Pagi Pertama di Sapa

Perjalanan malam itu sebenarnya panjang, tapi terasa singkat; saya terlelap. Yang membuat saya cepat tidur adalah bokeh-bokeh sinar dari luar yang tertapis kaca jendela mobil, yang mengembun, atau diguyur hujan. Entahlah. Kalau ingatan ini tidak salah, saya terbangun ketika bis lewat sebuah monumen berbentuk kereta gantung—cable car menuju puncak Gunung Fansipan.

Saya bersama beberapa orang lain termasuk sepasang kekasih Jerman-Belanda itu diturunkan di depan Pasar Sapa. Jam tiga dini hari. Matahari masih tidur dan dingin menusuk tulang. Sebagai upaya menanti pagi, kami bergegas ke warung tenda di parkiran pasar, melarikan diri dari orang-orang yang menawarkan hotel bertarif di luar jangkauan. Ada tong berapi di sana. Saya pesan secangkir kopi hitam. Kedua kawan baru saya itu hanya meminta air hangat sebab mereka punya kopi sobek.

Rupanya kopi tidak kuasa menghalau dingin menusuk yang entah berapa derajat celsius itu. Terpaksa saya yang tropikal ini menambah satu lapisan penghangat lagi: kain sarung. “Oh, kamu sudah mempersiapkan, rupanya,” M, si Jerman, berkomentar sambil terkekeh.

Saat sedang asyik mengobrol bertukar cerita soal kota asal dan perjalanan masing-masing, seorang perempuan tua sekitar lima puluhan menghampiri. Dandanannya, di mata saya, seperti orang berpakaian adat yang baru pulang karnaval 17 Agustus. Tapi, ini bukan 17 Agustus—dan ini Vietnam!

Ia memperkenalkan diri sebagai Mama Zu. Setelah melihat lebih saksama, saya seperti pernah melihat orang seperti Mama Zu di internet; itu dandanan orang H’mong, salah satu klan orang gunung. Bajunya hitam dengan dekorasi garis-garis warna-warni di bagian tertentu. Kepalanya ditutupi penutup seperti topi cossack versi mini, juga dengan sentuhan garis-garis warna warni di beberapa bagian.

Parkiran Pasar Sapa di siang hari

Benar. Ia ternyata memang orang H’mong dari desa bernama Hao Thao. Dengan senyum tersungging, ia menawari kami menginap di desanya dengan biaya 700,000 dong/orang. Ia sampai memberi dua gelang gratis untuk M dan S, pacarnya. Saya ditawari, tapi saya tolak dengan halus, sebab pasti ada konsekuensinya.

Thank you, Mama Zu. But we want to search (the accommodation) first,” S akhirnya juga bilang tidak.

Tapi tangkapan Mama Zu lain. “Search” ia dengar sebagai “church.” Ia kira S ingin ke gereja dulu sebelum ikut Mama Zu ke Hao Thao, entah di mana pun itu. Kami bertiga hanya bertukar pandang, campuran sungkan dan geli karena misinterpretasi itu.

Mama Zu masih keukeuh. Ia membumbui percakapan dengan saran soal sarapan, tempat untuk bersih-bersih, dan lain-lain. “Nanti jam sebelas lah kita ke desanya Mama Zu, ya?”

Mencari hostel di pagi yang dingin

Dengan berat hati, saat hari mulai terang kami meninggalkan Mama Zu dan harapannya. Kami berjalan bertiga dalam selimut dingin di jalanan aspal kecil Sapa yang masih tidur, sambil berharap ada penjaga hostel atau penginapan murah yang, entah karena alasan apa, kebetulan terbangun dari tidurnya.

Di ujung jalan, M dan S mendapatkan tempat menginap. Kamar privat, bukan dorm. Saya yang mencari dorm terpaksa berpisah dengan mereka. Mereka menanyakan “Are you on Facebook?” dan saya sudah sejak lama tak peduli dengan Facebook. Biarlah semesta yang mempertemukan kami di lain waktu, entah di bagian bumi mana.

