Naik Kereta dari Hanoi ke Hue

Jam 11 siang saya mengucapkan selamat tinggal pada duo pemilik hostel yang ramah, juga kepada R dan F yang sedang asyik adu strategi di papan catur. Y tak tampak batang hidungnya di kamar maupun di ruang-bersama. Mungkin sedang menikmati hari terakhirnya di Hanoi. Menyeruput bia hơi barangkali.

Saya mampir sebentar ke pekarangan Katedral St. Joseph, lalu melangkah santai ke arah sebuah kios yang menjual kartu pos di pinggir keramaian Danau Hoan Kiem. Di sana, saya pilih dua kartu pos dengan gambar paling sederhana, saya tulis sepatah-dua patah kata kepada Nyonya dan seorang kawan baik di seberang lautan sana, saya tempelkan prangko, lalu saya masukkan kepingan-kepingan kenangan itu ke dalam kotak pos merah yang berdiri kokoh di depan.

Dari danau, saya turun ke selatan lewat jalan yang sama dengan yang saya susuri ketika tiba beberapa hari lalu, melewati Circle K tempat saya dan S dapat sambungan internet gratis di pagi pertama di Hanoi, melangkah di bahu jalan depan kedai kopi di pojokan, lalu belok kiri ke arah Ga Ha Noi.

Seperti biasa, perjalanan “kembali” selalu terasa lebih cepat.

Jadwal keberangkatan masih lama: 14.30. Sekarang masih sekitar jam 1 siang. Tapi tak mengapa; lebih baik tiba terlalu cepat daripada sedikit telat.

Parkiran Stasiun Hanoi

Saya jatuhkan ransel hijau stabilo itu ke lantai lalu saya rogoh bagian kepalanya demi mengeluarkan sejilid On the Road buluk untuk dibaca. Tapi, susah rasanya masuk ke dalam dunia Sal Paradise dan Dean Moriarty dan Marylou; parkiran Stasiun Hanoi yang biasa-biasa saja itu terasa lebih syahdu ketimbang buku Jack Kerouac paling legendaris itu.

Akhirnya saya hanya duduk melamun sambil merokok di teras stasiun, sambil mengamati orang-orang yang datang dan pergi, deretan mobil-mobil mengilap di parkiran, jejeran tiang listrik yang keruwetan kabelnya hanya bisa diurai oleh pemenang kompetisi rubiks, jalanan Hanoi yang tak terlalu ramai namun juga tak bisa dikatakan terlalu sepi itu….

Sebelum kereta mulai meluncur

Meski sadar sepenuhnya bahwa yang saya beli adalah tiket hard seat, saya tak menyangka bahwa bangku kereta ekonomi ke Hue akan benar-benar sekeras itu. Bahannya bukan dari serat seperti kursi Prameks atau kereta diesel dari Bangkok ke Nong Khai, tapi dari kayu. Di bangku kayu itulah saya akan duduk semalaman suntuk.

Sebelum pukul 14.30, saya sudah di gerbong. Saya agak kesulitan mencari posisi enak, sebab ruang di dekat dinding gerbong yang seharusnya untuk kaki jadi lokasi parkir sekotak Styrofoam besar warna putih yang menguarkan bau laut—bau ikan. Pemiliknya adalah seorang pria tua berusia sekira 50-an yang selalu tersenyum.

Sell… sell…,” katanya menjelaskan bahwa kotak itu berisi sesuatu untuk dijual.

Selain bapak itu, di sekitar saya ada seorang remaja perempuan yang sedang asyik membaca buku dan seorang perempuan muda yang tampak begitu antusias mengetahui bahwa saya bukan orang Vietnam. Belum sampai lima menit saya di sana, kami sudah saling menebak soal usia.

“Nah, menurutmu usiaku berapa?” ia bertanya dengan bahasa Inggris patah-patah setelah berhasil mengorek informasi soal umur saya.

Saya tebak usianya tak lebih dari 30 tahun dan ia tertawa mendengar jawaban saya.

“Aku 46 tahun,” jawabnya dengan senyum tersungging.

Suasana peron Stasiun Hanoi

Ah, ia pasti bercanda. Bukan hendak berbasa-basi, mukanya memang tampak tak lebih dari 30 tahun. Perawakannya juga tampak muda, kecil-langsing seperti kebanyakan anak muda Vietnam yang saya papas sepanjang perjalanan.

“Beneran,” ujarnya. Kalau tak percaya, katanya, ia bakal tunjukkan kartu identitasnya.

Kemudian saya berpikir: barangkali ia memang tak bohong. Orang Vietnam seperti tergila-gila dengan olahraga, yang difasilitasi pemerintah dengan menyediakan taman-taman luas lengkap dengan peralatan fitness sederhana yang dari jauh tampak seperti wahana permainan di pekarangan TK. Selain itu, makanan Vietnam juga penuh sayur dan dedaunan segar. Tengok saja banh mi yang penuh daun ketumbar dkk., atau pho yang biasa dimakan dengan daun mint.

