Timnas Vietnam Menang, Saya Hampir “Standing” dan Terbang

Saat hari mulai terang, saya beranjak dari Stasiun Hue dan jalan kaki menelusuri trotoar yang sepi. Belum banyak kendaraan yang lalu-lalang di Le Loi. Hari masih pagi dan langit masih kelabu.

Selang sebentar, Sungai Parfum dan jembatan-jembatan panjang yang membelahnya mulai kelihatan. Sampan dan kapal sesekali melintas. Rasanya seperti di Palembang—oh, saya rindu martabak HAR. Tapi panorama itu tak lama. Bantaran sungai besar itu kembali disembunyikan bangunan. Dermaga perahu wisata, kafe, toserba, kantor pos kecil, hotel, kafe….

Di pertigaan Pham Ngu Lao, saya belok kanan mengikuti insting. Kafe, bar, dan restoran berjejeran di sana. Seperti Pham Ngu Lao di Saigon tapi lebih kalem. Di tempat-tempat begini biasanya hostel-hostel kecil menyempil.

Tak sampai lima puluh meter dari simpang tiga itu, mata saya menangkap tulisan “hostel.” Namanya menggoda: DMZ. Demilitarized Zone. Apa yang lebih autentik ketimbang menginap di hostel bernama DMZ di Hue? Mendapati ada kehidupan di sana, saya melangkahkan kaki masuk lalu menghampiri meja respsionis.

Harga sewa kamar dormitorinya lumayan, meskipun tidak serendah Hanoi. Tapi saya tak punya dong.

“Anda bisa menukarkan dolar di sini,” ujar resepsionis perempuan itu. Ia pencet-pencet kalkulator lalu diperlihatkannya pada saya. Penawarannya tak terlalu menarik.

stasiun hue vietnam
Stasiun Hue
Perfume river
Salah satu jembatan di Sungai Parfum

Karena masih pagi dan saya tak punya agenda apa-apa lagi selain bertualang, saya ucapkan terima kasih lalu kembali menyusuri Jalan Pham Ngu Lao untuk menemukan hostel lain yang lebih menarik.

Beberapa puluh langkah dari DMZ, saya melihat plang Hostel TT. Letaknya agak tersembunyi. Saat sampai di lobi, tiba-tiba suasana terasa familiar. Deja vu? Bukan: saya pernah melihat hostel ini di YouTube!

Hanya berisi dua dipan tingkat, kamar dormitori TT kecil tapi nyaman. Dipannya kokoh dan kasurnya empuk. Lokernya bagus pula. Kenyamanan itu, ditambah rasa capai setelah naik kereta sekian lama, membuat saya langsung tertidur begitu merebahkan diri di kasur.

Begitu saya bangun, matahari sudah sangat condong ke barat. Tapi masih ada beberapa jam lagi sebelum sang surya sepenuhnya tenggelam di cakrawala.

“You wanna get high?”

Pham Ngu Lao sudah agak ramai ketika saya menelusurinya kembali sore itu. Kafe dan restoran sudah mulai semarak. Pelancong-pelancong dari penjuru bumi sudah duduk-duduk di bar-bar berisik ditemani botol-botol bir dingin.

Melewati mereka, saya berjalan ke arah taman hijau di pinggir Sungai Parfum. Di setapak beton yang meliuk-liuk seperti nadi, oleh seorang perempuan muda saya ditawari paket menyeberang dengan perahu ke Imperial City di sisi lain Sungai Parfum sana. Merasa terlalu dini untuk ke mana-mana, saya menggelengkan kepala.

Lalu saya duduk di salah satu bangku taman. Sedang asyik membaca buku sambil menghisap Thang Long, seorang pemuda Vietnam melintas dengan sepeda motor—di taman—lalu menyapa saya dengan bahasa Inggris aksen Amerika.

“Where are you from?”

“Indonesia,” jawab saya sembari menandai halaman buku.

“Malaysia?”

“No. Indonesia.”

“Mau ganja?”

