Sehari di Negeri Tembakau

Beberapa tahun yang lalu di Kaldera Rinjani, matahari sudah condong ke barat dan stok rokok saya sudah menipis. Tepian Segara Anak masih jauh. Di sisi jalur saya mengistirahatkan kaki bersama beberapa pendaki dari Mataram. Demi menghemat rokok, saya hanya duduk diam melihat pemandangan. Perjalanan masih panjang.

“Rokok, Bang?” Salah seorang dari mereka menawarkan. “Terima kasih,” saya menjawab. “Masih ada, kok.”

“Kita bawa banyak kok, Bang,” ia mengeluarkan sesuatu berbentuk balok. Tidak mungkin batu bata sebab tampaknya ringan sekali. Begitu kertas koran yang membalutnya dibuka, sesuatu yang kusut berwarna coklat menjulur-julur, aroma wangi menguar. Tak salah lagi—tembakau. (Belakangan saya tahu bahwa ia mengeluarkan tembakau seberat 1 tumpih yang ekivalen dengan 2,5 kilogram.)

Penasaran, selembar papir saya ambil, lalu saya tempatkan segaris tembakau di atasnya. Dengan bekal ilmu melinting yang masih cetek, saya gulung tembakau itu sampai siap hisap. Hisapan pertama mengingatkan saya pada aroma rokok putih. Namun rasa tembakau ini lebih kaya; tanpa dicampur cengkeh ia sudah ringan. Sehabis dihisap, rasa manis muncul di pangkal tenggorokan.

“Enak, ya?” Saya tersenyum pada anak-anak Mataram itu sambil mengacungkan jempol. Mereka hanya menjawab dengan tertawa.

Kejadian itulah yang membuat saya tahu bahwa Pulau Lombok adalah salah satu daerah penghasil tembakau virginia. Pencarian-pencarian tentang tembakau juga memperkenalkan saya dengan tembakau senang—varian virginia yang legendanya hanya bisa dikalahkan oleh srinthil dari Temanggung—walaupun sampai sekarang saya belum pernah mencobanya langsung.

Dua tahun kemudian nasib membawa saya ke salah satu gudang tembakau mililk Djarum di Kopang, Lombok Tengah, di jalan lintas yang menghubungkan Mataram dengan Labuan Lombok, untuk mengenal lebih dalam soal industri tembakau di Tanah Sasak itu.

Rutinitas gudang sedang berjalan sebagaimana biasanya ketika saya bersama kawan-kawan melompat turun dari bis. Juru angkat sedang sibuk memuat paket-paket ukuran raksasa berisi tembakau ke dalam bak truk, orang-orang yang entah sedang mengurus apa duduk menunggu dengan sabar di ruang tunggu kantor. Lewat pintu kecil saya mengkuti kawan-kawan yang terlebih dahulu naik ke lantai dua, ke ruang pertemuan memanjang yang cukup besar untuk menampung sekitar tiga puluh orang.

Seorang pria berkacamata lalu masuk lewat pintu samping. Sambil tersenyum ia menyapa kami dengan ramah. Kretek filter dalam kepitan tangan, ia memperkenalkan diri sebagai Iskandar, manajer senior Purchasing Office Djarum di Lombok yang membawahkan 39 karyawan. Umurnya sudah 60 tahun dan setengahnya ia habiskan dalam industri tembakau. Ia biasa dipanggil Pak Haji oleh para petani, sementara di industri rokok ia dijuluki sebagai profesor tembakau.

“Setiap orang adalah marketer,” ujar Iskandar sebelum memutar video promosi Djarum. Dibuka oleh adegan yang menampilkan foto John F. Kennedy, John Lennon, dan Albert Einstein sedang merokok, video itu menampilkan segala sesuatu tentang Djarum dan industri rokok, dari mulai proses penanaman tembakau, pemrosesan, sampai pelintingan dan distribusi. Lazimnya sebuah video promosi, gambar bergerak itu ditutup dengan mozaik seluruh stakeholder tembakau yang sedang tersenyum.

