Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Bis itu berhenti dekat Pos Imigrasi Poipet, Kamboja. Saya masih terkekeh mengingat lelucon si Milad. Si botak berkacamata mirip gitaris System of a Down itu tadi memamerkan paspornya.

“Kadang petugas imigrasi curiga lihat pasporku. Soalnya fotonya beda sama penampilanku sekarang,” ia mengelus-elus kepala plontosnya. Di paspor, ia berambut tapi tak berjanggut. Sekarang berjanggut tapi tak berambut. “Jadi aku balik saja paspornya, terus bilang: ‘Nih saya yang sekarang.’”

perbatasan-kamboja-thailand

Perbatasan Kamboja-Thailand di Poipet-Aranyaprathet

Perjalanan tiga jam lebih tak terasa. Dari Siem Reap sampai Poipet kami tak berhenti tertawa. Bahan obrolan tak ada habisnya—dari Ras Muhammad, kesenjangan sosial di Kamboja, sampai rambu-rambu aneh bin ajaib di “The Killing Field” itu.

Milad orang Jerman keturunan Iran. Ia juga mau ke Thailand. Bedanya, ia membeli tiket terusan ke Bangkok, sementara saya cuma sampai Poipet. Perjalanan ke Bangkok saya teruskan dengan kereta. Dari Swarnabhumi, Milad akan pulang ke Hamburg setelah lama keliling Asia Tenggara. Tapi ia belum dapat tiket pesawat. “Sedapatnya saja, yang penting sampai Eropa dulu,” ujarnya tadi.

stasiun-aranyaprathet

Stasiun Aranyaprathet di ujung timur Thailand

Ternyata bukan cuma saya yang turun di sana. Penumpang-penumpang lain tujuan Bangkok juga turun. Mereka akan ditransfer ke angkutan lain yang sudah menanti di luar Pos Imigrasi Aranyaprathet, Thailand. Karena mesti bergegas melintasi batas agar tak ketinggalan kereta, saya segera ambil tas lalu pamit pada Milad yang sedang sibuk membenarkan letak keffiyeh merahnya. “Kalau ke Jerman, kasih kabar, ya!” katanya.

Stasiun mungil Aranyaprathet

Gagal menemukan bis umum, saya sudah siap-siap untuk jalan kaki ketika sebuah motor bebek menghampiri. “Aran?” Ternyata seorang perempuan yang menawarkan tumpangan. Ia memakai rompi seperti seragam ojek pangkalan di Indonesia. “Forty baht,” ia menawarkan harga terendah.

spanduk-dilarang-merokok-di-aranyaprathet

Spanduk dilarang merokok dan meminum alkohol di kereta dan stasiun

Tanpa pikir panjang, saya naik ke boncengan, kemudian melaju—tanpa helm—di jalanan Aranyaprathet yang mulus. Rambut gondrong saya berkibar-kibar seperti bendera. Pilihan untuk tak nekat jalan kaki dari Pos Lintas Batas ke Stasiun Aranyaprathet ternyata tepat. Jauh juga, sekitar 5-6 kilometer. Jalan kaki mungkin menghabiskan waktu satu jam. Panas pula. Kaki saya yang cuma dibalut sandal jepit hitam Sunswallow pasti akan melepuh dipanggang aspal.

Suasana Thailand berbeda sekali dari Kamboja. Kamboja kusam seperti diselimuti debu. Thailand kelihatan lebih segar—meskipun sama saja panasnya. Entah kenapa, Kamboja seperti gelisah, sementara Thailand jauh lebih sumringah.

tiket-kereta-thailand

Tiket kereta api jarak jauh di Thailand

Saya diturunkan di depan Stasiun Aranyaprathet yang mungil. Sekilas mirip Stasiun Barat di pedalaman Jawa Timur. Tapi bangunannya dari kayu. Kapurnya warna krem.

Sejumlah orang duduk menanti loket dibuka, ada yang tidur pulas di kursi kayu, sisanya mengobrol dalam bahasa Thai atau menyantap bekal nasi bungkus. Tapi tak ada yang merokok. (Ada spanduk besar “dilarang merokok” yang dipajang di dinding luar toilet.) Di rel, kereta usang ungu-putih ber-strip kuning diam tak bergerak.

Melintasi pedesaan Thailand

Tepat jam 12.55 waktu setempat loket kecil itu buka. Orang-orang mengantre dengan tenang. Satu per satu dilayani. Sama seperti di Indonesia, calon penumpang wajib memperlihatkan kartu identitas.

stasiun-aranyaprathet

Beberapa orang penumpang sedang menunggu kereta berangkat

Meskipun jarak yang ditempuh lebih jauh, sekitar 260 kilometer, harga tiket kereta api kelas ordinary dari Aranyaprathet ke Bangkok tak beda jauh dari ongkos ojek, cuma 48 baht. Setelah menerima tiket, barulah saya tahu perjalanan itu akan berlangsung sekitar 6 jam.

