Rintik-rintik Hujan di Hoi An

Bagian paling mengesalkan dalam perjalanan adalah ketika kau harus melanjutkan perjalanan sementara badanmu masih letih.

Pagi itu saya kembali merasakannya.

Setelah dua jam tidur tanpa mimpi, saya bangun. Stasiun Da Nang lengang. Jam dinding memberi tahu saya bahwa saat itu masih setengah enam pagi. Banjir sudah surut tapi langit masih kelabu. Dingin masih mengambang di udara. Dan pakaian saya masih lembap.

Dengan tas kecil di depan dan ransel gunung di belakang, saya mengucapkan selamat tinggal pada Stasiun Da Nang dan berjalan ke arah perempatan Le Duan. Tak seperti semalam ketika aspal ditindih banjir selutut, langkah saya pagi itu ringan sangat. Sepeda motor dan mobil sekarang kembali bisa melaju kencang dan perahu karet yang kemarin dipakai untuk main-main oleh entah siapa sekarang tertambat entah di mana.

Saya ambil posisi dekat plang perhentian xe buyt 01 kemarin. Tapi, lama menunggu, bus yang saya nantikan tak kunjung datang. Yang datang malah dua orang perempuan—ibu dan anak sepertinya—yang juga hendak menumpang bus.

Perempuan yang lebih kecil bertanya soal tujuan saya. Hoi An, saya bilang.

“Haltenya…. di sebelah… kanan,” ujarnya patah-patah sambil menunjuk ke arah belakang saya. Tapi kendala bahasa membuatnya tak bisa lebih banyak berbagi informasi. Saya juga belum bersemangat untuk menggali lebih dalam. Akhirnya saya hanya berdiri saja di sana sampai mereka berlalu naik xe buyt nomor 12.

Ketika saya sedang termenung, dari arah perempatan datang seorang bapak bermantel yang tanpa mukadimah apa pun bilang ke saya bahwa tempat menunggu bus ke Hoi An adalah dua halte dari sini. Ah, sepagi ini saya kembali bertemu orang-orang baik.

Saya berterima kasih padanya lalu mulai berjalan menelusuri trotoar. Gerimis kembali turun namun saya tak mau repot-repot membuka payung. Maka badan saya sedikit basah ketika tiba di halte.

Selang sebentar, sebuah xe buyt berhenti.

“Hoi An?” saya bertanya pada sang supir.

Tanpa menjawab, ia menyuruh saya naik.

“Tak ada bus ke Hoi An di sini,” ujarnya ketika saya sudah di kabin.

Ia membawa saya menelusuri jalanan Da Nang yang pagi itu lengang. Beberapa halte berikutnya, ia menginjak pedal rem dan memberi kode bahwa di tempat itulah saya harus turun.

“Berapa saya harus membayar kepada anda?” tanya saya sambil merogoh saku.

Free!” teriaknya bersemangat. Tak hanya sekali, tapi dua kali, “Free!”

Dua kali ia bilang “free.” Pasti saya tak salah dengar. Setelah mengucapkan terima kasih padanya, saya meloncat turun.

Begitu kaki saya menapak di lantai halte, xe buyt 01, yang dari kemarin hanya berseliweran dalam angan-angan, langsung menampakkan diri. Segera saya naik ke kabin dan duduk di kursi belakang supir.

Lega sekali rasanya. Saya tempelkan punggung ke sandaran kursi empuk itu. Selepas jembatan megah, saya tertidur, lalu bangun, lalu tidur lagi, dan kembali bangun saat bus masuk sebuah terminal kecil—yang bahkan lebih kecil dari Terminal Purbalingga—di pinggiran Hoi An. Ternyata Da Nang-Hoi An memang dekat sekali, hanya terpaut sekitar satu jam perjalanan, hampir sama dengan waktu tempuh Jogja-Solo.

Saya tepis tawaran-tawaran “ojek” terminal lalu menyeberang ke sebuah warung pho yang ramai. Uap mengepul-ngepul setiap kali penyaji membuka panci besar berisi kuah. Lahap sekali makan saya pagi itu. Mi, potongan-potongan daging, kuah, dan lalapan segar, termasuk daun mint, habis tak sampai sepuluh menit.

