Semalam di Dalat

Seandainya bersikeras mencari hostel yang direkomendasikan J, barangkali saya akan berakhir di jalanan itu malam.

Maka saya biarkan insting menuntun entah ke mana. Masih pagi. Saya masih punya banyak waktu untuk menemukan akomodasi yang sesuai. Kaki saya pun kemudian melangkah ringan menelusuri jalanan Dalat, lewat pertokoan, jalan yang mendaki-menurun, memapas bangunan-bangunan tua, sampai akhirnya tiba di pusat keramaian Dalat: bundaran dekat Cho Da Lat (Pasar Dalat).

Tunggu!

Rasa-rasanya saya familiar dengan ini; kota dengan jalanan mendaki menurun, jejeran pertokoan, tangga-tangga beton, pohon-pohon cemara, rumah-rumah tua, taman, udara segar, langit kelabu, dingin, orang-orang berjaket tebal yang lalu-lalang di jalanan.

Bukittinggi. Tak salah lagi, kota Dalat mirip Bukittinggi. Pastilah Bung Hatta merasa seperti pulang kampung ke Luhak Agam begitu menginjakkan kaki di kota bunga itu tanggal 11 Agustus 1945 silam, bersama Bung Karno dan Radjiman Wedyodiningrat, untuk menjemput janji kemerdekaan.

Dari bundaran Pasar Dalat, saya naik tangga beton ke arah jejeran ruko sempit namun menjulang di atas sana. Dari ujung tangga, di dinding sebuah kafe bernama Gau’s, saya melihat sebuah plang yang sungguh bikin saya girang: “DORM-ROOM AVAILABLE.”

Lewat pintu kecil saya masuk ke Gau’s Cafe. Di dalam hangat juga ternyata. Kehangatan itu barangkali yang bikin beberapa orang pelanggan betah duduk lama-lama di dalam kafe kecil bergaya industrial itu. Sulit sekali memang untuk melepas kehangatan kafe hanya untuk kembali diselimuti hawa dingin Dalat.

Oleh salah seorang pelayan kafe, saya diarahkan ke meja kasir yang berfungsi ganda sebagai meja resepsionis hostel.

“Seratus ribu dong,” jelas pria di belakang meja kasir. Tapi tak ada sarapan. Tak masalah.

Saya mengangguk setuju. Dari bawah, saya dibawa berputar-putar naik tangga ke entah lantai lima atau enam sampai tiba di sebuah balkon yang dari sana saya bisa melihat bundaran Pasar Dalat yang dihiasi patung dan taman bunga. Di utara, menara bergaya art deco di sudut pusat penjualan barang-barang elektronik tegak menjulang seolah-olah memamerkan kepercayaan diri untuk menantang zaman. Di selatan, riak-riak kecil bergerak-gerak di permukaan Danau Xuan Huong yang berwarna perak.

Saya baru sadar bahwa angin bertiup lumayan kencang ketika sudah meringkuk dalam kehangatan bilik. Tirai dipan sudah saya tutup, namun pintu kamar belum. Dibiarkan menganga tanpa ganjalan, lawang kayu yang setengahnya kaca itu menutup sendiri disapu sang bayu. Bunyinya menggelegar.

Mengelilingi Danau Xuan Huong

Sore menjelang matahari terbenam, saya turun dari kamar, meniti tangga Gau’s, lalu melangkah ke luar. Kawasan sekitar bundaran Pasar Dalat sekarang makin semarak. Lapak-lapak penjual makanan dan kerajinan sudah mulai memamerkan dagangan. Asap yang menguarkan aroma menggoda mengepul di segala penjuru.

Tapi masih terlalu dini bagi saya untuk makan. Dari Pasar Dalat, saya bergerak ke danau. Xuan Huong tidak terlalu besar—setidaknya tidak seluas Ho Tay di Hanoi. Tanpa pikir panjang, saya mulai berjalan mengitari danau yang—belakangan saya tahu—sering muncul di kartu pos itu.

Pinggiran danau itu lumayan semarak. Di beberapa titik, para pemancing amatir berkumpul, bersaing untuk mendapatkan ikan paling banyak. Di pinggir jalan, tak sedikit pedagang bergerobak mangkal mencari rezeki, terutama di dekat klaster-klaster kursi taman. Trotoar yang mengitari danau itu lumayan terawat karena—sepertinya—selalu dilewati entah pejalan kaki atau pelari sore. Sesekali saya ikut berlari untuk menghalau dingin yang makin menjadi-jadi.