Sesaat sebelum kereta berangkat, seorang Kaukasian masuk ke gerbong. Barangnya dibawakan oleh seorang Vietnam yang kemudian menaruhnya di kompartemen seberang tempat duduk saya. Adegan pamungkasnya adalah orang Vietnam itu meminta uang kepada si falang.

“What for?” ia tanya orang Vietnam itu. Pertanyaan bahasa Inggris itu dijawab dengan bahasa Vietnam. Tentu komunikasi jadi tidak lancar.

“Kurasa dia minta tip,” saya urun ide.

“Ya, tapi buat apa?” ia bertanya balik pada saya. Baginya tak masuk akal memberikan tip pada orang yang hanya membawakannya ransel kecil yang bahkan bisa ditenteng sendiri sebelah tangan. Namun, tak mau memperpanjang masalah, ia akhirnya menyerah dan menyerahkan 20 ribu dong pada orang itu.

Tiba-tiba

Saat ia sudah duduk dan kereta api itu telah meluncur, ia, yang ternyata dari Australia, berkisah pada saya. “Dia tiba-tiba saja datang terus mengantarkanku ke gerbong,” ujarnya dengan ekspresi “terus aku harus bagaimana, dong?”

Saya tergelak mendengar itu. Jelas, karena tinggal di negara yang lebih sepi dengan ekonomi yang lebih bagus, ia kurang terbiasa berhadapan dengan modus-modus orang-orang yang cari duit di tempat-tempat transit seperti bandara, stasiun kereta api, dan terminal. Saya sebenarnya mau bilang: “Kalau kau tak mau berurusan sama mereka, tepis duluan di depan.” Tapi saya urungkan; biarlah ia belajar dari pengalaman.

“Pernah juga betisku digenggam tiba-tiba sama orang saat sedang jalan kaki,” ujarnya. “Ternyata dia menawarkan [jasa] semir sepatu.”

Gerbong kereta kelas ekonomi

Saya terkekeh. Penyemir sepatu di Vietnam memang lumayan bersemangat. Dengan kotak kecil penuh perlengkapan di tangan, mereka menawarkan jasa semir sepatu ke semua orang, meskipun orang yang ditawarkan itu memakai sepatu yang tak lazim untuk disemir—atau sandal jepit. Sekali waktu di Saigon, bulan puasa kala itu, seorang penyemir sepatu sempat tertarik untuk membersihkan sepatu kanvas saya. Jelas saya menggeleng.

Obrolan kami terpotong oleh kedatangan seseorang. Ia tinggi kurus dan, dengan hem dan celana jeans hitam, penampilannya tampak tak jauh beda dari mahasiswa tingkat akhir fakultas MIPA di kampus-kampus di Jogja. Bicara dengan logat Australia kental, ia menyapa si Australia “Harry.” Si “Harry” memasang ekspresi “What the hell?!” ketika dipanggil “Harry.”

You know him?” tanya saya pada “Harry.”

“Aku baru kenal dia pas di stasiun tadi,” jawab “Harry” atau entah siapa pun namanya. “Tiba-tiba saja dia datang terus bicara bahasa Inggris logat Australia.”

Si “Harry” sepertinya punya hubungan spesial dengan “ketiba-tibaan.”

“Terus, namamu benar-benar Harry?”

Ia menggeleng. “Tiba-tiba saja dia memanggilku Harry.”

Gerimis di Hue

Orang berlogat Australia itu mengaku bernama Troy. Ketika tahu saya dari Indonesia, ia lalu mengaku sebagai orang Indonesia. “Aku juga dari Indonesia,” katanya sambil memamerkan sebuah grup chat di Line yang berisi percakapan berbahasa Indonesia. “Tinggal di Bali.”

Saya jelas tak percaya. Ia pasti cuma bercanda. Pertama, ia bilang “Aku juga dari Indonesia” dalam bahasa Inggris. Kalau benar orang Indonesia, pasti ia langsung ganti saluran ke bahasa Indonesia. Kedua, ia tak tahu cara bilang “terima kasih” dalam bahasa Bali.

Ternyata ia memang bercanda. Ia orang Vietnam.

Bersemangat sekali ia bercerita bahwa ia punya kanal YouTube. Isinya, katanya, sebagian besar video prank. Tapi saya tak sempat—dan tak punya sinyal internet—untuk menonton video-video di kanalnya.

Malam hari di gerbong kereta ekonomi

“Terus kok bisa kau bicara bahasa Inggris logat Australia begitu?”

