Saigon

Bus akhirnya datang. Sekira jam 9 malam, pintu-pintu bagasi dibuka. Setengah jam kemudian, bus The Sinh Tourist itu mulai melaju, meninggalkan Danau Xuan Huong dan pendar warna-warni yang menghiasi permukaannya, meninggalkan kota Dalat yang sedang menggigil dibasuh gerimis.

Jalan yang semula hanya cukup untuk dua bus kemudian berubah menjadi jalan tol yang lebar dan mulus. Karena belum mengantuk, saya habiskan waktu dengan membaca autobiografi John Muir, naturalis legendaris pentolan Sierra Club yang namanya diabadikan sebagai sebuah trek lintas alam di Amerika Serikat bagian barat, John Muir Trail. Tapi lama-lama bosan juga. Saya pun mulai mengantuk, lalu tertidur.

Tidur saya nyenyak sekali. Begitu bangun, bus sudah memasuki Saigon. Bangunan-bangunan tinggi tampak menjulang mencakar langit. Dari jalan besar, bus itu dibawa sang supir ke kawasan Distrik 1, lalu berhenti di perwakilan The Sinh Tourist, Jalan Pham Ngu Lao.

Sudah jam 3 pagi tapi Pham Ngu Lao masih lumayan semarak. Masih ada saja orang yang duduk-duduk di bangku plastik yang berjejeran di trotoar sambil mendengarkan alunan musik berisik yang entah digubah oleh siapa.

Masih terlalu pagi memang untuk mencari tempat menginap. Tapi saya perlu bergerak untuk meregangkan otot. Maka saya berjalan mengitari kawasan backpacker kota Ho Chi Minh itu untuk mencari hostel-hostel yang kira-kira menarik. Sebenarnya saya bisa saja kembali ke guest house yang pernah saya inapi satu setengah tahun lalu, saya masih ingat lokasinya. Tapi, karena itu sebenarnya adalah semacam indekos tempat pekerja malam Pham Ngu Lao tinggal, akomodasi itu rasanya terlalu sepi bagi saya yang melancong sendiri. Lebih baik cari yang lain.

Dari jalan besar, saya bergerak ke gang-gang kecil sepi yang tampak seperti lorong-lorong seram dalam film-film lawas Jackie Chan. Di Pham Ngu Lao, akomodasi murah memang lebih banyak menyempil di gang-gang kecil. Tapi, ya, sepagi ini para pemilik dan penjaga penginapan pastilah masih berkeliaran di alam bawah sadar masing-masing, atau tidak…

“Mencari penginapan?” Saat sedang asyik dalam lamunan, saya kaget sendiri mendengar pertanyaan itu, yang keluar dari seseorang yang berdandanan seperti penjaga vila di puncak, yang entah muncul dari mana. Itu pertanyaan retoris sebenarnya; ia pasti paham bahwa seseorang yang menggendong ransel seperti saya sedang mencari penginapan.

Saya mengangguk. Ia membawa saya lebih dalam menelusuri gang sampai ke depan sebuah penginapan. Ia ketuk pintunya dan seseorang muncul dari dalam. Saya bertanya soal harga. Ternyata terlalu mahal.

Well, I guess I’m just gonna browse around,” ujar saya sebelum balik kanan.

Saya kembali ke jalan besar dan melangkah menelusuri jalan yang dulu pernah saya lewati. Di tempat ini nanti sore akan ada penjual banh mi murah. Di Bui Vien, sebelum belokan ke arah Pham Ngu Lao, saya melihat sebuah plang hostel 4 dolar per malam. Barangkali nanti saya akan coba ke sana saat hari sudah terang.

Menanti pagi di Taman 23 September

Saya duduk menanti pagi di sebuah bangku panjang di Taman 23 September.

