Perjalanan ke Dalat

Pagi ketiga di Hoi An, saya kembali menelusuri tepian Sungai Thu Bon. Jalanan berlapis aspal itu menghitam, basah, sebab sepanjang malam diguyur hujan. Cahaya yang terpancar dari langit kelabu bikin bangunan-bangunan tua itu tampak sendu, sesendu nakhoda-nakhoda perahu yang sedang menantikan penumpang pertama mereka hari itu.

Hoi An tak lagi menjadi kota mimpi. Ia sudah takluk pada kenyataan, menyerah pada keseharian.

Saya langkahkan kaki ke timur melewati pasar tradisional penuh lapak kaki lima dan pikulan-pikulan tanpa tuan yang diletakkan sekenanya di jalanan, memapas warga Hoi An yang sedang menghidupi kesehariannya, lalu berbelok ke utara dan tiba di kantor pos.

Hoi An, Vietnam

Aneh, kantor pos itu tak punya kartu pos.

Kembali saya ke kota tua lewat jalan yang sama, kemudian mampir ke sebuah lapak suvenir untuk memilih-milih kartu. Ada prangko di sana, tapi tak ada tempat enak untuk menulis.

Tapi pasti ada tempat enak untuk menulis di kawasan kota tua ini.

Di pinggir sungai, saya singgah di sebuah restoran kecil. Segelas draft beer saya pesan sebagai teman untuk menuliskan kenangan. Penerima pesanan saya adalah lansia, begitu pula yang mengantarkan.

Pada sesapan kesekian, kartu pos itu sudah penuh tulisan. Prangko sudah tertempel di pojok atas kanan dan kartu itu sudah siap untuk dikirimkan. Bir yang tersisa saya habiskan sembari menggoreskan pulpen di lembaran-lembaran buku catatan kecil yang masih terisi setengah.

Bir habis. Sungkan berlama-lama di sana, saya rogoh kantong celana demi mencari lembaran-lembaran dong. Bir itu saya tebus dengan uang pas, lunas. Bergegas saya melewati jalan yang sama, pasar yang sama, untuk mengirimkan kartu pos di tempat yang sama.

Aman sudah kartu pos itu dalam bis surat.

Tak berminat lagi melakukan entah-apa di kota itu, saya jalan ke arah hostel. Waktunya berkemas dan mengucapkan selamat tinggal pada Hoi An.

Tragedi Tupperware

Saya sedang duduk di sofa lobi Leo Leo Cucumber, menunggu jemputan dari armada bus, saat menyadari sesuatu: rupa Neo sang manajer Leo Leo Cucumber mirip Rizky Febian.

Kalau sempat bertandang ke Indonesia, begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta bisa jadi ia akan dikerubuti banyak orang. “Boleh minta selfie, Kak?” “Boleh minta tanda tangan, Kak?” Tak terbayangkan juga muka heran mereka mendapati bahwa Rizky Febian itu terbengong-bengong dan merespons dalam bahasa Vietnam.

Pantas saat check-in kemarin lusa saya merasa familiar dengan wajahnya.

Semula saya kira ia pendiam. Tapi, begitu saya membuka pembicaraan dengan, “Hostel ini cuma punya kamar dormitori?” kami mengobrol lumayan panjang. Usianya ternyata belum sampai seperempat abad. Namun di usianya yang masih belia, ia sudah memendam ambisi untuk memiliki hotel sendiri suatu saat. Leo Leo Cucumber ia anggap sebagai laboratorium, bukan sekadar tempat memburuh.

Ternyata Neo-lah yang punya ide menambahkan kata “cucumber” di depan “leo leo.”

“’Leo leo’ itu artinya menjalar, seperti timun,” ia bercerita dengan bahasa Inggris logat Amerika. Fasih sekali. Ia adalah pengelola hotel dengan bahasa Inggris paling fasih yang saya jumpai selama berkelana di Vietnam kali ini.

Barangkali mimpinya tinggal sejengkal lagi.

