Fansipan

Saya tak tahu pasti apakah itu akhir musim gugur atau awal musim dingin, tapi indra saya tahu pasti bahwa Sapa di pergantian November-Desember itu dingin sekali. Siang hari, temperatur berkisar di belasan derajat Celsius, sekitar lima belas. Selepas jam 11 malam, suhu akan turun sampai sembilan derajat Celsius. Badan saya yang tropis perlu usaha ekstra untuk menyesuaikan diri.

Maka di sore hari pertama itu, sebagai usaha untuk beradaptasi, saya jalan-jalan sore menuruni jalan kecil nan licin ke arah lembah. Jalanan itu diapit kios-kios yang menjual peralatan outdoor yang diselingi oleh warung makan dan penginapan.

Di ujung, saya belok kanan mengikuti jalan, melewati sekelompok turis yang sedang berfoto dengan latar belakang pegunungan batu karang yang menopang puncak tertinggi Vietnam, Fansipan. Makin ke ujung, jalanan makin sepi. Jumlah pejalan kaki bisa dihitung dengan jari sebab manusia lebih memilih naik kendaraan, entah sepeda motor atau mobil.

Funicular menuju stasiun kereta gantung

Jalan kecil itu berakhir di sebuah pertigaan. Pemandangan makin terbuka. Pegunungan di depan sana, juga perkampungan, dan di atas sana adalah viaduk ditopang oleh tiang-tiang yang lebih tinggi dari pinang 17 Agustusan.

Itu viaduk apa? Tak mungkin ada monorel ala urban di sini.

Selang sebentar, pertanyaan saya itu terjawab. Mengiringi suara khas kereta api sedang menyusuri viaduk, dari arah kota muncul segerbong kereta lawas yang bentuknya seperti trem kota Wina yang saya lihat di film Before Sunrise. Itulah funicular yang mengantarkan wisatawan dari Stasiun Sapa ke stasiun kereta gantung Fansipan. Saya terpana melihat kereta itu—dan menggigil dihajar angin dingin.

Saya perlu sesuatu untuk menghangatkan badan.

Lampu teplok di Fansipan View Coffee & Terrace

Saya mampir ke sebuah kafe di pinggir tebing. Yang saya pesan tentu saja kopi hitam.

You want ho or I?” sang barista bertanya.

Saya hampir tersedak mendengar bunyi “ho” dan “I” itu. Ho adalah slang untuk “pelacur,” dan I, tentu saja, adalah “saya.” Tapi, mungkin sayalah yang salah dengar. Jadi…

“Sorry?”

“You want ho or I?”

Saya masih belum mengerti, jadi: “Sorry?”

Tampaknya sang barista gemas. Ia mengambil menu lalu berusaha untuk segera membukanya. Tapi, sebelum ia sempat menuntaskan maksudnya, saya tiba-tiba dapat momen aha! dan bisa menangkap maksudnya: “You want (it) hot or iced?”

“Hot,” ujar saya sambil tersenyum geli.

Dari bar, saya bergerak ke luar. Sebenarnya bisa saja saya duduk di dalam ruangan yang hangat dan terang itu. Tapi pemandangan luar terlalu istimewa untuk dilewatkan—meskipun suhu dingin luar biasa. Tampak dari meja-bangku luar ruangan, senja mulai mendekorasi langit dengan nuansa jingga. Pancaran sinar lampu dari kawasan puncak Fansipan tampak seperti kawanan kunang-kunang yang sedang menjura dewa-dewi.

Lampu-lampu di sekitar puncak Fansipan

Kopi itu pun datang dan saya mulai hangat. Minuman asli Abyssinia itu hanyalah salah satu dari banyak alternatif penghangat badan di Sapa, selain perapian, rokok, dan marijuana dan turunannya. Yang saya sebut terakhir—meskipun ilegal—ini ada di mana-mana dan seolah-olah menjadi komoditas pariwisata. Jika di tempat-tempat lain “Mary Jane” hanya ditawarkan oleh supir atau calo, di Sapa komoditas ini juga dijual oleh perempuan-perempuan suku gunung (hilltribe).

Suatu pagi, keesokan harinya kalau tidak salah, ketika sedang duduk menggigil menyeruput kopi di depan hostel, saya dihampiri seorang perempuan H’mong. Ia mencoba menawarkan dagangan pada saya.