“Waktu kecil aku diadopsi orang Australia,” katanya. Lama di Australia, ia baru pulang ke Vietnam sekitar tahun 2009. Ia mengaku paspornya masih Australia, dan ini adalah perjalanannya untuk visa running.

Setelah mendengar cerita bahwa ia punya kanal prank di YouTube, susah bagi saya untuk membedakan mana ucapannya yang “kenyataan” mana yang “imajinasi.” Jangan-jangan saya sedang di-prank. Ia bisa saja seorang mahasiswa sastra Inggris yang sedang pulang kampung, atau guru les, atau apa pun. Tapi saya nikmati saja obrolan itu. Toh cerita-ceritanya seru dan bisa jadi pengganti On the Road yang terhimpit pasrah dalam tas kecil saya.

“Harry” turun di Ninh Binh, kota kecil sekitar tiga jam perjalanan dari Hanoi. Sepeninggal “Harry,” Troy tak henti berbicara, sampai tengah malam, sampai ia capek sendiri dan mencari posisi enak di kursi kosong di sisi lain gerbong.

Sekitar jam empat pagi, kereta berhenti di Stasiun Huế. Saya melambaikan selamat tinggal pada Troy yang masih harus melanjutkan perjalanan sampai ke Da Nang. Dan tak ada yang menyambut kedatangan saya di Stasiun Hue selain rintik-rintik kecil air hujan.

17 comments

  1. CREAMENO · Januari 17

    Seru ya naik kereta, dan jenis keretanya masih yang lama desainnya. Penasaran juga bagaimana rasanya kalau mengalami langsung di sana 😀

    By the way, kalau bicara soal tukang semir sepatu, jadi ingat Indonesia tempo dulu, mungkin 20 tahun yang lalu. Sekarang sudah nggak pernah lihat lagi. Dan waktu ke Vietnam pun saya juga pernah 1x lihat bapak-bapak semir sepatu dipinggir toko. Jadi seperti flashback ke masa lampau :>

    Nggak sabar baca cerita perjalanan ke Hue, karena saya belum pernah ke Hue. Waktu saya trip ke Vietnam, Hue belum masuk ke dalam list yang ingin saya lihat. So, ditunggu cerita perjalanan berikutnya mas 😀

    • morishige · Januari 17

      Asyik banget, Mbak, naik kereta di Vietnam. Kereta ekonominya sih sebenarnya nggak jauh beda sama kereta di Indonesia zaman dulu. Pendingin masih kipas dan jendelanya bisa dibuka. Di atas kelas ordinary atau ekonomi, juga ada semacam kelas bisnis dan kelas yang lebih mewah, gerbong sleeper. Suatu saat kayaknya saya pengen coba naik Reunification Express dari utara ke selatan tanpa turun di kota-kota antara HCMC sampai Hanoi.

      Dulu waktu saya kecil juga masih banyak penyemir sepatu di pasar-pasar. Biasanya sih anak kecil yang mau cari tambahan jajan. Sampai sekarang masih kebayang aroma Kiwi hitam, coklat, dan putih yang biasanya jadi andalan para penyemir sepatu itu.

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Mbak. Cerita tentang Hue-nya menyusul, ya. :D:D

      • CREAMENO · Januari 17

        Sejadul-jadulnya kereta ekonomi jaman dulu yang pernah saya gunakan di Indonesia tuh kursinya masih ada busanya, tapi yang di Vietnam ini kursi kayu. Penasaran banget rasanya, pegel nggak? Hehehehehe 😀

        Saya sempat mau coba kereta sebenarnya di Vietnam, waktu dari Hanoi mau ke Sa Pa, tapi setelah dipikir-pikir enak naik bus, jadi gugur sudah rencana berkereta di Vietnam. So, saya cukup baca cerita perjalanan mas saja, sudah seperti ikutan naik rasanya 😛

        Bicara soal semir sepatu dan Kiwi, jadi ingat dulu waktu sekolah kadang ikut semir sepatu pakai Kiwi juga tapi bukan yang disikat, melainkan yang dipoles haha. Ya ampun really old memories, entah sekarang Kiwi masih ada apa nggak 😀

      • morishige · Januari 18

        Lumayan pegel sih, Mbak. Punggung berasa jadi penggaris karena sandarannya hampir vertikal. Hahaha.

        Orang-orang Hanoi yang ketemu sama saya di jalan bilang mereka lebih suka pakai bus sih memang. Lebih nyaman dan lebih cepat meskipun harganya masih di atas gerbong soft seat. Lagian kalau naik kereta mesti transit dulu di Lao Cai terus nyambung naik bis kecil ke Sapa.