Saya pun masuk ke salah satu gerbong kereta 276 itu. Karena tak ada nomor, saya bebas memilih bangku. Interiornya tak jauh beda dari kereta ekonomi Indonesia sebelum PT KAI melakukan reformasi. Bahkan, warna cat bagian dalam gerbong pun sama, abu-abu. Di langit-langit, beberapa kipas angin berputar-putar seperti gangsing terbalik. Kaca jendela dibuka sampai bawah.

kereta-aran-bangkok

Suasana dalam gerbong kereta di Thailand yang tak jauh beda dari Indonesia

Maka, begitu kereta mulai menggelinding sesuai jadwal, angin yang masuk lewat jendela yang terbuka lebar itu memaksa saya untuk mengikat rambut gondrong yang mulai ke mana-mana.

Kontras sekali dengan Kamboja, Thailand lebih rapi dan teratur. Di setiap perlintasan kereta saya melihat jalan raya beraspal mulus dengan marka yang jelas. Lalu lintas lengang. Lahan pertaniannya luas. Sesekali sawah diselingi oleh hutan dan lahan gambut. Pohon lontar bergerombol di sana-sini. Andai saja tidak ada pohon lontar, Jalur kereta ini tak ubahnya seperti jalur dari Yogyakarta ke Banyuwangi.

melintasi-pedesaan-thailand

Melintasi pedesaan Thailand

Sesekali mata saya menangkap kawanan bangau sedang beterbangan di atas sawah. Tak seperti Indonesia yang kabelnya “dikuasai” burung pipit, kabel listrik di pelosok Thailand jadi tempat nongkrong burung-burung yang warnanya lebih semarak. Para birdwatcher pasti senang sekali bertualang di sini.

Berhenti di stasiun “pos kamling”

State Railway of Thailand (SRT) barangkali menyadari kemajuan tidak hanya ditandai oleh semakin bagusnya fisik infrastruktur. Stasiun-stasiun kecil dari kayu dan perhentian-perhentian lebih mungil mirip pos kamling tetap dipertahankan. Stasiun boleh kecil, kereta mesti setia pada jadwal.

kereta-aran-bangkok

Stasiun “pos kamling”

Di sebuah stasiun “pos kamling” dekat Aranyaprathet, sepasang anak muda naik kereta. Mereka duduk di depan saya. Selang sebentar kondektur datang. Tiket diperiksa.

Dandanan kondektur SRT tak jauh beda dari kondektur PT KAI. Selama pemeriksaan mereka juga dikawal polisi khusus kereta api.

Sepasang anak muda itu ternyata tak punya tiket. Kondektur memberi mereka beberapa lembar kertas warna-warni. Karcis sepertinya. Tapi, sang kondektur tak menerima uang dari kedua penumpang. Ingin tahu, saya coba bertanya dalam bahasa Inggris. “Itu apa?” Sayangnya tak seorang pun dari mereka yang menjawab.

kereta-aran-bangkok

Pedangan asongan yang berjualan di gerbong kereta

Saat perut mulai keroncongan, seorang perempuan tua muncul di gerbong sambil menenteng keranjang rotan. Isinya makanan. Saya beli tiga tusuk sate bakso (sepertinya ikan), 30 baht. Tak lama, 12 butir bakso itu mencapai lambung. Bulan puasa. Tapi saya ‘kan musafir.

Jadi gembel internasional

Akhirnya kereta memasuki Bangkok. Langit sudah kelam. Bumi jadi semarak oleh pendar lampu neon. Gedung-gedung pencakar langit berkejaran di jendela. Setelah seminggu lebih melaju di lajur kanan, ada perasaan lega melihat orang-orang kembali berkendara di kiri.

7. Kereta Aran-Bangkok_4

Seorang penumpang sedang melongok dari jendela gerbong kereta

Sekitar pukul delapan kereta tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Turun kereta, saya terpana melihat langit-langit kolosal stasiun terbesar di Thailand itu. Lobi masih dipenuhi calon penumpang, tak sedikit yang menghampar di lantai.

Hua Lamphong sudah terintegrasi dengan MRT. Dengan eskalator, saya turun ke stasiun MRT di bawah tanah. Sukhumvit Road, di mana penginapan yang saya pesan secara online berada, hanya beberapa perhentian dari Lumphini Park. Ongkosnya hanya 28 baht. Alih-alih tiket, saya diberi token hitam yang harus dijaga baik-baik. Sebelum keluar stasiun, token itu mesti dimasukkan ke portal.

stasiun-hua-lamphong

Stasiun Hua Lamphong

Perjalanan saya ke Sukhumvit Road bertepatan dengan jam pulang karyawan. Di gerbong kinclong itu saya yang paling bau. Gembolan saya juga yang paling besar. Semua kecuali saya berpenampilan trendi khas kaum urban—ponsel pintar di tangan, headset di telinga. Metropolitan ternyata di mana-mana sama.