Di depan sana, Jalan Le Lai tampak damai. Hanya sesekali sepeda motor dan mobil melintas. Lampu-lampu kafe dan pub sudah lindap. Melihat betapa sepinya jalan itu di malam hari, barangkali takkan ada yang percaya jika saya bilang bahwa Le Lai akan selalu semarak oleh suara knalpot dan klakson dari pagi sampai tengah malam.

Di belakang saya adalah toilet umum yang pintu-pintunya terkunci rapat. Itu bencana bagi perut saya yang sedang mengirim sinyal ke otak untuk segera dikosongkan. Ah, ini pasti gara-gara kopi susu pekat yang saya minum di Dalat. Maka, pada dini hari yang dingin dan berangin itu saya menanti matahari dengan keringat dingin yang tak henti-henti menetes dari pelipis.

Untuk mengalihkan perhatian otak dari perut, saya berpindah tempat beberapa kali. Dari bangku panjang depan toilet, saya beranjak ke bangku panjang di tengah-tengah taman, lalu pindah lagi ke bangku panjang pinggir danau, dekat orang-orang sedang senam. Sempat saya menyeberang ke parkiran bus di barat sana untuk mengecek keberadaan toilet. Toiletnya ada, tapi belum buka. Saya pun kembali ke Taman 23 September dengan keringat dingin yang makin menjadi-jadi.

Tak sampai empat jam saya berkeliaran di Taman 23 September, tapi rasanya seperti berminggu-minggu. Begitu hari sudah terang, saya kembali menelusuri kawasan Pham Ngu Lao untuk mencari tempat menginap. Yang pertama saya datangi adalah dorm 4 dolar per malam itu, namanya Aloha. Tapi, begitu tiba di depan hostel itu, betapa sedihnya saya mendapati pintu kacanya masih tertutup rapat. Koper dan ransel bertebaran memenuhi lobi. Ada orang sedang tidur di salah satu sofa, tapi saya tak tega membangunkannya.

Enggan menunggu, saya kembali berkeliaran. Di Jalan Bui Vien, ada sebuah hostel yang tampaknya sudah buka. Namanya Koniko. Sambil menahan keringat dingin, saya melangkah memasuki lobi. Ada tempat tidur kosong, kata perempuan berusia 40-an yang menjaga. Selesai check-in, saya langsung diantarkan ke kamar 501.

Dengan berjinjit—karena lantai kamar tersusun oleh kayu yang mudah berderit—saya letakkan barang-barang ke salah satu dipan atas, lalu saya ngacir ke toilet.

Ketika Vietnam juara AFF 2018

Kamar itu besar. Dipan tingkatnya ada delapan unit—enam belas tempat tidur. Ketika saya di sana, sebagian besar penghuni kamar 501 adalah orang Bangladesh. Semula saya kira mereka cuma melancong di Vietnam. Anehnya, mereka seperti tak punya hasrat ke mana-mana. Seharian mereka hanya di hostel.

Suatu kali, ketika merokok bersama mereka di lorong hostel, salah seorang yang paling muda di antara mereka keceplosan bercerita, “Aku sebelum ini kerja di Da Nang beberapa bulan, jadi pemandu selam.”

Ternyata mereka adalah imigran yang menyaru menjadi turis. Pahit sekali agaknya kehidupan mereka di Bangladesh sampai-sampai harus pergi ke negara lain untuk bekerja sambil kucing-kucingan dengan imigrasi.

Setelah mengatahui fakta itu, kamar 501 itu terasa makin gelap.

Sore hari pertama, saya berkeliaran menelusuri jalan-jalan yang pernah saya lewati satu setengah tahun yang lalu. Saya ke Pasar Ben Thanh lalu terus ke utara lewat Jalan Pasteur menuju katedral depan kantor pos. Duduk-duduk sebentar di salah satu bangku marmer depan kantor pos, saya melipir ke pasar buku. Ada satu buku bekas yang menarik, novel Gorky edisi bahasa Inggris.