20151003_115131

20151003_115438

20151003_120656

Disclaimer dari Pak Haji itu—bahwa setiap orang adalah marketer dan karena ia adalah orang maka ia juga adalah marketer—membuat saya meyakinkan diri untuk tidak serta merta percaya pada apa yang disampaikannya selanjutnya, setidaknya di kemudian hari saya mesti melakukan kroscek terhadap segala yang diungkapkannya.

Iskandar berkisah tentang tembakau yang sejak dulu sudah menjadi komoditas penting di Lombok. Semula hanya ada tembakau rakyat (native tobacco) yang dikenal sebagai tembakau ampenan, sebab pada masanya Ampenan adalah kota pelabuhan yang menjadi gerbang laut utama Pulau Lombok, meskipun nyatanya tembakau ampenan adalah gabungan dari berbagai varietas.

Singkat cerita, pada awal abad ke-20 bermunculan perusahaan-perusahaan rokok. Puncaknya adalah sekitar tahun 1969 ketika British American Tobacco (BAT) masuk dan membudidayakan tembakau virginia di Tanah Sasak yang letaknya terpaut ribuan kilometer dari Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat, tempat tembakau virginia pertama ditanam. Usaha BAT kurang berhasil sebab mereka kurang melibatkan petani lokal yang lebih paham soal iklim Lombok.

Belajar dari kegagalan BAT, Djarum, perusahaan lokal yang berbasis di Kudus, Jawa Tengah, masuk. Mereka menggandeng petani dengan sistem kemitraan. Kerjasama dengan petani dilakukan dari mulai pengadaan bibit, penanaman, sampai pemetikan dan perajinan. Dampaknya, tembakau yang masuk pabrik secara tidak langsung sudah tertapis kualitasnya sehingga kemungkinan untuk ditolak menjadi kecil. Petani pun—yang biasanya menjadi bulan-bulanan swasta dan pemerintah—menjadi jauh dari lingkaran setan jerat hutang.

Model yang begitu berbeda dengan—menurut yang disampaikan seorang kawan—yang diterapkan di Temanggung, di mana petani masih berada di bawah kontrol pengijon. Mendengar uraian Iskandar, saya jadi tertarik untuk bertanya tentang apa sesungguhnya yang terjadi di Temanggung, yang konon memiliki kualitas tembakau kelas wahid—yang bahkan berani disejajarkan oleh Iskandar dengan tembakau asal Amerika Serikat.

Permasalahan di Temanggung, jelas Iskandar, adalah perihal kemurnian tembakau. Oleh karena permintaannya cukup besar sementara produktivitas lahan terbatas, Temanggung hanya mampu mencukupi sepertiga dari kebutuhan, sisa dua pertiga diperoleh dengan cara mencampurnya dengan tembakau dari daerah lain, di antaranya Boyolali. Namun yang membuat saya terkejut, tembakau temanggung tidak cuma dicampur dengan tembakau boyolali, juga dengan tembakau-tembakau dari setidaknya enam daerah di Jawa Timur. Tentu kondisi inilah yang membuat posisi tawar petani menjadi rendah.

***

Sesi tanya jawab berakhir. Saya mengikuti kawan-kawan turun ke gudang tembakau yang terletak bersebelahan dengan kantor. Di depan pintu masuk gudang, banyak orang berkumpul. Sebagian di antaranya petani, lainnya para kuli angkut yang memakai rompi merah. Gancu di tangan, mereka adalah pekerja musiman yang sedang sibuk mengangkat paket-paket tembakau ke atas konveyor. Jika saja tembakau punya jantung, pasti ia sedang deg-degan menunggu giliran grading pertama. Selang sebentar, seorang grader dengan sigap membuka selapis tembakau lalu menorehkan sebaris kode yang berisi informasi tentang ‘kelas’ tembakau.

Saya mengikuti tembakau-tembakau itu ke dalam gudang. Bau anyaman bambu menyengat hidung—aroma yang tidak saya antisipasi. Dalam bayangan saya aroma yang mengambang di gudang tembakau semestinya adalah bau tembakau itu sendiri, bukannya bau anyaman bambu.

