Hari-hari di Luang Prabang

“Lucu, ya. Kau biasa makan soto (di negaramu), terus di sini makan omelet baguette. Kami (yang biasa makan omelet baguette) malah makan soto (rice noodle),” ujar T geli saat kami sarapan pertama di Luang Prabang, di sebuah warung selemparan batu dari pusat keramaian.

Memang lucu. Tapi, ya, beginilah manusia. Umumnya, ketika pergi ke tempat-tempat yang jauh dari rumah, orang akan lebih senang merasakan hal-hal yang jarang (atau bahkan mungkin tidak pernah) dijumpai di tempat asalnya.

Mungkin itulah alasannya saya tak berhasrat mampir ke Air Terjun Kuang Si yang hampir selalu muncul dalam cerita-cerita pelancong yang pernah ke Luang Prabang. Buat apa ke sana? Di Indonesia air terjun juga banyak. Dekat tempat tinggal saya di Jogja, ada Blue Lagoon. Agak jauh sedikit, di pinggiran Wonosari ada Air Terjun Sri Gethuk. Mau lebih jauh lagi, di Tawangmangu ada Grojogan Sewu.

Lagipula, Luang Prabang yang sepi dan tenang sepertinya kurang cocok untuk “aksi” atau “stunt.” Ini adalah kota mager, cocok sekali untuk bersantai, untuk relaksasi, untuk mendetoksifikasi diri dari polutan-polutan yang mengerak di peradaban modern. Saya bisa betah duduk lama-lama membaca ulang On the Road-nya Jack Kerouac di meja depan inn tanpa merasa terganggu oleh suara jalanan.

Seorang pesepeda melintasi jalanan Luang Prabang

Maka, hari pertama di Luang Prabang lebih banyak saya habiskan di kamar. Setelah menyicil terjemahan, saya merebahkan badan di kasur empuk, lalu terlelap sampai sore.

Begitu bangun, saya turun ke beranda depan Khammany Inn. Udara bahkan lebih dingin ketimbang tadi pagi. Selang sebentar, T dan B tiba. Mereka baru saja jalan kaki mengitari Luang Prabang. Untuk menghalau dingin, B dan saya jalan ke dekat pusat kota mencari Beerlao.

Saat hari sudah gelap, kami bertiga jalan kaki menelusuri trotoar ke arah Pasar Malam Luang Prabang. Setiap hari menjelang senja sampai sekitar jam 11 malam, jalan utama Luang Prabang jadi kawasan bebas kendaraan dan berubah menjadi pasar malam.

T rapi sekali. Jika saya dan B hanya pakai kaos dan celana pendek, T mengenakan kemeja dan celana panjang. Rencananya, ia akan ke Utopia menemui orang yang ia kenal di dunia maya.

Jejeran pegunungan di sekitar Luang Prabang

Dekat perempatan, kami masuk ke gang kecil yang ramai. Lapak makanan berjejeran di kanan kiri. Macam-macam yang dijual di sana, dari mulai camilan seperti spring roll sampai aneka bebakaran. Kami berhenti di depan sebuah lapak dan memesan makanan. Malam itu saya makan sate ayam, spring roll, dan nasi ketan (sticky rice). Kenyang.

Dari Utopia ke arena boling

Semula, setelah makan saya ingin kembali saja ke Khammany. Tapi, T menyeret saya dan B ikut ke Utopia. Kami sempat singgah di warung untuk membeli bir—bir botol besar kedua saya malam itu. Maka, kami tiba di Utopia dalam keadaan tipsy.

T duluan yang masuk ke Utopia. Saya dan B bertualang sebentar menuruni gang kecil yang berakhir di pematang Sungai Nam Khan. Waktu itu sedang bulan purnama. Cahaya pucat satelit alami bumi memantul di riak sungai yang memagari Luang Prabang itu. Sebentar saja kami di sana. Terlalu gelap, dingin pula.

Karena T tidak muncul-mucul, saya dan B menyusulnya ke dalam. Ternyata kenalan T belum datang. Tapi, sebagai ganti, ia malah dapat tiga orang kenalan baru—G, N, dan A—yang ternyata sekampung dengan T dan B. Jadilah kami bantingan memesan dua tower Beerlao.

G dan N sedang mellow. Ini adalah fase terakhir dari perjalanan mereka keliling dunia. G sudah berkeliaran selama 10 bulan, sementara N melanglang jagat 7 bulan. Setiap kali berbincang dengan orang-orang yang hendak pulang setelah lama bertualang, saya seperti bisa menangkap emosi yang berpusar-pusar di sekitar mereka. Seceria apa pun pembawaan mereka, selalu ada kesedihan yang terpancar; kesedihan menghadapi hari-hari biasa, kesedihan memulai nostalgia.