Obrolan kami dipotong kedatangan seorang tamu baru. Cewek Kaukasian dengan ransel besar berwarna gelap di punggung. Ia menyambut tamu baru itu dengan penuh harga diri—meskipun pejalan itu merengut saja—lalu mengantarkannya ke salah satu kamar di lantai atas.

Saya mengisi waktu dengan mengisi Tupperware di wastafel dengan air keran yang bisa diminum. Untuk ukuran hostel, amenitas Leo Leo memang lumayan. Selain air keran yang bisa diminum, saya dapat selimut, handuk, dan hanger. Kamar mandinya juga dilengkapi dengan sabun dan sampo.

Neo tiba dari atas. Kami sempat terkekeh seperti dua kawan lama menimpali sebuah pembicaraan lelaki. Tak berapa lama, jemputan saya tiba. Neo membuka pintu kaca transparan dan menyambut sang penjemput. Saya bergegas memakai sepatu, mengucapkan sampai jumpa dan berterima kasih pada Neo, lalu diboncengi naik sepeda motor menuju bus.

Motor tua itu melaju kencang di jalanan kecil Hoi An. Rambut panjang saya berkibar ditiup angin. Itu kali kedua saya melaju naik motor tanpa helm di aspal Vietnam.

Saya diturunkan di kantor perwakilan bus. Ketika hendak melapor, saya mesti melewati tantangan berupa ransel dan koper besar yang teronggok di teras. Calon penumpang yang sebagian besar falang duduk di kursi tunggu atau bergerombol di pojokan. Lepas melapor, saya mencari tempat duduk dekat tempat bus terparkir.

“Dalat?” seorang awak bus bertanya. Saya mengangguk.

“Ransel… ransel,” ujar sang awak bus meminta saya memasukkan ransel ke bagasi. Sebelum menaruh tas itu di bagasi, saya keluarkan dulu yang perlu-perlu. Jaket, kamera, Tupperware…. Tupperware mana? Saya cek saku di kanan dan kiri ransel, tempat biasanya saya menaruh botol minum. Tak ada.

Tupperware ketinggalan di meja tamu Leo Leo Cucumber. Dan itu adalah Tupperware kesayangan Nyonya.

Menuju Dalat

Sleeper bus itu berangkat tepat waktu. Saya duduk—atau berbaring—di tingkat atas. Tiba-tiba saya teringat perjalanan bus dari Dien Bien Phu ke Sapa, yang rasanya sudah lama sekali meskipun sebenarnya baru lewat sekitar dua minggu.

Berbaring di tempat empuk bikin saya segera tertidur. Begitu terbangun, saya mendapati bus itu sedang meluncur di jalan bebas hambatan yang lurus dan mulus. Beberapa kali mata saya melihat bangunan-bangunan kolosal dengan arsitektur futuristik sedang dibangun. Lalu saya kembali tidur dan membuka mata ketika matahari sudah menampakkan diri.

Mendekati Dalat, lanskap berganti menjadi pegunungan hijau. Pinus-pinus runcing terhampar sejauh mata memandang, lalu kebun kopi mahaluas. Jalan mengecil sebab bus sudah keluar tol.

Di komune bernama Da Sar, saya mendapati pemandangan ajaib. Permukaan perbukitan ditutupi oleh sesuatu. Bukan: banyak sesuatu. Saya perlu mengernyitkan wajah untuk melihatnya. Apa yang semula tampak seperti modul-modul futuristik tempat para astronot berupaya melakukan terraforming di planet antah berantah itu ternyata adalah ratusan—atau mungkin ribuan, entahlah—”rumah kaca” dari plastik tempat para petani menanam sayur dan buah agar tahan dari gempuran hama dan angin kencang.

Jam 9 pagi, setelah melaju sekitar 15 jam, bus itu pun memasuki kota Dalat. Lepas mengelilingi Danau Xuan Huong, bus itu berbelok ke jalan kecil tak jauh dari Pasar Dalat lalu berhenti di depan sebuah penginapan.

Dalat dingin sekali ternyata, meskipun tidak sedingin Sapa di Vietnam bagian utara sana.

