Hari-hari di Vientiane

Hostel saya berada di jalan kecil di daerah Pakpasak, dekat sebuah kampus teknik. Kalau dihitung-hitung, jaraknya barangkali takkan lebih dari dua ratus meter dari tepian Sungai Mekong.

Dormitorinya di tingkat tiga. Untuk tiba di kasur empuk, saya mesti meniti tangga kayu dari kafe gaul bergaya industrial di lantai paling bawah. Saat saya tiba, hanya ada satu orang di kamar dorm itu.

“C,” ia memperkenalkan diri. Mukanya mirip orang Indonesia, dandanannya membuat saya mengira ia warga negeri Jiran.

“Kau dari Malaysia?” tanya saya.

“Afrika Selatan.”

Jawabannya tak terduga. Sebelum bertemu dengan C, gambaran saya tentang rupa orang Afrika Selatan begitu berbeda. Saya akan langsung percaya bahwa ia orang Afrika Selatan seandainya C bermuka Kaukasian. Berarti kakek moyangnya adalah “perantau” Eropa yang migrasi di era kolonial.

Pom bensin ML di Pakpasak
vientiane laos
Tuktuk sedang memapas mobil Ford kinclong di Vientiane

Tapi, ya, inilah perjalanan. Segala teori dalam buku teks yang kau pelajari di kursus sekolah kampus bisa saja gugur dihadapkan pada fakta yang kau terima dengan mata kepalamu sendiri dalam perjalanan.

“Aku mau cabut lagi nih ke Thailand,” ujar C. “Udah nggak tahan lagi mau merokok.”

“Wah, kebetulan. Aku punya rokok, nih,” saya tawarkan Dji Sam Soe, rokok kretek kebanggaan Indonesia.

“Bukan itu maksudku,” ia tertawa. Rokoknya pakai tanda kutip, punya alias “Mary Jane.” Nantinya, hampir di setiap kota yang saya lewati sepanjang Laos dan Vietnam, tiada hari yang lewat tanpa saya mendengar nama Mary Jane atau alias-aliasnya yang lain, entah dari pejalan-pejalan yang saya temui atau dari warga lokal yang berusaha mengais rezeki dari remah-remah pariwisata.

“Ada satu orang lagi di sini,” ujar C sambil menunjuk sebuah tempat tidur di pojokan. “Orang India. Sudah tiga bulan di sini.” Tapi ia sedang di luar. Barangkali mengajar. Kata C, orang itu seorang guru. “Guru” dari India. Menarik. Baru keesokan harinya saya bisa ngobrol sebentar dengannya.

Si Afrika Selatan itu lalu menyandang ranselnya. “Oke. Aku cabut dulu,” katanya. Dia hendak kembali ke Thailand, ke toko barang-barang outdoor-nya di Khao San. Kami berjabat tangan. Ia membuka pintu dan berlalu, saya menaruh barang di tempat tidur.

Senja di Patuxay

Sore hari, begitu bangun, badan saya sudah segar kembali. Dari Pakpasak, saya jalan kaki menelusuri Vientiane yang sepi ke arah Istana Presiden. Rupa istana itu seperti rumah-rumah mewah dalam sinetron-sinetron televisi swasta tahun 90-an. Saya takkan kaget mendapati Sophan Sophiaan, Widyawati, atau Meriam Bellina keluar dari pintu depan istana itu.

Dari sana, saya belok kiri ke arah Talat Sao. Dari trotoar lebar, dari balik dahan pohon kamboja, di ujung sana samar-samar saya melihat sebuah bangunan megah: Patuxay.

istana presiden laos
Istana Presiden Laos, Vientiane

Kelihatannya dekat, tapi Patuxay jauh juga ternyata. Setiba di areal Patuxay saya duduk-duduk mengistirahatkan kaki di salah satu bangku beton panjang yang tersebar di sekeliling air mancur.

Ramai. Orang-orang sibuk mengabadikan momen liburan. Para fotografer amatir mengalungi kamera DLSR, sibuk mencari pelanggan. Namun, entah kenapa, tidak bising. Senja sudah tiba dan Patuxay adalah siluet di depan latar jingga. Material bagus untuk kartu pos.

Kretek yang saya hirup ternyata mengundang seseorang. Pria berbaju merah yang dari tadi ngomong-ngomong sendiri itu menghampiri saya lalu membuat gestur meminta rokok. Saya berikan sebatang, saya pinjamkan korek, lalu ia sulut kretek itu. Barangkali itu kontak pertamanya dengan Indonesia.

Matahari terbenam di Patuxay
Penjual bunga di Pha That Luang
Biksu berjubah safron keluar dari Pha That Luang

Saat lampu jalan sudah semakin terang, saya melanjutkan perjalanan ke arah stupa keemasan yang bersinar terang di kejauhan, Pha That Luang. Semakin dekat, suasana semakin ramai. Ternyata sedang ada festival tahunan di candi Buddha yang konon mulai dibangun, sebagai kuil Hindu, abad pertama Masehi itu.

