Pangrango

Seperti berada di dalam adegan film Gie, saya dikepung oleh rumpun-rumpun edelweis yang legendaris. Konon, pada bulan mei-juni biasanya bunga abadi itu telah mekar dan melapisi Lembah Mandalawangi yang tersembunyi dengan selimut putih. Namun kini, ketika penanggalan sudah bergeser ke juli, bebungaan itu masih kuncup. Hanya beberapa rumpun saja yang sudah dikaruniai kembang kecil-kecil.

Tepat di antara dua bukit, Gunung Salak mengintip. Jauh dan disamarkan oleh halimun tipis yang entah kenapa tak bosan-bosan menaunginya saban pagi. Kedua puncak Salak bak sepasang tanduk yang terlihat angkuh menjulang, seperti mempertegas citra angker yang terlanjur melekat erat pada dirinya. Keangkeran yang akan membuat seorang pendaki enggan menjelajahinya untuk yang kedua kali. “Sudah. Cukup sekali saja saya ke sana,” ujar Zeni, rekan saya dari Bandung, ketika saya berbasa-basi mengajaknya menerabas kerimbunan hutan Gunung Salak. Katanya lagi, pun ikut, ia hanya akan mengantarkan saya sampai basecamp.

DSC_0205

doc @ngeloyor

Matahari terus bergerak mengarungi kolong langit. Saya dan kawan-kawan mulai bersiap-siap untuk turun sebab kami hanya mengantongi simaksi untuk dua hari. Berada di kawasan Taman Nasional lebih dari hari yang telah ditetapkan dalam simaksi, seorang pendaki akan dikenai sanksi. Kata Benny, sanksinya biasanya sederhana saja, seperti disuruh membeli lampu untuk kemudian dipasang di pojok tertentu pos pemeriksaan. Sederhana, kan? Namun lebih baik menghindarinya.

Saya sedang sibuk memasukkan dan menata perlengkapan di dalam keril ketika mendengar beberapa orang berteriak-teriak memanggil nama. “Wenda! Meli!” Mereka berjalan berkeliling mengitari Mandalawangi. Di depan mulut tangan dicorongkan, usaha sia-sia untuk membulatkan suara. Nada-nada memanggil itu seperti nada kehilangan. Tidak habis-habis mereka memanggil sampai kami memulai perjalanan turun ke Cibodas.

Perjalanan turun berlangsung biasa saja. Tidak membuat capai, hanya lutut yang disiksa. Kebalikan dari perjalanan naik kemarin yang susahnya setengah mati; Trek dari Cibodas sampai Kandang Badak adalah tangga batu yang menyiksa lutut. Penyelingnya hanyalah trek meniti aliran air panas. Kemudian selepas Kandang Badak, trek kembali alami. Jalur tanah, sesekali menyempit menjadi sekadar aliran air. Pepohonan tumbang muncul silih berganti di tengah jalan, yang harus dititi, dilangkahi, atau dikolongi. Dan beberapa ratus meter menjelang puncak, kesabaran saya benar-benar harus diuji oleh tanjakan yang tiada henti. Namun bagi pendaki Pangrango, puncak bukanlah akhir. Mereka harus turun kembali beberapa puluh meter menuju Mandalawangi. Berkongsi dengan dingin dan rasa capai, Pangrango akan mengeliminasi para pendaki lemah hati.

DSC_0211

doc @ngeloyor

Baru menjelang magrib kami tiba kembali di Resor Mandalawangi, Pos Taman Nasional. Dalam gelap saya dan Reza melangkah melintasi jalan kecil berpagar besi yang memisahkan antara jalur menuju pos pendakian dan padang golf. Benny, Kojek, dan Zeni sudah di depan berjalan beriringan dengan tiga orang pendaki dari Cengkareng. Di sisi pagar Kebun Raya Cibodas seorang penjual siomay membuka lapak. Uap mengepul-ngepul dari panci besar yang disulut kompor minyak tanah. Gelap dan dingin tak mampu menggerus tekadnya untuk berjualan.

***

Mie rebus dan soto ayam yang kami pesan seketika tandas. Hanya beberapa saat setelah dihidangkan. Saya dan kawan-kawan lalu menyulut rokok favorit masing-masing di bangku warung Mang Idi. Kopi hitam menjadi teman.

Teriakan-teriakan memanggil nama Wenda dan Meli tadi pagi masih terngiang-ngiang dalam pikiran kami. Rombongan Cengkareng berkata bahwa kemarin ketika menuju puncak, mereka sempat berpapasan dengan tiga orang. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki. Mereka gelombang terakhir dari tim beranggotakan tujuh belas orang. Gelap menyebabkan tim Cengkareng harus bergegas dan menyalip tiga orang itu.

