Tertahan di Da Nang

Menerobos hujan yang sebentar gerimis sebentar deras, saya akhirnya tiba di lobi Stasiun Hue jam 9 pagi. Kalau ingatan saya tak keliru, kereta yang hendak saya tumpangi semestinya berangkat jam 9.30.

Dua puluh menit setelah saya mengistirahatkan bokong di bangku tunggu, dari corong pengeras suara terdengar pengumuman bahwa jadwal keberangkatan kereta tertunda. Perkiraannya, kereta baru akan meluncur jam 9.50.

Sekitar jam 9.30, penumpang diminta bergerak ke peron. Sepi sekali ternyata peron Stasiun Hue itu. Suasananya klasik—warnanya, desainnya, ornamen-ornamennya. Celah-celah di antara bantalan rel dilapisi petak-petak beton sehingga gampang saja bagi kaki manusia untuk melaluinya. Bangku-bangku panjang dari marmer dan pualam berjejeran menghimpit dinding. Di salah satu bangku itulah saya duduk menunggu kereta tiba.

Dua orang petugas Vietnam Railways di Stasiun Da Nang
Suasana peron Stasiun Hue

Sambil duduk, saya perhatikan sekitar. Di dinding bagian atas stasiun, plang-plang bertuliskan angka dari 1 sampai sekian berjejeran dalam interval tertentu. Itu adalah perkiraan lokasi tempat gerbong kereta akan berhenti. Cerdas sekali. Jadi, penumpang bisa mencari posisi strategis untuk menunggu kereta. Dan tak perlu sikut-sikutan dengan penumpang lain.

Saya keliru. Ketika kereta tiba, meskipun di dinding sudah ada nomor penanda, penumpang tetap saja berebut naik. Saya ikut arus masuk ke gerbong no. 1, menelusuri lorongnya yang sempit, lalu mendudukkan diri di bangku no. 13. Ah! Kenapa di sebelah kanan? Kemarin di loket tiket ‘kan saya sudah minta didudukkan di sebelah kiri?!

Bangkunya empuk dan nyaman, sebanding kelas bisnis kalau di Indonesia. Banyak falang berambut pirang di sana. Saya duduk di pinggir, di samping jendela. Tak berapa lama, kereta mulai melaju. Selepas permukiman urban, kereta itu pun mulai membelah wilayah rural.

Gerbong no. 1 dalam perjalanan dari Hue ke Da Nang

Lalu mata saya menangkap pemandangan familiar: laut. Itu Laut China Selatan. Sebagian besar ruas rel antara Hue dan Da Nang memang dibangun melipir pesisir. Di cakrawala, gelombang menggelora. Warnanya menyeramkan, sama kelabunya dengan langit.

Sekali-sekali kereta menyusuri bukaan-bukaan sempit di bibir tebing. Kiri laut, kanan perbukitan berlapis hutan tropis lebat. Jika difoto dari luar, dengan bantuan drone barangkali, pasti gambar itu akan dramatis sekali. Tapi, saya yakin lensa yang terpasang di drone itu pasti akan gagal menangkap ekspresi khawatir para penumpang yang berdoa agar kereta itu tak terguling.

Hujan semakin lebat dan angin bertiup semakin kencang. Setiap kali menyusuri rel di pinggir tebing, gerbong no. 1 itu bergoyang-goyang hebat dipermainkan angin.

Hujan itu ternyata serius. Akibatnya, kereta jadi lebih sering berhenti ketimbang bergerak. Tak main-main, sekali berhenti sampai satu jam! Sekali waktu, sepur berhenti di sebuah stasiun kecil yang sekilas tampak seperti stasiun terakhir dalam The Happening, film apocalyptic thriller bikinan M. Night Shyamalan. Meskipun sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi, saya sudah bersiap menerima kemungkinan terburuk. Ditransfer ke bus, misalnya.

Lalu pengumuman mulai mengudara lewat corong. Dari sekian pengumuman, hanya satu yang bagi saya tidak terdengar seperti kode Morse, sebab dilengkapi terjemahan bahasa Inggris. Intinya, pihak Vietnam Railways mohon maaf atas segala ketidaknyamanan ini.

Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak melamun menghadap jendela yang penuh bulir-bulir air berkejaran. Macam-macam yang terbayang. Yang paling saya ingat, ketika melewati kawasan hutan lebat yang melampar sampai ke perbukitan, saya membayangkan adegan-adegan dalam film-film Perang Vietnam, dari mulai Rambo, Platoon, Apocalypse Now, Full Metal Jacket, sampai Good Morning, Vietnam.

Ketika sedang sibuk melamun, tiba-tiba…

Plakkk!!!

Saya kaget dan langsung menolehkan muka ke sumber suara. Itu suara paha saya beradu dengan telapak tangan. Bukan dengan tangan saya sendiri melainkan dengan tangan perempuan tua yang duduk di samping saya. Sambil tersenyum dan bergumam dalam bahasa Vietnam, ia lalu memijat-mijat paha saya yang hanya dibalut celana pendek. Tak ada yang bisa saya lakukan selain tersenyum kikuk.

Dan sampai sekarang saya tak tahu kenapa ia menepuk dan memijat-mijat saya punya paha.

Banjir di perempatan Jalan Le Duan

Semestinya hanya perlu waktu sekitar 3 jam dari Hue ke Da Nang naik kereta. Namun, hari itu, tujuh jam setelah kereta mulai berangkat, sekitar jam 5 sore, saya baru tiba di stasiun terakhir sebelum Ga Da Nang. Di sana, saya beserta seluruh penumpang diminta turun. Tak ada penjelasan apa pun dalam bahasa Inggris soal itu, baik mengenai alasan kenapa kami diturunkan maupun soal apakah kami akan diantar naik bus ke Stasiun Da Nang.

Saya hanya bisa menerka-nerka.

Sebagian besar falang beransel besar berteduh di kanopi dekat palang perlintasan kereta. Petugas Vietnam Railways masih belum kelihatan. Barangkali mereka masih sibuk mengosongkan gerbong-gerbong kereta dari penumpang.

Jalan Dien Bien Phu, Da Nang

Karena mau mencegat xe buyt 01 tujuan Hoi An terakhir hari itu, saya tak mau berlama-lama di sana. Setelah mengembangkan payung, segera saya mulai jalan kaki menuju Stasiun Da Nang. Dari sana, saya hanya perlu jalan lurus menelusuri Dien Bien Phu lalu menyerong ke kiri ke Jalan Le Duan yang ternyata sudah berubah menjadi sungai.

Benar: sungai.

Airnya keruh seperti aliran Sungai Musi. Mobil tak bisa lewat jika tidak pelan-pelan. Para pengendara motor tampak kepayahan menyeimbangkan diri di air setinggi lutut itu—tak sedikit pula yang akhirnya mesti rela turun dan jalan kaki pelan-pelan menuntun motornya.

Arusnya ternyata juga lumayan. Saat menyeberangi perempatan Le Duan, saya sempat terpeleset dan hampir jatuh beberapa kali. Menyeberangi banjir dengan ransel gunung di belakang dan tas kecil di depan—dengan sepatu gunung penuh air—agaknya memang bukan perkara gampang.

Sampah terbawa arus banjir di Le Duan
Warga Da Nang melintasi Le Duan dengan sepeda

Sebagian besar toko sudah tutup. Saya berteduh di bawah kanopi sempit depan toko sepatu, dekat plang perhentian xe buyt 01. Di depan saya, banjir hanya sebetis, cuma sedikit lebih tinggi ketimbang trotoar tempat saya berdiri. Sekali-sekali saya mesti menepi memberi jalan pada sepeda motor yang naik ke trotoar demi menghindari banjir.

Selang sebentar, dari arah perempatan Le Duan muncul beberapa orang bermantel plastik naik perahu karet mirip kano. Di antara sepeda motor dan mobil yang kepayahan menerobos banjir, mereka tampak seperti grup lawak Srimulat sedang ditanggap. Dengan apa pun yang bisa digunakan sebagai dayung, mereka mengayuh perahu karet itu ke sana kemari.

Saya tak tahu bagaimana mesti merespon pemandangan itu. Tapi saya tahu kalau saya mulai kedinginan—dan perut saya yang belum diisi dari pagi mulai keroncongan.

