“Don’t think about what you’ll tell people afterward. The time is here and now. Make the most of it.” – Paulo Coelho, Aleph.

 

Empat menit setelah kereta berangkat, saya baru tiba di Stasiun Lempuyangan. “Sudah, mas,” jawab satpam stasiun ketika saya memastikan sekali lagi. “Sudah berangkat.”

Rencana yang saya susun berantakan sudah. Padahal ini baru perjalanan hari pertama! Dari seminggu yang lalu saya sudah mulai mencorat-coret jadwal di catatan, semacam itinerary sederhana yang detilnya saya sesuaikan begitu rupa dengan anggaran yang saya punya. Dalam angan, hari ini saya akan menumpang Kereta Api Ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi. Saya hanya perlu duduk manis di dalam gerbong yang kini sudah dilengkapi pendingin ruangan, sesekali barangkali akan membuka Coelho yang saya bawa, sampai tiba di Banyuwangi kisaran pukul delapan malam. Setelah istirahat sejenak di sekitar pelabuhan, mengisi perut yang keroncongan, membiarkan mulut seharian masam merasakan nikmatnya kretek, saya akan menyeberangi Selat Bali dengan kapal roro kemudian sandar di ujung barat Pulau Dewata. Setiba di Gilimanuk, pukul tiga dinihari, saya akan menumpang bis langsung pertama yang bakal mengantarkan saya sampai tepat ke depan terminal keberangkatan Padang Bai.

Tiket kereta api itu sudah saya beli beberapa hari yang lalu. Sempat merasa beruntung ketika saya tahu bahwa bea tiket kereta api masih disubsidi pemerintah, tetap Rp. 50.000. Gembira sekali rasanya ketika lembaran Rp. 100.000 yang saya sodorkan pada petugas loket dikembalikan setengahnya. Tapi pagi itu saya hanya bisa membolak-balik tiket malang itu, menyesali bahwa selembar kertas tipis itu tidak akan pernah menyempurnakan kodratnya – diperiksa dan dicoblos oleh kondektur kereta bertopi dan berseragam rapi.

Mau tak mau saya melangkahkan kaki keluar dari stasiun. Rasanya seperti menjadi seorang tentara yang disuruh pulang sebelum berperang. Saya hampiri Deli, kawan yang mengantarkan saya pagi itu, yang sedang asyik menikmati teh hangat di angkringan. Selain mengantarkan saya, omong-omong, ia juga sedang menunggu seorang kawan lama dari Jakarta yang akan transit sehari di Jogja sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Rinjani di Nusa Tenggara. Deli terbahak ketika tahu bahwa saya ketinggalan kereta.

Dulu saya pernah juga ketinggalan kereta saat akan menonton Arkarna di Java Rockingland 2011, masa ketika lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa” yang dinyanyikan Iwan Fals masih relevan dengan kondisi perkeretaapian Indonesia. Dari balik portal rel Lempuyangan, saya menyaksikan Progo yang seharusnya saya tumpangi bergerak pasti ke arah barat menuju Jakarta. Tapi saya tak perlu hirau sebab tiket Progo masih bisa dipakai buat kereta Bengawan yang berangkat beberapa saat setelah magrib. Saya dan Obi, kawan baik yang kebetulan dulu juga ada urusan ke Jakarta, tetap dapat menumpang kereta hari itu juga meskipun harus duduk menghampar di bordes restorasi. Sekarang tak bisa lagi seperti itu; PT KAI benar-benar sudah berbenah.

Rencana B terpaksa harus dijalankan: naik bis. Sebagai pulau yang pembangunannya paling pesat se-Indonesia, Jawa menyediakan sejuta alternatif moda transportasi, dari yang mahal sampai gratisan. Pun tidak ada bis, saya bisa setiap saat meloncat ke bak truk, atau diam-diam menyelinap ke gerbong kereta pengangkut minyak Pertamina. Masih ada ruang untuk rencana B, C, sampai Z sekalipun.

“Ayo antar aku ke Giwangan, Del,” saya coba dulu rencana B.

Giwangan, terminal bis paling besar di Jogja, hanya berjarak sekitar setengah jam dari stasiun. Sak plintingan watu – selemparan batu – kalau dari sentra kerajinan perak Kotagede. Dan bis menuju Jawa Timur selalu tersedia sepanjang hari. Bis ke Surabaya bahkan beroperasi 24 jam, sepanjang waktu. Saya belum sempat riset soal bis langsung ke Banyuwangi, rute maupun ongkosnya. Namun melihat wujud bis yang tampak mewah – ber-AC dan mengilap – sekaligus intimidatif, saya jadi berpikiran bahwa ongkos langsung ke ujung timur Jawa itu akan mahal. Jadi saya pilih untuk ngeteng saja – ke surabaya dulu lalu lanjut dengan bis lain ke Banyuwangi.