Suasana Danau Sapa

Dari penginapan M dan S, saya terus jalan kaki mengikuti perasaan hingga tiba di bangunan ikonik Sapa, Gereja Rosario Suci atau Gereja Batu Sapa (Stone Church of Sapa) yang dibangun orang Prancis di mula abad ke-20. Di depannya, atau di sampingnya—tergantung dari sudut mana engkau melihat—ada sebuah lapangan beton lengkap dengan podium yang juga terbuat dari beton. Sekilas lapangan itu mirip amfiteater. Di depannya lagi, di sisi sana jalan aspal, ada Stasiun Sapa, stasiun semacam shuttle train (yang disebut funicular) untuk ke stasiun kereta gantung menuju pucuk Gunung Fansipan.

Di perempatan Stasiun Sapa, saya belok kiri, ke arah berlawanan. Jalan itu menurun, berdebu, diapit oleh ruko-ruko lumayan tinggi. Biasanya di tempat-tempat seperti ini hostel bakal menyempil.

Dormitori tempat saya menginap di Sapa

Di ujung, dekat tangga terjal menuju entah ke mana—yang belakangan saya sadari ternyata ramai dilewati—nasib membuat saya menemukan Mountain View Hostel—yang pernah saya lihat dalam daftar hostel di internet.

Ternyata lumayan murah. Cuma 125 ribu dong per malam termasuk sarapan. Oleh E, pria 40-an yang pagi itu berjaga, saya dipandu ke sebuah kamar dormitori satu-dua lantai ke bawah. Makin ke bawah hawa makin dingin. Untung tempat tidur di hostel itu dilengkapi selimut ekstra tebal. Dan ada air panas untuk mandi.

Gelang Mama Zu

Selesai bersih-bersih di kamar, saya jalan kaki keliling pusat kota Sapa sambil mencari tempat penukaran uang. Sempat saya mampir ke beberapa bilik penukaran uang, tapi harganya lebih rendah ketimbang penawaran toko emas di Điện Biên Phủ kemarin.

Seorang perempuan hill tribe melintas di jalanan Sapa

Kemudian saya dapat harga bagus di sebuah bank—meskipun harus menunjukkan paspor dan mengisi semacam formulir. Di Vietnam, setiap kali menukarkan uang saya merasa seperti terlahir kembali sebagai jutawan.

Dengan dompet tebal saya kembali melangkah ringan di jalanan Sapa. Jalan itu ternyata membawa saya ke Danau Sapa. Di ujung sana, melatarbelakangi Danau Sapa, adalah pegunungan tinggi yang memanjang seperti naga, yang salah satu puncaknya adalah titik tertinggi di Vietnam: Fansipan. Lalu, ketika pandangan saya kembali ke bawah, ada Mama Zu dalam bingkai. Dari kejauhan di pinggir danau, ia tersenyum ceria sambil melambai-lambai. Saya merasa seperti sedang bertemu teman lama.

“Bagaimana?” katanya sambil tersenyum.

Tak enak rasanya berkata begini: “Saya ingin sekali ke desa Mama Zu. Tapi saya memang tak ada rencana ke sana, sebab perjalanan saya masih jauh; saya mau pergi dari utara ke selatan Vietnam.”

Saya tak punya hati melihat ekspresinya.

“Bagaimana teman-teman kamu yang lagi tidur di hotel?”

“Sebaiknya Mama Zu tanyakan sendiri saja ke mereka.” Apa lagi, coba, yang bisa saya katakan pada wanita H’mong itu?

Akhirnya, saya berusaha menawar kekecewaan Mama Zu dengan membeli tiga utas gelang seharga 40 ribu dong.

Lapar sekali saya pagi itu. Sejak semalam, perut saya memang cuma diisi oleh bánh mì, air putih, dan kopi. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Mama Zu, saya mencari tempat untuk sarapan. Dekat pasar, di sebuah gang tak jauh dari hostel, saya menemukan warung lengang yang menjual phở. Phở bò pagi itu enak sekali.