Malam hampir turun namun belum ada xe buyt 01 yang lewat, apalagi berhenti. Semestinya, jika tak ada force majeure seperti ini, Xe buyt 01 tujuan Hoi An masih akan lewat sampai jam 6 sore. Saya periksa jam di tablet: masih jam 5.45. Masih ada waktu. Mustahil bis terakhir akan berangkat tepat waktu jika keadaannya begini.

Plang perhentian xe buyt no. 1

Lalu, seorang ibu muda bersama anak perempuan kecil tiba dari arah perempatan. Ketika membuka gembok pintu toko sepatu itu, keningnya berkerut melihat saya.

“Where to? Where to?” ia bertanya.

“Hoi An,” saya bilang.

Dengan campuran bahasa Inggris dan gamit, ia menjelaskan bahwa saya mesti mencegat bis arah ke kanan, bukan ke kiri. Lega rasanya karena saya tidak perlu menyeberang.

Tapi bis yang saya tunggu-tunggu tak kunjung tiba.

Menjelang jam 7 malam, seorang cewek menghampiri saya. Dengan malu-malu nona itu menyodorkan sebuah mantel hujan plastik berwarna ungu. Rupa-rupanya ia dan teman-temannya sedari tadi memperhatikan saya dari depan sebuah toko tak jauh dari tempat saya berdiri. Mungkin ia kasihan melihat saya yang melindungi diri dari hujan hanya dengan jaket—yang sebenarnya tidak anti-air.

Saya tolak dengan halus pemberiannya. Saya bilang bahwa saya punya payung dan itu sudah lebih dari cukup.

Terpaksa bermalam di Da Nang

Kebaikan yang saya terima malam itu tak berhenti di situ. Beberapa menit setelah peristiwa mantel hujan itu, tiba-tiba seorang cewek menyodorkan sebotol minuman isotonik yang masih disegel.

Saya menggeleng. Tapi, semakin keras gelengan saya, semakin bersemangat pula ia menyodorkan minuman itu. Mau tak mau saya terima. Begitu botol plastik itu berada dalam genggaman saya, cewek bermantel dan berhelm itu segera berlalu ke arah perempatan.

Tutup botol minuman itu saya buka kemudian saya teguk isinya. Bukan main enaknya.

Tapi tetap saja minuman itu tidak mampu menawar rasa lapar yang makin menjadi-jadi. Sudahlah. Sudah cukup saya menunggu xe buyt 01 sampai jam 7. Saatnya mencari tempat makan, dan setelah itu atap untuk bermalam.

Dengan sisa-sisa tenaga, saya panggul kembali ransel gunung yang lama tersandar di pintu gulung toko, kemudian saya langkahkan kaki ke perempatan Le Duan. Dari sana, saya berjalan ke arah Stasiun Da Nang menerobos banjir setinggi lutut. Jarak yang saya tempuh barangkali tak sampai 200 meter, tapi rasanya seperti 1 km.

Semula saya hendak mencari warung di depan stasiun. Sayang sekali sudah tak ada yang buka. Tapi, dari kejauhan, di arah barat sana suasana tampak lebih semarak. Barangkali ada tempat makan di sana.

Teras Stasiun Da Nang

Saya ubah haluan. Perlahan-lahan, langkah saya terasa semakin ringan. Di sebelah sini banjir sudah mulai surut meskipun langit masih betah memuntahkan hujan. Saya masuk ke warung pertama yang saya jumpai lalu memesan makanan kemudian akan jadi salah satu makanan favorit saya di Vietnam: com ga roti.

Beberapa puluh menit kemudian, dengan perut penuh com ga roti, saya berjalan ke penginapan saya malam itu: Stasiun Da Nang.

30 comments

  1. CREAMENO · Februari 2

    Banyak orang baik ya, hehehe. Ada yang menawarkan mantel, ada juga yang kasih minum. Senang bacanya, padahal stranger tapi mereka nggak segan memberikan sesuatu yang dirasa butuh 😀

    By the way, mas tidur di stasiun? Apakah stasiunnya buka 24 jam? Masnya tidur di mana? :O hahaha banyak pertanyaan saya, penasaran soalnya. Baru kali ini baca cerita ada yang tidur di stasiun. Salut karena mas berani 😀 hehehe.