Ketika hari sudah malam, saya kembali ke arah Pham Ngu Lao. Orang-orang sudah berkumpul di kafe dan bar di Pham Ngu Lao dan Bui Vien menanti pertandingan final AFF 2018 antara Malaysia dan Vietnam. Jalan-jalan kecil di kawasan Pham Ngu Lao sudah ramai. Kursi-kursi plastik sudah diletakkan di tengah jalan. Orang-orang berkaus merah dengan bintang emas, lengkap dengan ikat kepala, sudah mengambil tempat di depan layar besar The Buffalo. Para DJ membuat malam itu berdentum-dentum.

Setelah mengambil ikat kepala merah—suvenir dari Hue—saya melebur ke dalam kerumunan. Sembilan puluh menit itu terasa singkat. Ketika peluit panjang berbunyi, semua bersorak-sorai. Suara klakson bersahut-sahutan dan knalpot digeber. Malaysia kalah 0-1 di kandang sendiri. Vietnam menang dengan agregat 3-2.

Tim Paman Ho juara Piala AFF 2018.

L dan kawan-kawannya di Hue pasti sekarang sedang menstarter motor-motornya, bersiap untuk konvoi kemenangan keliling kota.

Laptop

Keesokan harinya, saya baru keluar hostel sore hari. Selepas membeli tiket bus menuju Phnom Penh di The Sinh Tourist—karena kantornya dekat—saya jalan kaki tanpa arah di sekitar Distrik 1.

Di pasar buku samping kantor pos, saya tebus buku Gorky yang kemarin saya lihat—untung masih ada. Dari sana, saya berjalan ke selatan menuju Alun-alun Saigon untuk mengobati rasa rindu pada patung Ho Chi Minh. Sayang sekali itu malam saya tak bisa melihat patung Paman Ho yang sedang bersembunyi di balik kubus triplek.

Karena bus menuju Phnom Penh akan berangkat jam 7 pagi esok hari, saya mesti segera kembali ke hostel untuk berkemas dan istirahat. Lagipula, saya mesti menyelesaikan sesuatu di laptop.

Setiba di hostel, saya berkemas. Rampung, saya naik ke dipan dan membuka laptop. Sekitar setengah jam kemudian, lampu laptop saya berkedip-kedip pertanda baterai sudah hampir habis. Pengisi daya pun saya colokkan ke steker dan saya kembali sibuk dengan laptop. Lalu, tanpa ba-bi-bu, laptop itu mati.

Lho? Kenapa mati? Bukannya tadi pengisi daya sudah saya colokkan?

Kemudian saya sadar bahwa lampu indikator pengecasan tidak menyala. Saya coba lepaskan kabel dari steker. Masih tidak menyala. Lalu saya coba colokkan pengisi daya ponsel. Bisa. Kembali saya coba mencolokkan pengisi daya laptop. Lampu indikator masih tidak menyala. Saya coba colok-buka-colok-buka beberapa kali. Masih tidak bisa. Saya tiup lubang colokan di laptop. Tidak bisa juga.

Mungkin perlu dihidupkan dulu supaya bisa mengecas?

Saya coba pencet tombol daya. Tak ada respon.

Mati.

Laptop saya mati total.

Kenapa, ya? Apa karena laptop ini kaget karena dibawa dari suhu tropis ke suhu subtropis lalu diboyong lagi ke suhu tropis? Atau karena laptop ini selalu saya taruh di tas kecil—yang katanya anti-air—yang beberapa kali diguyur hujan rintik-rintik? Entahlah. Saya tak tahu. Yang saya tahu cuma kenyataan bahwa laptop itu mati.

Sisa pekerjaan saya selesaikan dengan pulpen, buku, dan tablet. Lalu, agar bisa keluar dari mimpi buruk itu, saya tidur.