“Gelang?” Saya menggeleng. Alat musik dari logam yang dimainkan dengan lidah? Saya menggeleng. Terakhir, dengan lirih ia bersuara: “Hashish?” Saya terperanjat.

Ho black coffee itu saya seruput sambil menari-narikan pulpen di buku catatan. Lelah mencatat, saya lalu membuka novel, lalu membaca satu-dua halaman. Ketika hari makin gelap, seorang pelayan kafe keluar dengan sebuah lampu teplok di tangan; kehangatan tambahan bagi saya.

Mencari Stasiun “Fansipan Cable Car”

Yang membuat orang Prancis tertarik untuk bermukim di Sapa mulai tahun 1909 adalah udaranya yang segar dan bersih. Tapi, yang membuat saya tergoda untuk ke Sapa adalah Fansipan, puncak tertinggi Vietnam yang sebenarnya tak menjulang-menjulang amat, hanya sekitar 3.143 mdpl, lebih tinggi sedikit saja ketimbang Sindoro.

Pojok Sapa yang saya lewati ketika mencari stasiun kereta gantung

Berbeda dari Sindoro, yang mengharuskan pelancong untuk jalan kaki melewati trek tanah sekitar 6-7 jam, Fansipan dapat dicapai dengan kereta gantung (cable car). (Sebenarnya Fansipan bisa didaki. Tapi saya sedang tidak bersemangat untuk trekking, apalagi di pergantian musim gugur dan musim dingin ini. Di hostel ada seorang pejalan yang baru turun dari Fansipan, trekking, dan ia tampak benar-benar kelelahan.)

Stasiun kereta gantungnya agak jauh dari kota. Tapi itu tak jadi masalah, sebab ada funicular dari Stasiun Sapa ke Stasiun Fansipan Cable Car, tentu dengan biaya tambahan. Untuk pergi-pulang, biaya naik kereta gantung kala itu adalah 700.000 dong, sementara ongkos funicular 50.000 dong. Demi berhemat, juga demi petualangan, saya mau mencoba jalan kaki ke Stasiun Fansipan Cable Car.

Masalahnya, modal saya cuma insting. Di hostel, berbekal Wi-Fi gratis, saya memang sudah mencoba mencari jalan lewat aplikasi peta. Tapi itu saja ternyata belum cukup; banyak informasi geografis yang belum terangkum, seperti lembahan atau jalan-jalan kecil yang jarang dilalui orang. Ujung-ujungnya, saya nyasar tiga kali. Saya agak lupa urutannya, tapi saya sempat nyasar ke jalan menuju Desa Cat Cat; sebuah jalan makadam di desa yang sepi; dan sampai ke sebuah jalan buntu di samping hotel yang berakhir di tanah kosong berpagar tembok menjulang.

Stasiun Sapa di Sun Plaza

Saya kembali ke hostel dengan tangan hampa—dan dengan keputusan bulat untuk naik funicular saja ke Stasiun Fansipan Cable Car.

Naik kereta gantung menuju Fansipan

Hari pertama bulan Desember, sekitar jam tiga sore, saya ke Stasiun Sapa kemudian larut dalam atrean pelancong yang hendak naik kereta gantung menuju Fansipan. Lumayan ramai hari itu—maklum, akhir pekan—sampai-sampai saya tidak kebagian tempat duduk di funicular.

Perjalanan itu sebentar saja, tak sampai sepuluh menit, lewat viaduk yang saya lihat kemarin lusa. Dari stasiun funicular, saya melompat ke shuttle car listrik yang sehari-hari membawa penumpang ke stasiun kereta gantung.

Menyambut Natal, kawasan stasiun kereta gantung itu penuh pohon cemara—lengkap dengan kaos kaki rajutan dan bola-bola warna warni—dan salju artifisial. Orang-orang berkostum ala Sinterklas berjoget-joget di panggung, menarik orang-orang untuk berhenti dan memencet tombol rana kamera.