Tidak, saya bilang. Saya kira ia akan langsung pergi. Namun ia malah memarkir sepeda motornya di samping bangku kemudian duduk di samping saya. Ia tak terlalu tinggi, gempal, dan selalu tersenyum. Ia keluarkan sebungkus Marlboro kemudian ia sulut.

Nelayan di Sungai Parfum, Hue
Perahu-perahu nelayan di Sungai Parfum

Sambil melihat perahu-perahu motor dan kapal-kapal kayu melaju membelah Sungai Parfum, ia menyeletuk, “Waktu kecil, kerjaanku mendayung perahu di sungai itu.”

Ia lahir di Hue dan besar di jalanan kota bersejarah ini. “Empat belas tahun aku tinggal di jalanan,” ceritanya. Sekarang umurnya 30.

Cyclo di Kota Tua Hue
Beberapa “cyclo” sedang melaju di gerbang benteng Imperial City, Hue

“Terus bagaimana ceritanya kau bisa bicara Inggris dengan aksen Amerika seperti ini?”

“Dari turis-turis yang datang,” jawabnya. Pembelajar yang tekun ia sepertinya. Usahanya jelas membuahkan hasil. Sekarang ia tak cuma bisa bicara dalam bahasa Inggris, tapi juga ngerap—dan menawarkan “teh” ke turis yang lalu-lalang.

You wanna get high?” ujarnya pada sepasang turis yang lewat saat saya sedang asyik mendengarkan ceritanya. Mereka tak menggubris.

Dia lanjut bercerita soal ini dan itu—sambil sesekali meneriakkan “You wanna get high?” ke pelancong-pelancong yang lewat—sampai kata-katanya kembali dipotong oleh sesuatu. Kali ini adalah tangisan seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Hue yang baru saja mendapati bahwa sepeda listriknya dicuri.

Jika tangisannya saja seperti itu, pastilah sepeda listrik itu mahal sekali.

“Empat belas juta dong,” jelas kawan baru saya itu.

Viva Ho Chi Minh

Malamnya, selepas berjuang mencari mesin ATM yang masih menerima kartu debit berpita magnetik, saya berjumpa lagi dengan rapper amatir itu. Kami sudah bertukar nama. Namanya dalam bahasa Vietnam terdengar lucu. Ia sendiri tampak geli ketika menyebutkannya.

“Tapi,” katanya waktu berkenalan tadi sore, “orang-orang memanggilku L.”

Aliasnya memang terdengar lebih keren. Itu diambil dari nama belakang seorang aktor legendaris spesialis film kungfu.

Suasana sekitar benteng Imperial City, Hue, Vietnam
Suasana areal dalam benteng Imperial City

L ada di kerumunan orang-orang yang sedang asyik menonton semi-final AFF 2018 leg kedua antara Vietnam dan Filipina. Ia berhasil membujuk saya membeli ikat kepala suporter Vietnam yang dijual oleh temannya. Telanjur memakai aksesori, saya ikut menonton.

Dan Vietnam menang 2-1. Agregat 4-2. Mereka lolos ke final.

Begitu peluit panjang berbunyi, lagu mars “Viva Ho Chi Minh” berkumandang di mana-mana. Suara klakson sepeda motor dan knalpot yang digeber membahana dari segala penjuru.

“We’re gonna celebrate it!” ujar L. Ia menititipkan saya di boncengan temannya yang baru datang naik sepeda motor yang modelnya persis seperti Supra lawas. Orang itu entah kenapa tak henti-henti mengatakan “Good? Good? Good?” sambil nyengir dan menyodorkan jempol.

Kami konvoi. Tak ada yang memakai helm.

“Good? Good? Good?”

Saya mulai khawatir. Ia mengatakan “Good? Good? Good?” sambil menoleh ke belakang. Serampangan. Padahal jalanan semakin ramai. Ribuan sepeda motor dan bendera bintang emas Vietnam seperti tiba-tiba dimuntahkan semesta dari lubang hitam lalu hilir mudik memenuhi jalanan Hue.