Dengan perut penuh, saya menerobos tirai rintik-rintik menuju Hoi An. Kemarin saat di Hue dan Stasiun Da Nang saya sempat berselancar dengan internet gratisan mencari hostel menarik di Hoi An. Tempatnya, seingat saya, di pinggiran Jalan Cua Dai. Tapi, karena ponsel saya tak tersambung ke internet itu pagi, saya tak bisa men-direct diri dengan peta. Yang bisa saya lakukan hanya menelusuri Cua Dai dan mencari plang nama hostel itu.

Dari jalan besar, saya pun berbelok ke selatan menelusuri jalanan kecil yang sekilas tampak seperti ruas jalan sekitar Monkey Forest, Ubud. Hujan masih rintik-rintik. Selepas kantor pos, hujan menjadi deras dan saya terpaksa mengembangkan payung. Belum ada tanda soal keberadaan hostel yang saya cari.

Dua perempatan dari kantor pos, ketika hujan sudah ditembak-tembak Zeus dengan petir, saya balik kanan. Mencari hostel lain rasa-rasanya akan lebih bijaksana.

Malam pertama di Hoi An

Semesta menuntun saya ke hostel bernama unik, Leo Leo Cucumber. Letaknya menyempil sekali, di letter L sebuah gang di Jalan Thai Phien. Manajernya, Neo, menyambut saya di meja resepsionis kemudian mengantarkan saya ke kamar dormitori nyaman di lantai tiga.

Sesiang itu, di kamar berisi delapan dipan tunggal itu hanya ada tiga penghuni termasuk saya. Saya pilih tempat tidur dekat jendela, saya sandarkan tas ke dinding, ke kamar mandi sebentar, lalu saya lanjutkan tidur yang tertunda. Nyenyak sekali tidur saya. Ketika sepenuhnya bangun, menjelang matahari terbenam, saya merasa segar sekali, seolah-olah peristiwa bermalam di Da Nang sudah lewat seabad silam.

Perut saya lapar lagi. Tentu ini bukan persoalan. Ini Hoi An, ibu kota kuliner Vietnam bagian tengah—atau seluruh Vietnam malah. Yang perlu saya lakukan hanya—dan akhirnya memang benar-benar saya lakukan—pergi ke luar hostel, berkeliaran tanpa arah, dan duduk di salah satu bangku plastik warung makan di pinggir jalan.

Selepas makan, saya berkeliaran di kota tua. Lampion warna-warni yang terpasang di tali melintang di atas jalanan kecil. Kanan-kiri adalah bangunan-bangunan tua bercat kuning kecokelatan yang sebagian kafe atau restoran dan sisanya toko suvenir. Suasana itu mengingatkan saya pada Jonker Street di pinggir Sungai Melaka.

Saya ikut arus turis, yang sama sekali tidak deras, ke pinggir sungai. Dari jauh, saya sudah bisa melihat perahu-perahu berlampion lalu lalang membawa turis menelusuri Sungai Thu Bon. Sayup-sayup, dari sebuah bar di seberang sana terdengar alunan lagu Pink Floyd, “Wish You Were Here,” versi akustik.

Menyenangkan sekali pasti duduk-duduk di sana, mendengarkan nomor-nomor akustik sambil menyesap suasana kota tua dan sebotol bir dingin. Saya segera mengambil langkah besar-besar dan bergegas ke sana. Tapi malam itu saya tak bisa cepat-cepat. Bantaran Sungai Thu Bon yang membelah Hoi An, salah satu Venezia dari Timur itu, banjir.

Ada apa dengan saya dan banjir?

Semula saya bersikeras pada diri sendiri untuk jalan pelan-pelan di aspal yang terendam banjir yang sedikit lebih tinggi dari trotoar itu. Tapi, lama-lama saya kesal sendiri dengan mode slow motion itu. Lalu saya melipir ke pinggir dan berjalan di trotoar. Sesekali saya menguji keseimbangan dengan meloncati pembatas atau undakan beton di depan bangunan-bangunan tua Hoi An. Ketika akhirnya tiba di ujung jalan, dekat jembatan klasik itu, saya bisa memahami bagaimana rasanya memencet tombol bel di ujung tantangan pamungkas Benteng Takeshi.

Dari sana, saya berjalan melewati jembatan dan turis-turis yang sedang mengabadikan kenangan lalu belok kiri ke arah bar itu. “Wish You Were Here” sudah rampung. Saya duduk di salah satu bangku di bawah kanopi dan memesan sebotol besar Larue, bir legendaris made in Vietnam yang dijuluki “Tiger Beer” oleh tentara Amerika Serikat yang dikirim ke wilayah Da Nang saat Perang Vietnam.

