulau-pulau terujung gugusan Nusa Tenggara Timur. “Sambil bekerja, sebenarnya,” tambahnya. Namun, katanya, ia tak betah dan meminta untuk pulang saja ke Jawa. Pahit! Kami bertamasya ke Lombok menghabiskan duit, ia ke ujung Nusa Tenggara untuk mencari.

Saya agak teriritasi dengan salahseorang dari mereka yang berkali-kali berkata: “Wah, mending uangnya kasih saya, Mas.” Saya bukan tidak berempati padanya yang terkadang harus terjungkal, secara harfiah, untuk sekadar menyambung hidup. Namun saya sendiri memaknai perjalanan lebih dari sekadar perak demi perak rupiah yang dikeluarkan. Bagi saya sebuah perjalanan tidak ditandai dengan seberapa sedikit atau banyak uang yang dihabiskan. Perjalanan merupakan salahsatu bentuk dari peresapan saripati kehidupan.

Sebagai mahasiswa, kondisi keuangan saya ditentukan oleh kiriman orang tua. Untuk melakukan perjalanan, saya harus menyisihkan sebagian jajan, sekaligus dituntut bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang di akhir bulan. Baju baru bagi saya bukan pilihan. Perjalanan, iya.

Dan lagi, jumlah uang yang dihabiskan seseorang tidak selalu linier dengan pengalaman yang didapatkan, tergantung cara masing-masing menghayatinya. Kira-kira, seandainya saya menghibahkan anggaran perjalanan yang tidak seberapa ini untuk petugas itu, akan ia gunakan untuk apa?

Di balik jendela, masih saja tiang-tiang listrik yang terhubung oleh kabel kendur berkejaran. Akhirnya bubarlah mereka sebab kereta sudah hampir tiba di Stasiun Balapan. Penumpang akan semakin ramai. Sambil mulai bergerak kembali ke restorasi, mereka masih saja berkelakar. Terdengar beberapa keluhan tentang hidup. Dan tepat sebelum semua menghilang ke dalam mulut gerbong, salah seorang berujar, “Hidup ini, ya, ada siang, ada malam.” Kebijaksanaan dapat keluar dari siapapun, di manapun.

Saya rekam kalimat terakhir itu dalam pikiran. Sementara, di luar sana kabut tipis masih menggantung rendah, menyelimuti orang-orang yang menanti kereta lewat di balik palang, juga anak-anak yang ramai-ramai bersepeda demi menimba ilmu ke sekolah. Sesekali saya iseng melambaikan tangan ketika kereta melaju lamban di perlintasan. Mereka, anak-anak itu, dari dalam dekapan orangtua, membalas lambaian tangan saya.

***

Cerita hari kedua berawal ketika seekor nyamuk kelaparan terbang rendah dan tanpa ampun menusuk lapisan kulit, kemudian menyedot darah seorang pria gemuk yang tidur di dekat kami. Efek dari gigitan itu ialah gatal, dan gatal membuat pria itu secara refleks menepukkan telapak tangannya ke pipi.

“Plak!”

Suara tepukan itu menjalar ke telinga, membangunkan saya yang baru saja mulai melesat ke dalam dunia mimpi. Saya tergeragap, melihat sekeliling, dan mencerna apa yang sedang terjadi. “Nyamuknya ganas,” saya dengar pria itu berkata entah kepada siapa.

Saya sodorkan sebungkus cairan  anti-nyamuk. Ia menerimanya. Bersamaan dengan itu dimulailah petualangan kami menerobos barisan calo yang tersebar sepanjang jalan antara Gilimanuk sampai kota kecamatan kecil Bayan di Lombok.

Pria gemuk itu bertanya soal tujuan saya, pertanyaan standar orang-orang yang bertemu di jalan, terminal, pelabuhan, bandara. Saya jawab, “Rinjani, Bang.”

“Saya orang Lombok. Ini sedang menunggu tumpangan dari teman ke Mataram,” ia mengaku.

Cairan anti-nyamuk itu mulai dioleskannya ke lengan, kemudian kakinya. Tanpa diduga ia lalu berkata, “Jangan macam-macam di Rinjani, di sana banyak Kuntilanak.”