Dari ujung timur danau, saya terpana melihat betapa semaraknya kota Dalat di malam hari—juga terheran-heran mendapati bahwa sisi lain kota, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari pasar, seolah pasrah saja dijatuhi selimut gelap.

Di pematang danau dekat Taman Bunga, saya sempat duduk sebentar di bangku taman dan menghisap tembakau. Nyala sebatang rokok ternyata tak berdaya melawan hawa dingin yang kian menusuk.

Dan saya mulai lapar.

Ada semacam pujasera di dekat bundaran Pasar Dalat. Dengan bersemangat, saya jalan ke sana untuk makan malam. Tapi, begitu melihat harga yang tertera di menu, saya jadi tak bernafsu untuk makan di sana. Pujasera di tempat-tempat wisata ternyata sama saja. Harga makanannya sengaja dipasang lebih tinggi ketimbang di tempat-tempat “biasa.”

Dengan perut keroncongan, saya berjalan ke arah yang berlawanan dari pusat keramaian. Dari kantor pos, saya terus jalan kaki melipir taman bunga, lalu masuk ke gang kecil penuh warung makan. Tapi, tampaknya yang dijual di sana hanya cao lao dan makanan-makanan berbahan mi, sementara saya sedang rindu nasi.

Di ujung gang, saya menyeberang ke selatan lalu menemukan restoran com ga roti, makanan favorit saya sejak terjebak banjir di Da Nang.

Dengan bersemangat, saya menghampiri restoran itu dan memesan seporsi com ga roti. Harganya sedikit lebih mahal memang ketimbang com ga roti di Da Nang atau Hoi An. Tapi porsinya lebih banyak, aroma nasi kuningnya lebih tajam seperti nasi goreng dengan rempah yang sengaja dikurangi sedikit, dan sayap ayamnya lebih besar.

Begitu seporsi com ga roti itu habis, saya keluarkan 45 ribu dong untuk menebus makan malam istimewa itu. Dari sana, saya kembali ke Gau’s Cafe. Di beranda dormitori, saya tarik sebuah kursi kayu ke dekat pagar pembatas, lalu duduk di sana sambil menghisap tembakau. Ritsleting jaket Rei yang sudah compang-camping itu saya rapatkan ke atas untuk menahan angin dingin.

Sepertinya saya hanya akan sanggup melewatkan satu malam di Dalat.

Di beranda Kantor Pos Dalat

Keesokan harinya saya check-out dari hostel sekitar jam 11 siang. Dari Gau’s, saya jalan kaki ke Dalat Open Tours untuk membeli tiket bus ke Saigon. Sengaja saya pilih Dalat Open Tours untuk menghindari menumpang The Sinh Tourist yang tenar karena sering disebut-sebut dalam catatan para pejalan itu. Lucunya, Dalat Open Tours ternyata malah memesankan saya tiket bus The Sinh Tourist!

“Kami tidak punya fasilitas penjemputan,” ujar petugas Dalat Open Tours. Saya mesti pergi ke kantor The Sinh Tourist secara mandiri. Sebagai panduan, sang petugas memberikan selembar peta kemudian menandai posisi The Sinh Tourist.

Dari Dalat Open Tours, saya mampir ke sebuah restoran com ga roti untuk sarapan. Seorang lelaki tua—barangkali kerabat dari sang pemilik restoran—tampak gembira sekali menyambut saya pagi itu. Padahal saya bukan pelanggan pertama itu hari. Begitu seporsi com ga roti terhidang di meja, saya langsung melahapnya sampai habis. Lapar sekali saya.

Saya sengaja berlama-lama di restoran itu. Saya perlu kegiatan untuk menghabiskan waktu, sebab bus menuju Ho Chi Minh City baru akan berangkat nanti malam sekira jam sembilan, sekitar sembilan-sepuluh jam lagi.

Tapi sungkan juga terlalu lama di sana. Sehabis sebatang rokok, saya mulai jalan kaki tak tentu arah keliling Dalat yang dingin.

Sebenarnya saya ingin sekali duduk dan membuka laptop di sebuah kafe di pinggir danau yang kemarin saya lihat. Tapi, melihat desain eksteriornya yang intimidatif, saya urungkan niat ke sana. Alih-alih, saya membeli sebungkus Thang Long lalu duduk di pinggir danau membaca On the Road.