Seperti laron, saya ikut kerumunan menuju pusat keramaian. Sebelum memasuki alun-alun, ransel lipat saya diperiksa oleh salah seorang dari barisan pemuda usia sekolah berpakaian hitam dengan model ala pegawai negeri. Kemudian saya tenggelam dalam lautan manusia. Tiba-tiba saya jadi ingat Sekaten.

Di tepian Sungai Mekong

Hari-hari saya di Vientiane tak jauh-jauh dari Sungai Mekong. Hari pertama, sebelum menemukan tempat menginap, saya sempat duduk membaca peta sekalian melindungi diri dari terik matahari siang di bawah pohon kecil di pinggiran Sungai Mekong.

Hari kedua, saya naik bis nomor 14 ke Buddha Park, sebuah taman indah penuh patung Buddha di pinggiran Sungai Mekong. Di sana, saya lebih lama duduk entah melamunkan apa di pinggiran sungai ketimbang mengelilingi taman indah itu.

Bis kota no. 8 Vientiane
buddha park vientiane
Patung Buddha tidur di Buddha Park
Matahari terbenam di Vientiane

Sorenya, saya duduk-duduk di bantaran Sungai Mekong dengan Beerlao dingin di tangan sambil menikmati matahari terbenam yang bulat sangat. Setelah matahari hilang, saya tetap di sana, menatap kosong ke aliran urat nadi Indochina itu sambil mendengarkan suara musik disko yang mengiringi perempuan-perempuan Laos senam (disaksikan turis-turis berambut pirang). Dari tiang-tiang, melambai-lambai bendera-bendera Laos yang bersandingan dengan panji-panji palu arit.

Saat hari sudah semakin dingin, saya jalan kaki menelusuri jalan aspal di pinggir sungai, lalu berkeliaran di pasar malam yang ramai tapi entah kenapa tidak bising.

Mungkin karena memang tidak terlalu banyak orang? Ah, rasa-rasanya tidak. Pasar malam itu penuh juga. Stan banyak dan pengunjung juga tak kalah banyak. Ada yang jalan santai menelusuri lorong-lorong di antara stan-stan. Ada yang sedang bertransaksi entah menggunakan kip atau baht. Macam-macam. Tapi, lagi, kenapa tak terasa ramai? Barangkali karena saya tidak paham bahasa setempat sehingga tak ada informasi yang bisa saya tangkap dari kumpulan gelombang suara itu? Entahlah.

Omelet, “baguette,” dan hari terakhir di Vientiane

Setelah tiga hari dua malam di hostel nyaman di kawasan Pakpasak itu, saya check-out (24/11/18). Waktunya melanjutkan perjalanan ke utara, ke Luang Prabang. Saya tak sempat pamit dengan guru dari India yang sudah tiga bulan di Laos itu, dia sudah keburu berangkat ke sekolahnya.

Karena belum ada kereta ke Luang Prabang, saya mesti naik bis dari Terminal Bus Utara. Tapi, jadwal check-out terlalu pagi dan masih terlalu dini untuk ke terminal. Jadilah saya berkeliaran di jalanan sekitar Rue Samsenthai, kemudian putar arah ke bantaran Sungai Mekong untuk mencari sarapan. Saya belum sarapan; hostel tak menyediakan sarapan gratis.

Kafe-kafe di Rue Samsenthai

Saya masuk ke kafe kecil yang tampak nyaman. Di sana, saya pesan seporsi omelet. Tak berapa lama, datanglah seporsi omelet yang sama sekali berbeda dari omelet burjo. Ini omelet beneran, dengan telur dadar dan sepotong baguette hangat. Lezat sekali. Segala rasa yang bercampur dalam dadar itu terasa subtil namun menggugah. Tapi yang bikin saya tergila-gila adalah baguette-nya, yang krispi di luar tapi lembut di dalam.

Prancis memang cuma sebentar di Laos, jauh lebih sebentar ketimbang Belanda bercokol di Nusantara, tapi resep baguette itu seolah-olah diperoleh dari sumber pertama.

Saat matahari sudah mulai condong ke barat, saya pergi dari kafe itu lalu berjalan ke arah Talat Sao. Sengaja saya berjalan memutar lewat rute yang kemarin: That Dam, American Center di Rue Bartholonie, lalu belok kiri di Lane Xang Avenue. Di Terminal Bus Pusat Talat Sao, saya melompat ke dalam bis nomor 8 dan bertemu dengan dua orang yang akhirnya menjadi teman saya selama di Luang Prabang.

Iklan

2 comments

  1. Nasirullah Sitam · September 18

    Saya penasaran, apa kesan pertama orang berkaus merah kala menikmati sebatang rokok kretek tersebut?

    • morishige · September 18

      Mungkin dia heran rokok bisa searomatik itu, Mas. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s