Menyeberang ke Laos

Pos lintas batas tak ubahnya seperti bendungan. Ratusan orang yang mengantre ditapis oleh petugas imigrasi, petugas pintu air, kemudian keluar satu per satu lewat sebuah pintu kecil, mengalir seperti air ke negara lain.

Jam 6 pagi (21/11/18) pagar Pos Imigrasi Nong Khai dibuka. Saya ikut dalam arus pelintas batas yang pagi itu bergegas meninggalkan Thailand untuk menuju Laos. Udara penuh suara koper yang digeret dan obrolan dalam bahasa-bahasa asing dari penjuru dunia. Ada beberapa antrean di bangunan itu, dan semuanya penuh.

“Where is your tag?” Seseorang yang—entah siapa—memeriksa semua paspor dari antrean terdepan bertanya pada saya. “I don’t have it,” saya jawab.

Baru kemudian saya sadar bahwa saya terselip di antara rombongan pejalan berpaspor Filipina yang menyeberang dengan bantuan agen perjalanan. Tadi sewaktu duduk-duduk di depan pagar saya memang melihat banyak pelancong yang menggantungkan kartu semacam itu di lehernya. Mereka turun entah dari bis pariwisata entah dari mobil-mobil besar seperti Toyota HiAce.

Hari mulai terang di Nong Khai

Merasa telah antre dengan benar, saya bergeming, dan mereka tidak mempersoalkan. Perlahan, sangat pelan, saya bergerak ke depan sambil menggendong tas gunung di punggung dan tas kecil di dada. Sekitar satu setengah jam kemudian barulah saya keluar dari bendungan imigrasi Nong Khai dan memasuki zona netral antara Thailand dan Laos.

Sebuah bis berbayar (20 baht) yang sehari-hari mengantarkan para pelintas batas menyeberangi Sungai Mekong, lewat semacam expressway, dari Nong Khai ke Pos Imigrasi Laos di seberang Jembatan Persahabatan (Friendship Bridge) sudah menunggu.

Tapi saya menunda keberangkatan dan mencari pojok untuk merokok. Hari masih pagi. Tak perlu tergesa-gesa—tiada yang hendak saya kejar.

Antara naik bis dan kereta api

Bis butut itu melaju santai di jalanan mulus datar yang kemudian menanjak ketika mengangkangi Sungai Mekong. Mula-mula, pagar Jembatan Persahabatan itu dihiasi bendera Thailand. Namun setiba di tengah, bendera “Triwarna” Thailand digantikan oleh “Purnama di atas Sungai Mekong” milik Laos.

Sungai bersejarah yang menghidupi Indochina itu mengalir cokelat di bawah langit biru cerah. Ini adalah perjumpaan saya yang kesekian dengan Mekong. Tapi, entah kenapa, sungai itu tak pernah berhenti membuat saya bergidik, membayangkan peristiwa-peristiwa apa saja yang pernah terjadi di sana sepanjang sejarah umat manusia.

Perjalanan itu hanya berlangsung sekitar lima menit. Lalu, bersama penumpang-penumpang lain saya turun di Pos Imigrasi Friendship Bridge Laos yang pagi itu masih amat sepi. Dari sini, pusat kota Vientiane masih sekitar 20 kilometer lagi.

“Shuttle bus” dari Nong Khai, Thailand, ke Friendship Bridge, Laos
Interior “shuttle bus” Nong Khai-Friendship Bridge
Bendera Laos berkibar di Friendship Bridge

Sebenarnya ada cara lain untuk masuk Laos dari Nong Khai, yakni dengan menumpang shuttle train yang berangkat dua kali sehari dari Nong Khai ke sebuah stasiun kecil bernama Thanaleng di pinggir Prefektur Vientiane. Ongkosnya pun hampir sama dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk naik bis. Semula saya ingin mencoba cara ini sebab bagi saya perjalanan menumpang kereta dari satu negara ke negara lain punya sensasi tersendiri—seperti yang saya rasakan saat menyeberang dari Thailand ke Malaysia tahun kemarin. Tapi, sayang sekali dari Thanaleng ke Kota Vientiane belum ada kereta penghubung atau bis umum. Jika lewat Thanaleng, saya mesti menyambung naik angkutan yang ongkosnya lumayan.