DSC_0220

doc @ngeloyor

Barangkali karena sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki di puncak, si laki-laki bergabung dengan tim Cengkareng, meninggalkan dua rekan perempuannya begitu saja. Kedua perempuan itu hanya memanggul ransel kecil, mungkin hanya berisi perlengkapan pribadi seperti baju ganti dan jaket, paling banter kantong tidur. Rekan dari Cengkareng menyangsikan bahwa mereka membawa pemantik api. Kami bertanya-tanya dalam hati masing-masing, apakah dua perempuan itu yang tadi dicari-cari di Mandalawangi? Hanya langit yang punya jawab.

Cobalah tengok catatan-catatan pendakian orang-orang yang ditulis di blog, forum, note facebook, atau sekadar posting mungil di twitter. Mereka yang mendaki gunung dalam rombongan besar melampaui jumlah mereka yang mendaki dalam rombongan kecil. Terutama gunung-gunung di Pulau Jawa yang gerbang pendakiannya terbilang lebih gampang dicapai dibanding gunung-gunung di pulau lain. Seperti ada kebutuhan untuk “menikmati alam” secara massal, beramai-ramai. Entah apa yang menggerakkan; rasa ingin berbagi atau malah sebaliknya, rasa takut untuk sendiri.

Padahal sebuah pendakian massal tidak dapat direncanakan secara asal. Bahkan kebanyakan kelompok pecinta alam kampus pun dalam setahun hanya menyelenggarakan pendakian massal sebanyak satu kali. Persiapannya matang dan tujuannya jelas: promosi dalam rangka mencari anggota baru. Panitia penyelenggara pun adalah para anggota penuh yang telah mengantongi jam terbang lumayan. Orang-orang yang telah mengerti dasar-dasar manajemen perjalanan, navigasi darat, survival, sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mereka mampu mengatasi keadaan.

Semester pertama kuliah, saya menginjakkan kaki di puncak pertama saya di Jawa; Kenteng Songo, Merbabu. Saya naik bersama kawan-kawan Mapala Teknik Kimia setelah membaca poster yang mereka tempel di burjo. Sebenarnya saya adalah target salah sasaran mengingat saya berasal dari fakultas sebelah, yang mereka cari adalah penerus-penerus dari kalangan mahasiswa Teknik Kimia. Namun saya cuek, ikut saja.

DSC_0230

doc @ngeloyor

Pesertanya sedikit untuk sebuah pendakian massal. Ditambah dengan panitia, rombongan berjumlah lima belas orang. Ketika mendaki, lima belas orang itu dibagi menjadi tiga rombongan berjumlah lima-lima. Panitia mengambil peran sebagai pemimpin dan penyapu pada masing-masing rombongan. Mereka menentukan tempo berjalan, lama waktu istirahat, tempat untuk mendirikan tenda. Mereka bertanggungjawab untuk membawa tim naik-turun dengan lengkap dan selamat, memastikan bahwa tiada yang ditinggalkan.

Pukul lima pagi, dengan kantuk yang masih tersisa dan gigil yang sia-sia menahan dingin, saya dan tim menginjakkan kaki di Puncak Merbabu. Pendakian bersama Mapala Teknik Kimia itu adalah perkenalan saya dengan pendakian massal. Barangkali karena berjalan dengan lancar, bagi saya pendakian itu seakan menjadi standar sebuah pendakian massal. Kesan dan “ilmu”-nya terus membayangi, bahkan ketika pada akhirnya saya bergabung dengan mapala fakultas.

***

Naik ramai-ramai, atau sebaliknya dengan sedikit orang, adalah pilihan masing-masing. Tiada yang berhak mengatur. Namun, yang perlu diingat, dalam sebuah pendakian yang melibatkan banyak orang, tanggungjawabnya juga menjadi semakin tinggi. Seorang pendaki tidak hanya bertanggungjawab pada dirinya sendiri, ia juga bertanggungjawab pada hidup kawan-kawan sependakiannya. Toh, sudah berkali-kali saya menuliskan di blog, tidak ada keharusan untuk naik ramai-ramai–juga tidak ada keharusan untuk naik sendirian. Buat apa gunanya naik ramai-ramai jika hanya akan merepotkan? Buat apa mengajak orang lain naik bareng jika pada akhirnya saling meninggalkan?

Sampai ketika saya dan kawan-kawan meninggalkan warung Mang Idi, naik angkot untuk turun ke pertigaan Cibodas, kabar mengenai Wenda dan Meli masih simpang siur. Belakangan ketika telah terkoneksi dengan internet, saya tidak menemukan berita orang hilang di Pangrango. Mungkin mereka telah turun duluan karena kecapaian, lalu lupa memberitahukan kepada rekan-rekan.

IMG_0944

9 pemikiran pada “Pangrango

  1. selalu ngiri sama orang2 yang suka naik gunung gini bisa lihat keindahan yang super kayak gini.. tapi mungkin memang harusnya cuma orang2 terpilih aja ya yg naik gunung yang bener-bener “niat” supaya rasa tanggung jawab u/ menjaga alam nya lebih besar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s