Gerbang Imperial City, Hue, Vietnam
Gerbang Imperial City, Hue

Selepas Le Loi, kami terpisah dari L dkk. Tapi orang yang memboncengi saya itu sepertinya sudah tahu harus pergi ke mana. Keluar dari jalan-jalan kecil, kami sampai di sebuah bundaran raksasa di boulevard besar.

Lalu lintas merayap. Tapi, teman L itu makin sembarangan mengendarai motor. Seenak jidat ia meliuk-liuk kencang di antara ribuan sepeda motor, lalu—TTTAKKK!!—motor kami bertabrakan dengan motor lain. Untung hanya sepatbor beradu dengan roda. Setelahnya ia tak jua kapok. Malah, sekali-dua kali ia mencoba standing—untung kami tidak terbang.

Jelas jantung saya berdebar-debar.

“Good? Good? Good?”

Tidak saya hiraukan.

Lalu, dengan teknik cornering yang pasti akan bikin Max Biaggi bergidik, ia memacu sepeda motor ke pom bensin. Rem berdecit, motor itu berhenti dan saya meloncat turun. Saya merasa seperti seorang pelaut yang akhirnya tiba di daratan setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan hanya berpegangan pada sepotong lunas sisa kapal karam.

Saya tahu diri. Meskipun cuma sebentar diboncengi, saya sudah berpartisipasi membuang-buang bensin. Saya ambil dompet di saku belakang untuk mengeluarkan 20 ribu dong.

Tapi tiba-tiba saja tangan orang itu menyelinap ke sela-sela dompet saya dan berusaha merebut lembaran 200 ribu dong.

Bukan begini caranya.

Saya kalap. Percuma saja saya gondrong kalau tidak melawan.

“NO!”

Saya pertahankan dompet lalu saya masukkan kembali ke saku belakang. Saya balik badan lalu pergi. Tapi bensin sudah telanjur mengucur ke tangki motor laknat itu. Teman L itu mengejar saya, mukanya tampak putus asa. Ia tarik kaos saya, lalu saya tepis tangannya. Saya pelototi dia sedingin mungkin.

Ia menyerah. Saya pulang. Jalan kaki. Orang-orang di Hue masih bersorak-sorai mengibarkan panji-panji.

44 comments

  1. ellafitria · Januari 21

    Antara pengen ketawa tapi ya takut dosa pas baca bagian standing, wkwkwk
    Auto bayangin mbonceng orang macam temannya L. Btw enak aja main serobot uang 200rb

    • morishige · Januari 22

      Kalau dia ojol, sudah pasti dia nggak dapat bintang dari saya. Hehehe.

  2. CREAMENO · Januari 21

    Saya baru tau kalau ganja legal di Vietnam :O

    By the way, itu yang merebut 200.000 VND berarti bukan secara sukarela mau membonceng mas ya? Bisa banget memanfaatkan suasana. Untung mas bisa lawan. Ckckck. Ada-ada saja :/ harus lebih hati-hati lagi ke depannya, takut juga saya kalau itu kejadian di saya hehehe.

    • morishige · Januari 22

      Ilegal kok, Mbak. Tapi ya seperti biasa di “koloni-koloni” turis macam itu ganja memang banyak beredar.

      Mungkin karena kami terpisah dari L. Kalau barengan, nggak mungkin dia bakal membiarkan temannya itu macam-macam ke saya, secara saya sudah traktir dia sebotol bir dingin. 😀 Tapi tenang saja, Mbak. Di mana-mana lebih banyak orang baiknya kok daripada orang yang gelap mata. Saya saja yang lagi sial kayaknya. Hehehe. 😀

  3. CREAMENO · Januari 22

    Beuh bahaya bangettt, nggak takut ketangkap apa yaaa 😐 hahahaa.