Funicular sebelum berangkat ke stasiun kereta gantung
Suasana peron stasiun kereta gantung
Suasana dalam gerbong kereta gantung

Stasiun kereta gantung itu besar sekali. Mewah, pula. Selain toko suvenir dan stan makanan, stasiun itu punya beberapa restoran. Kalau tidak salah juga ada beberapa toko barang-barang branded. Andai Kapten Kirk di-beam ke sini, ia pasti sedang menyangka sedang berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Untuk sampai ke peron, saya mesti turun beberapa lantai dengan eskalator. Lalu saya ikut antre masuk ke dalam salah satu kereta gantung yang ternyata tak benar-benar berhenti di peron, melainkan hanya melambatkan laju bak kereta barang sedang melewati sebuah stasiun besar.

Saya menumpang kereta gantung nomor 9 bersama sekitar 25 orang lain. Jantung saya berdebar-debar ketika kereta itu mulai melaju; menukik turun sebentar sebelum melaju ke arah Fansipan. Tapi perasaan berdebar-debar itu—bahwa akan terjadi sesuatu—segera hilang begitu saya menyadari bahwa pergerakan kereta gantung itu mulus sekali. Selama lima belas menit perjalanan, saya hanya sibuk menikmati pemandangan.

Tangga menuju puncak Fansipan

Kereta gantung itu ternyata tidak membawa saya langsung ke puncak Fansipan. Dari stasiun yang sama mewahnya dengan stasiun di bawah, ada dua pilihan: naik funicular lagi atau jalan kaki meniti tangga yang jumlahnya sekitar enam ratus. Jelas perlu waktu lebih lama untuk mencapai titik tertinggi Fansipan ketimbang, misalnya, Suroloyo atau Bromo.

Angin kencang, udara dingin, dan kabut tebal menemani perjalanan saya ke puncak. Satu-dua kali saya berhenti di salah satu kursi panjang, tapi tak lama-lama—dingin! Lucunya, meskipun dingin, saya tergoda juga untuk membeli sebotol Fanta rasa jeruk—untuk saya nikmati di puncak—di sebuah kios dekat patung Buddha raksasa. Harganya lumayan, 30.000 dong.

Balok es di puncak Fansipan
Sebuah kuil di dekat Stasiun Fansipan

Perjalanan itu lumayan bikin ngos-ngosan. Sebelum tiba di puncak, saya sempat istirahat sebentar di bawah sebuah kanopi sambil menarik napas dan mengumpulkan tenaga demi fase pamungkas.

Setiba di puncak, saya larut dalam arus ratusan pelancong yang sudah lebih dulu tiba. Sebagian besar dari mereka terkonsentrasi di sekitar potongan es berbentuk piramida seperti prasasti penanda titik tertinggi Fansipan. Setelah menghabiskan sekaleng Fanta rasa jeruk, saya mencari tempat di pojokan dan mengamati sekitar. Kabut masih meraja. Hanya sekali-sekali saja ia membuka disapu angin, menyibak dataran lebih rendah yang entah Vietnam entah Tiongkok.

Saya perlu rokok. Untungnya saya masih punya Thang Long, rokok sejuta umat Vietnam.

Tapi, ternyata susah sekali menyalakan korek di tempat seperti itu—ditambah lagi gas korek milik saya sudah menipis. Berkali-kali dicoba—bahkan dengan metode menyalakan korek gas ala pelaut—mancis itu tetap tak kuasa menyemburkan api.

Saat sedang konsentrasi menyalakan rokok, tiba-tiba ada yang menepuk pundak saya. Ternyata seorang perempuan muda yang juga sedang kesulitan menyalakan rokoknya, yang belakangan—karena ia menghadiahi saya sebatang—saya tahu adalah Captain Black rasa anggur. Untungnya, kandungan gas dalam korek cewek 17 tahun dari Hanoi itu masih banyak, sehingga kami bisa menyalakan rokok masing-masing.

Barangkali sekitar satu jam saya di kawasan puncak Fansipan. Ketika matahari sudah hampir tenggelam, saya melangkah turun meniti tangga. Karena matahari sudah condong dan kabut semakin tebal, pemandangan saat turun jadi lebih dramatis. Yang paling saya ingat: di tangga terakhir sebelum stasiun kereta gantung, saya sempat berhenti lama menunggu seorang biksu memukul lonceng berkali-kali disaksikan matahari yang hendak undur diri.