Demi mendengar kata “Kuntilanak”, Eka dan Teguh yang sedang tidur-tidur ayam di teras mushalla Pelabuhan Ketapang itu terbangun. Mereka mengusap wajah, mengumpulkan nyawa, tersenyum canggung pada lelaki tambun itu, dan ikut mendengarkan. Saya jadi ingat sebuah tulisan, entah siapa yang menulis, yang menyatakan bahwa betapa sekelompok orang Indonesia akan sangat nyambung bila sudah mengobrol tentang setan, hantu, tahayul.

“Sudah banyak kejadian di sana,” lanjutnya. Ia bercerita tentang seorang pendaki Korea yang mendaki Rinjani dan secara tidak sengaja berfoto bersama kuntilanak. “Beberapa bulan setelah itu,” ujarnya. “Pendaki itu meninggal.”

DSC_0082

Saya ingat dulu semasa kecil pernah melihat fotokopi sebuah foto dengan cerita serupa, bedanya kejadian itu dipercayai terjadi di Gunung Talang. Seseorang berpose di samping pohon, di samping pohon itu sesosok kuntilanak terbang dengan anggunnya. Seseorang pasti telah lihat menggunakan photoshop sebelum perangkat lunak itu populer. Cerita seperti itu sumbernya tidak jelas. Penjalaran beritanya, ya, juga dengan cara-cara tidak jelas seperti ini–beberapa orang tak dikenal bercerita di sebuah tempat yang jauh dari rumah masing-masing. Lalu tahu-tahu semua orang tahu, ketakutan. Saya mengangguk-angguk saja demi menghargainya.

“Kenapa nggak langsung saja naik bis ke Mataram?” Ia bertanya.

“Duit kami tidak cukup, Bang,” Jawab saya. “Hitung-hitungannya lebih murah kalau ngeteng.”

“Sebenarnya lebih enak nge-joss langsung ke Mataram. Tidak capek,” ujarnya. Saya mulai curiga. Namun ia buru-buru melanjutkan, “Oh, kalau memang mau ngeteng, sini saya tuliskan jalur-jalurnya.”

Saya berikan buku catatan. Sambil mencoret-coret kertas, ia menyebutkan nama tempat demi tempat yang, menurutnya, harus kami lalui, sekaligus ongkos menuju tempat-tempat itu. Sebentar kemudian jadilah sebuah itinerary sederhana versi lelaki tambun itu.

Seratus seribu ribu rupiah, hanya sampai Mataram. Seratus dua puluh enam ribu rupiah jika dihitung sampai… Pringgabaya? Bukankah Pringgabaya terlalu ke timur?

“Kalau mau, saya bisa carikan yang seratus ribu buat kalian, sampai Mataram. Saya punya teman yang kerja di bis. Langsung joss ke Mataram,” ia mulai terdengar seperti calo.

Berurusan dengan calo barangkali akan terasa enteng di awal. Kau disuruh masuk ke dalam kendaraan, dititipkan ke kondekturnya, bahkan terkadang tanpa tiket. Repotnya jika terjadi sesuatu–bukannya kejadian buruk adalah sebuah keniscayaan–yang akan repot adalah kita sendiri. Coba bayangkan jika kau diturunkan bis itu tengah malam di kota kecamatan yang lengang, dengan alasan mereka tak masuk kota sebab saat itu malam sudah teramat larut. Atau lebih ekstrem lagi; kau naik bis tanpa membeli tiket, namamu tak tercatat dalam surat jalan, lalu ikut menyeberang naik ferry, ferry itu kemudian karam, gelombang besar menyebabkan kau susah berenang, lalu tewas ditelan samudera. Jangankan asuransi, jejakmu saja akan sulit untuk dilacak.

Selama beberapa waktu, pria tambun itu mengoceh tentang segala. Ia mengaku pernah menjadi pemandu trekking Rinjani, anehnya ia juga bertanya pada kami berapa jam waktu yang dibutuhkan untuk naik dan turun Rinjani. Tiada keinginan untuk menjustifikasi, namun sebagian orang ada yang seakan menempelkan tulisan “hakimilah aku” di keningnya sendiri, tanpa ia sadari. Kami merespon seadanya, tertawa seadanya jika ada humor terselip dalam obrolan. Namun sepertinya ia hanya sibuk berbicara tentang dirinya, sampai-sampai pertanyaan yang kami ajukan terpental semua. Jelas sekali ia tak mendengarkan.