Dingin sekali! Sebagaimana Sal Paradise yang menggigil di bak truk kala wara-wiri melintasi daratan Amerika Serikat, sebentar-sebentar badan saya gemetar merespons hawa dingin.

Agak sore sedikit, saya kembali jalan kaki. Sebelum beranjak ke Saigon, saya ingin mengirimkan kartu pos terlebih dahulu ke Tanah Air. Setiba di kantor pos, para petugas tampak sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Etalase berisi kartu pos terkunci rapat—dan gambarnya tak ada yang menarik.

Mungkin saya bisa mencari sebuah art shop dan membeli kartu pos di sana?

Sialnya, tak satu art shop pun saya jumpai di sekitar Pasar Dalat. Akhirnya saya kembali ke kantor pos dan membeli kartu pos di sana. Ternyata mereka tak menjual secara eceran. Saya mesti membeli satu paket berisi enam kartu pos yang gambarnya tampak membosankan! Tapi mau bagaimana lagi, cuma itu yang tersedia.

Sehabis mengirimkan kartu pos, saya kembali berkeliaran di sekitar Pasar Dalat. Tapi, udara dingin akhirnya memaksa saya untuk mencari selter; saya kembali ke kantor pos dan duduk di tangga beranda depan. Beruntung sekali rasanya, sebab begitu saya tiba di beranda kantor pos hujan rintik-rintik mulai turun.

Saya duduk di sana beberapa jam. Kegiatan saya selama di beranda kantor pos lumayan bervariasi—membaca, termenung, “mencuri” sinyal Wi-Fi dari toko ponsel di sebelah, termenung, membaca….

Sekitar jam tujuh malam, saya mampir ke salah satu lapak bebakaran untuk membeli setusuk sate cumi-cumi. Sambal pedasnya membuat saya sejenak melupakan dingin.

Lalu, dengan perut penuh cumi-cumi dan sambal pedas, saya jalan kaki menuju kantor The Sinh Tourist. Tempat itu masih sepi. Jam sembilan malam, jadwal keberangkatan bus, memang masih lebih dari sembilan puluh menit lagi. Setelah menukarkan tiket dengan boarding pass, saya mampir ke sebuah warung untuk membeli segelas plastik es kopi susu.

Bukan main pekatnya.

47 comments

  1. nyonyasepatu · Februari 25

    Cakep juga ya Dalat

  2. CREAMENO · Februari 25

    Dingin banget ya di Dalat, mas? 😀

    By the way saya baru tau kalau Presiden dan Wakil Presiden kita pernah ke Dalat sebelum kemerdekaan hehe, sepertinya saya tidur waktu belajar sejarah di sekolah. Tapi sekarang jadi belajar lagi setelah baca postnya mas 😆 dan menurut saya, dari foto di atas memang mirip sama Bukit Tinggi, saya ingat pernah lihat kumpulan tukang sayur berjejer di salah satu pasar nggak jauh dari area Jam Gadang (lupa nama pasarnya) 😂 dan kenangan masa kecil itu cukup memorable untuk saya sampai sekarang 😁✌

    • morishige · Februari 26

      Waktu itu dingin banget, Mbak. Mungkin kombinasi dari letaknya yang di pegunungan dan badai yang waktu itu nyerang wilayah tengah Vietnam. 😀

      Dalat ini nama kota di Vietnam yang pertama kali saya dengar, ya dari pelajaran sejarah itu. Hehehe. Baru pas belajar peta buta, tahu ada kota lain kayak Ho Chi Minh City dan Hanoi. 😀

      Iya, suasananya mirip Pasa Ateh di Bukittinggi. 😀

  3. Titik Asa · Februari 26

    Mas, kalau disini, kira-kira Dalat itu sebesar dan seramai kota apa ya? Yogya?
    Saya suka tertarik lihat pasar tradisional, itu benar mirip pasar tradisional disini ya. Banyak jual sayuran, model ngegelar dagangannya, mirip banget.
    Dan itu bebakaran, seperti ada bakso tusuk begitu ya? Itu harga setusuk berapa Mas kalau di rupiahkan?
    Satu lagi, warna kantor pos sama ya dengan warna pos disini, oranye.
    Di tunggu lanjutan ceritanya Mas.