72 comments

  1. Nasirullah Sitam · Maret 2

    Kebayang bagaimana riuhnya para masyarakat di sana sewatu mereka juara piala AFF. Melihat antusiasnya begitu menyenangkan. Nontonnya di jalanan.
    Saya penasaran dengan toilet-toilet umum yang terkunci. Apakah memang modelnya mirip di Indonesia? Yang ada jaga begitu. Atau bagaimana ya hahhahahha

    • morishige · Maret 2

      Riuh banget, Mas. Konvoi gila-gilaan mereka. Seru sih melihatnya, meskipun sedih juga karena timnas Indonesia senior nggak juara-juara AFF. 😀

      Mirip-mirip di Indonesia sih Mas. Toiletnya jongkok juga. Ada yang bayar ada juga yang enggak, tergantung tempat. Mungkin karena di taman, bukanya nggak 24 jam. Hehehe

  2. Indonesia Hebat · Maret 2

    Hebat bisa nahan sampai hampir emapt jam. Saya empat puluh menit saja mungkin sudah menyerah 😀

    • morishige · Maret 2

      Wah, kalau menyerah bisa berbahaya ntar. 😀 Untung tekad saya kuat kemarin itu. Kalau enggak, mungkin udah viral hahahaha

  3. ysalma · Maret 2

    Membaca ini sepeti ikutan berkeliaran di jalanan Saigon, yg walaupun sudah baca nama jalannya lupa.
    Sepertinya bukan penderitaan, tapi bagian dari keriuhan jejaka yg berpetualang.

    • morishige · Maret 2

      Nama jalannya memang susah-susah diingat, Mbak. Untungnya sekarang ada Maps, jadi bisa diverifikasi lagi nama-nama jalannya. 😀

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 😀

      • ysalma · Maret 3

        Iya. GMaps itu membantu sekali.

        Terima kasih sudah berbagi cerita perjalanannya. Cerita perjalanannya seru utk dibaca.

      • morishige · Maret 3

        Hemat kertas juga karena nggak perlu ngeprint-ngeprint peta lagi. 😀

        Wah, terima kasih, Mbak. 😀

  4. Eris · Maret 2

    I can’t understand Indonesian 100% but your writing is so poetic, I can imagine how it’s like walking the streets. Sorry to hear about the laptop!

    • morishige · Maret 2

      What? Poetic? Do you think so? Well, thanks. I guess I’m gonna take it as a compliment. 😀

      Well, after the journey, I went to a computer store and had the laptop repaired. In fact, I’m writing this comment using the laptop. 😀

    • Rifan Jusuf · Maret 3

      Well, I must agree with this! ikr, such a talented writer!

      • morishige · Maret 3

        Terima kasih apresiasinya, Mas Rifan. 😀

      • Agus warteg · Maret 6

        Ngga paham ini ngomong apa aja.😂

  5. travelingpersecond · Maret 3

    Coba yang tanding timnas….pasti seru. Pernah lihat timnas main vs Philippines, tapi bukan final. En aku sdg ngelayap di Manila kala itu…..di tipi sih 11 lawan 11. Di warung kopi itu 30 lawan 1.
    Hahahaha

    • morishige · Maret 3

      Itulah yang bikin sedih, Mas Donny. Timnas kita udah kalah duluan waktu itu. 😀

      Terus dulu siapa yang menang, Mas? Kalau Indonesia, pasti awkward banget itu pas peluit akhir ditiup. 😀 Hahaha

      • travelingpersecond · Maret 3

        Menang Indonesia lah mas…..untungnya mereka tetap tersenyum dan kita tetap ngopi bareng……hahaha. kirain mau dibonyokin.
        Asek ya solo traveling begituh…ke vietnam sendirian

      • morishige · Maret 3

        Hehehe… Saya pernah tuh dulu nonton bola di stadion, di kandang lawan, terus tim jagoan saya menang. Pas gol dan menang, yang teriak cuma 10 orang hahaha… 😀

        Asyik banget, Mas. Pergi sendirian, pulang bawa kenangan dari banyak kenalan. 😀

  6. Agus warteg · Maret 3

    Wow, jam tiga pagi tapi kota saigon sudah semarak ya, mirip kota Jakarta atau kota Tangerang menurutku.

