Menuju Empang

Konon dua jenis ferry inilah yang berkeliaran di Selat Lombok: yang lambung kapalnya bergambar lumba-lumba, dan satu lagi yang tidak. “Yang ada lumba-lumbanya lebih bagus biasanya,” Jibi menjelaskan sementara kami melangkah di atas ubin keramik putih ruang tungggu pelabuhan yang sepi dan telantar, seusai menebus dua tiket kapal.

Kebetulan siang itu kami menumpang ferry jenis kedua. Sungguh nyaman di dalamnya. Pengondisi-udara ruangannya terasa. Kursinya empuk meskipun masih dipasang berhadap-hadapan. Hampir tiap pojok dihiasi televisi layar datar yang kali ini memutar film Fast and Furious semasa Paul Walker masih hidup. Mujur sekali memang. Dulu dalam perjalanan pulang ke Jawa seusai roadtrip motor Jawa-Lombok, kami dapat ferry yang mengenaskan; bangkunya kecil, tidak empuk sama sekali, sementara lantainya coklat karatan–bau pula. Di lantai karatan itulah saya menghabiskan setengah malam tidur berselimut kantong tidur. Oleng kanan, oleng kiri, kadang kepala saya berbenturan dengan tiang penyangga kursi.

Sesiang itu laut tidak bergelombang. Jadi setelah mengisi perut dengan nasi bungkus, saya kenyang dan langsung terbang ke alam mimpi. Selain tidur, apa lagi yang mampu dihasilkan oleh kombinasi perut kenyang, hawa dingin, dan pemandangan laut yang monoton?

Saya bangun satu jam menjelang kapal berlabuh di Pulau Lombok. Jendela yang semula hanya berisi cakrawala berganti menjadi pulau-pulau gersang berpasir terang. Nuansa serba kuning kecoklatan. Sudah lama tidak hujan, menyebabkan hamparan ilalang kehilangan sentuhan warna kehijauan.

Ini adalah ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di Tanah Sasak. Namun tiada beda rasanya dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya; jantung saya tetap saja berdebar hebat mengantisipasi segala yang mungkin terjadi di pulau itu. Bagaimana tidak jika di sana kamera saya pernah hilang. Beberapa kali saya juga disantap calo yang mendadak kelaparan setiap kali melihat anak muda berjalan beriringan memanggul ransel besar. Singkatnya, perasaan saya bercampur-campur, diaduk-aduk secara hebat oleh pikiran, oleh praduga saya sendiri.

Ketika sandar di dermaga Lembar yang dari tahun ke tahun begitu-begitu saja keadaannya, saya langsung memasrahkan diri pada Jibi yang dari potongannya sudah paham Mataram luar dalam. Berempat – sepasang orang asing yang tadi satu angkutan dengan kami menuju Padang Bai juga ikut – kami berjalan keluar area pelabuhan untuk mencari angkutan ke arah Mataram.

So where are you guys going?” Bule yang laki-laki bertanya penasaran. Teman perempuannya berjalan di sampingnya dalam diam. Jarang saya menemukan bule kepo seperti itu kecuali ada maunya; mau mencari teman mengobrol, mau mencari tahu informasi. Barangkali mereka kurang paham soal Mataram. Saya jawab bahwa Jibi akan ke kontrakan kawannya di Mataram sementara saya akan menginap di Kantor Perwakilan Bis Damri menunggu armada menuju Sumbawa yang akan berangkat esok pagi.

Ia bilang mereka akan ke Pantai Kuta di Lombok bagian selatan. Karena sudah gelap, sementara angkutan umum ke Kuta biasanya jarang sekali ada pada malam hari, kecuali sewa, mereka harus menunggu sampai pagi datang. Masalahnya mereka belum tahu akan menginap di mana malam ini.

You can spend the night there too if you want,” saya mengajak mereka untuk ikut menginap di Damri. “It’s save. But don’t expect too much because it is, you know, not exactly a hotel.

Mereka menanggapi dengan mengeluarkan ekspresi tentu-saja-kami-paham.

Tak lama berjalan, sebuah Zebra hitam yang pelat nomornya juga hitam menjejeri kami lalu berhenti. “Mau ke mana?” Supirnya bertanya dari balik kemudi. Melihat kami yang kurang yakin sebab pelat nomor mobilnya hitam, ia menambahkan, “ini angkot kok.”