    Tapi saya salut sama mas karena bisa berbaur dan bermain sama warga lokal. Saya orangnya nggak berani hahaha. Sepertinya saya bukan tipe adventurous traveller, dan lebih memilih untuk berusaha sebisa mungkin agar nggak perlu bicara sama orang :/ kadang salut campur iri saat baca cerita teman-teman lain yang penuh petualangan, hehe. Semoga one day saya bisa juga 😛

    • CREAMENO · Januari 22

      Mau balas komen yang di atas, tapi salah letak sepertinya :-))

    • morishige · Januari 22

      Mungkin karena tuntutan hidup, Mbak. Jadi semua risiko mereka terima saja. Saat itu kebetulan saja dia menawarkan barang di taman, makanya dia bisa sambil ngomong kencang-kencang begitu untuk menawarkan. Di tempat-tempat yang lebih ramai, biasanya sih mereka bisik-bisik: “Stt.. You want some weed?” begitu. Hehehe.

      Manusia menarik banget, sih, menurut saya. Setiap orang adalah buku yang lembaran-lembarannya menarik untuk dibaca (entah ini kutipan dari siapa saya nggak inget). Ngobrol sama orang seperti baca “audiobook.” Bagi saya keseruannya seperti itu. Mungkin suatu saat Mbak bisa menemukan alasan juga untuk connect dengan penduduk setempat. 😀

  4. Nasirullah Sitam · Januari 22

    Sepertinya cukup mudah mencari ganja di sana hahahahhahaha.
    Keren mas, minimal kamu pernah ikutan pawai sepakbola di negeri orang. Kalau di Indonesia, tingkah mereka naik sepeda motor mungkin mirip pas lagi kampanye hahahahahha

    • morishige · Januari 22

      Yoi, Mas. Asal ada kemauan aja. Hehehe.

      Padahal di sini saya malah senep lihat orang-orang pawai sepert itu karena berisik banget. Hehehe. Bener banget, Mas. Persis seperti itu. Benderanya saja yang beda. Hahaha.

  5. Nyonya · Januari 22

    Besok kalo kita trip ke Vietnam, mau kucari kawannya si L itu. Mau kutoyor kepalanya. Sembarangan betul bawa motornya

  6. RIFAN JUSUF · Januari 24

    Selalu humanis, down to earth ceritanya

    ewahh,, lama di jalanan dan bisa ngerap? top.
    untung sekali langsung aware dan ngelawan balik. Keparat betul si temannya L.
    memang rawan scam kah mas di Hue? btw, Gerbang imperial nya cakeeep

    • morishige · Januari 24

      Yoi, Mas Rifan. Sore itu dia ngerap terus saya ngasih beat hehehe…

      Enggak, Mas. Hue ini sama sekali nggak intimidatif sih buat turis. Dibanding Pham Ngu Lao di HCMC, backpacker area Hue jauh lebih sepi. Nggak ada yang bakal tiba-tiba menepuk pundak kita terus bilang “Massage?” Cuma mungkin saya lagi “beruntung” aja diboncengin sama temannya L itu.

      Iya, Mas. Cakep banget. Terus ada kanal juga di depannya. 😀

  7. annosmile · Januari 24

    perjalanannya asik nih
    kapan ke vietnam lagi..pengen join klo boleh 😀

    • morishige · Januari 24

      Banyak cerita, Masbro.
      Belum tahu nih. Yang ini aja belum kelar diceritain. 😀

  8. omnduut · Januari 24

    Njir ditawarin ganja hahaha. Aku pernah juga ditawarin gini sama host CS. Pas ditolak, sikapnya langsung berubah. “Ah lo gak asyik!” gitu kali ya hahaha.

    Aku tuh pengen jelajah Vietnam dari Selatan sampe Utara dan Hue ini udah masuk bucketlist sejak pertama liat di Amazing Race 😀

    • morishige · Januari 24

      Pokoknya kalau kita agak gondrong dikit terus kumel, kemungkinan ditawarin, Om. 😀 Hampir di setiap kota yang saya lewatin di Vietnam saya ditawarin ganja, Om. Mereka bangga banget sama ganja lokal Vietnam. Ada yang bilang, “Sekarang banyak ganja dari Thailand. But Thai’s weed is shit. Mending punya Vietnam.” Hahaha.

      Wah, saya juga nonton Amazing Race dulu, sampai season 9 apa ya, tapi lewat YouTube. Kayaknya sempat nonton juga pas mereka ke Thailand.

