Sewaktu di Semeru

Semula saya kebingungan dalam hal memilih cerita apa yang sebaiknya saya sampaikan tentang pendakian Semeru. Soal keindahan sudah banyak yang memaparkan, akan membosankan jika terus diulang-ulang. Begitu juga soal betapa kotornya gunung itu sekarang setelah sebuah vendor peralatan pendakian mengadakan kumpul-kumpul di sana, atau setelah film 5 cm ditayangkan. Saya coba menelusuri lokus-lokus pemikiran, berusaha menemukan cerita yang sekiranya menarik untuk disampaikan. Kemudian tercetuslah gagasan bahwa hulu dari semua hal yang dialami Semeru, tak lain tak bukan, adalah manusia. Lalu kenapa tak saya tulis saja kisah sebagian manusia yang mendaki Mahameru?

Jika ada satu hal yang dapat saya petik dari pendakian Gunung Semeru, itu ialah “perlakukan seorang raja sebagaimana mestinya.” Sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, Semeru adalah raja. Walaupun ia sudah sering disambangi, tetap saja ia raja gunung-gunung di Jawa. Dan kau seharusnya tidak memandang raja dengan sebelah mata. Sempat berlaku demikian, ia tak akan segan-segan melumatmu, melahapmu, mengenyahkanmu dari muka bumi.

20130607_080122

Di Tumpang, di bawah bayang-bayang Semeru yang tinggi menjulang, kami bertemu dengan tiga belas orang pendaki dari Jakarta. Setengahnya laki-laki, setengahnya perempuan. Timbul yang melakukan pendekatan berhasil mengorek latar belakang mereka. Kelas menengah, pekerja kantoran Jakarta yang dipertemukan oleh jejaring sosial. Perlengkapan mereka sebagian besar masih tampak baru, mutakhir, dan tangguh. Dan ketika akhirnya barang-barang mereka dinaikkan satu per satu ke bak truk–kami berlima bergabung dengan mereka dalam satu truk–saya dapat merasakan betapa berat beban mereka. Secara harfiah. Saya bertanya-tanya apa kira-kira isi ransel mereka itu.

Hujan turun begitu kami tiba di Ranu Pani. Saya dan kawan-kawan mengisi perut di sebuah warung sambil menunggu hujan reda, sementara tiga belas orang dari Jakarta tersebut langsung naik pada pukul tiga di bawah guyuran hujan. Barangkali sudah tidak sabar ingin melihat Ranu Kumbolo yang digambarkan dengan amat cantik dalam film 5 cm.

Lalu hujan redalah. Kami berlima menyusuri jalan setapak dengan langkah stabil. Tidak cepat, tidak pula pelan. Sebelum gelap kami telah menyalip rombongan Jakarta itu. Mereka tampak kepayahan melangkah di tengah-tengah lintasan becek nan licin. Dalam pikiran saya, pergerakan tim mereka akan sangat lambat jika tetap berjalan bertiga belas. Akan lebih efektif jika dipecah menjadi, sekurang-kurangnya, dua tim. Sebagaimana prosedur standar pendakian massal.

Berbasa-basi sebentar, perjalanan kami lanjutkan dengan santai namun pasti. Pendek cerita, kami berlima tiba di Ranu Kumbolo sekitar pukul setengah sembilan malam. Sedangkan tim Jakarta baru mulai mendirikan tenda di lembah yang dingin itu sekitar pukul satu dinihari.

***

Kami bertemu lagi dengan tiga belas orang dari Jakarta itu ketika turun dari Mahameru. Kami, dengan raut wajah sumringah setelah berhasil menggapai puncak, mengayunkan kaki dengan santai menuruni jalur pasir yang terjal.

Trek pasir semeru itu bermuka dua. Saat menuju puncak ia tampil sebagai sosok kejam yang hanya mengizinkan pendaki naik dengan langkah kecil-kecil. Sebaliknya ketika turun ia berubah ramah, bahu membahu bersama gravitasi menjadi semacam eskalator yang mempercepat durasi waktu turun.