    Salam,

    • morishige · Februari 26

      Kalau di sini, suasananya lebih lengang sedikit ketimbang Malang, Pak. Yogya malah lebih ramai ketimbang Dalat. (Mungkin mirip-mirip Yogya saat lebaran.)

      Mirip banget, Pak Asa. Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, suasana pasarnya mirip.

      Iya, Pak. Bebakarannya macam-macam. Seafood biasanya lebih mahal ketimbang makanan darat. Setusuk cumi-cumi yang saya beli itu kalau nggak salah harganya 30 rb dong, sekitar 15-17 rb rupiah. Kalau bebakaran, paling murah dan paling banyak variasinya itu Thailand, Pak Asa.

      Saya juga nggak menduga ternyata warna kantor posnya sama. Andai saja nggak ada tulisan Vietnam Pos, pasti saya mengira sedang berada di kantor pos besar. 😀

      Terima kasih sudah kembali ke blog ini, Pak Asa. 😀

      • Titik Asa · Februari 29

        Saya jadi bebakaran harganya mencapai 15 – 17 rb rupiah, kalau sekali makan disana berapa ya Mas? Nah, kalau di kita kan makan yang murah itu terkenalnya makan di warteg, saat ini 10 rb sekali makan masih dapat sama telor bulet atau telor dadar.

        Selalu pesan saya Mas, kalau jalan-jalan lagi ke luar negeri, mampir di kantor pos, kirim kartu pos untuk saya di Sukabumi ya…hehehe

        Salam dari Sukabumi,

      • morishige · Februari 29

        Bebakaran ini, karena biasanya di tempat-tempat turistik, memang agak mahal, Pak. Seafood terutama. Kalau makan biasa, seporsi Pho (di kota besar terutama) harganya sekitar 25ribu-30ribu dong (Rp15 ribu-18ribu). Com ga roti (kayak penyetan ayam tapi nasinya digoreng pakai sedikit rempah kayak nasi hainan), sekitar 30ribu dong (Rp18 ribu). Tapi pas mblusuk, saya pernah makan com ga roti 15 ribu dong (Rp9 ribu). Untuk sarapan, kalau nggak makan nasi, bisa makan banh mi (roti isi sayur dan telur/daging) yang harganya sekitar 10 ribu-15 ribu dong (Rp6 ribu-9 ribu).

        Hehehe… Siap, Pak. Akan selalu diingat. 😀

      • Titik Asa · Februari 29

        Wah itu ada yang dapat Rp 9 ribu ya Mas.
        Ini seperti sarapan pagi di warteg ketika saya masih kerja di Bekasi. Nasi, telor dadar & goreng tempe masih dapat sekitar 8 – 10 ribuan.

        Salam,

      • morishige · Maret 1

        Iya, Pak. Sebenarnya pilihannya memang banyak banget. Tapi, pas liburan, mungkin nggak semua orang rela mblusuk cuma buat nyari sarapan ke tempat-tempat yang nggak turistik.

  4. Nasirullah Sitam · Februari 26

    Menunggu babak baru The Sinh Tourist, hahahhhahaha.
    Apakah memang seperti yang sering diceritakan, atau ada cerita berbeda.

    Lihat foto makanan di paling bawah, jadi ingat sunmor.

    • morishige · Februari 26

      Hehehe. The Sinh Tourist masih jadi kekuatan hegemoni kayaknya di dunia transportasi (pariwisata) Vietnam, Mas. 😀

      Iya, mirip bebakaran di sunmor, Mas. 😀

  5. Ranger Kimi · Februari 26

    Aku sudah pernah ke Dalat dan aku suka aku suka! Tempatnya sejuk. Sayang banget aku makannya di tempat yang mihil dan gak mencicipi jajanan kaki lima. Aku menyesalnya di situ sih. Hiks.

    • morishige · Februari 26

      Tahan sama dinginnya, Mbak Kimi? 😀

      Btw, mungkin mencicipi jajanan kaki lima di Dalat bisa jadi alasan untuk ke sana lagi. 😀

      • Ranger Kimi · Februari 28

        Pengen sih ke sana lagi, tapi aku untuk sekarang lebih mendahulukan ke tempat yang belum pernah aku datangi. Tapi, jalannya nanti-nanti deh. Masih rame dengan virus corona ini. Seram ih.

      • morishige · Februari 28

        Iya sih, Mbak Kimi. Serem banget ini corona. Waktunya buat santuy-santuy dulu kayaknya.