Tembakau-tembakau yang masuk disortasi, dipisahkan berdasarkan posisi daun serta kriteria-kriteria lain. Daun-daun yang masih utuh dipisahkan dari daun yang sudah tercabik dan wol-wolan (serpihan-serpihan). Pekerja proses klasifikasi tembakau ini adalah kaum perempuan, kaum lelaki kebagian tugas mengangkat atau memindahkan tembakau dari satu ruangan ke ruangan lain.

20151003_120808

20151003_121119

Mereka yang bekerja di gudang ini hanyalah sebagian kecil dari 30,5 juta manusia Indonesia yang menggantungkan hidup pada industri rokok, dari mulai petani, perajin, pemasar, buruh-buruh wanita yang dengan cermat melinting tembakau, sampai pedagang asongan yang menjajakan rokok di pasar malam.

Seusai proses klasifikasi, dilakukan proses klasifikasi ulang atau reklasifikasi agar tembakau yang keluar dari gudang terjamin mutunya. Pak Haji sempat mengajak kami ke belakang untuk melihat oven tembakau buatan Jepang yang sudah berusia 30 tahun, yang menjadi saksi bisu pasang surut industri tembakau di Pulau Lombok.

Tur itu berakhir di sebuah ruangan tempat tembakau-tembakau di-grade lagi, lalu dipak sebelum melakukan perjalanan panjang lintas pulau ke pabrik Djarum di Kudus.

***

Kelapa muda dingin yang dicampur air jeruk nipis menemani kami berkeliling sekitar rumah Syamsul, pria akhir tiga puluhan yang mencari nafkah sebagai petani tembakau. Ia menggunakan kaos-kerah hitam yang di bagian pundaknya bertuliskan laman web Komunitas Kretek.

Kami berkumpul di pojok sebuah bangunan tinggi yang ternyata adalah oven tembakau. Tersusun oleh batu bata, di bagian atasnya berjejer ventilasi bambu. Tadi, ketika pintunya dibuka, panas menguar sebab suhu di dalam diatur 80 derajat celsius. Daun-daun tembakau yang sedang dikeringkan digantung, warnanya kecoklatan. Pak Dawam, kolega Pak Haji di Djarum, bercerita bahwa pengovenan sendiri bisa berlangsung berhari-hari—antara 5-8 hari, tergantung tingkat kelembaban daun—dan perlu perlakuan cermat dalam mengubah suhunya. Salah sedikit, warna alaminya bisa-bisa tidak keluar. Prosesnya mesti dipantau siang-malam secara bergiliran oleh para pekerja.

Bahan bakar oven adalah cangkang sawit yang dikirim langsung dari Kalimantan. Sebelumnya yang digunakan sebagai bahan bakar adalah minyak tanah, batubara, dan kulit kemiri. Lama kelamaan oleh karena berbagai alasan ketiga bahan tersebut menjadi sukar didapat. Seorang petani bernama Lalu Hatman mencoba melakukan pengovenan tembakau dengan cangkang sawit. Berhasil, ia menularkan caranya ke seluruh Lombok.

20151003_130924

20151003_151144

20151003_150420

Kemudian kami dipersilakan menyantap makan siang. Saya makan di berugaq yang terletak di salah satu sisi halaman rumah Syamsul, disaksikan oleh lumbung padi yang sekarang sudah kehilangan fungsi dan berubah menjadi sekadar ornamen. Hidangan tandas, seluruh partisipan Jelajah Negeri Tembakau II berkumpul di dalam rumah untuk beramah-tamah.

Sukirman, 50 tahun, Kepala Dusun Paok Rengge, Wajagesang, Kopang, Lombok Tengah, duduk bersisian dengan Syamsul di dekat pintu samping. Ia adalah salah seorang petani yang sudah mengecap asam garam industri tembakau. Mulai menanam tembakau sekitar tahun 1988, setelah menikah, ia berhasil mengubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Dari lahan tembakau seluas 0,2 ha miliknya, sekali ia sudah naik haji, anak-anaknya pun berhasil dikuliahkan.