Mereka terbagi menjadi dua rombongan, yang kuat berada di depan. Masih beberapa puluh meter dari Cemoro Tunggal namun mereka sudah kepayahan. Saat itu barulah saya sadar bahwa kami berlima benar-benar tampak ceria. Barangkali gara-gara semalam di Arcopodo kami menerima asupan gizi dan istirahat yang cukup.

Kami makan malam dengan menu makaroni, sarden, dan panekuk. Sementara sebelum berangkat menuju puncak kami mengisi perut dengan spaghetti dan panekuk. Nutrisi juga kami lengkapi dengan beberapa botol air yang dicampur dengan Nutrisari. Menurut saya, gunung seperti Semeru tidak dapat didaki hanya dengan bekal mie instan satu nesting berenam atau Energen seduh secangkir.

20130609_060637

Seperti halnya bekal makanan yang sebaiknya tidak sembarang, perencanaan pendakian Semeru juga seharusnya dilakukan dengan matang. Inisiator pendakian semestinya mengenal dan mengerti kemampuan fisik serta kesiapan mental kawan-kawan satu timnya, di samping memahami medan pendakian. Akan sangat berisiko mengajak orang lain yang sebelumnya tidak dikenal untuk melakukan pendakian Semeru. Apalagi mengajak orang yang sebelumnya baru mengenal gunung sebatas dalam foto atau film. Toh, tidak ada keharusan untuk naik gunung beramai-ramai. Kasarnya begini: jika tidak berani pergi sendiri, atau berdua, sebaiknya tidak usah pergi. Daripada mengajak orang banyak tapi nanti menjadi repot sendiri?

Tadi, sekitar dua ratus meter sebelum puncak, seorang pendaki dari Jakarta secara tidak sengaja bergabung dengan kami. Sendirian dia menggapai puncak, ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Tampaknya ia juga belum terbiasa diselimuti kegelapan sebab beberapakali ia menyisipkan kata “takut” dalam kalimat yang diucapkannya. Kepayahan dan ketakutan ia mengikuti kami menyusuri pematang di sisi jalur pendakian. Katanya, dia baru lulus dan diajak kawannya ke Mahameru. Baru kali itu pula ia mendaki gunung. Lambat sekali naiknya, mungkin karena menggunakan celana jeans. Mas Wihdan terus menerus menyemangatinya. Namun sayang sekali, akhirnya ia memilih untuk turun. Teman yang mengajak pasti kerepotan sendiri menaksir keberadaannya.

Dengan riang Timbul memberi semangat pada rombongan tiga belas. Tapi, kemudian nyatalah bahwa semangat yang disuntikkan dari luar tidak akan berarti apa-apa dibandingkan semangat dari dalam. Semangat yang berasal dari tekad. Baru kemudian kami tahu bahwa dari tiga belas orang itu, hanya empat yang berhasil menginjakkan kaki di tanah tertinggi Pulau Jawa. Tiga orang perempuan, satu orang laki-laki.

***

Misteri isi ransel mereka terkuak ketika rombongan tiga belas itu membagi-bagikan bekal mereka di Ranu Kumbolo. Sesaat sebelum mereka kembali turun ke Ranu Pani. Stok makanan ringan kami yang menipis seketika menjadi berlimpah setelah mereka menghibahkan beberapa kantong plastik. Di dalamnya bersinar bungkus berbagai jenis olahan coklat, kue kering, permen, dan makanan ringan lain yang harganya termasuk “berkelas”.

Stok abon mereka mungkin dapat mencukupi kebutuhan satu rukun tetangga. Porter yang mereka sewa dari Kalimati sampai kewalahan menerima sodoran abon aneka rasa dari berbagai penjuru. Inisiator pendakian mereka mungkin gemar bercanda sebab setiap orang disuruh membawa sebungkus abon.