Angin malam bertiup, nyamuk-nyamuk kepayahan mengelak sebab disapu angin bagi nyamuk sama saja seperti disapu gelombang pasang tsunami bagi manusia. Sudah lewat tiga perempat malam. Kami bosan lalu pamit untuk menyeberang ke Pulau Dewata. Kami angkat ransel dan berlalu. Dan, masih saja, lelaki tambun itu mencoba meyakinkan kami untuk “ikut” bis kawannya. Sia-sia.

***

Petugas pemeriksa itu terheran-heran ketika membaca KTP kami satu per satu. “Sumatera Barat… Riau… Bengkulu,” ia menyebutkan keras-keras, kemudian bertanya riang. “Mau ke mana ini?”

“Rinjani, Pak,” jawab kami serempak.

Lewat pos, kami dihampiri oleh seorang pria paruh baya dan ditanyai akan ke mana. “Padang Bai,” saya jawab.

“Ayo, sini,” ia menyuruh kami untuk berjalan mengikutinya ke Terminal Gilimanuk.

Sesampai di terminal, ketiga ransel kami dimasukkan ke dalam bis, berjejeran di bangku belakang. Baru saja saya menarik napas lega sebab sudah berada di atas bis jurusan Padang Bai, kenek bis menghampiri.

“Gini, Mas. Kita Cuma sampai Ubung,” ia berdiri di pintu bis.

Saya protes sebab perjanjiannya bis ini akan mengantarkan kami sampai ke Padang Bai, tidak cuma sampai Ubung.

“Nanti turun di Ubung disambung saja naik bis ke Padang Bai,” lanjutnya.

Saya menggeleng dan berkata bahwa lebih baik kami turun saja. Mereka mencoba menahan namun saya abaikan, bersikeras untuk turun. Bukan masalah kami akan diturunkan di mana, yang membuat saya kesal adalah perasaan telah dibohongi, dibodohi. Kenapa tidak dari awal, sebelum masuk bis, mereka menyebutkan bahwa bis ini cuma sampai Ubung? Untuk urusan seperti ini saya memang keras kepala. Pun ketika kenek itu berkata, “Bis ke Padang Bai sudah berangkat tadi pagi jam tiga. Adanya lagi nanti malam jam dua.”

“Masa bodo! Mau jam dua, jam tiga, atau sebelum kiamat, masa bodo!” Batin saya dalam hati. Biarlah menunggu daripada ditipu. Tidak akan saya percaya omongan orang yang baru saja, jelas-jelas, menipu saya.

DSC_0104

Kami menunggu di salahsatu bangku panjang Terminal Gilimanuk, disapa oleh mentari yang baru saya muncul di ufuk timur. Ia membelai dengan cahaya jingga yang perlahan-lahan terasa semakin menyengat.

“Harus sabar,” sebuah suara muncul dari belakang, kami menoleh. Seorang lagi pria paruh baya menghampiri. Penampilannya seperti petugas keamanan sedang bersiap-siap melaksanakan giliran jaga. Ia memakai celana kargo hitam, kaosnya juga hitam.

Standar. Pertama-tama ia menanyakan asal dan tujuan kami. Mendengar bahwa Eka berasal dari Pekanbaru, ia bernostalgia mengingat masa lalu ketika ia ke sana dulu.

“Kenapa tidak langsung saja naik bis ke Mataram?” Dua kali sudah kami mendapat pertanyaan seperti itu. Alasan yang diberikan Eka sama persis seperti yang kami berikan pada pria tambun di Pelabuhan Ketapang.

“Wah, langsung joss kan enak. Apalagi kalian harus mikul tas sebesar itu,” saya membaca gelagat bahwa ia akan mulai mengeluarkan jurus. “Kalau mau, saya bisa kasih yang seratus ribu sampai Mataram.”

Benar, jurusnya keluar. “Kalau mau” adalah frasa pembuka stadar. Ia mengalihkan pembicaraan sedikit dengan mengaku bahwa anaknya juga mahasiswa. Ia bilang ketika melihat kami ia ingat anaknya yang pernah mendapat medali emas PON. Topik pembicaraannya acak sekali sebab kemudian ia bercerita tentang pengalamannya naik pesawat Hercules.

“Bagaimana? Mau tidak?” Ia mengejar. Saya jelaskan bahwa kami tidak terburu-buru.

“Memangnya dalam hitungan kamu berapa?” Ia mulai terdengar mendesak.

Saya tidak suka mendesak, juga tidak suka didesak. Saya memilih untuk pura-pura berpikir. Rasanya ada sekitar satu menit sebelum ia bertanya kembali. Saya jawab saja begini; “Yaaa, kami ngeteng saja, Pak.”