“Berarti, jam berapa nanti kamu sampai di Banyuwangi, Jo?” Tanya Deli dalam perjalanan ke Giwangan, di atas motor CB berknalpot berisik yang telah dimodifikasi menyerupai Harley.

“Paling jam dua belas malam atau dinihari, Del,” jawab saya mengira-ngira. Deli terkekeh lagi.

***

Perkiraan saya tidak jauh meleset. Sekitar pukul dua dinihari saya meloncat turun dari bis tepat di depan pelabuhan ketapang. Perjalanan panjang, sungguh.

Dari Jogja saya akhirnya naik Mira. Salah satu dari dua perusahaan otobis yang kerap saya tumpangi ketika bepergian dari Jogja ke arah Surabaya ataupun sebaliknya.

Ongkosnya lebih murah beberapa ribu rupiah daripada armada bis satu lagi, Sumber Kencono (SK), yang sejak setahun lalu, demi alasan yang konon berbau klenik, mengganti namanya jadi Sumber Selamat. Menurut rumor, yang menjadi sebab adalah frase Sumber Kencono yang berrima dengan sumber bencono, sumber bencana. Sumber Kencono adalah pengejawantahan dari istilah “benci tapi rindu”. Ketika sedang di dalam bis, penumpangnya mungkin kerap dipaksa keadaan untuk mengumpat akibat ulah sopir bis yang mengendara dengan ugal-ugalan. Tidak jarang bis SK berakhir di parit atau markas polantas setelah menghabisi nyawa orang malang yang kebetulan menyeberang pas sewaktu bis itu melintas. Koran Kedaulatan Rakyat sekali waktu pernah memuat cerita bis SK yang tiba-tiba mejeng di tengah hutan jati tanpa ada bekas tabrakan. Spekulasi berkembang, ada yang bilang bis itu diportal makhluk halus. Entahlah.

Di sisi lain bis ini adalah andalan bagi komuter Jogja-Jawa Tengah-Jawa Timur – PNS, pebisnis, pelajar dan mahasiswa, masyarakat umum. Bis ini selalu ramai. Pemberitaan negatif media tentang bis ini tidak mengurangi jumlah pendaftar Kartu Langganan. Tak peduli siang atau malam, mereka konsisten berlari kencang. Dan yang paling penting, tidak suka ngetem. Kawan saya ketika kuliah dulu, yang berasal dari Ngawi, bahkan pernah mencoba memasukkan nama SK ke dalam halaman ucapan terima kasih sebab telah mengantarkannya, secara harafiah, kuliah ke Jogja – yang ditolak mentah-mentah oleh dosen pembimbingnya.

Dalam kadar tertentu, Mira dan SK dapat dikategorikan profesional sebab memiliki tarif yang jelas, setiap penumpang diberi selembar karcis.

Mira dan SK memiliki satu persamaan; sopirnya sama-sama malas mengerem ketika berhadapan dengan polisi tidur. Bagi SK, polisi tidur bukanlah rintangan, ia adalah musuh yang mesti ditaklukkan, harus dilindas sampai tandas. Setiap kali menumpang Mira dan SK, tak terhitung berapa kali saya terbangun dari lelap, terlonjak tinggi hampir terantuk ke langit-langit mengikuti bis yang juga terbang sepersekian detik ketika menabrak polisi tidur.

Pendek kata, setiap penumpang akan merasakan love-hate relationship dengan kedua armada bis legendaris ini.

Dan itu siang, Bis Mira tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan. Di daerah Nganjuk atau Jombang, saya lupa. Koplingnya tiba-tiba rusak dan, tidak mau mengambil risiko, awak bis mengalihkan penumpang ke Mira di belakang.

***

20140819_191550

Sudah gelap ketika saya tiba di Terminal Purabaya, Surabaya, yang lebih populer dengan sebutan Bungurasih. Kerumunan calo menyambut para penumpang yang berdesakan keluar dari pintu bis. Mereka menawarkan jasa ke setiap orang, termasuk saya. Saya berjalan dengan memasang postur bagus lagi meyakinkan supaya mereka tidak memaksa saya. Tapi masih ada saja satu yang nekat. Ia menanyai saya akan ke mana namun saya hanya menjawab dengan senyum. Ia tidak terima dan menuntut pertanyaannya dijawab.

“Saya tanya baik-baik,” ia berkata dengan nada kasar. “Tolong dijawab.”

“Kalem, Mas,” saya menampiknya dan terus berjalan ke arah terminal keberangkatan. Saya enggan berurusan dengan calo terminal. Terlebih mereka yang agresif dan menggunakan cara intimidatif untuk menjaring calon penumpang. Mencari moda transportasi menggunakan jasa calo, semua akan terasa mudah pertama-tama. Namun lama kelamaan, ketika sudah di jalan, masalah pun satu per satu muncul: tidak ada kursi atau duduk di bangku serep, bayar ongkos ekstra, diturunkan di antah berantah.