      Hajar, Om. Seru banget itu bakal. Dan saya tunggu cerita-ceritanya di blog.

    • Daeng Ipul · Januari 30

      Wohooo ada penggemar TAR rupanya hahaha
      saya nonton dari Seasons 1 sampai 30, koleksi saya lengkap (donlotan pasti)
      dan memang, gara-gara TAR juga saya jadi banyak penasaran sama kota-kota di dunia yang tidak biasa dikenalkan di acara-cara wisata.

      • morishige · Januari 31

        Wih sedapnya. Kayaknya saya juga perlu nyicil menonton TAR lagi, Daeng. 😀

        Btw, TAR rampung di season 30 atau masih lanjut?

      • omnduut · Februari 4

        Aku terakhir nonton S26 apa S27 gitu huuu kangen juga. Coba kalau deket aku mau copy ke Daeng Ipul (kalau dikasih juga sih hwhw).

      • morishige · Februari 4

        Duh, jadi pengen nonton TAR dari awal lagi 😀

  9. Kris Belitung · Januari 25

    Wueheheh kaget juga sih sama itu orang abis ngomong bahassa inggris tiba tiba bilang mau ganja? Wkwkwk kirain orang asing , ternyata +62 juga ;D

    • morishige · Januari 27

      Hahaha… Makasih sudah mampir, Mas. 😀

  10. Titik Asa · Januari 26

    Mas, saya penasaran dengan DMZ alias Demilitarized Zone. Kenapa bernama demikian ya? Apa memang dahulunya tempat nginap militer2 begitu. Sayangnya Mas gak jadi nginap disana ya.
    Asik juga nih keluyurannya di Vietnam. Apa betul ya kalau suasana di Vietnam seperti Indonesia beberapa puluh tahun ke belakang?

    Salam,

    • morishige · Januari 27

      Penamaan Hostel DMZ itu kayaknya terinspirasi dari zona demiliterisasi (DMZ) atau garis demarkasi Vietnam Utara dan Selatan dulu, Pak. Jadi, Hue ini adalah salah satu kota yang paling dekat jaraknya dengan DMZ Vietnam Utara-Selatan dulu.

      Kalau suasananya barangkali memang mirip, Pak. Di kota-kota besar seperti Saigon dan Hanoi masih banyak yang jualan sambil membawa pikulan. Gedung-gedung tua juga masih banyak. Tapi soal infrastruktur sudah 11-12 sama Pulau Jawa. Jalan tol sudah banyak dan moda transportasnya juga sudah kinclong. Dan mereka terus membangun. 😀

      • Titik Asa · Januari 28

        Keren juga ya pembangunan infrastruktur-nya kalau sudah mirip di Pulau Jawa.
        Rasanya beberapa bulan lalu saya baca kalau Vietnam sudah mampu membuat semacam mobil nasional, lupa saya apa namanya, benar2 mereka sudah menggeliat ya Mas?

        Salam,

      • morishige · Januari 28

        Pas mampir ke Museum Ho Chi Minh, saya sempat lihat grafik produksi manufakturnya Vietnam, Pak. Melonjak naik sejak awal 2000-an. Tapi GDP mereka tetap masih setengah GDP kita. Cuma, kalau nggak hati-hati, sepuluh tahun lagi Indonesia mungkin bisa disalip sama Vietnam, Pak.

      • Titik Asa · Januari 28

        Saya pikir juga demikian, apalagi bila trend kenaikannya tinggi, ssdangkan misalnya trend kenaikan kita yg cenderung stagnan atau negatif.
        Luar biasa memang geliat pertumbuhan Vietnam ini Mas.
        Terimakasih sudah berbagi tentang hal ini.

        Salam,

      • morishige · Januari 28

        Benar sekali, Pak. Dan karena infrastrukturnya bagus, pariwisatanya–sebagai bonus–juga ikut maju. Efek berantainya terasa sekali.