Lagu demi lagu terus dinyanyikan. Kebanyakan nomor lawas. Saya ikut bernyanyi saat duo yang ternyata berasal dari Filipina itu mengalunkan tembang nostalgia John Denver, “Take Me Home, Country Roads.” Seperti biasa, setiap kali menyanyikan lagu itu, saya teringat kuliah lapangan akhir semester dua kuliah dulu. Dalam itinerary, Pak Nukman yang waktu itu masih M.Sc. menulis “Take Me Home, Country Roads” dalam keterangan jadwal kepulangan.

Padahal, sebelas tahun sudah berlalu sejak saat itu.

“Starbucks pertama di Italia” dan obrolan-obrolan lainnya di pantri

“Omelette?” ujar seorang perempuan muda yang bertugas menyiapkan sarapan di lantai paling atas Leo Leo. Pagi itu cerah. Bulir-bulir air yang masih menempel di meja barangkali sedang meronta-ronta dipaksa berubah wujud jadi gas.

Saya mengangguk, lalu duduk menunggu omelet selesai dimasak. Sarapan saya pun datang. Omelet lezat itu saya makan dengan beberapa potongan baguette. Makanan habis, saya ke pantri untuk menuangkan secangkir kopi, lalu kembali ke meja makan di luar.

Ketika sedang asyik menyesap kopi dan menghisap tembakau, pelancong yang tidur di dipan samping saya datang membawa secangkir kopi. Kami berkenalan. Namanya M. Dari Italia. Logatnya tidak sekental Don Vito Corleone.

Ia ternyata seorang barista di Milan. Sudah sejak November ia liburan dan berencana akan meneruskan sampai Januari. Pacarnya ikut menemani sampai Laos namun sekarang ia sudah kembali berjalan sendirian. Dari Hoi An, ia akan ke Mui Ne yang tenar karena bentang alam aeolian-nya. Busnya akan berangkat nanti sore.

Kopi di cangkir saya sudah surut. Melihat itu, M menawarkan, “Do you want some more coffee?”

“Oh, ya. Kuambil sendiri saja.”

Let me,” ujarnya. Ia lalu terkekeh, “Lagipula ‘kan aku yang kerja jadi barista.”

Selepas M kembali dengan dua cangkir kopi, kami lanjut mengobrol. Ia cerita soal kehidupan sebagai barista—merangkap bartender, sebab ia lebih sering ngeshift malam—lalu lanjut tentang suasana kafe dan bar di Italia. Di sana, ia bercerita, kafe dan bar kecil tak punya fasilitas Wi-Fi dan orang-orang lebih banyak mengobrol ketimbang melihat ponsel. Ia heran sendiri melihat kafe-kafe kecil di Vietnam yang sebagian besar punya sambungan Wi-Fi. Tradisi mengobrol sambil minum kopi masih kuat di Italia.

“Dan, kau tahu,” ujar M. “Starbucks baru buka cabang pertamanya di Italia beberapa bulan lalu. Dan itu di Milan.”

Lalu topik bergeser ke film-film Mafia. (Obrolan ketika minum kopi memang sangat dinamis.) The Godfather jadi salah satu topik, tentunya. “Mafia adalah masalah di Italia,” M berpendapat. “Cerita the Godfather cuma romantisisasi. Mungkin tahun 30-an dulu seperti itu, tapi sekarang tidak.”

Sebagai usaha mengubah cara pandang saya terhadap mafia, M bahkan merekomendasikan beberapa film—yang sampai sekarang belum saya cari.

Ketika matahari sudah semakin tinggi, kami beranjak dari areal pantri. Di kamar, M lanjut mengemas ranselnya sementara saya bersiap-siap hendak menelusuri Hoi An. Sebelum saya meninggalkan kamar, kami berjabat tangan dan mendoakan keberuntungan masing-masing.

Siang itu Hoi An cerah. Dengan latar belakang langit biru dan awan, bangunan-bangunan di kota tua tampak lebih tua dan megah. Tapi, cerah hanya sebentar. Begitu matahari condong sedikit, langit kembali mendung dan hujan kembali turun. Untungnya saya sudah di hostel ketika ber-gazillion galon air tumpah dari langit Hoi An.