Di atas Mira tadi, penumpang yang duduk di samping saya menyarankan untuk naik AKAS ke Banyuwangi. “Lewat Pantura. Lebih cepat,” ujarnya. Bis kebanyakan memilih lewat Jember yang medannya bergunung-gunung dan, tentu saja, memakan waktu tempuh yang lebih lama. Sekali waktu di 2010 dulu saya dan tiga orang kawan pernah bepergian menggunakan sepeda motor ke Bali dan memilih untuk lewat Jember. Demikianlah Jember; bergunung-gunung. Jalan penghubung Jember dan Banyuwangi pun berlubang-lubang dan, lebih buruk lagi, minus penerangan. Dulu itu, di ruas-ruas jalan yang kondisinya paling mengenaskan, tidak satu pun saya lihat tambal ban. Tak terbayang bagaimana jika tiba-tiba ban motor kami gembos di tengah malam… Mungkin akan jadi santapan begal.

Bis AKAS jurusan Banyuwangi selanjutnya akan bertolak pada pukul 9 malam. Dua jam lagi. Tidak tahan dengan Bungurasih yang keras dan riuh, saya meloncat ke bis ekonomi pertama yang melaju ke Banyuwangi. Di dinding bis itu tertera nama Restu. Sudah teramat bobrok dan saya ragu ia akan mampu mengantarkan saya sampai dengan selamat ke Banyuwangi. Terlebih jika lewat Jember.

Duduk di bangku paling belakang, saya head-to-head dengan seekor kecoa ketika coba menyandarkan kepala ke jendela kaca. Saya perhatikan saja makhluk itu sampai ia mundur ke persembunyiannya. Entah kecoa itu bisa sampai ke bis ini karena mengendus bau busuk, atau justru bau busuk yang saya cium itu berasal dari kawanan kecoa yang menyuruk di sela-sela bis, hanya Tuhan yang tahu.

Lewat Sidoarjo, kondektur bis mulai bergerak menariki ongkos. Di terminal tadi saya sempat melihat daftar tujuan dan tarif bis. Untuk ke Banyuwangi, pemutakhiran terakhir data menyebutkan bahwa batas atas tarif angkutan ke Banyuwangi tidak lebih dari Rp. 50.000. Ketika kondektur menghampiri, saya berikan saja satu lembar uang biru itu sembari menyebutkan “Banyuwangi”.

Ia tampak menimbang-nimbang sejenak lalu menoleh pada saya kembali.

“Banyuwangi mana?”

“Terminal.”

“Sepuluh ribu lagi.”

Saya keluarkan selembar merah dari saku dan saya berikan padanya. Entah benar entah tidak, tak lagi saya peduli. Sepanjang jalan dari Jogja tadi dalam benak saya yang berkelebatan hanyalah soal apakah uang saya cukup untuk melakukan perjalanan ini. Terbayang kota demi kota yang akan saya singgahi, selat demi selat yang akan saya seberangi, dan pulau demi pulau yang akan saya lintasi, apakah tabungan saya akan cukup? Apalagi melihat kenyataan bahwa di hari pertama ini saja sudah banyak pengeluaran ekstra. Sementara, dalam kepala saya, perjalanan ini akan berlangsung paling tidak tiga minggu.

Kemudian saya insaf bahwa pemikiran-pemikiran seperti itu hanya akan mengisolasi saya dari masa kini. Akan ada banyak pengalaman dan perenungan yang terlewatkan. Barangkali saya akan lupa untuk sekadar menarik napas, menghirup udara, dan bersatu dengan pojok bumi yang baru pertama kali saya tapaki. Perjalanan yang sudah saya dambakan sekian lama hanya akan berakhir di album foto. Sekilas tampak manis namun nyatanya hampa tiada bernas sebab sepanjang jalan pikiran saya sibuk sendiri. Barangkali benar bahwa melakukan perjalanan bukan perkara punya uang atau tidak, melainkan soal punya tekad atau tidak, ada nyali atau tidak.

Lama saya memejamkan mata. Ketika bangun bis sudah tiba di daerah perkebunan tebu perbatasan Lumajang-Jember dan yang membangunkan saya adalah sebuah hentakan yang barangkali disebabkan oleh bis yang menghajar polisi tidur. Pelipis kanan saya memar dan bengkak, terasa nyeri.

Di Jember, keraguan saya terbukti. Bis yang bobrok ini tidak sanggup terus ke Banyuwangi dan para penumpang mesti dioper ke bis lain yang lebih kecil dan tangguh, yang bangkunya lebih empuk dan nyaman, tidak bau, dan ber-AC. Di bis keempat saya hari itu, saya tidur pulas sampai kondektur membangunkan saya. Memberitahu bahwa bis sudah tiba di Pelabuhan Ketapang.

20140820_025840

7 pemikiran pada “Rencana B

  1. selalu ada cerita di balik rencana A yang gagal terlaksana. jangan lupa makan bung. perut ga bakal penuh walaupun disesaki tembakau, yang dimamah macam sagon sekalipun hahahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s