Lelah mungkin, bapak itu beranjak pergi. Sebentar kemudian datang lagi seseorang. Ia tanya tujuan kami.

“Sini. Ngomong saja sama sopirnya,” ternyata ia adalah kenek elf.

***

Siang itu kami bertiga makan siang di Terminal Ubung. Menunya sederhana, cuma nasi bungkus biasa. Di daerah Bali dan Lombok, orang-orang membungkus nasi dalam bentuk kerucut, kemudian diletakkan dalam posisi bagian runcingnya menghadap atas.

Elf kurang ajar itu menurunkan kami di Ubung. Padahal supirnya berjanji akan mengantarkan kami langsung sampai ke Padang Bai. Kami dioper ke elf lain yang sama kecilnya. Kami masih harus menunggu sebab calon penumpang baru beberapa, belum sampai setengah dari kapasitas.

Tiba-tiba supir elf tujuan Padang Bai itu menghampiri–kenapa selama dua hari ini begitu banyak yang tiba-tiba menghampiri?–kami yang sedang santai bercanda sehabis makan siang.

“Begini, Mas.”

Ya. “Begini, Mas” ketiga hari ini. “Begini, Mas” kedua adalah ketika kami dioper di Ubung.

“Kalau Mas mau nambah sepuluh ribu per orang, kita berangkat sekarang,” lanjutnya, mengakibatkan sebelah alis saya secara refleks terangkat.

“Lho, kok gitu, Pak?” Saya tatap matanya lekat-lekat. “Kan tadi kesepakatannya empat puluh lima ribu sampai Ubung?”

“Ya, Mas kan tadi operan,” ia beralasan.

“Itu urusan bapak sama supir yang ngoper saya tadi,” saya tak mau kalah, tidak mau ditindas. “Kalau memang belum bisa berangkat, kami menunggu pun tak apa-apa.”

Kami beradu tatap. Secara mengherankan mata saya tidak berkaca-kaca ketika bersitatap dengan tipikal “orang keras” seperti itu. Tidak seperti biasanya, sebuah kemajuan. Ia sepertinya menyerah sebab begitu saja ia berlalu, membuka pintu bangku supir, dan menghidupkan elf. Lalu kami melaju ke Padang Bai, lewat Gianyar dan Klungkung.

***

Hari baru muncul bersama mentari jingga yang terbit di antara atap pertokoan Mandalika. Bulan tampaknya tak mau mengalah dari sang surya sebab sebentuk sabit masih saja keras kepala bersinar di angkasa. Cahaya pagi menyinari gundukan bergerigi memanjang di kejauhan; itulah Rinjani.

Kami sarapan di Warung Sumbawa yang baru saja buka. Letih tandas sudah dibayar oleh tidur nyenyak semalaman di Pos Polisi Mandalika. Semalam Pak Natsir, supir baik hati yang bersedia membawa kami malam-malam ke Mataram dengan tarif normal, menyarankan kami untuk tidur di Pos Polisi.

“Terminalnya kurang aman,” ujarnya. “Lebih baik tidur di Pos Polisi saja. Saya antarkan.”

Ketika Eka yang duduk di depan bertanya apakah ia bersedia mengantarkan kami langsung ke Sembalun Lawang, Pak Natsir serta merta menggeleng. “Tidak kuat mobil ini,” katanya sambil menepuk-nepuk setir. Ia mengatakan bahwa jalan ke Sembalun Lawang begitu terjal, berbelok-belok, tak berpenerangan, beberapa ruas jalan rusak, dan kanan-kiri jalan dipagari oleh hutan lebat. Saya maklum sebab kami sedang membicarakan sebuah Taman Nasional. “Tiga ratus ribu pun tetap nggak mau saya. Bisa saya carikan mobil teman saya kalau mau. Tapi mahal juga pasti.”

Setetes nila membuat rusak susu sebelanga. Sebenarnya saya sangsi menginap di kantor polisi. Curiga saya semakin bertambah ketika Pak Polisi Terminal Mandalika itu dengan ramah menyediakan ruang kosong di bagian samping untuk kami. Sederhana memang. Hanya ada karpet tipis, sebuah kursi kayu dengan radio-tape di atasnya, beberapa alat masak, dan sebuah gitar kopong minus beberapa senar. Batin saya, jangan-jangan pagi nanti ia akan meminta imbalan pada kami. Bagaimana saya tidak berpikir seperti itu jikalau untuk mengurus surat keterangan hilang di Polsek dekat saya tinggal, petugas masih meminta sumbangan tak resmi “seikhlasnya”. Apalagi yang seperti ini, menginap gratis semalam.