    • morishige · Februari 2

      Banyak banget, Mbak. Kebaikan-kebaikannya datang di tempat-tempat dan di saat-saat yang tak terduga. Momen-momen kayak gitu yang bikin saya optimis sama kemanusiaan. Hehehe…

      Iya, tidur di stasiun akhirnya. Malas juga cari-cari hostel malam-malam, basah-basah pula. 😀 Kebetulan pas di Da Nang buka, Mbak. Mungkin karena banjir itu atau mungkin karena Da Nang ini posisinya di tengah-tengah dan dilewati jalur Reunification Express jurusan Hanoi-HCMC pp dan kereta-kereta lain.

  2. Ella Fitria · Februari 2

    Ya ampun, ternyata di luar sana byk orang baik ya.. Goo tidur stasiun, asal nggak kebanjiran dan kelaparan ya. Hhh

    • morishige · Februari 2

      Banyak banget, Mbak. 😀

      Iya. Yang penting ada atapnya. 😀

  3. Zam · Februari 3

    sudah lama sekali terakhir kali saya ke Vietnam. baca ini jadi inget lagi!

    ngeri juga banjirnya ya, tapi minimal, dari foto, tidak separah banjir di Jakarta.. 🤔

    kalo suka naik kereta, pergilah ke Eropa. surga bener di Eropa sini.

    • morishige · Februari 4

      Pasti pas dirimu ke sana dulu beda banget kondisinya ya, Mas?

      Lumayan ngeri Mas. Cuma nggak setinggi kumi…. eh, hehehe. 😀

      Penasaran juga sih Mas nyobain naik kereta di Eropa. Tapi, denger-denger di sana tiket kereta api lebih mahal ketimbang kereta, bener nggak sih Mas?

      • Zam · Februari 10

        kalo mahal atau murah sih relatif. kalo mau lebih murah lagi naik bus yang juga favorit kami karena murah dan nyaman.

        untuk kereta, tergantung kelasnya juga. dan jenis keretanya apa, karena tiap negara punya kereta masing-masing.

        pesawat juga bisa dapat murah, terutama Ryan Air dan Easy Jet.

        kapan-kapan kutulis di blog deh, soal naik kereta, bus, dan pesawat ini.

      • morishige · Februari 10

        Wah begitu ta. Banyak juga ya pilihannya ternyata.

        Gara-gara nonton Before Sunrise nih kang jadi pengen nyobain juga naik kereta di sana. Hehehe…

        Siap, Kang! Selalu dipantau postingan-postingan terbaru dari Eropah… 😀

  4. Nasirullah Sitam · Februari 3

    Aku sedang membayangkan orang yang naik sepeda di saat banjir. Itu kayaknya yang di belakang mau jatuh hahahahha.
    Di edisi sebelumnya, uang hampir dilibas sama orang saat di SPBU. Di sini, ada cewek yang tersipu menawarkan payung.

    • morishige · Februari 4

      Nekat juga itu kayaknya yang nyeberang boncengan pakai sepeda. Lebih mudah dituntun aja kayaknya Mas. ;D

      Semesta keknya memang punya selera humor tinggi, Mas. Beberapa jam sebelumnya dibikin kesel, kemudian di tempat lain dibikin terharu. 😀

  5. Lina Kariim · Februari 3

    sori karena baru ngikutin blognya, perjalanan ke Vietnam ini solo trip ya? baca cerita perjalanannya bikin suasana jadi hangat. ditunggu cerita perjalanan berikutnya, ya

    • morishige · Februari 4

      Iya, sendirian. 😀

      Makasih ya sudah mampir dan baca-baca postingan di sini. 😀

  6. Greatnesia · Februari 3

    Makin penasaran dengan kelanjutan tripnya.

