Asbak Penguin Raksasa di Stasiun Da Nang

Stasiun Da Nang ternyata tidak sesepi yang saya duga. Ketika saya tiba, banyak orang berkerumun di sekitar lobi dan beranda, termasuk dua pemuda pelancong yang ransel besarnya tersandar di dinding kaca stasiun.

“Mau ke mana?” tanya saya pada salah seorang di antaranya. Wajahnya, sebagaimana paras pejalan yang satu lagi, Asia. Tingginya relatif sama dengan saya.

“Kami mau ke Hue,” jawabnya ramah dengan bahasa Inggris aksen Amerika. “Tapi dari tadi kereta belum berangkat-berangkat, nih.”

Kebetulan baru dari Hue, saya ceritakan saja perjalanan saya tadi. Ia geleng-geleng dan tersenyum-senyum mendengar saya yang mesti “terjebak” di kereta selama sekitar tujuh jam dan harus jalan kaki dari tempat kereta berhenti ke Stasiun Da Nang.

“Memangnya mereka tak menyediakan angkutan?”

“Entahlah,” jawab saya. “Karena mau mencegat xe buyt 01 ke Hoi An, rasanya malas menunggu lama-lama di sana.”

Lalu kami mengobrol. Topiknya tak jauh-jauh dari soal negara asal, soal kota yang baru saja kami datangi, soal tujuan selanjutnya, dll. Ternyata mereka bersaudara. Yang sedang saya ajak mengobrol itu, dari perawakannya, adalah sang adik. Mereka dari San Francisco—pantas aksennya Amerika kental. Kakek dan nenek mereka dulu migrasi dari Vietnam ke Amerika. Ini adalah kali pertama mereka pulang ke tanah leluhur.

Banjir di simpang empat Le Duan, Da Nang

“Senang rasanya,” ujar sang adik. Selama melancong di sekitar Teluk Tonkin ini, mereka sudah sempat bertandang ke rumah sanak saudara. “Aku merasa menjadi bagian dari mereka.”

“Tapi kau bisa bahasa Vietnam?”

“Tidak,” jawabnya sambil terkekeh. Saya jadi teringat lelucon populer bahwa orang Amerika Serikat cuma bicara satu bahasa: Inggris.

Lalu gantian ia yang bertanya soal saya. Ia tertawa mendapati bahwa saya orang Indonesia, soalnya beberapa waktu lalu mereka baru terbang dari Denpasar. “Terpaksa terbang” lebih tepatnya. Bebas visa mereka sudah habis. Karena berencana akan kembali ke Bali, mereka perlu ke negara lain dulu supaya bisa kembali masuk ke Indonesia.

Tak berapa lama, sang kakak datang menghampiri. Rupanya ia baru dari meja informasi untuk menanyakan kejelasan jadwal keberangkatan kereta api. Mereka akan diantar dengan bus ke stasiun tempat saya berhenti tadi. Kereta ternyata belum bisa melewati kota. Air masih tinggi.

Sewaktu kami mengobrol tadi, dua xe buyt kuning tiba. Orang-orang sudah berkerumun di beranda menunggu dipersilakan menaiki bus. Melihat itu, dua bersaudara dari San Francisco itu memanggul backpack besar mereka masing-masing, pamit, dan ikut berkerumun bersama puluhan calon penumpang lain di beranda.

Selang sebentar, stasiun itu kembali sepi. Dari teras berkeramik putih itu, saya bisa melihat lampu belakang dua xe buyt itu menerang dan memudar ketika mereka keluar dari areal stasiun.

Pemadam kebakaran dari Budweis

Hoi An banjir, kata cewek Polandia yang saya ajak mengobrol di teras Stasiun Da Nang. “Tapi masih banyak kok yang bisa dilakukan di sana,” tambahnya.

“Kalau saja tadi aku tahu, mungkin kau bisa ikut ke Hoi An bersama supir yang mengantarkan kami tadi,” ujarnya lagi. Tadi ia bersama pasangannya—yang plontos itu, yang kemudian mengobrol sambil merokok bersama saya—naik angkutan sewaan dari Hoi An.

Saya hanya mengangkat bahu, “Well…

“Terus apa yang akan kau lakukan semalaman ini?” ia bertanya.

“Paling di sini saja menunggu pagi,” jawab saya.

“Well, good luck,” ujarnya sebelum kembali ke salah satu bangku panjang di peron.