Dengan runut Pak Kirman menguraikan tahap-tahap penanaman tembakau dari mulai pembibitan sampai proses pemetikan. Sekitar 120 hari setelah pembibitan, barulah pemetikan pertama dilakukan. Sekali masa tanam, pemetikan bisa dilakukan sebanyak 7-8 kali. Antar musim panen, petani biasa menyelingi dengan menanam padi dan holtikultura.

Pascareformasi, sekitar tahun 2000, hampir semua penduduk Paok Rengge menanam tembakau sebab di luar dugaan harga komoditas ini malah naik sampai mencapai 2,5 juta/kuintal. Namun setelah krisis 2010-2011, hanya 20 persen warga yang tetap bertahan di tembakau. Banyak yang lebih memilih untuk menjadi buruh migran ke luar negeri ketimbang menyerahkan nasib pada harga tembakau yang tidak menentu.

Tantangan bagi para petani, selain curah hujan, adalah fluktuasi harga. Agar masing-masing pihak tidak merasa dirugikan, sebelum panen stakeholder industri tembakau di Lombok—petani, gudang, pemerintah—melakukan rapat penentuan harga. Namun, ungkap Syamsul, perwakilan dinas terkait hanya diam saja ketika rapat harga.

***

Jauh sebelum tembakau diintroduksi, suku Sasak telah menjalankan pola hidup bertani. Bermukim di lingkar Samalas (nama purba Gunung Rinjani), bagi mereka gunung adalah sumber kehidupan. Laut hanyalah sekadar tempat jin buang anak.

Zaman berganti, tembakau masuk dan pelan-pelan mengambil peran strategis dalam perekonomian dan kebudayaan Lombok. Reputasi Pulau Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid pun sebenarnya merupakan imbas dari pertanian tembakau—ketika industri tembakau sedang semarak dan petani mendapat untung besar, mereka lebih senang mendirikan masjid ketimbang menyalurkan uangnya ke hal-hal lain.

“Saya ini sarjana tembakau,” ujar Syamsul, yang berarti bahwa pendidikannya dari mulai dasar hingga menjadi sarjana dibiayai oleh hasil usaha budidaya tembakau. Tembakau di Lombok sama seperti sawit atau karet di Sumatra atau Kalimantan; tak tergantikan. Setidaknya untuk sementara ini. Ia adalah sumber penghidupan, harapan akan kemajuan.

Namun resistensi terhadap tembakau mulai muncul. Gerakan-gerakan anti-tembakau mulai bergerilya di kota-kota dan menyusup via media sosial. Berlindung di balik alasan kesehatan, gerakan itu luput melihat kenyataan bahwa di bawah payung industri tembakau bergantung puluhan juta manusia; bahwa di gudang-gudang tembakau para pekerja tetap dan musiman bekerja mati-matian; bahwa di pabrik rokok ratusan ribu tenaga kerja wanita bergantian memeras keringat melinting kretek; bahwa tembakau dibudidayakan sendiri di Indonesia tanpa perlu diimpor dari luar negeri; bahwa tembakau sudah menjadi bagian dari sejarah bumi dan manusia Indonesia.

Menurut Syamsul, bisa saja petani mengganti komoditas yang ditanam. Namun mesti dicarikan pengganti yang memiliki harga yang sama atau tidak jauh beda dari tembakau.

Bahwa relativisme berlaku di sini, perlu dipahami; baik bagi aktivis anti-rokok belum tentu baik bagi masyarakat tembakau. Begitu pula sebaliknya. Yang perlu dilakukan adalah mencari titik temu antara kedua pihak.

Sebelum kembali ke Mataram, kami mampir dulu di ladang tembakau Syamsul. Daun-daun tembakau lebar berwarna hijau sungguh kontras dengan tanah coklat tempat ia tumbuh. Tiap lembarnya adalah asa di mana petani menggantungkan harapan akan kemajuan. Beberapa minggu lagi mereka siap untuk dipetik.

5 pemikiran pada “Sehari di Negeri Tembakau

  1. belum pernah cobain rokok yang asli dari tembakau asli di linting sendiri, pingiinn..
    gw baru tau loh di lombok ada ladang tembakau juga dan gw baru kali ini liat foto daun tembakau bwahahahahaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s