    • morishige · Februari 4

      Ditunggu ya 😀 Terima kasih sudah mampir lagi. 😀

  7. Daeng Ipul · Februari 3

    kenapa yang ramah dan menawarkan itu cewek semua?
    kutebak dirimu pasti ganteng luar biasa, hahaha

    tapi bertemu dengan orang baik dalam perjalanan itu memang sebuah berkah tak terhingga ya

    • morishige · Februari 4

      Hahaha… Kayaknya bukan persoalan ganteng atau tidak, Daeng. Mungkin karena penampilan saya terlalu bersahaja. Hahaha…

      Berkah banget, Daeng. 😀

  8. Titik Asa · Februari 4

    Mas, jarak dari Hue ke Da Nang itu kira2 brp km ya? Mungkin lebih jauh bila dibanding Sukabumi – Bogor yang bila berkerata makan waktu 2 jam.
    Tp melihat interior keretanya mirip juga, belum lagi pemandangan hijau yang dilewati. Oh iya kereta Sukabumi-Bogor pun sering terkendala di musim penghujan ini. Beberapa titik sering longsor, shg kereta tidak beroperasi berhari-hari.
    Pdhl berkereta Sukabumi-Bogor ada kepastian waktu, bayangkan kalo naik kendaraan darat, bisa 3-5 jam sampe Bogor. Kepadatan lalu lintas yg tidak bisa diprediksi. Istilahnya warga disini pasrah dg kondisi demikian sampai dg tol BOCIMI (Bogor, Ciawi, Sukabumi) kelar.

    Lanjutkan ceritanya Mas….

    Salam,

    • morishige · Februari 4

      Jaraknya sekitar 95 km, Pak. Memang hari itu banyak kereta yang mesti berhenti dulu (atau menunggu giliran) sampai hujan agak reda.

      Kepastian waktu (meskipun ada kemungkinan telat beberapa puluh menit atau beberapa jam) itu yang bikin saya suka naik kereta, Pak. Selain itu, stasiun-stasiun kereta kemungkinan besar berada di keramaian, dekat pusat kota, jadi nggak perlu susah-susah naik angkutan kalau mencari penginapan, tinggal jalan kaki saja.

      Terima kasih sudah kembali mampir, Pak. 😀

      • Titik Asa · Februari 6

        Wah, itu jarak setara dengan jarak dari Sukabumi – Bandung, Mas. Sayangnya kereta ke arah Bandung sudah bertahun-tahun hanya sebagai jalur perintis saja, baru sampai Cianjur. Entah masih terkendala dimananya…

        Salam,

      • morishige · Februari 6

        Barangkali karena dianggap jalur yang tak ramai ya, Pak?

        Jalur kereta di Vietnam ini yang aktif memang hanya yang umum-umum saja, yang benae-benar menghubungkan negeri itu dari utara ke selatan, Pak.

  9. mila (@mila_said) · Februari 5

    ya ampuuunnn… aku kangen backpacking hiks.

    • morishige · Februari 5

      Aku kangen baca cerita-ceritamu, Kak. 😀
      Seneng banget akhirnya ada notif postingan barunya ceritanyamila.blogspot.com heheheh 😀

  10. travelingpersecond · Februari 10

    Yang aku inget cuma satu….ditepuk dan dipijat wanita Vietnam.
    Ah coba yg nepuk dan mijat umur 23 dan berambut pirang panjang…..
    Omaigat

    • morishige · Februari 10

      Hahaha… Seandainya saya bisa bahasa Vietnam pasti bisa ngerti itu maksudnya apaan. 😀

      • travelingpersecond · Februari 10

        Hahaha…..aku mau minta nasi aja susah banget. Ternyata namanya cơm….hahaha. setiap minta rice ga pernah diladenin. Akhirnya makan Pho tiap hari….wakakakaka

      • morishige · Februari 10

        Akhirnya memang lebih sering pakai gesture sih Mas ketimbang verbal kalau komunikasi 😀

        Pas di utara, pho jadi andalan banget, Mas… Dari tengah ke selatan, com ga roti hahaha…

  11. Ping-balik: Rintik-rintik Hujan di Hoi An | jejaka petualang
  12. Ping-balik: Semalam di Dalat | jejaka petualang
  13. ainunisnaeni · 1 Day Ago

    mungkin ibu tua ibu melihat mas moris kayak anaknya hehe

    • morishige · 2 Hours Ago

      Hehehe… Mungkin juga, Mbak. Tapi kaget juga paha tiba-tiba ditepok terus digrepe-grepe. 😀

Tinggalkan Balasan ke morishige Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s