Hanoi, Bia Hơi, dan Hồ Tây

Di Hanoi, saya menginap di sebuah hostel tak jauh dari Katedral St. Joseph yang disebut-sebut mirip Cathédrale Notre-Dame de Paris. Kamar dormitori campurnya sangat nyaman. Kamar mandinya bersih, suasananya tenang, dan, yang paling saya sukai, punya balkon mini yang dari sana kita bisa duduk-duduk santai menikmati suasana.

Karena balkon itu kecil dan kapasitas kamar itu sekitar sepuluh orang, persaingan untuk menduduki dua kursi empuk di areal spesial itu lumayan ketat.

Hari pertama keberuntungan belum berpihak pada saya, sebab balkon itu sepanjang waktu dikuasai tiga pejalan Israel yang asyik menghisap “teh”—tak enak rasanya mengganggu “trip” mereka.

Keesokan harinya, mendapati kamar sudah agak sepi, saya berjinjit menuju balkon. Saat hendak membuka salah satu daun pintu lawas itu, dari kaca jendela saya melihat bahwa sudah ada seseorang yang duduk di salah satu kursi. Ia orang berwajah Asia yang saya sapa kemarin ketika baru check-in.

“Do you mind if I smoke here?” saya bertanya kepadanya dari antara daun pintu yang menganga.

“No, no. Please,” jawabnya.

Kami berkenalan. Namanya Y, dari Hiroshima, salah satu daerah di Jepang yang selalu disebut-sebut dalam buku pelajaran Sejarah. Mukanya tampak muda. Makanya saya lumayan kaget begitu ia mengaku bahwa umurnya sudah 48 tahun—dan masih lajang. Ia senang bercerita.

Suasana jalanan kecil di Old Quarter Hanoi

Tanpa diminta, ia mengatakan bahwa ia punya seorang kakak laki-laki empat tahun lebih tua daripadanya.

“Aku rasa dia cemburu padaku, [soalnya] dia lihat aku tiap tahun jalan-jalan jauh dan lama,” ia terkekeh. “Sementara dia di Jepang-Jepang saja, bekerja untuk membiayai kebutuhan keluarganya.”

Ia memulai sesi pelancongan kali ini sekitar empat bulan lalu. Dari Negeri Matahari Terbit ia terbang ke Benua Biru lalu menjelajahi kota-kota yang mahal di Eropa. (Tapi barangkali itu tak terlalu mahal baginya; konon biaya hidup di Jepang saingan dengan living cost di Eropa. Entahlah.) Lama di Barat, ia lalu kembali ke Timur. Ia masih punya beberapa hari di Vietnam. Dua hari lagi, katanya, ia akan ke Ha Long Bay.

Rokok kedua saya belum habis ketika Y pamit untuk jalan sore menyusuri Hanoi. “Nice to meet you,” ujarnya sembari beranjak dari balkon.

Menyeruput “bia hơi” dingin di pinggir rel

Dekat rel, saat sedang berjalan dari Stasiun Hanoi ke mausoleum megah Ho Chi Minh, dari arah belakang saya mendengar seseorang berteriak: “INDONESIA!”

Saya menoleh dan mendapati Y duduk di depan sebuah warung sambil melambai-lambaikan tangan. Saya balik kanan, menghampirinya, lalu ikut duduk di kursi plastik di sampingnya. Ternyata ia sedang menikmati bir legendaris Hanoi, bia hơi. Itu adalah sejenis draft beer yang murahnya minta ampun. Segelas hanya dihargai 10 ribu dong. Semula saya kira minuman itu hanya dijual di malam hari. Ternyata tidak.

Patung Lenin di Jalan Điện Biên Phủ

“Susah sekarang mencari bia hơi,” ujar Y. “Waktu aku pertama kali ke sini dua puluh tahun yang lalu banyak yang jualan bia hơi.”

Saya minta satu gelas bir lokal itu ke sang penjual. Ia ambil sebuah gelas, diungkitnya sebuah tuas di wadah khas draft beer yang mirip tabung gas, lalu meluncurlah bia hơi pesanan saya. Buihnya tampak luar biasa. Bia hơi ternyata tidak pekat-pekat amat. Kandungan alkoholnya barangkali hanya sekitar 3%. Pantaslah murah.

Bir, seperti halnya rokok dan kopi, adalah penyemarak obrolan. Kehangatannya persis seperti api unggun di gunung yang dingin. Y lalu bernostalgia soal perjalanan pertamanya ke Gili Trawangan sekitar akhir dekade 90-an silam, ketika Pulau Pesta di perairan barat Lombok itu masih sepi.

“Apa-apa harganya sepuluh ribu,” katanya. “Makan sepuluh ribu, bir sepuluh ribu….”