Tawar menawarnya hanya sebentar. Kami lalu dibawa menuju Kota Mataram melewati jalanan yang kecil dan dipagari sawah di kanan kiri. Senja semakin menghitam dan tak lama lagi gelap akan sepenuhnya menudungi kolong langit. Jibi yang pertama turun. Ketika berpamitan kami berjanji akan bertemu lagi suatu saat di Jogja. Saya sendiri meminta pada Sang Supir untuk diturunkan di kantor Damri sebab mesti melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa.

Sepanjang jalan kedua orang asing itu gelisah. Tak terbayang rasanya menjadi mereka; berada di negeri yang jauh, kultur yang sama sekali berbeda dibanding tempat mereka hidup, dan hanya bisa berkata dalam bahasa lokal sepatah-dua kata. Jika dilihat dari perawakan, usia mereka barangkali baru sekitar 22 tahun. Di usia semuda itu…. Ah, nilai tukar mata uang!

Sejak meloncat ke dalam angkot tadi kedua bule itu tampak gelisah. Lalu menjelang masuk kota Mataram, bule laki-laki itu menepuk bahu saya. “Can you tell him to take us there?” Ujarnya sambil meletakkan jarinya di Jl. Pejanggik, Mataram di google maps.

Sure,” jawab saya.

I guess we will just find a cheap hostel there,” kata bule itu setelah saya menyampaikan keinginannya ke Supir. “You seem equipped. We don’t have matress like you to sleep on the floor anyway.

Terlepas dari ada atau tidaknya kelengkapan kemping, kehidupan bule pejalan di Indonesia terkadang memang sulit sebab stereotip untuk mereka adalah kaya. Kaya berarti uang berjalan.

Selang sebentar Zebra itu berhenti di Perwakilan Damri. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada kedua bule itu, serta berterima kasih pada supir angkutan, saya turun lalu berjalan memanggul ransel ke arah bangunan loket. Inilah perjalanan, kawan. Masa ketika sukacita pertemuan dan duka perpisahan menjadi sebuah kelaziman.

***

Saya memilih Damri sebab tarifnya jelas. Tidak seperti angkutan umum lain yang biasa ngetem di sekitar Mandalika, Bertais, yang fluktuasi ongkosnya menyaingi nilai tukar rupiah. Barangkali yang diinginkan pejalan tidak jauh berbeda dibandingkan seorang perempuan yang sedang di-PDKT: kejujuran dan kepastian. Bahwa ongkosnya murah adalah bonus.

Terletak dekat perempatan menuju Terminal Mandalika, Kantor Damri Mataram lumayan besar, bersih, dan terang. Sebuah kaca transparan memisahkan loket dengan ruang tunggu penumpang, di mana berbaris kursi fiber warna dongker seperti yang lazim ditemukan di kantor pos atau PLN zaman baheula. Di dinding bagian dalam terpajang sebuah poster besar berisi daftar trayek sekaligus jadwal keberangkatan bis. Saya tersenyum begitu mendapati bahwa malam ini juga ada bis yang akan berangkat ke Sumbawa Besar, tak perlu menunggu lama sampai esok pagi.

“Tapi masuk daftar tunggu ya, Mas?” Ujar petugas Damri dari balik kaca bening loket.

Tidak masalah. Setelah petugas loket mencatat nama saya dalam daftar tunggu, saya melangkah keluar untuk mengirup kretek yang sudah lama menganggur di saku celana. Saya hirup asap pekat itu dalam-dalam, membiarkan racunnya yang nikmat meresap ke relung-relung terdalam tubuh saya yang fana. Namun bersama kepulan mematikan itu juga mengalir oksigen yang membantu pikiran saya untuk berpikir lebih jernih.

Saya perhatikan sekitar. Setiap kali terdampar di lokasi-lokasi transit seperti terminal, pelabuhan, dan bandara, saya selalu mencari-cari orang yang membawa keril besar. Ada perasaan aneh setiap kali bertemu sesama pejalan; seperti sedang mengemban misi rahasia yang hanya saya dan mereka saja yang paham.

20140821_051955

Lalu mata saya menangkap sesosok manusia kribo berkacamata yang sedang duduk di tangga keramik depan pintu loket. Ia berkaos hitam dan bercelana pendek. Di bawah, kakinya dialasi dengan sepasang sandal gunung, sementara di atas, lehernya dibebat oleh secarik slayer bermotif batik. Kulit wajahnya terbakar matahari dan mengelupas di beberapa bagian; ciri-ciri yang hanya bisa dipenuhi oleh orang yang baru turun gunung. Ia tersenyum tanggung, seolah menantikan saya untuk membalasnya dahulu sebelum menggantinya menjadi senyuman yang lebih lebar.

“Lagi jalan-jalan juga?” Saya mulai percakapan.