Saya juga kembali ke pojok timur dan duduk di troli besi. Air masih tinggi. Sesekali, setiap kali ada mobil yang lewat, gelombangnya yang seperti ombak kecil di Arborek itu menyentuh kaki saya yang sekarang hanya dilapisi sandal jepit hijau. Sepatu gunung yang basah kuyup itu saya sandarkan ke dinding, di samping ransel—juga sepasang kaus kaki hitam itu.

Saat sedang duduk di troli itulah saya dihampiri seorang pemuda Kaukasian yang dari tadi saya lihat hilir mudik di ruang tunggu. Namanya J. Ia sedang mencari orang yang bisa bilang ke polisi—atau otoritas apa pun yang ada di sana—bahwa ia ingin jadi relawan untuk mengatasi banjir besar itu. Ia bahkan legawa untuk menunda perjalanannya ke Mui Ne seandainya diizinkan membantu.

Suasana lobi Stasiun Da Nang

Di tanah kelahirannya di Republik Ceko sana, di Budweis, kota produsen bir legendaris Budweiser, ia adalah seorang pemadam kebakaran.

Penolong kami datang; dua orang pemandu wisata. Bersama kedua orang itu, J bertanya kepada seorang petugas stasiun soal kesempatan untuk jadi relawan banjir. Petugas itu lalu membawa mereka ke polisi tua yang sedang berjaga. Lumayan lama mereka bertiga mengerumuni sang polisi.

J kembali membawa rasa kecewa, “Katanya, ‘Kami tidak memerlukan bantuan anda.’”

Sedih juga melihat pemuda bersemangat itu harus menelan rasa kecewa.

Umurnya ternyata masih sangat muda, 21 tahun. Sembari menjadi pemadam kebakaran, ia sedang menyelesaikan kuliahnya, kalau tak salah di bidang akuntansi terkomputasi. Umur segitu dulu, saya juga sedang kuliah. Tapi kontribusi saya pada masyarakat jelas tak ada apa-apanya dibanding dia. Wong saya cuma kuliah, ngeblog, tenggelam dalam cerita-cerita novel, nongkrong di kandang PASAINS sambil memetik gitar mengiringi senior saya menyanyikan “I’m Yours” sambil menenggak asamnya Orang Tua, naik gunung, kelayapan ke kota-kota di penjuru Jawa dan Bali….

“Aku dapat libur dua minggu,” ia mengaku.

Baru beberapa hari memang ia di Vietnam. Tapi, selama beberapa hari itu sudah banyak sekali ia dapat pengalaman seru—selain banjir besar ini, tentunya.

“Kau tahu, dalam perjalanan ke Vietnam, pesawatku tiba-tiba mesti mendarat darurat. Coba tebak di mana mendaratnya?” ia bertanya. Saya angkat kedua alis sambil tersenyum. Ia lalu menjawab dengan heboh, “Tashkent! Uzbekistan! Kaget banget aku waktu mendarat.”

Di Hoi An, ia mesti mengikhlaskan GoPro HERO7 barunya digondol maling.

Perjalanan memang terkadang seperti roller coaster.

Di sekitar asbak penguin

Sekitar jam 11 malam, seorang mirip Eddie Vedder bergabung bersama kami di sekitar asbak raksasa berbentuk penguin itu. Namanya P. Mendengar ia dari Australia, saya menyeletuk, “Ha! We’re neighbors!”

Ia pemandu wisata minat khusus. Ia baru saja kembali dari petualangan selama seminggu di sebuah desa di pedalaman Vietnam, membawa serombongan siswi sekolah dari Australia yang ingin merasakan suasana perdesaan. Semestinya sekarang mereka sudah naik kereta menuju Nha Trang, kota kecil di pesisir sekitar 500 km ke selatan dari Da Nang.

“Ibuku dulu pernah ke Padang, Sumatera Barat—semacam penelitian,” katanya.

“No kidding!” saya tak percaya. “I grew up there!”

Ia terbahak. Saya juga. Semesta memang punya selera humor yang janggal.

Beranda Stasiun Da Nang ketika bajir mulai surut

Menjelang tengah malam, Y dan P beranjak ke peron. Banjir akhirnya surut dan kereta mereka akan berangkat. Tinggallah saya sendiri bersama asbak penguin raksasa yang selalu menganga itu. Malam makin dingin. Kaos barong—oleh-oleh yang dibawakan sahabat saya sepulangnya dari Danau Toba—itu tak sanggup lagi menahan dingin. Saya keluarkan jaket Rei—yang juga pemberian sahabat—yang sudah menemani petualangan-petualangan saya sejak 2013 itu.