Chiang Mai, 11 Desember 2019

13 comments

  1. omnduut · Februari 1

    Pernah denger dulu kalau Sapa ini bersalju. Dulu, niatnya mau liat salju pertama di sini hahaha. Eh tahunya lebih dulu ke Kashmir dan jadinya liat salju di sana. Beberapa blogger yang nulis tentang Sapa kebanyakan cerita kalau jalan ke sana pas musim hujan jadi view kelabu. Baru di sini aku liat pemandangan cerah kayak gini. Makin mupeng jelajah Vietnam aaaa

    • morishige · Februari 1

      Menurut cerita warga lokal, sekali-sekali turun di kota pas puncak-puncak musim dingin, Om. Sekitar bulan Januari-Februari katanya. Pas saya ke Sapa, dinginnya lumayan banget sih, tapi nggak ada es atau salju.

      • omnduut · Februari 4

        Tapi jadinya lebih enak eksplornya ya. 🙂

      • morishige · Februari 4

        Iya, Om. Nggak ada es aja dinginnya sudah menusuk. Ditambah es males rasanya ke mana-mana, mending di dalam selimut. Hehehe

  2. Ping-balik: Perjalanan ke Dalat | jejaka petualang
  3. Zam · Februari 23

    apakah mata uang Dong masih separoh nilainya dari Rupiah? 100 ribu dong sekitar 50.000 rupiah?

    • morishige · Februari 23

      Masih sekitar itu, Kang Zam. Tapi di Jogja nggak ada dong. Di Jakarta pun mahal. Kalau ke sana aku bawa dolar biasanya, terus tuker di toko emas, bank, atau kantor pos (kalau di Saigon). Ratenya 1 usd = sekitar 23.000 dong.

      • Zam · Februari 24

        iya, katanya mending sangu Dollar. kalo narik dari ATM rate bagus nggak? dulu belum bisa karena kartu ATM Indonesia duli belum semua bisa dipake buat narik di LN meski dah ada logo visa/mastercard-nya.

      • morishige · Februari 24

        Lumayan, Kang. Kalau nggak salah rate-nya lebih bagus ketimbang money changer. Ada beberapa bank yang potongannya rendah banget. Tahun 2018, mesin ATM buat kartu berchip udah banyak. Karena punyaku kartu pita magnetik, agak bertualang juga nyari mesin atm yang pas. Hahaha..

      • Zam · Februari 24

        denger-denger pake Jenius oke. aku pas pertama move ke Berlin ngambilnya pake Jenius. rate lumayan bagus, cuma kena bea transaksi aja Rp 25.000, jadi sekalian ambil agak banyak. 😆

      • morishige · Februari 25

        Wah, Jenius sudah bisa dipakai di Berlin? Iya, Kang. Dengar-dengar sih potongannya sekitar 25 rb gitu. Jadi tertarik buat pakai. Yang bikin ragu cuma apakah Jenius masih tetap asyik dipake di negara-negara yang infrastruktur teknologinya belum bagus.

  4. ainunisnaeni · Juni 2

    setuju kalo orang indo lagi ke vietnam berasa jutawan hehe
    jauh ya harga yang ditawarkan sama mama zu dengan hostel yang didapat di mountain tadi
    dormnya bersih itu, nyaman juga keliatannya

    • morishige · Juni 4

      Hehehe… Hampir dua kali lipat jadinya tabungan kalau di Vietnam, ya, Mbak Ainun? 😀

      Iya, Mbak. Mama Zu nawarin menginap di rumahnya di desa. Kayak-kayak desa wisata gitu kali ya kalau di Indonesia. Difasilitasi dsb.

      Nyaman banget. Selimutnya tebel dan kamar mandinya ada air panas. 😀

Tinggalkan Balasan ke Zam Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s