“Iya, Bang.” jawabnya. Lalu dengan santai ia menambahkan, “gimana kalau kita ngobrol sambil ngopi aja?”

Saya berjalan ke kafe belakang bersama kawan baru itu. Tue namanya, lengkapnya Aloysius Ferry Tue. Sembilan belas tahun, anggota mapala sebuah STIKES di Jakarta yang baru saja pulang dari pengembaraan tunggal ke Gunung Rinjani–yang menjelaskan kenapa kulit mukanya bisa mengenaskan seperti itu. Katanya ia mau pulang kampung ke Pulau Lembata sebab seumur hidup baru sekali ia menjejakkan kaki ke pulau di bagian timur Flores yang terkenal dengan perburuan paus itu.

“Berarti kita bisa barengan sampai Ende,” ujar saya. Saya akan singgah dulu di Moni dan Kelimutu sementara Tue mesti bergegas ke Lembata sebab ia sudah didaftarkan organisasinya untuk ikut lomba lintas alam di TN Gunung Gede-Pangrango.

“Iya, bang,” ia merespon dengan hangat. “Mau mampir ke Komodo sekalian, nggak?”

Saya menggeleng dan menjelaskan padanya bahwa dari awal saya tidak merencanakan, jika bukan enggan, untuk bertandang ke pulau itu. Perjalanan ke Komodo akan mengeluarkan banyak biaya; harus menyewa kapal, pemandu, dan sebagainya. Petualangan ke sana bisa ditangguhkan dulu. Bukankah sampai ratusan tahun yang akan datang Si Komo akan terus berkeliaran di Komodo dan Rinca jika tidak ada bencana alam hebat yang meluluhlantakkan deretan Kepulauan Sunda Kecil. Sementara kapal menuju Maumere hanya ada dua minggu sekali; apa jadinya kalau saya gagal tiba di Maumere tepat waktu? Apa jadinya jika saya kehabisan uang sebelum tiba di Maumere?

“Tenang, bang,” katanya sambil dengan bersemangat mengeluarkan sebundel kertas putih dari dalam tas kecilnya. “Ada perahu murah ke Pulau Komodo.”

Lembaran-lembaran itu ternyata adalah proposal pengembaraan, yang tentu saja juga berisi itinerary. Perahu yang ia maksud adalah angkutan reguler yang membawa masyarakat Desa Komodo ke Labuan Bajo untuk belanja memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekali jalan penumpang hanya perlu membayar Rp. 20.000.

Pertemuan dengan kawan baru di perjalanan terkadang bisa mengubah arah perjalanan itu seratus delapan puluh derajat. “Ayo, deh,” saya tersenyum antusias menyongsong kemungkinan untuk singgah ke Komodo. “Kita cari perahu itu nanti di Labuan Bajo.”

***

Saya sempat tergelak ketika Tue mengeluarkan karcisnya. “Tiket gue ke Empang, Bang,” ujarnya menyebutkan nama Empang dengan pengucapan e yang tegas, yang bagi saya berarti sejenis kolam yang biasa digunakan untuk membiakkan ikan – sekaligus di sana ada jamban, biasanya.

“Empang?”

Memang Damri yang beroperasi di Nusa Tenggara Barat melayani cukup banyak rute. Konon armada perusahaan jawatan itu akan melipir terlebih dahulu ke pelosok-pelosok yang jarang dilewati bis swasta sebelum mengakhiri trayeknya di kota-kota kecil yang beberapa di antaranya lumayan terkenal – Taliwang, Sumbawa Besar, Maluk… Termasuk Empang. Ya, sebuah terminal di kecamatan bernama Empang.

Saya buka Lonely Planet dan membalik-balik halamannya ke bab Nusa Tenggara. Ternyata Empang terletak hampir di tengah Pulau Sumbawa, beberapa jam perjalanan ke timur dari Sumbawa Besar, sementara ongkosnya hanya selisih sepuluh ribu lebih mahal daripada ke Sumbawa Besar. Sepertinya akan lebih baik jika saya ikut Damri sampai Empang.

Secangkir kopi tandas. Meninggalkan Tue di warung sendirian, saya kembali ke loket untuk memastikan nasib. Di hari-hari sepi hanya satu bis yang berangkat ke timur, sementara ketika ramai biasanya akan ada penambahan armada. Malam itu ternyata lumayan banyak penumpang yang akan bepergian ke Sumbawa; sebuah bis ekstra non-AC, yang ongkosnya lebih miring, akan diberangkatkan.

“Kok ongkos lu lebih murah, bang?” Tue bertanya-tanya ketika membolak-balik karcis saya, begitu saya kembali ke warung belakang, membandingkan dengan tiketnya.