Sorenya, kamar itu kedatangan penghuni baru. Namanya J. Ia jauh-jauh datang dari Swiss demi merasakan sensasi naik motor dari Vietnam bagian selatan ke utara. Mengikuti jejak tiga paman gila di Top Gear Special, barangkali. Dengan bersemangat, ia menceritakan bagian terseru dalam perjalanannya, ketika ia terjebak banjir dan terpaksa bermalam di sebuah kota kecil sebelum Hoi An.

“Kotanya terkepung banjir. Aku harus mencoba tujuh jalur (untuk) keluar dari kota itu sebelum menemukan yang pas,” ia berkisah. “(Waktu bertanya soal jalur) Orang hotel cuma bilang, ‘No good. No good.’

Malamnya, saya kembali ke tepian Sungai Thu Bon untuk menonton pertandingan final Piala AFF leg pertama antara Vietnam dan Malaysia. Hujan deras. Laga berakhir imbang 2-2. Usai pertandingan, suporter Vietnam tumpah ruah di jalanan Hoi An. Mereka konvoi naik sepeda motor, meniup-niup terompet, mengibarkan si Bintang Emas, dan mengayun-ayunkan suar merah.

30 comments

  1. Nasirullah Sitam · Februari 13

    Ini menarik, terlepas dari banyaknya orang baik di manapun tempatnya.
    Tradisi mengopi di Italia menarik untuk diulas. Sebab, sangat berbeda dengan di Asia Tenggara dan sekitarnya (mungkin), karena tiap kedai kopi hampir dipastikan ada jaringan internet. Saya hanya menemukan dua kedai kopi di Jogja yang tidak ada menyediakan internet. Tentu harapannya bisa berbincang santa, meski tetap ada yang bermain gawai.

    • morishige · Februari 13

      Dulu saya pernah studi literatur pas merunut sejarah kedatangan kopi ke nusantara. Di salah satu paper, penulisnya menganggap Renaisans malah “berawal” dari kafe-kafe di Italia, tempat pemikir ngumpul dan berbagi ide. Jadi sejarahnya udah panjang dan kulturnya tertanam lebih kuat, Mas. Saya kurang tahu, sih, tapi kayaknya sama kuatnya dengan tradisi ngopi di kedai-kedai kopi di Belitung hehehe…

  2. Agus Warteg · Februari 13

    Wah, ternyata Hoi An dan Da Nang itu dekat sekali ya, cuma sejam saja. Hoi An sendiri pusat kuliner di seluruh Vietnam, pasti masakannya beragam dan enak-enak.

    Setelah Hoi An, akan kemana lagi kang?? 😀😀😀

    • morishige · Februari 13

      Deket banget, Mas Agus. Kalau naik kendaraan. Jalan kaki 2 hari lah hahaha…

      Lanjut ke kota lain, Mas Agus… hehehehe 😀 😀 😀

      • Agus warteg · Februari 13

        Owh, cewek disana ramah tidak kang sama turis asing gitu? 😁

      • morishige · Februari 14

        Ramah kok, Mas Agus 😀

    • Agus warteg · Februari 14

      Kalo sama cewek Bandung ramahan mana kang? Lebih cakep mana hahaha…🤣🤣🤣

      • morishige · Februari 14

        Kalau itu, Mas Agus kayaknya lebih tau deh… Keknya Desy yang sering Mas Agus ceritain lebih cakep deh 😀

      • agus warteg · Februari 15

        Bwahaha, kayaknya Desy bisa guling-guling saking senengnya..😂

      • morishige · Februari 15

        Hahaha… Pokoknya selalu ditunggu cerita-cerita Desy dkk. yang lain, Mas Agus. 😀

      • Agus warteg · Februari 17

        Ok kang, sekarang ada di Indonesia apa masih di Vietnam atau negara lainnya?

      • morishige · Februari 17

        Sudah di tanah air, Mas. 😀

  3. rezkypratama · Februari 13

    mantapu sekaleeeeee

  4. Titik Asa · Februari 14

    Tambah asyik nih Mas baca kisah perjalanannya sampai ada lagu Take Me Home Country Road segala,,,
    Eh Mas, ada becak juga ya disana? Pernah nyoba naik beca keliling gak disana? Mungkin ada ceritanya nanti ya…
    Oke Mas ditunggu lanjutan kisah di Vietnam nya.