Ampuh. Dingin terasa tak semenjadi-jadi tadi.

Lucunya, semesta seolah tak membiarkan saya sendirian itu malam. Saya berkenalan dengan seorang guru muda yang sedang menunggu anak dan istrinya tiba dari Hue.

“Ini aku sudah menunggu sekitar lima jam,” ujarnya tergeleng-geleng sambil melihat jam tangannya. Tapi penantiannya segera berakhir. Sekitar satu jam kemudian, istri dan anaknya datang dan ketiganya pulang menuju kehangatan rumah.

Jam setengah empat pagi, saya sudah sangat mengantuk. Mata ini perlu dipejamkan barang sebentar. Ransel dan tas lipat saya angkat lalu saya bawa ke ruang tunggu Stasiun Da Nang. Saya bebatkan tali-tali tas ke tangan. Selang sebentar, kedua kelopak mata saya menutup dan saya jatuh ke dalam tidur tanpa mimpi.

33 comments

  1. Titik Asa · Februari 8

    Ceritanya gado-gado dari lokasi yang tetap…
    Menariknya itu, bisa berkenalan dan ngobrol dg orang-orang yang baru ketemu. Masih ingat saja detailnya Mas?

    Nah jadi selanjutnya dari stasiun Da Nang saya mau diajak jalan-jalan kemana lagi nih di Vietnam ini Mas?

    Salam pagi hujan dari Sukabumi.

    • morishige · Februari 8

      Ini mesti buka-buka buku catatan kecil sih, Pak. Detail-detail dan hal-hal menarik saya tulis di buku catatan supaya nggak kelupaan.

      Setelah ini perjalanan makin ke selatan, Pak. 😀
      Terima kasih sudah mampir lagi. 😀

      • Titik Asa · Februari 8

        Ternyata rajin mencatat di buku juga Mas…

        Lanjutkan cerita perjalanannya Mas, saya intip terus.

        Salam,

      • morishige · Februari 8

        Terima kasih, Pak Asa 😀

    • travelingpersecond · Februari 9

      Komen pertama nih di blogmu mas!
      Kejebak banjir begitu kalau bukan orang yg terbiasa ngelayap bakal kepanikan.
      Untung ada asbak…..
      Lebih untung lagi punya sendal jepit mas……
      Mantab nih cerita.

      • morishige · Februari 9

        Makasih sudah mampir, Mas.

        Hahaha… itulah penyelamatnya: asbak (juga rokok untuk diplomasi) dan sandal jepit. 😀

  2. Nasirullah Sitam · Februari 8

    Memang perjalanan itu penuh liku. Kadang kejutan yang tak terelakkan. Ada yang kehilangan gopro, ada yang filenya tiba-tiba terformat dan yang lainnya. Kudu ekstra hati-hati saat di negara orang. Oya, semacam hal yang menyenangkan jika bertemu sesama pejalan. Saling bertukar cerita ataupun informasi daripada dengan warga lokal yang kadang lebih pasif

    • morishige · Februari 8

      Iya, Mas. Lika-liku yang ngasih banyak banget pelajaran baru.

      Ketemu pejalan-pejalan lain itu bikin saya sadar bahwa dunia bukan cuma dihuni komunitas kita saja. Kadang kaget sendiri mendapati bahwa manusia punya lebih banyak persamaan ketimbang perbedaan.

      Hahaha… Iya juga, sih. Tapi kayaknya itu fenomena di mana-mana. Pertama, kendala bahasa. Kedua, buat mereka itu cuma kehidupan sehari-hari…

      • Nasirullah Sitam · Februari 10

        Dan karena pengalaman itu kita menjadi lebih peka. Terlebih jika di kampung halaman sendiri dan bertemu dengan pejalan dari manca yang sepertinya butuh bantuan. Minmal bantuan informasi

      • morishige · Februari 10

        Kita jadi terlatih berganti peran ya, Mas? Kadang kita dalam posisi pejalan, kadang kita dalam posisi orang lokal.

  3. CREAMENO · Februari 9

    Seru yaaa, dalam satu tempat bisa ketemu sekian banyak orang dengan cerita yang berbeda-beda 😀 masnya pun bisa ingat semua ceritanyaaaa, kalau saya sudah banyak yang lupa :))

    By the way, nggak sabar mau baca cerita soal Hoi An karena saya nggak sempat banyak jalan di sana. Waktu itu sebentar saja karena panasss hehehe. Pasti lebih seru karena cerita-cerita mas sangat menyenangkan jadi berasa saya ikut jalan-jalan 😀

    • morishige · Februari 9

      Iya, Mbak. Seru banget ketemu orang pas jalan-jalan. Ada-ada aja cerita yang mereka bawa.