  11. Greatnesia · Januari 27

    Wah asyik banget cerita petualangannya mas. Hebat bisa berbaur dengan warga lokal dan dipalakin juga 🙂

    • morishige · Januari 27

      Terima kasih sudah mampir, Greatnesia 😀

  12. Afin Yulia · Januari 27

    Woii, masyaAllah lamanya tak jumpa. Wakakaka, sudah lama ya ternyata tidak blogwalking kemari.

    Apa kabarmu sekarang?

    • morishige · Januari 27

      Lama sekali. 😀 Kayaknya sudah satu dekade, Mbak.

      Kabarku baik. Mbak bagaimana kabarnya? 😀

      Seneng akhirnya ketemu sama “muka lama” di blogsphere. Hehehe. Pas blogwalking ke sana kemari, sebagian besar teman-teman sudah pensiun. Ada yang domainnya sudah expired, ada yang blognya sudah diproteksi, ada yang postingan terakhir 2010. Atau hijrah ke platform lain.. Entahlah. 😀

  13. Daeng Ipul · Januari 30

    asyik ya bisa ikut nobar sama orang lokal. apalagi bisa ikut merasakan pawai setelah kemenangan.
    benar-benar merasakan denyut nadi lokal.

    saya juga pengen seperti itu, tapi nyatanya dalam keseharian saya malah paling sering menghindari keramaian. kalaupun terpaksa sekali, itu lebih karena tuntutan pekerjaan. aslinya saya paling menghindari interaksi sama orang asing hahaha.

    maklum, namanya juga introvert.

    • morishige · Januari 31

      Hahaha… Saya sebenarnya merasa diri sebagai introvert juga, Daeng. Tapi, entah kenapa, kalau ketemu kawan baru yang cocok, mudah untuk berinteraksi. Dan mungkin karena tuntutan juga supaya bisa survive 😀

  14. Ping-balik: Meninggalkan Hue | jejaka petualang
  15. Ping-balik: Perjalanan ke Dalat | jejaka petualang
  16. Zam · Februari 23

    jadi ingat saat di Lisbon, penjual kacamata mendatangi saya menawarkan kaca mata hitam. saat ku menolak, gantian ia menawarkan ganja sambil menunjukkan plastik berisi daun ganja kering. “it’s legal”, katanya. ku tak percaya tentu saja. di Portugal, sebagian ganja memang legal, namun berupa obat yang bisa dibeli di apotek, yang telah dihilangkan sat addiktifnya. sementara untuk daun ganja, tentunya ilegal.

    • morishige · Februari 23

      Yang nggak gumunan sama ganja itu biasanya kawan-kawan pejalan dari Belanda, Kang. “Mainan anak kecil tuh di tempatku,” ada yang bilang kayak gitu. Hahahaha… Di Laos sama Vietnam sih paling sering dapet penawaran. Mungkin karena kawasan turis di kota-kotanya terpusat. Di Thailand, di kota-kota besar penjual mainnya underground, di kota-kota mblusuk paling yang cara nawarinnya lebih vulgar. Myanmar aku masih penasaran karena belum hahaha

      • Zam · Februari 24

        di Berlin juga ada yg jual di kawasan tertentu. tapi mereka ngga njual ke turis.

      • morishige · Februari 24

        Unik tuh, Mas. Di Asia Tenggara malah yang jadi sasaran utama para turis. 😀

  17. Ping-balik: Saigon | jejaka petualang
  18. ainunisnaeni · 1 Day Ago

    emosi nih baca dibagian temen L yang sialan itu, ehh
    wahhh trik buat ‘majek’ turis turis nih, kudu ati ati juga
    orang vietnam kayaknya kalo nyetir memang banyak ngawurnya ya hahaha

    • morishige · 1 Hour Ago

      Dia kayaknya nggak tau kalau saya sohiban sama ketua geng-nya. 😀

      Hehehe… Apalagi kalau di HCMC ya, Mbak? 😀 Males banget rasanya nyeberang jalan di HCMC. 😀 Kayak nggak dikasih kesempatan buat lewat sama pemotor. 🙂

Tinggalkan Balasan ke Nasirullah Sitam Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s