20130608_081736

Selain abon, masing-masing mereka juga diminta membawa sarden kalengan dan garam. Sarden mungkin masih dapat dinalar. Garam? Mungkin niatnya untuk ditabur di sekeliling tenda, untuk memagari diri dari ular. Tapi barangkali tidak perlu sebanyak itu. Maka malam itu Timbul leyeh-leyeh di bawah fly-sheet oranye dengan bantal berupa susunan berbungkus-bungkus garam bubuk yang tak akan habis sampai lebaran tahun depan. Yang tak kalah menakjubkan adalah persediaan tisu basah mereka yang entah berapa banyak. Bayangkan, yang mereka tinggalkan untuk kami saja hampir satu kodi. Dan saat itulah untuk pertama kalinya saya menemui tisu basah beraroma lemon.

“Sebenarnya mereka tak salah juga,” kata Mas Wihdan. “Mereka cuma ikut apa yang dibilang TS-nya.”

Kak Friska, Timbul, Fifan, dan saya mengangguk-angguk mengiyakan. Namun dalam hati saya masih tak dapat berhenti berpikir, “Bagaimana semua itu bisa terjadi?” Barangkali kita keliru memaknai istilah sharing atau berbagi dan menempatkannya secara kurang tepat. Entahlah.

Malam itu juga, rombongan tiga belas turun ke Ranu Pani demi mengejar kereta yang tiketnya sudah terlanjur mereka beli. Berpisahlah kami dengan mereka. Saya kira kami bakal kehabisan cerita. Ternyata tidak. Ketika turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pani, saya dibuat bertanya-tanya lagi disebabkan oleh sikap para pendaki. Kenapa masih ada saja yang meminta minum ketika turun, sementara air begitu berlimpah di Ranu Kumbolo? Bukannya tidak solider atau apa–Semeru tidaklah kekurangan air–namun mereka seperti tak mau sedikit menderita dengan membawa air satu setengah liter dan lebih memilih untuk meminta pada orang lain yang mungkin juga berhemat.

Kembali ke alinea-alinea pembuka, bahwa Semeru adalah raja. Ada tahap-tahap yang harus dilalui sebelum seorang rakyat jelata dapat menghadap Sang Raja. Ia tak akan dapat ditemui tanpa engkau terlebih dahulu menghadap bawahannya. Seperti halnya Don Vito Corleone yang baru dapat ditemui setelah engkau berbasa-basi dengan sang consiglieri. Ada baiknya untuk sowan dulu ke gunung-gunung terdekat dari tempat tinggalmu. Resapi, rasakan dahulu susah-enak naik gunung. Baru nanti setelah terbiasa, bertandanglah ke yang maha.

20130608_090438

9 pemikiran pada “Sewaktu di Semeru

  1. jadi inget pendakian pertama dulu, carier berat banget dan ngga nyaman dipakai lama2 karena bawa banyak barang yang kebanyakan adalah makanan dan tidak ditata dengan tepat. bahkan Teman saya yang lain sampai bawa 2 pack Tissu basah ukuran gedhe. Benar2 belum tahu medan. awal2 semangat membara, pas medan mendaki mulai pelan2 dan ngos2an, bentar2 istirahat, banyak minum pula.
    dan memang benar, suntikan semangat dan tekad dari dalam itu yang bisa ngebangkitin kemauan dan target awal.
    Ah, Bener2 pengalaman itu segalanya….
    *btw, tulisannya tertata banget, seneng ngebacanya, dan pengen ke semeru jugaaaaa😆

  2. ah jadi kangen kalimati.
    malam yang terasa begitu panjang. dingin menusuk hingga ke tulang.
    sebuah perjalanan memang akan hanya jadi kenangan.
    Kenangan yang baik selalu diawali dengan persiapan yang baik juga. Tapi ah sudahlah, kenangan milik kita kadang malas orang dengar…

  3. saya sekarang paling anti sama makanan kaleng… kalo perlu misalkan ada kardusnya saya buang sekalian dan hanya menyisakan plastik terluar.. lumayan hemat berat beberapa gram😀 hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s