Lapar sekali saya pagi itu. Setelah meregangkan badan, saya melangkahkan kaki melusuri jalanan Dalat yang berbukit-berlurah untuk mencari warung pho. Ketemu. Pho di warung itu enak sekali. Kuahnya lebih kental ketimbang kuah pho-pho lain yang pernah saya coba sebelumnya.

Dari warung pho itu, berbekal peta Dalat hasil tangkapan layar ponsel, saya jalan kaki mencari hostel yang direkomendasikan J, pejalan Swiss yang sekamar dengan saya di Hoi An. Hostel itu belum terindeks oleh Maps. Bekal saya hanya sebuah titik yang kemarin ditunjuk J. Lokasinya agak jauh dari pusat keramaian Dalat.

Sudah ditakdirkan semesta bahwa saya gagal menemukannya.

54 comments

  1. Titik Asa · Februari 17

    Lihat pasar tradisionalnya mirip ya dengan pasar tradisional disini. Eh tapi koq mendingan rapi deh dibanding pasar tradisional di kota Sukabumi mah yang becek berlumpur kalau musim hujan.
    Oh iya Mas, kalau melancong lagi ke luar negeri, kirim saya kartu pos ya dari sana. Entah sudah “berapa abad” saya tak lagi pernah terima surat pos atau kantor pusat dari teman. Serba digital begini koq rasanya ada yang hilang deh…

    Lanjutkan kisah selanjutnya. Saya selalu menantikannya Mas.

    Salam dari Sukabumi,

    • morishige · Februari 17

      Hampir sama sebenarnya, Pak. Kebetulan saja Hoi An kota yang pariwisatanya semarak, jadi pasarnya juga ikut berbenah. Seperti Beringharjo barangkali kalau di Indonesia. 😀

      Dengan senang hati, Pak. Nanti kalau melancong lagi, Pak Asa akan saya kabari… Hehehe…

      Terima kasih sudah kembali mampir, Pak Asa 😀

      • Titik Asa · Februari 18

        Semoga cepat melancong lagi dan saya nantikan kartu pos dari sana. Terima kasih sebelumnya.

        Salam,

      • morishige · Februari 18

        Terima kasih juga, Pak Asa 😀

  2. Nasirullah Sitam · Februari 18

    Unik lihat ada kursi kecil, pikulan dan sedikit barang datangan di jalanan tanpa ada tuannya. Jangan-jangan yang punya sedang asyik mengopi ahhahahahha.

    • morishige · Februari 18

      Bakul yang jualan dengan pikulan memang masih jamak dijumpai di jalanan-jalanan Vietnam, Mas Sitam. Bahkan di kota-kota besar kayak Hanoi dan Ho Chi Minh City. Jadi, gambar-gambar dalam kartu pos Vietnam kebanyakan masih relevan sama zaman sekarang. 😀

      Jangan-jangan ya… hehehehe…

  3. travelingpersecond · Februari 18

    Tupperware itu merana di Leo Leo menunggu dijemput si empunya….tak sudi dia harus menungging menuangkan air ke mulut orang lain yg telah memperbudaknya.

    • morishige · Februari 18

      Hahahaha… Sepertinya memang kode itu ya. Nggak kebayang aja kalau suatu saat saya ke sana dan Tupperware itu masih disimpan di hostel 😀

    • Daeng Ipul · Maret 15

      Waduh… bagaimana nasib tupperware itu? Hahaha
      Jangan-jangan jadi nda boleh pulang kalau tupperware-nya nda ketemu.

      • morishige · Maret 15

        Tupperware-nya sudah memulai hidup baru di negeri orang, Daeng. 😀 Untungnya boleh pulang meskipun tanpa Tupperware itu. 😀

  4. vickycahyagi · Februari 18

    Kunjungan perdana ke blog ini. Travelling experience yang luar biasa. Memang di Vietnam atau Thailand juga wajah2 kayak Rizky Febian itu pasaran hehe…

    • morishige · Februari 18

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Mas Vicky. Iya, Mas. Muka sama, bahasanya doang yang beda. 😀

      • agus warteg · Februari 18

        Kayaknya orang Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Myanmar mirip kali ya karena masih indo China??