Belum lagi yang menyambut kami adalah seorang mirip preman. Rambutnya dicat dan saya dapat melihat ujung tato menyembul dari pangkal lengan yang tak tertutup baju. Ia yang menyiapkan semua. Semakin mengerikan bahkan, ketika Pak Polisi dengan enteng menyebut orang itu sebagai “kawan kita”. Bagaimana jika ternyata nanti malam barang-barang kami diobrak-abrik oleh “kawan kita” dan dilarikan. Saya tahan kantuk yang sudah menggantung di ujung mata, memilih untuk berjaga. Namun saya takluk. Mata ini sudah terlalu berat dan akhirnya saya tertidur.

Kenyataannya, sampai sarapan pagi saat itu, kami aman-aman saja. Tak ada yang hilang. Sambal Lombok warna hijau yang pedas itu tetap saja bisa masuk ke dalam kerongkongan, teh manis hangat masih juga bisa kami seruput. Stereotiplah yang membuat saya curiga pada Pak Polisi Mandalika.

DSC_0112

Sial, “hari calo” belum berakhir. Pagi itu kami harus membayar ekstra lima ribu rupiah untuk calo yang “menolong” mencarikan engkel jurusan aikmel. Betapa percaloan sudah membudaya, dari tingkat akar rumput sampai ke elit politik di Jakarta. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Maka rasa-rasanya tak adil jika calo tiket kereta/pesawat diberantas, sementara calo undang-undang atau tender dibiarkan saja berkeliaran nyaman di gedung-gedung pemerintahan.

Di dalam engkel saya terkantuk-kantuk. Sinar mentari pagi, angin, dan kecepatan adalah anasir-anasir ajaib yang mampu mengekstraksi sisa kantuk dari bola mata. Tubuh ini seakan belum puas tidur meskipun semalaman sudah beristirahat dengan nyenyak di pos polisi. Sia-sia saja Rinjani menampakkan diri sebab saya lebih memilih untuk kembali ke alam mimpi.

Engkel terus melaju ke timur. Di Masbagik kami pindah ke engkel tujuan Sembalun Lawang yang sudah penuh dan akan segera berangkat.

Selepas Aikmel, engkel mulai menerobos perbukitan. Pertama-tama yang berada dalam zona pandang adalah perkampungan. Jalan pun semakin menanjak. Kemudian seketika engkel telah berada di bawah lindungan kanopi pepohonan rimbun. Sebuah plang kecil di tepi jalan menjelaskan bahwa kami telah memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Semakin jauh, jalanan semakin seram. Terjal dan penuh lubang di sana-sini. Seorang supir engkel harus benar-benar paham medan dan menguasai kendaraannya jika tidak ingin masuk jurang dan mati konyol.

Pantas saja semalam Pak Natsir bilang tidak berani mengantarkan pendaki ke Sembalun Lawang malam-malam. Pasti akan sangat berbahaya sebab siang hari saja sudah begitu mengerikan. Benar, entah saya yang luput, tidak sebuah pun lampu penerangan saya temukan di jalanan tengah hutan itu. Walaupun kawasan ini adalah taman nasional, tetap saja masih ada orang yang hidup di dalamnya. Masih ada desa dan perkampungan, masih ada manusia.

***

Malam itu kami berkemah di sebuah jembatan di tengah sabana terluas yang pernah saya lihat. Meskipun tiada yang merawat, padang rumput itu tampak rapi ke segala penjuru. Konon pada waktu-waktu tertentu, para peternak menggembalakan sapi mereka di padang raksasa itu. Dibiarkan saja kawanan ruminansia itu lepas memamahbiak sampai gemuk. Semakin gemuk sapi-sapi yang digembala, semakin gemuk pula kantong sang penggembala. Tampaknya kami datang salah musim sebab yang kami temui hanya kotoran sapi kering di tengah-tengah jalur pendakian.

