Ajaib

Meskipun Bali secara administratif masuk wilayah Indonesia, prosedur masuk via laut ke pulau itu agak berbeda; harus memperlihatkan kartu identitas. Saya telah mengisi data sejak setahun yang lalu namun belum menerima hak saya – e-KTP. Kartu identitas yang saya punya hanyalah KTP lama yang keadaannya sudah mengenaskan. Beberapa kali terkena rembesan air setelah berenang, tulisan dalam KTP itu pun menjadi kabur sehingga sulit dibaca.

Maka dinihari itu saya bersiap untuk mengeluarkan paspor jika TNI yang bertugas mengecek identitas tidak menerima KTP itu. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah berusaha sedikit keras, tampak dari ekspresinya, tentara itu berhasil membaca biodata saya. Terima kasih pada kacamata yang ia pakai.

Entah kenapa malam itu Terminal Gilimanuk terasa sepi. Lebih senyap dari biasanya. Karena saya tiba di sana hampir pukul empat dinihari, para calo mungkin sedang sibuk bertransaksi di alam mimpi.

Di depan bis yang parkir paling depan saya dapat melihat dengan samar tulisan “Padang Bai”. Jika naik bis langsung saya akan tiba lebih cepat dan yang paling penting bisa lebih hemat. Walaupun sudah insaf bahwa bepergian dengan hemat bukanlah segalanya, saya tetap harus mengatur budget agar dapat melesat sejauh-jauhnya.

“Langsung ke Padang Bai, Pak?” Tanya saya pada seorang yang sepertinya adalah kondektur.

“Ke Ubung dulu, Mas,” jawabnya sambil lalu. “Dari sana sambung lagi ke Padang Bai.”

Agak-agaknya bis Gunung Harta yang langsung ke Padang Bai sudah berangkat sejak satu jam yang lalu. Di poster besar berisi daftar bis, trayek, dan jadwal keberangkatan yang ditempel di dinding terminal, bis ke Padang Bai berangkat pukul tiga dinihari. Andai saja saya tidak ketinggalan kereta…

Setengah jam kemudian bis kecil itu berangkat. Di sekitar Gilimanuk hanya beberapa orang yang naik, tidak sampai lima; pegawai pelabuhan, penjual kacamata yang baru pulang berdagang di kapal yang dengan riang menenteng triplek besar tempat ia memajang puluhan dagangannya, pelajar yang sudah bangun dari pagi sekali agar tiba di sekolah sebelum lonceng masuk berbunyi, penumpang biasa seperti saya. Di atas jalan yang mulus bis melaju, melewati gerbang Bali yang megah, pertigaan jalan ke kota-kota di pantura Bali, hutan taman nasional Bali Barat yang hijau dan dinaungi banyak pepohonan raksasa. Lepas dari sana saya tertidur.

Begitu bangun saya mendapati matahari sudah agak tinggi. Pegunungan mulai kelihatan dan persawahan yang menghijau terhampar sejauh mata memandang, di kanan maupun kiri. Manifestasi dari kesuburan Pulau Dewata itu dibelah di tengah oleh jalanan kecil yang mulus. Sawah-sawah itu bertingkat seperti tangga, sengkedan sebagian orang bilang. Di pematang-pematangnya sanggah dari batu alam sengaja diletakkan untuk menunjukkan rasa hormat pada dewa kesuburan. Di balik persawahan itu saya diintip oleh laut membiru yang memang sangat dekat dengan beberapa ruas jalan Gilimanuk-Denpasar.

Jika dipikir, ini adalah salah satu impian yang mewujud; untuk berkelana sendirian melintasi Bali. Tahun lalu entah sebab apa saya gagal berangkat ke Bali sendirian untuk melihat suasana Ubud Writers & Readers Festival. Sekarang baru bisa dilakukan, meskipun kali ini Bali hanya sebagai pulau transit untuk melanjutkan perjalanan ke gugusan nusa di ujung wilayah tengah Indonesia.

Saya menjejakkan kaki di Bali untuk pertama kali pada 2008, berdua dengan teman. Bukan perjalanan yang patut diingat sebab yang saya lakukan hanyalah berkeliaran di Legian dan Kuta, plus ketika pulang saya ditinggal sendirian di Banyuwangi oleh orang yang saya sebut teman itu. Terkatung-katung saya semalaman di stasiun paling ujung Pulau Jawa nan lengang hanya dengan sisa uang Rp. 1000. Untung paginya bertemu dengan dua orang senior sealmamater beda fakultas yang baru saja pulang mendaki titik tertinggi Pulau Lombok. Betapa terharunya saya ketika mereka menawari saya nasi rames dan sate kerang demi mengetahui bahwa saya tak punya cukup kepeng untuk membeli nasi.

Setelahnya, hampir setiap tahun saya berkunjung ke Pulau itu. Pernah sekali waktu saya dan tiga kawan baik “iseng” menyeberang setelah nanjak Kawah Ijen. Hanya beberapa jam kami di Pantai Kuta, sekadar bercanda-tawa menceburkan diri ke dalam ombak, kemudian pulang.