MRT berhenti di Sukhumvit Road 23, sementara penginapan itu di Sukhumvit Road 39. Masih jauh. Dengan sandal jepit dan ransel berat, saya berjalan di kawasan Sukhumvit yang metropolis. Setiba di pertigaan Sukhumvit Road 39, saya memasuki jalan kecil itu dan menelusurinya. Mata saya jelalatan mencari plang penginapan itu. Namun sampai ujung saya tak menemukan apa-apa.

MRT-Bangkok

Stasiun MRT sudah terintegrasi dengan Stasiun Kereta Api Hua Lamphong

Kembali ke Jalan Raya Sukhumvit, saya bertanya pada seorang pedagang di pertigaan. “Benar, ini jalannya,” jelasnya. Sekali lagi saya menelusurinya sampai ujung. Sama: nihil. Enggan kembali ke jalan besar, saya meneruskan perjalanan, terus… terus… sampai saya kehilangan arah.

Sudah malam. Saya perlu istirahat. Di seberang, dekat jalan layang, ada sebuah pos jalan raya. Pos itu kosong. Ketika saya menyeberang, anjing mulai menggonggong di segala penjuru. Setiba di pos itu saya keluarkan sleeping bag lalu tidur ditemani nyamuk sampai jam tiga dini hari. Begitu bangun, saya kembali berjalan menelusuri Bangkok untuk kembali ke Hua Lamphong. Matahari sudah muncul saat saya tiba di Stasiun San Yan. Dari sana, saya naik MRT ke Hua Lamphong.

gembel-internasional

Tempat menginap malam pertama di Bangkok

Setelah menginap semalam di jalanan, dorm busuk di Khao San tempat akhirnya saya menginap selama sisa dua malam di Bangkok terasa seperti istana. Tarifnya cuma 100 baht/malam, satu kamar diisi 10 orang. Kran airnya rusak. Pasutri pemiliknya selalu bertengkar! Cuma saya sendiri orang Asia di sana. Sisanya Eropa, Jerman dan Perancis.

Thailand masih meratapi kematian Raja Bhumibol Adulyadej. Bis-bis gratis lalu-lalang mengantarkan rakyat yang ingin memberi penghormatan terakhir pada sang raja. Tiap sore, setelah lelah berkeliling Bangkok, saya duduk santai di depan pusat penjualan lotre nasional di Ratchadamnoen Klang Avenue. Malamnya saya makan pad thai di Khao San (30 baht).

pad-thai

Pad thai di Khao San Road

Naik “sleeper train” ke Hat Yai

Empat hari tiga malam di Thailand, saya meneruskan perjalanan ke Malaysia. Juga naik kereta api. Saya mau ke Malaka, tapi mesti transit dulu di Kuala Lumpur. Dari Bangkok ke Kuala Lumpur, saya mesti tiga kali naik kereta, yakni Bangkok-Hat Yai, Hat Yai-Padang Besar, Padang Besar-Kuala Lumpur. Kalau ditotal, saya mesti naik kereta lebih dari 24 jam!

Untuk ke Hat Yai, saya naik “2nd class” yang ada fasilitas sleeper berth alias tempat tidur. Kereta nomor 171 itu berangkat pukul 13.00 waktu setempat. Perhentian terakhirnya adalah Sungai Kolok, tiga jam setelah Hat Yai. Sekitar satu jam sebelum keberangkatan saya sudah di Hua Lamphong. Saat kereta berangkat saya sudah duduk santai di gerbong 13, bangku nomor 5.

kerete-bangkok-hatyai

Suasana dalam gerbong “sleeper”

Di gerbong sleeper, bangkunya single semua. Di depan saya duduk seorang laki-laki berusia akhir 50 atau 60 tahun. Ia tidak naik di Hua Lamphong. Dari awal, ia sudah menunjukkan keramahan. Kami bertukar senyum walaupun saya tak tahu apa yang ia ucapkan dan, sebaliknya, ia tak paham apa yang saya katakan.