15 comments

  1. Nasirullah Sitam · Januari 7

    Kereta gantung membuat orang dengan santai bisa sampai puncak hehehehe. Jadi bagi yang cenderung fisknya agak lemah bisa naik kereta gantungnya. Aku malah penasaran raut orang yang menawarkan gelang itu menawarkan barang lainnya? heheheehh

    • morishige · Januari 7

      Benar sekali, Mas. Jadi nggak cuma orang-orang yang terbiasa naik gunung saja yang bisa melihat pemandangan dari atas sana. 🙂

      Ekspresi ibu-ibu itu komik sekali. Setelah menawarkan gelang dan suvenir lain dengan suara lantang, tiba-tiba saja ia berbisik menawarkan marijuana, seperti sedang berbagi rahasia. Saya kaget, tapi juga rasanya ingin ketawa saat itu juga. 🙂

      • Nasirullah Sitam · Januari 11

        Sementara di sini, ketika ada wacana kereta gantung di salah satu gunung, banyak yang kontra dengan berbagai alasan. Padahal kalau dipikir menarik juga bagi mereka yang lansia bisa menikmati keindahan alam.

      • morishige · Januari 11

        Oh, iya. Yang di Jawa Timur itu, bukan? Memang pelik, sih. Di satu sisi, manusia dimudahkan, tapi di sisi lain makhluk hidup lain yang akan dirugikan. Sebenarnya sudah banyak contoh tempat-tempat indah yang terkelola dengan baik sehingga manusia (turis) bisa hidup harmonis dengan alam. Mungkin suatu saat kita di Indonesia bisa menemukan titik temu itu.

  2. Adie Riyanto · Januari 7

    Saya suka dengan narasinya. Bahasanya rapi sekali. Tertib EYD pula meski masih ada beberapa yang bolong. Tapi entah mengapa, tulisan seperti ini kurang disukai oleh kebanyakan milenial saat ini. Mereka lebih suka tampilan foto dengan sedikit narasi atau video.

    Mungkin zaman dan selera pembaca saat ini makin bergeser. Tapi saya tetap yakin bahwa narasi yang baik akan selalu mengantarkan tulisan pada pembacanya. Saya juga kerap tersesat saat berkunjung ke beberapa tempat di Vietnam. Tak tahu saja mungkin. Atau karena lelah. Ke sana ke mari selalu jalan kali atau naik angkutan umum. Ditambah kendala bahasa yang suka menjadi pembatas.

    Terus bercerita ya. Saya akan menantikan cerita selanjutnya 🙂

    • morishige · Januari 7

      Terima kasih sudah berkunjung, Mas. Terima kasih juga atas apresiasinya. 🙂

      Blog ini bagi saya adalah pengingat bahwa di satu waktu saya pernah bertemu orang-orang di tempat yang jauh dari di mana saya tinggal. Sekadar untuk nostalgia yang barangkali akan menyenangkan kalau dibaca satu, dua, atau lima tahun lagi. 🙂

      Waktu sedang nyasar, biasanya saya jadi sedikit jengkel. Capek dan waktu juga terbuang. Tapi ketika itu sudah berlalu, kadang saya juga bersyukur karena cerita perjalanan jadi sedikit lebih berkesan.

  3. andriekristianto · Januari 7

    Dari perjalanan yang panjang akhirnya membuahkan hasil ya kak, gak sia sia deh mulai dari perjalanan yang pergi dan pulang tanpa hasil, lalu mencoba lagi dan akhirnya bisa sampai ditempat tujuan dengan rasa puas hehe

    • morishige · Januari 8

      Iya, Mas. Perjalanan panjang yang membuahkan hasil. Hehehe…

  4. wening · Januari 8

    Aku ngikik di part “you want ho or I?” hahahahaha

    • morishige · Januari 9

      Hehehe.. Itu kejadian memang agak ajaib, Mbak. 😀

  5. Mechta Deera · Januari 12

    Dan saya membayangkan suasana di sana menjelang malam itu.. hmm..dingiin..tapi syahdu mgkn ya? Hehe..

    • morishige · Januari 12

      Iya, Mbak, syahdu. Tapi ya itu tadi: dingin. Hehehe

  6. Bakoy_Official · Januari 24

    Asalmualiqum

  7. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s