Memanggul ransel gunung, saya bergerak ke loket pemeriksaan paspor. Untuk masuk Laos, pemegang paspor Indonesia memang tidak perlu membayar visa. Namun pagi itu saya baru tahu bahwa pendatang mesti menebus semacam biaya kedatangan sebelum dicap paspornya. Besarnya tergantung waktu. Sebelum jam delapan pagi 20 baht, setelahnya 5 baht.

Saya intip jam dinding: 7.30. Menunggu setengah jam rasa-rasanya tidak akan terlalu lama.

Rokok dan Rancid

Terlalu naif memang kalau kita percaya begitu saja kisah-kisah orang yang kita temui di perjalanan. Tapi, entah kenapa, saya selalu suka mendengar cerita-cerita dari orang-orang yang saya temui saat melancong. Bukan saya anggap kebenaran, tapi sebagai tinta yang bikin perjalanan saya lebih berwarna.

Pagi itu, saya berjumpa seorang pria paruh baya dari Amerika Serikat yang mengaku sekelas dengan salah seorang personel band Rancid. Potongannya kokoh. Andai saja dia tak berpakaian rapi, saya pasti akan mengira dia anggota geng motor yang bolak-balik seperti setrika melintasi jalanan lurus di tengah wasteland Amerika. Saya pasti akan langsung percaya kalau dia mengaku sebagai temannya Dwayne Johnson atau Vin Diesel.

“Custom Fee Point” Friendship Bridge, Laos

Ia tahu banyak soal musik punk. Dari sekian nama yang ia sebutkan ke saya, termasuk sebuah band tenar dari Malaysia, tak satu pun yang ada dalam direktori kepala saya—kecuali Rancid. Sebagai mantan musisi punk melodik amatir, saya merasa gagal.

Sambil mengobrol, saya menghirup kretek. Aroma wanginya menguar ke mana-mana, beda sekali dari bau asap rokok putih yang cenderung mencekik. Tanpa diduga, aroma kretek saya itu mengundang seorang kawan baru. Ia dari Lautan Pasifik, dari Kaledonia Baru. Untuk ke sini, perbatasan Thailand-Laos, dia sudah melewati perjalanan yang panjangnya minta ampun. Jika ditotal, ia di udara selama sekitar 10 jam, dengan sekali transit di Australia.

“Ini namanya kretek. Rokok Indonesia. Ada campuran cengkeh dalam tembakaunya,” antusias saya bercerita. “Ya. Aku pernah mencobanya,” ujarnya. Saya sodorkan bungkus rokok itu padanya. “Boleh?” ia bertanya. Saya jawab, “Tentu.” Setelah mengambil—kalau tidak salah—sebatang, ia balik menawarkan rokok merk Viber ke saya. Saya ambil sebatang. Setelah saya bakar, rasanya ternyata seperti rokok putih kebanyakan, tapi lebih lembut di tenggorokan.

Menjelang jam delapan, si Amerika dan Kaledonia Baru menyeberang. Karena sudah tak ada lagi teman mengobrol, saya mencari tempat duduk dekat loket pembayaran biaya masuk. Saya duduk di sana, tak sabar menunggu jam delapan tiba.

2 comments

  1. pratanti · September 9

    Setelah bertahun-tahun absen dari membaca blog ini, saya kagum… isinya masih menarik untuk dibaca, masih membangkitkan inspirasi untuk berpetualang, serta satu hal yang bikin saya suka adalah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bisa dibilang tidak ada salah tulis atau salah ejaan yang selalu bikin pusing kepala saat membaca tulisannya para blogger millennial (dan teman-temannya juga 🙂 ) yang mungkin lebih fasih berbahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia, lengkap dengan kaidah-kaidah penulisan yang baik dan benar. Salut (y)

    • morishige · September 17

      Terima kasih sudah mampir dan membaca 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s