      • morishige · Februari 19

        Benar, Mas. Mirip-mirip semua. Yang bedain cuma bahasa. 😀

  5. agus warteg · Februari 18

    Tupperware nya ternyata ketinggalan di meja tamu Leo Leo Cucumber. Dan itu adalah Tupperware kesayangan Nyonya. Terus gimana, nyonya sudah tahu belum? 😂😂😂

    • morishige · Februari 19

      Sudah, Mas Agus. Hehehehe

      • Indonesia Hebat · Februari 19
      • morishige · Februari 19

        Hahahaha… Untungnya Nyonya lebih sayang sama saya ketimbang sama Tupperware, Greatnesia. 😀 Jadi nggak ada samurai yang terhunus kayak di kartunnya Tahilalats itu. 😀

      • agus warteg · Februari 19

        Iya lah, masa lebih sayang Tupperware dari pada suami, kalo lebih sayang Tupperware mendingan kawin lagi kang.😂😂😂

        Di Jawa juga banyak kang petani yang menggunakan rumah kaca untuk menahan hama dan juga angin. Kalo malam hari, sawah juga jadi terang karena banyak lampu untuk menarik serangga agar tidak mengganggu tanaman. Waktu pertama lihat aku juga aneh..😄

      • morishige · Februari 19

        Wahahaha… 😀

        Wih, kayaknya perlu itu sekali-sekali trekking malam-malam di sawah terus potret-potret rumah kacanya. 😀

        Kayaknya mirip-mirip juga sih, Mas Agus. Tapi yang ini kebangetan banyaknya. Perbukitan itu sampai ketutupan sama rumah kaca. Dempet-dempetan gitu. Kayaknya satu lahan kecil ditutupin semua itu hahaha..

      • agus warteg · Februari 22

        Iya, kalo lewat tol trans Jawa maka di daerah Cirebon dan Brebes banyak tuh rumah kacanya. Kadang aku juga heran, kok banyak banget, tapi mungkin biar panen optimal kali.

      • morishige · Februari 22

        Wah bisa tuh kapan-kapan melipir sana. 😀

      • agus warteg · Februari 24

        Bagaimana dengan kecepatan internet di Vietnam bang, apa lebih cepat dari Indonesia selama perjalanan disana?

      • morishige · Februari 25

        Kebetulan saya nggak beli sim card, Mas Agus. Jadi nggak ngerasain pakai internet mobile. Tapi koneksi wifi di hostel cepat kok. 😀

      • Agus warteg · Maret 1

        Jadi cuma ngandelin sinyal WiFi aja ya selama di Vietnam.😲

      • morishige · Maret 2

        Iya, Mas Agus. 😀

  6. Ella · Februari 19

    pas Nyonya tahu Tupperwarenya ilang kamu kena semprot nggak, Mas? wkwkwk
    untung aku blm pernah ngilangin tupperware, adekku yg pernah. kena semprot ibu berhari2, wkwkwk

    • morishige · Februari 19

      Enggak, Mbak. Aman terkendali. Hehehe…

      Tapi entah kenapa Tupperware ini kesannya mulia sekali, ya. Dibanding tumblr Starbucks aja kayaknya “kasta” Tupperware lebih tinggi. 😀

      • agus warteg · Februari 19

        Tupperware itu kesayangan emak emak sama Mahmud Abas kang.😁😀😄

      • morishige · Februari 19

        Hahaha… Mahmud Abas yang di sana itu, Mas Agus? 😀

    • agus warteg · Februari 22

      Iya, kenal kan sama Mahmud Abas? 😁

      • morishige · Februari 22

        Yang anaknya baru satu itu, Mas Agus? Hahaha

      • Mas Agus · Februari 22

        Betul sekali..🤣😂🤣

  7. Eris · Februari 19

    No, not the tupperware!!!!