Rombongan kami bertambah menjadi delapan orang. Di RIC Sembalun Lawang kami berkenalan dengan Tejo, pendaki asal Surabaya. Ia satu engkel dengan kami, duduk di bangku barisan depan. Kemudian, tengah hari kami berempat bertemu dengan empat orang pendaki senior dari Jogja yang kebetulan satu almamater dengan Eka dan Teguh. Mereka sedang duduk santai menyantap makanan ringan ketika kami menghampiri. Sebentar saja canda tawa dan cerita mengalir. Kemudian, bersama-sama kami mendaki gunung dan menyusuri lembah. Betapa mudahnya menjalin pertemanan di gunung.

DSC_0065

Di bawah langit berbintang, Eka memasak nasi untuk kami. Itu adalah percobaan pertamanya–nasinya masih rasa beras, namun di percobaan ketiga ia sudah mampu memasak nasi sampai tanak. Ia tampak berusaha keras untuk menjalankan peran barunya dengan baik; sebagai koki. Melihatnya sibuk memasak, saya jadi ingat kisahnya ketika mendaki Semeru.

Ketika turun, kakinya terkilir sehingga jalannya menjadi lambat. Dua kawan sependakiannya yang sepertinya tak sabar ingin cepat-cepat tiba di Ranu Pani, meninggalkannya sendirian di belakang. Tertatih-tatih ia melangkah. Di tengah jalan ia berpapasan dengan serombongan pendaki dari Bandung. Mereka berbasa-basi sebentar kemudian menyerahkan sebuah tongkat untuk membantunya berjalan. Ketika berpapasan dengan kawan seperjalanan Eka, rombongan Bandung baik hati itu “iseng” mengerjai dengan mengatakan, “Temanmu kakinya udah hancur, tuh, di belakang.”

Kawan sependakian Eka itu kembali untuk menyusulnya. Namun ia hanya membawakan keril, Eka tetap dibiarkan sendirian di belakang. Padahal dalam kondisi seperti itu seseorang lebih butuh untuk ditemani, bukan sekadar dibawakan bebannya.

Begitulah sekarang ketika mendaki gunung menjadi gampang. Asal ada duit semua beres. Tinggal beli keril mahal, trangia, tenda, orang-orang bisa dengan gampang menyebut diri sebagai pendaki. Tapi semua lupa pada satu hal: etika.

***

Berbeda sekali rasanya dengan naik gunung di Jawa. Di sana, setiap orang turun yang saya papas ketika berusaha menuju puncak, hampir selalu menjawab, “Sudah dekat, Mas. Semangat!”

Sebaliknya, pada trek ke Puncak Rinjani, orang-orang selalu dengan jujur menjawab “Wah, masih jauh, Mas. Dua setengah jam lagi.” dibarengi senyum mengejek sebab kami mulai mendaki pada pukul tujuh pagi, ketika mentari mulai bersinar terik.

Bukan apa-apa. Meskipun bohong, jawaban ala pendaki di Jawa tersebut pasti akan menyuntikkan semangat pada saya, bukannya malah membuat putus asa.

Panas terik. Terlebih ketika saya, Teguh, Tejo, dan Eka mulai memasuki menapaki bibir kawah. Terbuka sekali dari paparan sinar matahari. Pelindung dari sengat sang surya hanya kabut putih yang sesekali lewat. Selebihnya hanya ada pasir, kerikil, kerakal, kuntum-kuntum edelweis, dan jurang menganga di tiap sisi. Jurang sebelah kiri berakhir di Pelawangan Sembalun, sementara jurang sebelah kanan berakhir di Gunung Baru Jari, di Danau Segara Anak yang berwarna toska.

DSC_0182

Panas yang semakin tak tertahankan itu membuat Eka memilih untuk turun. Mengikuti jejak Tejo yang sedari awal trek pasir sudah memilih turun. Ia akan mencoba lagi esok hari dengan persiapan yang lebih matang.

Puncak Rinjani tampak gagah di kejauhan. Ia seperti kastil negeri dongeng yang berdiri anggun di puncak bukit, dengan jalan menuju ke sana adalah makadam campuran pasir dan kerikil. Pagar pembatas jalannya adalah struktur berlapis singkapan endapan piroklastik letusan entah dari zaman kapan.