Bepergian sendiri berarti sepenuhnya menjadi orang asing, total stranger. Sekadar kerikil tak berarti yang hanya bisa mengamati. Kita memang diberi wewenang penuh untuk memilih rute, moda transportasi, dan merancang waktu. Dan yang mesti dipikirkan hanyalah nasib sendiri. Namun di lain sisi kondisi itu membuat kita secara otomatis dibelenggu oleh kesepian. Kadangkala sepi itu memang bisa diisi dengan perenungan, refleksi, atau sekadar menangkap momen untuk dikenang lagi di masa depan. Tapi tetap saja ada masa ketika kita butuh seseorang untuk berbagi kesenangan pun kesedihan, seseorang untuk dimintai pendapat. Barangkali ada yang berpendapat bahwa sepi itu bisa diusir dengan mengobrol dengan orang yang kebetulan duduk sebangku, atau yang kebetulan sedang makan di tempat yang sama. Tidak sepenuhnya keliru. Namun percayalah… mengobrol dengan kawan sendiri rasanya akan jauh lebih menyenangkan, dan menenangkan, ketimbang bertukar kata dengan orang baru.

***

Semenjak tahun 70’an dulu ketika di Kuta baru ada beberapa penginapan yang dikelola secara sederhana oleh keluarga-keluarga, nama Bali sudah mahsyur ke segala penjuru dunia. Dijuluki sebagai Pulau Dewata, ia tak pernah lengang sebab sepanjang tahun pasti selalu ramai oleh wisatawan. Pergilah ke Kuta sembarang waktu dan kau pasti akan merasa sedang berada dalam lokasi syuting serial Baywatch.

Namun ternyata reputasi Bali tidak cukup untuk ikut membangun sistem transportasinya. Entah ulah siapa, angkutan umum yang beredar di jalanan kalah jumlah oleh kendaraan pribadi. Wujud angkutan umumnya pun mengenaskan. Bis Gilimanuk-Denpasar masih lumayan. Cobalah tengok angkutan sejenis bison yang melayani trayek dalam kota; mirip bis jurusan Kaliurang di Yogyakarta. Untuk ke Kuta, kita mesti naik angkutan umum dua kali; Ubung-Tegal, Tegal-Kuta.

Ketika pagi itu saya turun di Ubung, tidak ada bis yang akan berangkat ke Padang Bai. Sebenarnya saya menemukan sebuah yang memiliki papan bertuliskan “Padang Bai”, namun ketika saya hampiri awaknya sedang sibuk melakukan sesuatu entah apa di dalam. Lalu ketika seseorang menawarkan angkutan ke Padang Bai, saya ikuti saja dia dan saya diantar ke sebuah van berplat hitam yang hampir penuh. Hanya tersisa sebuah tempat buat saya di pojok jauh bangku belakang.

20140820_075147

Di samping saya duduk seorang bapak ber-udeng bersama istri dan anaknya. Saya membuka percakapan dengan berbisik menanyakan ongkos ke Padang Bai. “Wah, kurang tahu,” ia mejawab. Lalu percakapan bergeser ke arah background check, standar Indonesia. Ketika ia bertanya saya dari mana, yang saya jawab dengan “Jogja”, seseorang yang duduk tepat di depan saya menoleh ke belakang sambil tersenyum.

“Saya juga dari Jogja,” ujarnya sambil menyodorkan tangan untuk berkenalan.

Saya jabat tangannya.

Namanya Jibi. Mahasiswa Fakultas Hukum UII angkatan 2013. Ia antusias sekali ketika tahu bahwa saya akan menyeberang ke Sumbawa. Ternyata ia berasal dari Bima. Ia baru saja selesai mengurus registrasi ulang namun aktivitas perkuliahan baru akan dimulai pada minggu pertama September. Untuk mengisi waktu ia jalan ke tempat kawan-kawannya kuliah di Mataram.

“Berapa sih sebenarnya ongkos ke Padang Bai?” ia bertanya. Saya jawab, tidak akan lebih dari lima puluh ribu.

“Aku bayar enam puluh ribu tadi,” ujarnya menyesali.

Memang hanya Tuhan yang tahu berapa sesungguhnya tarif angkutan antar kota di Bali. Sekali waktu, saya harus membayar Rp. 25.000 untuk ke Gilimanuk. Setahun setelahnya malah turun menjadi Rp. 20.000. Tahun kemarin, ketika akan ke Rinjani, dari Gilimanuk ke Padang Bai kami hanya perlu membayar Rp. 45.000. Itu pun akhirnya dioper di Ubung. Tahun ini saya masih belum tahu harus membayar berapa sebab tiap orang akan dikenai tarif yang berbeda, tergantung seberapa kuat menawar dan adu urat syaraf dengan calo maupun kondektur.

Sudah lama dan van itu tak jua berangkat. Seorang perempuan yang tampak perkasa tiba-tiba membuka pintu lalu menyuruh para penumpang untuk turun, pindah ke bison butut yang baru tiba entah dari mana.