    “Mau mencari penginapan?”
    Itu pertanyaan retoris sebenarnya; ia pasti paham bahwa seseorang yang menggendong ransel seperti saya sedang mencari penginapan.

    Ya dia nanya dulu, takutnya bukan nyari penginapan tapi nyari janda.😂😂😂

    • morishige · Maret 3

      Iya, Mas Agus. Mirip-mirip lah. 😀

      Hahaha… Bisa aja nih, Mas Agus. 😀

      • Agus warteg · Maret 4

        Itu lampu laptopnya kenapa berkedip ² bang, apa karena lihat janda lewat ya? 😂

        Bagaimana laptopnya sekarang bang, pasti sudah betul kan, karena ini bisa menulis artikel.😄😃😁

      • morishige · Maret 4

        Kayaknya gara-gara kelilipan, Mas Agus. Makanya kedap-kedip. 😀

        Syukurlah sekarang laptopnya sudah hidup kembali, Mas. 😀

  7. CREAMENO · Maret 3

    Saluuut bisa bertahan sampai 4 jam hahaha, saya paling nggak bisa tahan sakit perut. That’s why saya nggak makan kalau harus di pesawat dalam jangka waktu lama. Better kelaparan daripada mulas 😀

    Ngomong-ngomong, setelah diperbaiki laptopnya, teknisinya bilang apa mas penyebabnya? Penasaran 😂

    Ohya, salah satu tempat favorit saya di Saigon yaitu book street yang di samping kantor pos 😀 masih ingat saya sama bus biru yang ada di foto mas hehehe, soalnya saya sempat foto bus biru itu juga 😍

    • morishige · Maret 3

      Hehehe… Mau bagaimana lagi, Mbak. Kalau enggak ditahan bisa gawat nanti. Padahal makan rasanya nggak banyak. Kopi susu pekat itu kayaknya yang jadi penyebab. 😀

      Mobo-nya berkarat, Mbak. Kayaknya memang karena dibawa dari tropis ke subtropis terus ke tropis lagi, deh.

      Wah, iya. Itu favorit banget. Kayaknya itu juga baru, soalnya pas satu setengah tahun sebelumnya saya ke sana, itu belum ada. Kalau nggak salah, isi bus itu kebanyakan buku anak-anak. Favorit saya bagian ujung yang jauh dari kantor pos, ada beberapa kios yang menjual buku bekas berbahasa Inggris, Mbak. Koleksinya lumayan bikin ngiler.

      • CREAMENO · Maret 5

        Mas mungkin sensitif sama kopi, saya juga sensitif kopi soalnya. Minum kopi susu saja bisa langsung diare, hahaha. Jadi meski suka ke sbucks, yang diminum pasti tea 😂

        Untung laptopnya bisa hidup kembali ya mas, mungkin laptop hampir mirip sama badan manusia. Saya juga kalau pergi ke negara dengan perpindahan suhu drastis pasti mimisan 🤪

        Saya nggak masuk ke dalam bus birunya, hanya lihat dari luaran tapi memang kelihatan dari foto pun kebanyakan buku anak-anak berwarna 😁 too bad saya nggak belanja buku apa-apa, cuma jalan-jalan sebentar terus berhenti di sbucks yang bagian ujung jalan 😂 sempat mau beli buku cerita bergambar gitu, tapi ingat kalau cuma bawa koper kecil akhirnya nggak jadi 😬

      • morishige · Maret 5

        Mungkin juga ya, Mbak. Tapi kopinya, meskipun kopi susu, memang pekat sekali. Kayaknya itu espresso campur susu terus ditambah beberapa puluh gram batu es saja.

        Iya. Kelirunya, laptopnya nggak saya sarungin, jadi terpapar begitu aja sama cuaca, sampai jadi berkarat begitu motherboard-nya.