  6. agus warteg · Februari 26

    Wow, Da Lat ternyata menarik juga ya, apalagi kotanya mirip Bukittinggi.

    Nama danaunya Xuan Huong, kok mirip nama China ya, mungkin karena dekat China kali ya.

    Ngomong ngomong kenapa selalu beli kartu pos sih, apa buat kenang-kenangan ya kang?

    • morishige · Februari 27

      Di Dalat banyak taman bunga, Mas Agus. Kota kembangnya Vietnam gitu ceritanya.

      Iya, Mas Agus. Dulu Vietnam pernah jadi koloni China.

      Bener, Mas. Buat kenang-kenangan. Hehehe…

      • Agus warteg · Februari 27

        Berarti mirip sama kota Bandung kali ya yang dijuluki kota kembang. Kota kembang karena wanita Bandung terkenal cantik cantik.🤣🤣🤣

        Itu beli kartu pos berarti sekalian beli perangko juga ya kang.😃

      • morishige · Februari 28

        Hehehe… Mungkin juga ya, Mas. Tapi kembang beneran emang banyak banget di Dalat.

        Tentu, Mas Agus. Kartu pos nggak bakal berdaya tanpa prangko 😀

      • Agus warteg · Maret 1

        Setusuk sate cumi cumi itu berapa harganya kang? Terus kalo disana bayarnya pakai dolar apa mata uang lokal? Kayaknya mata uang Dong kali ya. Lihat gambarnya kayaknya banyak banget tuh tusuk sate, bikin pengin aja.😂

      • morishige · Maret 2

        Sekitar 15-17 ribu kalau dirupiahkan, Mas Agus. Di Vietnam, kecuali sekali-sekali untuk membayar tempat menginap, pakai dong, Mas Agus. Kalau makan di restoran, warung, atau lapak pinggir jalan, mereka cuma menerima dong. Sate-sateannya memang macam-macam di sana. 😀

  7. Indonesia Hebat · Februari 27

    Ada apakah dengan The Sinh Tourist? Jadi penasaran. Soalnya baru kali ini ngikutin cerita perjalanan ke vietnam 😀

    • morishige · Februari 28

      Karena paling tenar, pasti bakalan rame yang naik The Sinh Tourist, Greatnesia. Pengenny nyobain armada yang lebih sepi aja. Hehehe 😀

  8. Anggie · Februari 28

    Duh, jadi kangen sate cumi-cumi khas Viet :9

    • morishige · Februari 29

      Rasanya istimewa banget memang ya 😀

  9. travelingpersecond · Februari 29

    Anda benar mas, memilih penginapan itu perkara selera bukan perkara rekomendasi seseorang.
    Lebih berujung di urusan budget sih akhirnya….hahahaha.
    Orang koar koar peginapannya rekomended dan bagus. Lah iya harganya juga bunyi.
    Kita mah 30 rebu asal merem…hahahah, sadis.

    • morishige · Maret 1

      Kayaknya kapan-kapan saya mesti cobain beli SIM card lokal, nih. Kalau ada internet, nggak terlalu susah nyari penginapannya. 😀 Tapi, keknya saya bakal mikir panjang sebelum beli SIM card. Salah satu hal yang saya senang dari pergi ke tempat-tempat jauh itu detox teknologinya, Mas. 😀

      • travelingpersecond · Maret 1

        Pada zaman keemasan saya jadi backpacker….saya cm berbekal Kompas dan peta mas…kayak pramuka…hahaha. aseekk tuh detox tech,mas

      • morishige · Maret 2

        Kalau saya pakai GPS, Mas, alias guidance penduduk setempat hehehehe… 😀 Ya, minimal pikiran bisa tenang lah Mas karena nggak terpapar berita-berita yang bikin ketar-ketir. 😀

  10. Zam · Maret 1

    aku dulu ikut tur ke Cuchi Tunnel pake Sinh Tourist, karena itu operator travel paling disarankan dan layanannya paling oke, sih. kadang ikut tur gini jatuhnya bisa lebih murah daripada ketengan, namun ya ada kompensasi lain yang harus dikorbankan, misal jadi ngga bisa santai dan ngikut jadwal tur. juga dimampirkan ke pabrik kerajinan kulit telur dulu. 😆