Lalu kami mulai mengobrol berganti-ganti topik. Yang paling seru adalah soal bencana alam, sebab beberapa tahun lalu Jepang pernah dilanda gempa dahsyat yang bikin kacau sebuah reaktor nuklir. Y tergelak ketika saya geleng-geleng mengomentari betapa santainya orang Jepang menghadapi bencana; dalam berita tsunami beberapa tahun lalu saya melihat sebuah mobil box melaju santai meskipun tak jauh dari sana lautan sedang bergolak seperti dalam film Ponyo on the Cliff by the Sea.

Menara Bendera Hanoi (Cột cờ Hà Nội)

Dua gelas bia hơi ludes dan hari sudah semakin sore. Karena masih penasaran untuk mengelilingi Hồ Tây (Danau Barat atau West Lake), danau terbesar di Hanoi yang lokasinya tak seberapa jauh dari Mausoleum Ho Chi Minh, saya pun mengucapkan sampai jumpa pada Y.

Keliling Hồ Tây

Saya melanjutkan jalan kaki ke utara, lalu menyerong ke arah barat-laut menyusuri Jalan Điện Biên Phủ, melewati pelataran patung Lenin yang sepi dan kedutaan berbagai negara yang tak kalah sepi, lalu tiba di Alun-alun Ba Đình yang begitu luas dan terawat di mana jenazah Ho Chi Minh berada.

Kemudian saya terus melangkahkan kaki ke utara menyusuri trotoar lebar di depan Istana Kepresidenan Vietnam yang suasananya mengingatkan saya pada Jalan Medan Merdeka Utara.

Alun-alun Ba Đình dan Mausoleum Ho Chi Minh

Sekitar sepuluh menit setelahnya saya sampai di pertigaan. Danau terhampar di depan sana. Saya pilih jalan ke kiri yang akan membawa saya mengitari Hồ Tây searah jarum jam.

Danau ini memang jauh lebih luas ketimbang Hoan Kiem—atau Gili Trawangan. Ujungnya saja hanya lamat-lamat kelihatan. Hanya wisatawan—atau orang kurang kerjaan—yang akan rela meluangkan waktu, komoditas paling berharga di dunia, untuk lari sore mengitari danau itu. Kawasan pinggiran danau itu cocok sekali untuk duduk-duduk santai di sore hari, entah sambil membaca buku di salah satu dari banyak kafe di seberang jalan atau mengadu peruntungan dengan memancing ikan.

Semula saya kira danau itu bisa dikelilingi dalam waktu satu jam. Nyatanya, saya mesti menyisihkan sekitar dua setengah jam untuk menuntaskan satu putaran. (Gili Trawangan saja, sebuah pulau, bisa “rampung” hanya dalam satu jam.) Pegal? Lumayan. Tapi kapan lagi saya bisa jalan kaki lama-lama seperti ini jika tidak ketika sedang bertualang?

Garis langit Danau Barat (Hồ Tây) yang sangat luas

Saya kembali ke Old Quarter lewat jalan yang sama. Langit sudah agak gelap. Istana Kepresidenan Vietnam, Alun-alun Ba Đình dan tempat peristirahatan Ho Chi Minh, Jalan Điện Biên Phủ, dan patung Lenin jadi makin gemilang. Tapi, entah kenapa, berkas-berkas cahaya dari lampu kota atau kendaraan membuat jalanan Hanoi jadi melankolis.

Setiba di Kota Lama, saya tidak langsung kembali ke hostel. Seperti malam sebelumnya, saya duduk-duduk dulu di pekarangan Katedral St. Joseph untuk menikmati suasana. Minuman kaleng di tangan, asap tembakau di paru-paru. Di pojok sana, pohon Natal raksasa tegak menjulang dan tak pernah kekurangan pengagum; pasti ada saja orang yang berfoto di sana.

Saya mesti menghirup suasana ini dalam-dalam, sebab esok siang saya mesti mengucapkan selamat tinggal kepada Hanoi dan melanjutkan perjalanan ke kota bersejarah di tengah-tengah belati Vietnam, Huế.

15 comments

  1. Nasirullah Sitam · Januari 11

    Satu hal yang menyenangkan dalam bepergian adalah kita mendapatkan banyak kenalan. Entah hanya sesaat di sana, atau nantinya bisa bersua di tempat yang lain tanpa sengaja.

    Saya penasaran dengan Danau Barat (Hồ Tây) yang kamu foto, mas. Itu yang melengkung semacam menara tapi berbentuk segitiga (dari jauh) apa ya? Kok unik menjulang tinggi seperti itu. berjejer pula, walau aslinya berjauhan.

    • morishige · Januari 11

      Iya, Mas. Setidaknya kita jadi benar-benar mengerti bahwa bumi tak cuma dihuni oleh komunitas kita.