“Bisku non-AC.”

“Tau gitu naik non-AC gue,” kami sama-sama tertawa. Menjelang pukul sembilan kami naik ke atas bis masing-masing dan berjanji akan saling menunggu jika salah seorang tiba lebih dulu di… Empang.

***

Lansekap Pulau Sumbawa yang pertama kali saya lihat adalah perbukitan rendah berwarna coklat yang mengapit jalanan kecil di sebuah pasar antah-berantah. Selubung tipis putih mengambang di puncak-puncaknya. Ketika mendongak saya masih dapat melihat beberapa bintang bersinar cemerlang di langit yang perlahan membiru. Saya meloncat turun dari bis yang sudah sekitar satu jam berhenti. Hawa dingin.

Semalam bis berangkat dalam keadaan penuh. Sekarang hanya tersisa beberapa penumpang sebab sebagian besar telah turun di kota-kota kecil bagian barat Sumbawa. Karena penumpangnya sudah sepi, yang tersisa akan dioper ke bis AC yang masih jauh tertinggal di belakang.

Sampai Utan, saya sebangku dengan seorang pemuda bernama Eka. Potongannya seperti anggota namun secara mengejutkan senang sekali berbicara. Sebentar kenal ia sudah berani curhat soal mantan-mantannya; entah saya yang terlalu jago mengorek orang atau ia yang sekadar sedang butuh tempat sampah.

Selain bercerita soal mantan-mantannya, Eka juga bercerita soal jalanan Lombok-Sumbawa yang di malam hari dihuni para begal. Obrolan soal begal itu dipancing oleh peristiwa menarik yang terjadi malam itu.

20140821_062208

Menjelang Lombok timur, bis Damri itu tiba-tiba direm secara mendadak oleh supirnya untuk menghindari tabrakan dengan sebuah truk kosong yang juga direm secara mendadak. Pengemudi truk kosong itu ternyata sedang mengajak pengguna jalan lain untuk main-main, entah dalam keadaan sadar entah dalam keadaan mabuk. Setelah mengerem mendadak, truk itu dipacu sekencang-kencangnya, lalu direm lagi, lalu dipacu lagi. Puncaknya adalah ketika truk edan itu sengaja berjalan di kanan dan menyerempet mobil patroli polisi yang hampir saja terjun ke sungai.

Ketakutan, truk itu langsung kabur masuk ke jalan kecil di sebuah pasar. Menghilang.

Setelah itu mulailah cerita Eka soal daerah-daerah rawan di Lombok dan “perang” antardesa yang dapat terjadi sewaktu-waktu, dan mengapa ia tidak berani naik motor sendirian dari Lombok ke Sumbawa. Ia juga bercerita soal maling sapi dari luar pulau yang biasanya beraksi di musim-musim paceklik. “Mereka biasanya pakai kapal,” katanya. “Terus waktu dikejar warga, mereka balas mengejar. Pakai senapan lagi.”

Saya hanya menggeleng-geleng saja membayangkan segala yang mungkin terjadi di pulau kecil ini. Agak-agaknya memang kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari satu aspek. Alam Pulau Lombok memang indah. Wisatawan dibuai oleh Rinjani, Tiga Gili, atau Pantai Pink di bagian timur. Namun kondisi sosialnya ternyata tidak sestabil Yogyakarta yang kalah secara “fisik”.

Seperti yang saya bilang tadi, di Utan Eka turun, lalu bangku kanan depan itu sepenuhnya menjadi milik saya. Kehilangan teman mengobrol, saya tidak langsung tidur sebab harus berjuang menahan angin dingin yang bertiup kencang menampar-nampar muka – yang ternyata berasal dari pintu tingkap bis yang dibiarkan terbuka. Saya baru bisa tidur nyenyak setelah bis non-AC itu berhenti menunggu saudaranya yang masih jauh di belakang.

Perut saya bergolak, sudah dua puluh empat jam ampas-ampas makanan tidak saya buang. Lewat jalan makadam saya melangkah ke arah masjid. Setelah mengucap permisi pada beberapa jamaah berusia lanjut yang sedang duduk-duduk santai usai salat subuh, saya langsung bergegas ke kakus. Kamu semua pasti bisa mengerti perasaan lega yang saya alami…

Saat jongkok, saya mendengar suara bis mendekat, lalu klakson, dan ditutup dengan deru mesin yang melaju menjauh. Tunai hajat, saya menuju tempat bis diparkir dan mendapati diri sebagai satu-satunya penumpang non-AC yang tercecer.

4 pemikiran pada “Menuju Empang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s