        Kalau buku-buku baru kebanyakan kayaknya memang berbahasa Vietnam. Saya sempat tertarik buat mengoleksi ulang Harry Potter, tapi pas dilihat ternyata bahasa Vietnam. Tapi desain kawasan toko buku di samping kantor pos itu memang benar-benar menarik, terutama buat anak kecil. Lumayan banget sih buat menumbuhkan niat membaca.

        Btw, buku selalu jadi persoalan bagasi buat saya. Untungnya, nyonya selalu menyiapkan bagasi tambahan khusus buat buku. 😀

      • Agus warteg · Maret 6

        Enak juga mas punya nyonya yang pengertian, nyiapin tempat buat buku segala.

        Jangan cari yang kedua ya mas, eh tapi ngga tahu yang ketiga sih.😁

      • morishige · Maret 7

        Tentunya, Mas Agus. Ah, 😀

        Ah, Mas Agus bisa aja. 😀

  8. Kuskus Pintar · Maret 3

    Bagus tuhh mbak langit malammnya plus pernak perniknya uhuy

    • morishige · Maret 3

      Warna-warna lampunya memang menarik, Kuskus Pintar.

      Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 😀

  9. Titik Asa · Maret 4

    Mas, itu ramai banget ya pas ada pertamdingan AFF itu. Yang berkerumun disana tentunya bukan hanya pelancong semacam Mas ya? Bagaimana penduduk asli disana Mas? Ramah2? Cantik-cantik juga? Penasaran nih ada 1 tulisan khusus misalnya berkenalan dg gadis disana yang berbau romansa begitu…hehehe

    Jadi penasaran laptopnya mati karena apanya yang rusak? Apa betul analisa Mas karena perubahan suhu dari beberapa tempat yg diknjungi itu?

    Salam,

    • morishige · Maret 4

      Lebih banyak warga setempat yang menonton, Pak. Mereka kayaknya sayang sekali sama timnas. Orang Vietnam umumnya hampir sama seperti orang Indonesia. Ramah-ramah, dan agak pemalu dengan orang asing. Tapi, mungkin ini cuma pandanban subjektif saya, mereka sedikit lebih keras karena pernah punya sejarah perang yang lumayan kelam. Soal perawakan, secara umum tubuh mereka lebih kecil dari orang Indonesia, tapi gempal karena menggilai olahraga. Paras wajah lebih mirip Tiongkok. Soal cerita berbau romansa, nanti ada, Pak, tapi sama orang tersayang yang menyusul dari Tanah Air. 😀 (Aduh, jadi ngasih spoiler, nih :D).

      Ternyata betul, Pak. Mobo-nya berkarat. Hehehe…

      • Titik Asa · Maret 5

        Saya baru tahu kalau ternyata orang sana menggilai olahraga, sehingga badannya gempal.
        Aih ternyata ada juga kisah berbau romansa nih Mas. Ditunggu banget ceritanya Mas.

        Salam,

      • morishige · Maret 5

        Iya, Pak. Saya juga kaget. Di kota-kota besar seperti Hanoi dan Ho Chi Minh City pun banyak taman-taman, yang di sana tersedia alat-alat fitnes mekanis sederhana yang terpakai terus tiap pagi dan sore.

        Iya, Pak. Ada. Hehehe… 😀

      • Titik Asa · Maret 9

        Oh begitu Mas.
        Belum lama ini juga saya perhatikan di Lapang Merdeka Sukabumi ada beberapa alat fitnes tersedia untuk umum. Mungkin saja meniru dari sana.

        Salam,

      • morishige · Maret 9

        Mungkin, ya, Pak. Barangkali pengelola Sukabumi pernah studi banding ke sana. 😀

        Wah, keren, Pak Asa. Kalau di taman kota ada tempat fitnesnya, warga tak perlu lagi repot-repot ke gym. Selain itu pasti kawasan lapangan jadi makin semarak kegiatan perekonomiannya. 😀

  10. Lalu, laptopnya bagaimana?
    Bisa hidup, kan?
    Btw. orang Bangladesh ini di mana-mana menjadi Imigran gelap sepertinya itu yang membuat mereka menjadi tenaga kerja dengan bayaran rendah. Kasihan.