    • morishige · Maret 2

      Bener sih, Kang. Apalagi kalau turnya ke tempat-tempat yang transportasi umumnya masih belum oke. 😀 Wah, ternyata sama kayak tur-tur di Jogja, ya, Kang? Dibawa ke toko batik atau ke pabrik bakpia. 😀

      Kalau buat transportasi antarkota, yang bikin kurang sreg itu karena di dalamnya bus isinya cuma turis aja. “Camaraderie”-nya kurang terbentuk hahaha… Naik transportasi lokal, ada semacam perasaan senasib sepenanggungan 😀

      • Zam · Maret 3

        belum minat hitch hiking? ada anak blogger lama yang traveling sendirian ke Eropa sendirian jalur darat dari Asia. kalo sempet ke toko buku cari buku Kelana. nama penulisnya: Famega Syavira.

      • morishige · Maret 3

        Minat banget, Kang Zam! 😀 Keknya kalau ke region-region mahal (atau mblusuk banget) pengen coba deh, Mas–atau terpaksa ntar. 😀 Btw, kalau di Eropa sebenernya masih bisa nggak sih Mas hitchhking ala-ala EuroTrip gitu? 😀

        Wedyan! Dari Asia sampai Eropa?! Oke, Kang. Kalau ke Togamas tak cari bukunya. Hehehe…

  11. Rifan Jusuf · Maret 3

    Saya tipe orang yang gampang anxious kalo solo traveling dan kurang berani booking penginapan di hari H, selalu reservasi dahulu paling tidak di HP. mau nantang lah kapan2 tinggal pergi aja bisa booking di hari H. Sensasi mencari pasti seru..haha..

    Hostelnya 100rb dong, dirupahin skitar 60ribuan, wah murah-murah yaa. Semoga bisa menemukan harga serupa di sekitaran Ho Chi Minh nanti. Semoga Outbreaknya reda September nanti,,

    Saya juga suka berkirim postcard kalau lagi berkelana, untuk sobat dan keluarga. kadang ngirim buat diri sendiri walau kadang lama nyampenya.

    orang2 Vietnam lancar berbahasa inggris kah, mas?

    • morishige · Maret 3

      Sebenarnya saya juga sering khawatir, sih, Mas. Bakal dapet penginapan apa enggak, ya, di kota yang bakal dituju? Tapi untungnya riset kecil-kecilan sebelum jalan selalu ngasih informasi soal kawasan backpacker atau sekurang-kurangnya daerah yang banyak penginapannya. Sejauh ini belum pernah nggak dapet tempat menginap, sih. 😀 (Cuma kadang terpaksa tidur di stasiun, terminal, atau mojok di pinggir jalan.) Dari bandara, stasiun, atau terminal, biasanya saya ke kawasan-kawasan itu dulu–kalau nggak kemalaman. Monggo dicoba, Mas. Pasti menyenangkan baca ceritanya di blognya Mas Rifan. 😀

      Iya, Mas. Banyak akomodasi murah di Vietnam. Dan di setiap kota yang saya lewati ada hostel. Paling murah, kalau nggak salah, 80rb dong. 😀

      Hahaha… Sama, Mas. Postcard untuk diri sendiri malah nggak pernah ada yang nyampe. 😀

      Secara umum, hampir sama kayak di Indonesia sih, Mas. Pelajar, mahasiswa, profesional, atau orang-orang yang kerja di bidang pariwisata bahasa Inggrisnya lumayan, beberapa yang saya jumpai bahkan fasih banget.

      Semoga September nanti outbreak-nya mereda dan Mas Rifan bisa mampir ke Ho Chi Minh City. 😀

  12. ysalma · Maret 5

    Saya dulunya mengaku suka pelajaran sejarah, ternyata itu hanya sebatas pengakuan saja, sebab setelah membaca tulisan ini saya baru mengetahui kalau Bung Hatta dan Soekarno pernah ke Dalat sebelum kemerdekaan. Dan saat di sana Bung Hatta seakan diingatkan dengan kampung halamannya.
    Terima kasih untuk cerita perjalanannya yg kaya informasi.

    Btw, salut, masih mengirim kartu pos setiap singgah di satu tempat? Umumnya traveller sekarang ngirim foto di socmed sebagai penanda kota/negara yg disinggahinya.