Suasana sore di Pasar Malam Luang Prabang

Tower kedua kami habis bersamaan dengan tutupnya Utopia. Di Luang Prabang, kafe hanya boleh buka sampai jam 11 malam.

“Terus setelah jam 11 malam ngapain?” saya bertanya ke kawan-kawan baru itu.

We go bowling,” jawab G. Supir-supir tuktuk atau mobil bak terbuka melafalkannya “booling.

Kami pun ikut arus pelancong jalan kaki ke mulut Gang Utopia. Lalu, tanpa pikir panjang, kami naik angkutan (mobil bak yang bagian belakangnya sudah dipasangi plafon dan tempat duduk) dan meluncur ke luar kota Luang Prabang, ke salah satu arena boling.

Tempat itu lumayan ramai. Kami main satu putaran. Capek melempar bola, kami pindah ke arena memanah. Nongkrong, main boling, memanah—hari yang absurd.

Sekitar jam 2 dini hari kami kembali ke Khammany naik mobil bak terbuka serupa saat kami berangkat tadi. Kali ini kami membayar 100.000 kip bertiga. “Dikasih ‘bonus,’” ujar T terkekeh-kekeh. G, N, dan A ikut bersama kami.

Steak House di Luang Prabang

T, B, dan saya turun di depan Khammany. Begitu B menyodorkan uang, sang supir protes. Menurutnya yang diserahkan B adalah pecahan 10.000 kip, sementara B yakin yang ia berikan pecahan 100.000 kip. T bersikeras ini adalah scam. Ia menolak memberi tambahan.

Sang supir akhirnya pergi sambil geleng-geleng kepala. G, N, dan A, dari bangku belakang, menjauh dengan raut muka tak yakin. Dan kami tak pernah bertemu lagi.

Matahari berlian

“Kenapa anda selalu belajar setiap hari?” Pertanyaan itu keluar dari seorang staf Khammany yang setiap hari membuatkan saya sarapan. Sore hari ketiga di Luang Prabang kala itu.

Ia memanggil saya “sir.”

Saya tutup On the Road, lalu saya jawab, “Oh, tidak. Saya tidak belajar. Saya cuma menikmati waktu saja.”

Menyusuri lorong Pasar Malam Luang Prabang

Mendengar itu, ia agak heran, seolah-olah membaca sebagai aktivitas bersenang-senang adalah konsep yang baru baginya. (Tapi, belakangan ia cerita kalau ia menyukai literatur sejarah, terutama tentang Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan perang-perang di Laos. Baginya, perang adalah sejarah yang penting, jauh lebih penting, barangkali, ketimbang cerita Jack Kerouac, Neal Cassady, dan pentolan-pentolan Beat Generation bolak-balik seperti setrika dari ujung barat ke ujung timur Amerika Serikat.)

Tapi, giliran saya yang heran begitu mendengar kalimat berikutnya yang ia ucapkan. “Saya takut untuk mengajak mengobrol (dari kemarin),” ujarnya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. “Saya pikir anda marah pada saya atau bagaimana.”

Setelah saya menanggapi dengan tertawa, barulah ia berani untuk ikut duduk di kursi samping saya. Barangkali tawa memang bahasa universal. Kami pun berkenalan.

Porn,” katanya menyebutkan nama sambil menyodorkan tangan untuk dijabat.

“Porn?” Andai sedang minum sesuatu, saya pasti akan tersedak.

“Phone,” ulangnya. “Chanh Phone.” Ternyata bukan porn.

Nama yang unik. Tapi artinya bukan telepon. Setelah berkutat sebentar dengan Google Translate, Phone mengatakan pada saya arti namanya. “Chanh” adalah matahari dan “Phone” adalah berlian. Chanh Phone adalah matahari berlian.

Penjual suvenir sedang menunggu pembeli

Rupanya ini baru hari keenam Phone bekerja di Khammany. Ia masih muda sekali. Umurnya baru 20 tahun dan baru saja selesai sekolah IT selama setahun di Vientiane.

Phone permisi sebentar untuk mengambil buku catatannya. Katanya, ia hendak mencatat kosakata bahasa Inggris yang didengarnya dari saya. Begitu Phone kembali dan membuka buku catatannya, saya lihat sudah ada beberapa kosa kata baru yang didapatnya hari ini: butter, marmalade, doubt, dan… guest.

Lalu kami mengobrol sampai shift Phone selesai jam 7 malam. Setelah pamit untuk pulang, ia keluarkan sepeda hitamnya dari pojokan kemudian ia kayuh ke arah pusat kota Luang Prabang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s