Setiap kereta berhenti, banyak penumpang yang menjulurkan kepala dari jendela untuk membeli minuman bersoda warna-warni: Fanta, Sprite, dan Coca-Cola. Melihat gelagat saya yang seperti orang kehausan, dan penuh tanda tanya, di satu perhentian ia berinisiatif untuk membeli minuman. Pasti ia sudah memperhitungkan, “Kalau saya beli, dia pasti juga ikutan beli.” Benar, saya juga ikut membeli. Tapi, sebelum saya membayar, sang bapak mengacungkan dua tangan sambil berkata patah-patah, “Twenty… Twenty…” Maksudnya, harganya 20 baht. Sepertinya ia tak rela saya ditipu.

kereta-bangkok-hatyai

Seorang penumpang membeli minuman dari penjual minuman dingin yang mangkal di stasiun

Medan yang dilalui kereta ke perbatasan Thailand-Malaysia itu tak jauh beda dengan yang jalur Aranyaprathet-Bangkok. Hijau, sawah luas, banyak pohon lontar. Sore hari, di cakrawala barat tampak pegunungan memanjang ke arah selatan.

Menjelang senja petugas mulai mempersiapkan tempat tidur penumpang. Dua kursi bawah menjadi lower berth (605 baht) yang jadi favorit sepuh. Plafon atas yang dibuka berubah menjadi upper berth (555 baht). Petugas itu cekatan sekali. Sebentar saja seluruh berth di gerbong itu sudah siap digunakan. Saya memanjat tangga besi untu naik ke sleeping berth.

kereta-bangkok-hatyai

“Upper berth” lebih murah ketimbang “lower berth”

Semula saya khawatir goncangan kereta akan bikin susah tidur. Kenyataannya, segera setelah menutup gorden, saya langsung ketiduran. Meskipun beberapa kali tersentak, tidur malam itu lumayan nyenyak. Setengah jam sebelum kereta berhenti di Hat Yai, saya bangun. Setelah 18 jam meluncur, akhirnya saya turun dari kereta. Saatnya menyeberang ke Malaysia.

Meluncur dengan kereta ETS ke Kuala Lumpur

Dari Hat Yai saya menumpang shuttle train ke Padang Besar. Hanya 55 menit, ongkosnya 70 baht. Rasanya seperti naik Prameks Jogja-Solo, tapi lebih premium. AC-nya dingin dan lajunya kencang. Sepi. Shuttle train Hat Yai-Padang Besar berangkat dua kali sehari PP, pagi dan sore hari. Karena tiba sebelum jadwal keberangkatan pertama, 7.30, saya naik kereta pertama.

hatyai-junction

Hat Yai Junction

Kantuk ternyata masih tersisa. Sesekali mata saya terpejam, tersentak, kemudian terpejam lagi. Mata saya sudah nyalang ketika shuttle itu melintasi Stasiun Padang Besar Thailand. Ada dua Padang Besar, di Thailand dan Malaysia. Tapi pelintas batas dari Hat Yai tak perlu turun di kedua stasiun, sebab pos imigrasi Thailand juga ada di Padang Besar Malaysia. Jadi, Padang Besar Malaysia punya dua pos imigrasi.

Selang sebentar, kereta tiba di Padang Besar Malaysia. Selesai dicap keluar oleh imigrasi Thailand, paspor saya dibubuhi tanda masuk oleh otoritas Malaysia.

padang-besar-malaysia

Kereta ETS yang lebih “kinclong” dan cepat

Dalam perjalanan panjang melintasi beberapa negara, ada satu hal penting yang terkadang luput dari pikiran seseorang: perubahan zona waktu. Gara-gara lupa memikirkan perubahan zona waktu dari Thailand (GMT+7) ke Malaysia (GMT+8), saya ketinggalan ETS (kereta listrik ekspres) pukul 9.13 waktu Malaysia yang ada kelas gold-nya. Dari dua kelas, gold dan premium, yang pertama lebih murah (76 ringgit). Platinum jauh lebih mahal (102 ringgit). Saya mulai mengantre persis ketika ETS (Electric Train Service) Keretapi Tanah Melayu (KTM) jam 9.13 berangkat!

Tak ada lagi tiket kelas gold hari itu. Terpaksa saya membeli tiket platinum yang berangkat pukul 12.55. Saya menunggu jam keberangkatan dengan duduk termenung di bangku stasiun yang lengang itu. Barangkali karena baru sadar bahwa semakin dekat saya ke Malaka, semakin dekat pula saya ke akhir petualangan.

ETS KTM

Interior ETS kelas platinum yang futuristik

Jam 12.55 tepat kereta itu berangkat. Kereta itu adalah yang paling mewah yang pernah saya tumpangi. Desainnya futuristik, lajunya stabil dan kencang—130 km/jam. Perjalanan enam jam tak terasa. Sekitar pukul 18.10 kereta itu tiba di KL Sentral. Dari sana saya naik komuter ke Terminal Bersepadu Selatan untuk mencari bis ke Malaka.

Iklan

2 thoughts on “Naik Kereta dari Thailand ke Malaysia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s