    • morishige · Maret 5

      Saya suka ngantuk sih Mbak sebenarnya pas pelajaran sejarah. Apalagi pas disuruh menghafal tahun tanpa diberikan informasi yang menarik soal konteksnya. Tapi, entah kenapa senang dengan narasi-narasi kecilnya, misalnya tentang Bung Karno dan Bung Hatta yang ke Dalat ini, atau tentang lokasi-lokasi pembuangan para pejuang dulu di penjuru Indonesia. 😀 Terima kasih pula sudah membacanya, Mbak.

      Masih, Mbak. Saya juga heran sih sebenarnya kenapa saya masih mengirim kartu pos. Mungkin karena pernah lama di zaman analog, jadi saya masih condong ke sesuatu yang “tangible,” yang bisa disentuh, kayak kartu pos dan buku fisik. Mbak Salma apakah dulu gemar berkirim kartu pos juga? Atau malah juga masih senang sampai sekarang?

      • ysalma · Maret 5

        Saya sekarang mulai lupa dengan pelajaran sejarah dulu, mungkin yaitu tadi krn hanya bersifat hafalan.

        Saya dulu seringnya berkirim surat krn anak perantauan jg. Kalau jaman SMA sy nitip surat utk orangtua bukan lewat pos maalah tapi nitip sm sopir bus yg rutenya ke kampung. E tapi nyampe ke alamat lho,,Kapan2 harus dituliskan jg di blog kayaknya.
        Kalau kartu pos, terakhir nerima kayaknya skitar tahun 97-an.

      • morishige · Maret 6

        Andai saja dulu pendekatan belajar sejarahnya itu event-event menarik, pasti dari kecil saya bakal memandang sejarah dengan cara yang berbeda. Untungnya senang baca. Jadi, beberapa hari setelah “buku paket” Sejarah dibeli, biasanya saya sudah rampung baca meskipun nggak memahaminya sepenuhnya. 😀

        Sampai sekarang kayaknya mengirim surat/paket lewat bus masih lebih cepat ketimbang ekspedisi, Mbak. Apalagi kalau busnya terkenal banter.

        Wah, sudah lama juga. Pascareformasi surat menyurat kayaknya memang sudah nggak begitu semarak. Waktu sekolah, paling saya mengirim surat cuma kalau ada tugas dari guru Bahasa Indonesia.

        Pasti menyenangkan sekali baca soal surat menyurat di masa lalu. Ditunggu postingannya, Mbak. 😀

  13. bara anggara · Maret 6

    kalau dari deskripsi yang ditulis, iya, memang mirip2 Bukittinggi,, terlebih ketika melihat foto pasar itu. Ah!! saya kira itu pasar bawah di simpang dekat rumah masa kecil Bung Hatta.. 😀 ..

    wah masih suka berkirim kartu pos.. ntah kapan terakhir saya bergelut dengan kartu pos dan tetek bengeknya,, rasanya sudah belasan tahun lalu, ketika SD.

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Maret 7

      Ada pula sisi kotanya yang mirip pertokoan antara Jam Gadang dan Bonbin, Bung. Cuma anginnya saja yang lebih kencang ketimbang di Bukittinggi.

      Iya. Mulai kirim-kirim kartu pos sejak 2013 kalau nggak salah. Entah kenapa ketemu asyiknya dan jadi keterusan. 😀

      Terima kasih sudah mampir kembali, Bung Bara. 😀

  14. kutukamus · Maret 11

    Biaya makan malam nyaris separo dari tarif menginap itu berarti harga kamarnya yang amat bersaingkah? BTW, lihat fotonya, saya baru kepikiran, kapan ya terakhir kali lihat ‘mobil kantor pos’ di sini.. 🙂

    • morishige · Maret 11

      Sewa kamar dorm-nya sangat bersaing. Hanya saya memang kita mesti sela berbagi kamar dengan 4, 8, 10, atau 16 orang. 🙂

      Wah, saya juga tiba-tiba sadar bahwa sudah lupa kapan terakhir melihat mobil kantor pos. Akhir-akhir ini lebih sering berpapasan sama mobil ekspedisi swasta. 🙂

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Kutukamus. Salam kenal 🙂

  15. Daeng Ipul · Maret 17

    Wah sate cumi? Bagaimana rasanya itu? Hahaha.
    Sebagai penggemar cumi, saya penasaran.

    • morishige · Maret 18

      Enak banget dikunyah, Daeng. Tambah segar karena dimakan pakai sambal yang lumayan pedas. 😀

  16. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang

Tinggalkan Balasan ke CREAMENO Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s