        Hahaha. Iya tuh. Teknologi canggih banget itu waktu Kiwi poles baru muncul. Udah nggak perlu lagi ngotor-ngotorin tangan pakai sikat yang gagangnya dari kayu itu. 😀

  2. Daeng Ipul · Januari 17

    Menarik sekali ceritanya, bikin saya makin penasaran sama Vietnam
    Rasanya negara ini sangat pantas untuk dikunjungi. Minimal sekali dalam hidup.
    Jelas, sudah akan saya masukkan dalam list
    hahaha

    • morishige · Januari 17

      Terima kasih sudah mampir, Daeng. Vietnam memang menarik, apalagi sekarang kota-kota sudah sangat terhubung sekali, entah dengan kereta, bis, minibis. Aksesibilitasnya sudah bagus sekali. Jalan raya besar dan tol antarkota di sini sebagian besar sudah bagus.

      Semoga segera dibawa semesta ke Vietnam. Ditunggu cerita-cerita serunya dari Vietnam.

  3. Titik Asa · Januari 21

    Melihat interior keretanya dengan bangku kayu begitu, jadi teringat ke tahun 80-an saat kereta api demikian bagian dalamnya, dengan banyak penumpang berdiri dan sepanjan perjalanan banyak pedagang asongan yang hilir mudik.
    Sekarang kereta sudah ber-AC, penumpang hanya duduk saja, memang jauh lebih teratur.
    Tapi, ada juga rasa kangen ke kereta tahun 80-an itu…

    Salam dari saya di Sukabumi,

    • morishige · Januari 21

      Wah, menarik sekali, Pak Titik Asa. Saya baru tahu kalau kereta di Indonesia pernah seperti itu bangkunya. Soal kecepatan, apakah lebih pelan juga ketimbang yang sekarang?

      Terima kasih sudah mampir 😀

  4. Nasirullah Sitam · Januari 21

    “Halo Harry” hahhahahah
    Eh di Indonesia ada nggak sih kereta yang kursinya masih kayu? Sekilas mirip kayu jati yang sudah diplitur. Sepertinya setiap orang yang baca tulisan ini bakal gagal fokus dengan kursi kayunya hahahahahha

    • morishige · Januari 21

      Hehehe.

      Saya belum pernah sih Mas naik kereta di Indonesia yang tempat duduknya dari kayu. Mungkin kereta wisata di Ambarawa masih punya gerbong yang seperti itu?

  5. RIFAN JUSUF · Januari 23

    emang bener ya,, traveling bisa bikin seseorang jadi storyteller,, dan saya menikmati tulisan ini.,, siapapun orang yang kita temui di jalan, bisa jadi pengalaman dan pembelajaran,, seru kisah “Harry” dan Troy nya.

    Kapan2 kalau ke Vietnam pengen juga kayak mas morish,, naik kereta malamnya, saya lebih suka model spt itu, bergaul dg warga lokalnya,, travel like a local,,

    • morishige · Januari 24

      Saya senang sekali Mas Rifan bisa menikmati tulisan ini. 😀

      Untungnya, kalau traveling di Asia Tenggara kita bisa “menyamar” jadi warga lokal. Karena ke mana-mana pakaian saya bersahaja, pas beli makan atau pas ke warung atau mini market pasti saya disangka orang sana. 😀

  6. Agus warteg · Januari 24

    Jadi ingat blognya creameno kalo bahas tempat wisata di Vietnam. Sayangnya saya belum pernah kesana, padahal pengin juga sih, tapi duit ngga ada buat ke luar negeri.😃

    • morishige · Januari 24

      Iya, Mas Agus. Kayaknya lagi banyak narablog yang ceritain soal perjalanan ke Vietnam. 😀
      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 😀

  7. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  8. ainunisnaeni · Mei 1

    kalo aku sendiri dan ketemu harry yang halu kayak gini, mungkin aku agak takut, lahh jangan jangan dia mau ngegendam. apa ya ya bahasa indonya gendam hehe
    kalo lagi jalan gini kudu extra waspada.
    keretanya kayak kereta di indo waktu masih aku kecil, tapi tempat duduknya nggak dari kayu gini juga sepertinya. lumayan juga ya kalo perjalanan jauh

    • morishige · Mei 1

      Hehehe… Sama, Mbak. Saya juga pasti akan defensif dulu. Minimal ambil ancang-ancang, siap-siap kalau ada terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Tapi saya kayaknya bisa baca ekspresi mikro, deh. Kalau sudah ngobrol pasti bakal kelihatan niat orang, entah tulus atau cuma mau manfaatin kita. 😀

      Wah, pasti berkesan banget itu pengalaman naik kereta di Indonesia zaman dulu. Saya nggak ngalamin lagi yang seperti itu, Mbak, soalnya mulai naik kereta di Pulau Jawa baru tahun 2006 😀

Tinggalkan Balasan ke Titik Asa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s