Berkali-kali langkah saya terhenti. Perut terasa sangat lapar sebab belum sempat sarapan. Setiap jalan beberapa langkah, saya istirahat lebih lama daripada waktu yang saya habiskan untuk melangkah. Gerak saya seperti siput, lambat. Seharusnya, sebelum berangkat tadi perut kami isi penuh. Ini yang namanya salah perhitungan. Saya mengira kami berdelapan akan terus ke puncak bersama-sama. Rombongan Mas Bendol membawa makanan kecil yang lumayan banyak, masing-masing juga membawa air satu botol mineral ukuran menengah, cukup untuk mengisi perut dan menghapus dahaga selama naik dan turun. Sekarang, ketika mereka sudah turun duluan, tinggallah saya dan teguh dengan setengah botol air mineral kemasan satu setengah liter.

Di dalam kepala bermunculan suara-suara aneh. Entah apa, namun saya merasa mendengarkan sebuah percakapan. Tidak mungkin ada yang terbahak-bahak di ketinggian ini sebab saya dan teguh adalah pendaki terakhir yang muncak hari itu. Sedikit lagi panas, lapar, dan kecapaian mungkin akan membuat saya berhalusinasi.

Tiba-tiba saja saya terpikir betapa perkasanya para porter Rinjani. Mereka yang hanya dibayar Rp. 150.000/hari itu–setara dengan upah satu jam pekerja di negeri-negeri makmur–cuma naik Rinjani menggunakan celana pendek, kaos lusuh–banyak juga yang telanjang dada, sandal jepit swallow, dan sebotol air putih. Ditambah harus membawa beban dengan pikulan seberat maksimal empat belas kilogram. Dengan pikulan, bukan keril nyaman. Dingin bukan persoalan buat mereka sebab telah terbiasa tidur berdempet-dempetan dalam tenda terpal segitiga di Plawangan Sembalun. Tentu saja perjalanan ke puncak akan terasa enteng saja bagi mereka.

Kekuatan tekad saya benar-benar diuji ketika akhirnya kami mulai menapaki trek terakhir menuju Puncak Anjani. Inilah yang paling terjal. Pamungkas. Haus namun persediaan air semakin menipis. Mulai dari sana kami minum masing-masing sebanyak dua tutup botol air mineral. Sengaja dijatah agar ketika turun kami masih punya persediaan air minum.

Panas semakin gila. Sesekali kabut naik. Jalan semakin menanjak. Sesekali pula Rinjani membuka selubung awan yang menutupi Segara Anak. Saya mulai mendengar suara-suara aneh yang berasal dari dalam kepala.

Ransel kecil yang saya bawa hanya memberat-beratkan. Isinya dua set kamera analog, yang satu macet, yang satu lagi tidak kebagian rol film. Saya tinggalkan ransel itu di tepi trek, pada sebuah ceruk batu. Lumayan, langkah saya menjadi sedikit lebih ringan.

Saya menjadi religius secara tiba-tiba. Berkali-kali saya meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa. “Mudahkanlah… Mudahkanlah…” Bahkan ketika kabut mulai naik, saya memohon padaNya untuk menyelimuti saya dengan kabut, agar terlindung dari teriknya sang surya. Tapi tetap saja alam sudah diatur sedemikian rupa.

Tengah hari telah lama lewat. Sehabis berkali-kali berhenti, saya tiba di punggungan terakhir sebelum puncak. Teguh tampaknya telah lebih dulu berhasil menggapai Anjani. Saya kumpulkan tekad dan dengan langkah pasti saya susul teguh ke puncak. Jalan setapak berkerikil itu membawa saya ke negeri di atas awan. Di mana manusia, angin dingin, dan mentari menjadi kawan.

***

Walau hampir sebulan berlalu, Rinjani masih segar dalam ingatan saya. Sembalun Lawang yang bak terisolasi, sabana luas yang menghijau tanpa batas, malam-malam dingin penuh bintang, porter-porter yang dibayar dengan upah tak manusiawi itu, Danau Segara Anak beserta Gunung Baru Jari dan ikan-ikan karper yang menghuninya, pepohonan cemara, sulur-sulur kanopi Hutan Senaru, kawan-kawan baru yang entah kapan dapat saya temui kembali, semua menyajikan cakrawala baru.

Perjalanan ke Rinjani membuka mata bahwa di republik ini selalu saja yang dikorbankan adalah rakyat kecil. Di balik kedok konservasi alam, mereka diabaikan. Di balik kedok pariwisata, mereka diperlakukan semena-mena.

DSC_0190

6 pemikiran pada “Selubung Anjani

  1. Like this, a lot.
    Ane belum kesampean ke sono. Walopun pendaki gunung abal-abal, tapi niatan umroh ke Rinjani masih menyala walopun apinya kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s