      Oh ya? Kemarin itu saya lihat di postingan Mbaknya, foto-foto Hoi An pas panas keren-keren… Warna kuning bangunannya keluar

  4. Firsty Chrysant · Februari 9

    Aiih, seru perjalannnya… Nunggu bnjir ketemu orang datang dan pergi hehe

  5. Daeng Ipul · Februari 9

    wah saya jadi benar-benar tertarik ketika membaca nama Eddie Vedder! Hahaha
    ada fotonya nda?

    BTW, menarik sekali membaca kisah-kisah kecil yang bisa dieksplorasi sejauh ini. Padahal cuma menunggu loh, tapi bisa jadi bahan cerita yang menarik. Suka!

    • morishige · Februari 9

      Sayang sekali nggak ada, Daeng. Andai lebih lama lagi nongkrong bareng dia mungkin bisa foto-foto buat kenang-kenangan. Tapi kawan itu Eddie Vedder versi senior, yang sudah gondrong dan melebar dan senang genjreng-genjreng ukulele, bukan Eddie Vedder yang tampil di MTV Unplugged dulu. Hahaha…

      Terima kasih, Daeng. Meskipun cuma kepingan-kepingan, rasa-rasanya nanti bisa tak baca-baca lagi untuk nostalgia. 😀

  6. ellafitria · Februari 9

    Duh ya sama, umur 21 tahun masih kuliah tp ya nggak berpengaruh apa2. Wong kuliahku cm kupu2, kampus kos main, kampus kos main. Btw memang melakukan perjalanan byk kejutan2 tak terduga ya, kaya bermalam di stasiun ini. Hhh

    • morishige · Februari 9

      Hehehe.

      Iya, Mbak. Nggak bisa ditebak kadang-kadang. 😀

  7. Agus warteg · Februari 9

    Enaknya kalo melancong kadang ketemu orang dari negara lain lalu jadi ngobrol ya kang, seperti ketemu dua turis asal Amerika itu, yang ternyata kakek neneknya dari Vietnam juga.

    Ternyata bukan cuma Indonesia, di Vietnam juga banjir ya.

    • morishige · Februari 10

      Iya, Mas Agus. Ternyata banjir nggak cuma di Indonesia. Hehehe 😀

  8. Zam · Februari 10

    banjirnya cukup merepotkan juga, sampai mengganggu perjalanan kereta.. 😅

    • morishige · Februari 10

      Iya, Mas. Tapi untungnya nggak lama surutnya. 😀

  9. Anggie · Februari 10

    Eh, hampir 1 tahun tinggal di Vietnam (Hai Phong) baru kali ini saya liat kalau Vietnam bisa banjir juga xD

    • morishige · Februari 10

      Kalau nggak salah, dulu waktu pertama kali ke Saigon, saya pernah ngalamin Pham Ngu Lao tergenang. Untungnya cuma sebatas trotoar, nggak tinggi-tinggi amat hahaha….

  10. Indonesia Hebat · Februari 11

    Kok ada foto asbak penguinnya Mas 🙂
    Jadi penasaran bentuk asbaknya itu yang bisa bikin satu cerita panjang di blog. Hehehehe

    • morishige · Februari 12

      Pokoknya kayak salah satu personel Penguins of Madagascar 😀

  11. bara anggara · Februari 12

    itulah salah satu keseruan backpacking.. bisa dpt cerita nano-nano.. bisa cepet akrab dg sesama backpacker, bertukar cerita dan blablablaaa.. nikmatilah sebelum menua, sebelum nanti menjadi tourist haha..

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Februari 13

      Hahaha…. Terima kasih sudah mampir 😀

  12. ainunisnaeni · Maret 16

    membaca post post soal vietnam ini seneng dan agak sedih, sedihnya karena minggu depan harusnya berangkat balik lagi ke HCMC dan explore vietnam keseluruhan, tapi karena corona merelakan semuanya hangus. menghibur diri dengan baca baca blog ini saja

    • morishige · Maret 16

      Bersabar sebentar, Ainun. Mudah-mudahan wabah ini segera berakhir dan dirimu bisa bertualang kembali ke Vietnam.

      Terima kasih sudah baca-baca dan meninggalkan komentar. 🙂

  13. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  14. Ping-balik: Liebster Award! | jejaka petualang

Tinggalkan Balasan ke Daeng Ipul Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s