Tidak menunggu lama-lama bison itu berangkat. Terseok-seok ia di tengah-tengah lalu lintas Denpasar yang padat. Sepanjang jalan klakson nyaring berbunyi. Saya paling benci mendengar suara klakson sebab menurut saya yang perlu diklakson hanyalah kawanan binatang sedang menyeberang yang tidak punya akal untuk menalar bahwa ia akan ditabrak jika berlama-lama melintasi jalan raya.

Jika langsung, lewat By Pass Ida Bagus Mantra, Padang Bai dapat dicapai dalam kurun kurang dari satu jam. Namun, sebab kecil kemungkinannya orang akan menyetop angkutan dari sana, Pak Sopir mengajak kami berputar-putar melihat Bali. Hari itu Bali tampak semarak, kuning dan putih di mana-mana, barangkali sedang ada perayaan sebab di mana-mana orang berpakaian adat. Beberapa kali saya berpapasan dengan serombongan wanita yang berjalan berbaris sambil menjunjung jambangan tinggi berisi buah-buahan; seperti foto dalam kartu pos klasik.

Di samping kanan saya duduk seorang kakek. Sekitar satu jam di jalan, ia membuka bungkus kreteknya lalu menawarkannya ke saya. Saya berterima kasih, mengambilnya, lalu ikut menyulut rokok itu. Penumpang lansia di dalam bis itu ada dua orang; bapak yang menawarkan saya rokok dan seorang lagi yang duduk di deretan depan saya.

“Bapak yang di depan itu sudah 80 tahun lebih, lho,” ujarnya.

Saya kagum sekaligus terenyuh. Kagum karena pada usia selanjut itu ia masih kuat bepergian sendiri, terenyuh memikirkan kira-kira anak macam apa yang membiarkan orangtuanya bepergian seorang diri di hari tuanya.

“Kalau bapak sendiri berapa, Pak?”

“Saya baru tujuh puluh lima,” jawabnya dengan bangga sambil menghisap kreteknya.

***

Di sebuah pertigaan, sang kakek tua berusia delapan puluh tahun itu meminta juru mudi untuk berhenti. Ia pun itu turun, geraknya sudah agak pelan. Di trotoar ia rogoh sakunya untuk mengambil dompet. Ketika tidak menemukan apa-apa, ia mulai panik. Ia pun melongok ke dalam bison, ke bangku bekas tempat duduknya tadi.

“Tas kecil, tas kecil…” jawabnya berulang-ulang ketika seorang penumpang wanita menanyai. Kakek itu bilang dompetnya mungkin ada di dalam tas kecil kepunyaannya. Tapi setelah diperiksa sampai ke pojok paling dalam, tidak kami temukan tas yang ia maksud. Pun tak seorang pun yakin telah melihat bapak itu masuk ke angkutan dengan tas kecil.

“Ketinggalan di mobil tadi mungkin, Pak,” penumpang lain unjuk pendapat. Ketika berpindah tadi kami memang tergesa-gesa. Bisa jadi tas itu kakek ketinggalan di jok belakang.

Canggung beberapa saat. Para penumpang lain diam melihat laku kakek itu, sopir menunggu kakek itu untuk membayar. Pada akhirnya kakek itu naik lagi, minta diturunkan di tempat lain di depan.

Ketika mobil kembali laju, kakek itu melepas jam kecilnya. Ia lalu menawarkannya ke sekeliling. Pertama ia menoleh ke arah dua sejoli asing yang kebingungan disodori jam.

“Tiga ratus ribu saja… tiga ratus ribu,” tangannya bergetar ketika menawarkan jam berwarna keemasan itu.

Saya dan Jibi bertukar pandang, mengangkat bahu. Tak seorang pun bergeming. Semua mengangkat tangan, termasuk saya. Seketika saya menyesali keterbatasan saya sendiri. Saya belum sampai pada taraf bisa membantu orang tak dikenal secara finansial tanpa pikir panjang. Selama ini saya belum menemukan alasan mengapa seseorang harus bekerja dan mengumpulkan uang. Sekarang saya menemukan alasannya; agar dapat leluasa membantu orang lain.

Beberapa kilometer dari sana, kakek itu turun. Ia sempat akan memberikan jam itu pada sopir tapi juru mudi itu menolak. Orang baik dia.

Tak lama bison itu muncul di By Pass Ida Bagus Mantra, melaju kencang di jalan yang lurus, lalu tiba di pertigaan ke Padang Bai. Ia belok kanan, melewati jalan yang berliku. Di ujung turunan angkutan itu berhenti; sudah tiba di Padang Bai.

Saya serahkan dua lembar dua puluh ribu. “Sepuluh ribu lagi, Mas,” ujar juru mudi itu.

Dalam setahun saja ongkosnya bisa naik dua kali lipat. Ajaib!

4 pemikiran pada “Ajaib

  1. “Selama ini saya belum menemukan alasan mengapa seseorang harus bekerja dan mengumpulkan uang. Sekarang saya menemukan alasannya; agar dapat leluasa membantu orang lain.” suka dengan kalimat ini……kebayang-bayang wajah Bapak Tua itu, Ia baik, sopirnya baik, masih banyak orang baik…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s