      Kalau ingatan saya tak salah, itu jembatan, Mas. Menelusuri Vietnam jalur darat, saya lihat mereka memang sedang membangun jalan, jembatan, dan infrastruktur lain yang bakal bikin kota-kota di Vietnam terkoneksi dengan baik. Di Da Nang ada juga jembatan yang seperti itu. Kalau dilihat-lihat, desainnya banyak yang mirip dengan Jembatan Suramadu.

  2. omnduut · Januari 13

    Sama kayak India dan Cina, Vietnam adalah negara yang rasanya pingin aku eksplor dari Selatan sampe Utara (atau sebaliknya). Banyak objek wisata menarik yang bikin mupeng. Aaa semoga kesampaian amin.

    • morishige · Januari 14

      Iya, Mas. Menarik banget itu India dan China. Semoga kesampaian menjelajahi Vietnam. Selalu ditunggu ceritanya. 😀

  3. warm · Januari 13

    Saya takjub, baru ngeh kalau blog ini abadi, lama rasanya tak berkunjung ke sini, setelah entah kapan terakhir mampir. masukkan feedly lagi kalo gitu, suwun

    • morishige · Januari 14

      Sudah berdebu dan bersarang laba-laba juga ini blog sebenarnya, Masbro. Tapi ternyata memang blog paling nampol buat merawat kenangan. Hehehehe.. Saya terharu masih ada kawan-kawan lama yang tetap merawat blognya seperti dirimu. Dan saya sepertinya mesti mengobrak-abrik dan memperbarui blogroll lagi. Matur suwun sudah mampir… Mari ramaikan lagi. Hahahaha

      • warm · Januari 15

        siyap, saya sih menulis semaunya dan sesempatnya aja. itu jg masih aja seperti dulu, kebiasaan buruk nulis ga pake konsep, ambyar mulu endingnya haha

    • morishige · Januari 15

      Sama, sih. Saya juga sesempatnya aja. Tapi mudah-mudah bisa rutin menyempat-nyempatkan mengisi blog. 😀 Beneran ini aku seneng banget jumpa lagi sama penghuni-penghuni lama blogosphere. 😀

  4. Alid Abdul · Januari 15

    Saya ingat sekali tiba di Hanoi pukul 1 dini hari gara-gara pesawat delay. Sampai hostel di Old Quarter eh tutup wkwkwk. Akhirnya nyari hostel go show. Dan memang pemandangan aneh melihat orang minum bir pagi hari bagi saya yang hidup di Jombang haha. Eh nyobain kopi telur yang legendaris nggak mas di Hanoi?

    • morishige · Januari 15

      Pasti ngeselin sekali itu tiba jam 1 dini hari, apalagi kalau bandaranya jauh dari kota. Hahaha. Sudah sepi, angkutan tinggal yang sewaan doang. Mending nunggu pagi aja kali ya di bandara?

      Minum bir udah kayak air mineral keknya buat mereka. Ekonomis juga sih soalnya lebih murah juga. Tapi nggak pada rese ‘kan Mas?

      Itulah salah satu penyesalan saya–atau mungkin alasan untuk kembali ke Hanoi. Saya belum cobain itu kopi telur meskipun tersedia di mana-mana. Soal makanan dan minuman saya simpel banget soalnya. Tiap hari ya makan pho atau com ga roti atau banh mi. Minum ya yang gratisan aja di warung, teh tawar encer itu. Dirimu sempat nyobain kah? Bagaimana rasanya, Mas?

  5. travelingpersecond · Februari 18

    Sepasang kursi…..bak kursi raja dan permaisuri. Semua pasti ingin duduk seperti raja dan permaisuri.
    Hahaha

    • morishige · Februari 19

      Selalu jadi incaran, Mas. Berhasil duduk di kursi itu rasanya kayak pencapaian betul. Serunya, tempat-tempat kayak gini juga bisa ngelatih skill sosial kita, ya? Berani atau enggak nimbrung sama orang yang lagi nongkrong sendirian di sana. 😀

  6. Ping-balik: Semalam di Dalat | jejaka petualang
  7. ainunisnaeni · 1 Day Ago

    dua setengah jam mayan juga ya jauhnya
    bener sih kalo ngitari trawangan aja sejam cukup
    pengalaman Y udah banyak juga, udah ke trawangan taun taun 90an, jelas masih sepi lombok di taun segitu, sekarang udah banyak bangunan dimana mana

    • morishige · 1 Hour Ago

      Semula saya kira Ho Tay cuma seluas Hoan Kiem. Eh, ternyata beberapa kali lebih luas. Tau gitu mending nongkrong aja lama-lama sama Y. 😀

      Iya, Mbak. Y pejalan senior. Banyak banget pasti pengalamannya. Tahun 90-an buat saya kota sebelah aja udah jauh banget, dia udah ke Trawangan, dari Jepang. 😀

Tinggalkan Balasan ke warm Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s