    Salam,

    • morishige · Februari 14

      Ada, Pak. Sebutannya “cyclo.” Sayang sekali saya nggak nyobain, Pak. Mungkin lain kali. Hehehe…

      Terima kasih sudah mengikuti cerita ini, Pak Asa. 😀

  5. CREAMENO · Februari 15

    Saya mau banget balik lagi ke Hoi An, salah satu alasannya karena mau foto area rivernya 😀 hehehehe sesuatu yang saya lewatkan waktu itu karena alasan panas 😦

    Dan saya baru tau lho, kalau starbucks pertama di Italia ke luar belum lama, interesting jugaaaa 😀

    • morishige · Februari 15

      Siang kalau cerah memang panas banget sih ya, Mbak. 😀 Sore-sore baru enak cuacanya, dan cahaya mataharinya juga lebih pas buat foto-foto. Semoga lain kali ke sana lagi, ya. 😀

      Saya juga kaget pas denger ceritanya. Ternyata Starbucks pertama di Italia itu baru buka September 2018. Padahal yang menginspirasi Starbucks itu kultur espresso-nya Italia. 😀

  6. satriasalju · Februari 15

    Seru juga perjalanannya mas dikota Vietnam dari menerjang banjir hingga berkeliling ke kota tua yang punya nilai sejarah menarik

    Dan sampai bertemu turis Italiano..Mantap lanjut mas. 👍👍

    • morishige · Februari 15

      Terima kasih sudah mampir dan baca-baca tulisan di blog ini, Mas. 😀

      • Agus warteg · Februari 17

        Kalo kang satria sukanya rongdo apa cewek bule kang?? 😁

  7. Indonesia Hebat · Februari 17

    Kirain diakhir cerita bakal ikut konvoi dan dipalakin bensin lagi mas 😛

    • morishige · Februari 17

      Cukup sekali saja yang seperti itu. Hehehe…
      Terima kasih sudah mampir lagi, Greatnesia. 😀

  8. Zam · Februari 19

    kayanya di Eropa, tradisi ngopi dan ngobrol tidak seperti di Indonesia. orang ngopi ya ngopi, apalagi di Italia. datang, ngopi, pergi. kalo mau ngobrol, biasanya sambil ngebir. tentunya tidak dengan ponsel. aku juga sekarang jarang liat ponsel kalo ngobrol dan bertemu teman.

    • morishige · Februari 19

      Berarti kopi dan bir memang punya fungsi yang spesifik di sana ya, Kang?

      Waktu nongkrong sekarang-sekarang ini, kadang jadi rindu masa-masa nongkrong saat ponsel masih cuma buat nelpon dan SMS. Di tempat nongkrong, semua jadi fokus buat “bersama,” entah ngobrol atau main capsa. Hahaha

  9. Daeng Ipul · Maret 3

    saya suka dengan tuturnya yang rapi dan detail.
    ini teknisnya bagaimana ya? semata-mata mengandalkan ingatan atau mencatat hal kecil?
    misalnya jalur-jalur itu loh dan suasana ketika berjalan. apakah itu ditulis juga di buku catatan atau benar-benar mengandalkan ingatan saja?

    • morishige · Maret 3

      Terima kasih, Daeng. 😀

      Sebisa mungkin sekali sehari saya mencatat cerita perjalanan di buku catatan kecil, Daeng, misalnya suasana tempat yang dilewati, orang-orang yang saya temui dan percakapan-percakapan yang paling berkesan, kejadian-kejadian, dll. Untuk menolong, saya juga buka-buka arsip foto dan klip-klip pendek untuk merekoleksi detail-detail soal suasana dan kronologi. Catatan sama arsip visual dan audiovisual membantu sekali rasanya, Daeng, untuk melengkapi keping-keping cerita.

  10. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  11. ainunisnaeni · 1 Day Ago

    kalau udah capek jalannnn trus tidur, rasanya fresh dan lanjut explore lagi malah jadi semangat
    kondisi bis nya mirip kayak bis AKAS di jawa sini, bis ekonomi biasanya kayak gitu modelnya
    suka sama hoi an, khas bangunanya, lampionnya dan kota ini yg waktu bikin plan vietnam lalu harus dimasukin, semepet mepetnya di kota lain, paling nggak harus mampir hoi an,

    • morishige · 2 Hours Ago

      Lumayan, Mbak, meskipun cuma beberapa jam. 🙂

      Iya, mirip bus-bus kecilnya AKAS. 🙂

      Kota tuanya Hoi An ini sekilas mirip-mirip Melaka, Mbak Ainun. Tapi warnanya kebanyakan kuning dan sebagian besar dijadiin toko dan kafe. Enak banget buat istirahat kota ini. 🙂

Tinggalkan Balasan ke Agus Warteg Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s