    • morishige · Februari 19

      I was prepared to get two life sentences…

  8. Nyonya · Februari 19

    Pakbosku, tahukah kamu bahwa di Seturan itu ada tempat terima gadai laptop, hp, kamera, dan… Tupperware?
    Jadi lewat kejadian Tupperware hilang ini (dan diikuti beberapa Tupperwareku yang lain) saya sudah kehilangan aset yang bisa digadaikan di Seturan sonooo wkwkwk

    • morishige · Februari 19

      Apa?!

      • Nyonya · Februari 19

        pembahasan tupperware itu topik serius nomer dua tahu!

  9. Anggie · Februari 20

    Waaah, kehilangan tupperware? Siap-siap dengan vonis yang cukup berat. Semangat yaa ;D

    • morishige · Februari 20

      Iya. 😀 Mestinya saya lebih hati-hati dengan benda sakral seperti Tupperware. 😀

  10. CREAMENO · Februari 21

    Nama hostelnya unik juga, Leo Leo Cucumber hehehehe. Kenapa Cucumber ya? Kenapa nggak Eggplant atau Carrot sekalian? 😆 ohya by the way, jangan lupa belikan tupperware yang baru untuk nyonya, daripada jadi perang mahabarata 😂

    By the way, saya belum pernah ke Dalat jadi ingin tau cerita perjalanan di sana. Kalau memang mirip Sa Pa, kemungkinan besar akan jadi wishlist saya kalau ke Vietnam di waktu mendatang 😍

    • morishige · Februari 22

      Iya, unik banget. Mungkin karena terong dan wortel bukan tanaman menjalar, soalnya Neo cerita kalau leo leo artinya menjalar (merambat). 😀

      Masalah Tupperware sudah beres, Mbak… hehehe

      Sapa dan Dalat sama-sama dingin dan punya danau, Mbak. Tapi secara penampilan Dalat nggak sespektakuler Sapa yang dikelilingi pegunungan tinggi.

  11. satriasalju · Februari 22

    Unik juga Dalat vietnam dan kalau dari lingkungan sepintas tidak jauh beda dengan Indonesia.😊😊

    Tataan kotanya juga tidak terlalu semeraut apa mungkin ini hanya di dalat saja.😊😊

    • morishige · Februari 23

      Yang di foto masih di Hoi An, Mas Satria. Tapi Vietnam memang nggak jauh beda sih suasananya dari Indonesia. 😀

  12. Zam · Februari 23

    sialan! jadi ingat botol Tupperware yang tertinggal di bus saat ke Praha! 😩

    • morishige · Februari 23

      Bwahahaha! Lalu gimana, Kang? Memantik prahara kah? 😀

      • Zam · Februari 24

        yaa gimana lagi.. nyesek sih.. 😆 Praha cantik!

      • morishige · Februari 24

        Tupperware ini agak-agak magis emang auranya hahahaha 😀

      • Zam · Februari 24

        astagaa.. prahara kok ya kukira Praha.. 😆

      • morishige · Februari 24

        😀

  13. Chichi · Februari 25

    Tupperware oh tupperware.. dulu semasa SD saya kelupaan tupperware berkali kali, akhirnya dibeliin oleh ibuku lion star

    • morishige · Februari 25

      Hehehe… Paling aman memang Lion Star. Kalau hilang ruginya nggak banyak-banyak amat ya, Mbak.

      Btw, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 😀

  14. ysalma · Maret 8

    Kalau sampai Rezky Febian membaca blog ini, dia akan minta bukti kemiripannya dgn yg di Leo Leo Cucumber Vietnam sana 😀 .
    Tupper ware sepertinya mencari tuan baru, mungkin?
    Pasarnya hampir mirip sama yg ada di Indonesia ya.

    • morishige · Maret 8

      Mungkin nanti dia bisa mampir sendiri ke Hoi An dan bertemu langsung, Mbak. 😀

      Semestinya Tupperware itu saya rantai ke ransel biar nggak ketinggalan. 😀

      Iya, Mbak. Mirip banget sama di Indonesia. Kalau diambil close-up, mungkin bakal susah menentukan apakah itu di Vietnam atau di Indonesia.

Tinggalkan Balasan ke morishige Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s