    OOh….ternyata Motherboardnya karatan, langsung ingat sama laptop yang kemarin kena bocor dan berisi air, hahaha. Entahlah.

    Saya baru pertama main ke blog ini, bacanya kaya baca novel, seru banget 😀

    • morishige · Maret 4

      Laptop akhirnya hidup kembali, Mbak, meskipun harus 2 kali operasi.

      Wah, berisi air? Lalu akhirnya hidup lagikah? Kejadian-kejadian laptop mati ini bikin saya ingat kawan baik saya yang punya laptop Panasonic Toughbook. Pernah sekali waktu dia nyuci laptopnya di wastafel. 😀

      Iya, Mbak. Pasti tuntutan hidup itu yang bikin mereka rela kejar-kejaran sama imigrasi.

      Terima kasih, Mbak Hanila. Terima kasih juga sudah mampir dan meninggalkan komentar. 😀

  11. Anggie · Maret 5

    Saya paling ngeri kalau ada di wilayah keramaian di Vietnam, takut ada copet, dulu sering diwanti-wanti orang lokal, dan yang kedua saya juga paling takut kalau ada barang elektronik rusak di luar negeri, bingung mau servisnya gmn, apalagi itu barang yang produktif.

    • morishige · Maret 5

      Dulu keknya saya pernah baca ada turis Indonesia yang dirampok di Pham Ngu Lao, kena scam pijit. Untung paspornya di penginapan.

      Sempet nanar beberapa menit juga pas laptop rusak itu, Mas. Untung masih ada tab dan buku tulis. 😀

  12. cerita nina · Maret 5

    Perdana mampir ke sini. Wuih, asik ceritanya mas.

    • morishige · Maret 5

      Terima kasih sudah mampir dan membaca, Mbak. Salam kenal. 😀

  13. Ata · Maret 5

    semarak sekali suasananya, jadi pengen ke sana, yah sabar dulu nunggu waktu gajian tiba hehe…

    • morishige · Maret 5

      Ditunggu cerita-ceritanya. 😀 Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 😀

  14. Andrie Kristianto · Maret 5

    hhhe gokil sih cek cek terus yang di taman sampai akhirnya berakhir di sebuah hostel, gak kebayang bisa nahan selama itu.. Mungkin kalo saya disana, sudah menyerah dan selesai hha

    • morishige · Maret 5

      Mau go-show di taman, tapi pasti bakal bikin malu kawan-kawan sebangsa, Mas. 😀 Untungnya masih bisa nahan. 😀

  15. Bang Ical · Maret 5

    Aaaaaa ini blog baguuuuus 😥

    • morishige · Maret 5

      Terima kasih apresiasinya, Bang Ical. Terima kasih juga sudah meninggalkan komentar. 😀

      • Bang Ical · Maret 6

        Blog-blog perjalanan selalu menghibur. Asik 😇

      • morishige · Maret 6

        Iya, Bang. Baca postingan soal jalan-jalan, berasa ikut jalan-jalan. 😀

      • Bang Ical · Maret 6

        Tuuuulll

  16. Ella Fitria · Maret 6

    Laptopnya skrg gmn, Mas? Aman? Btw terima kasih ya, sudah membawaku ikutan jalan2, membayangkan gang2 hostel, membayangkan taman 23 september, dll. Berasa ikutan bayangin nahan nyari toilet smpe berjam2. Wkwkwk

    • morishige · Maret 6

      Laptopnya sudah bisa beraksi lagi, Mbak Ella. 😀 Terima kasih juga sudah mampir dan meninggalkan komentar kembali.

  17. bara anggara · Maret 6

    as always, sastrawi sekali bahasanya.. sekilas mirip tulisan bung Valentino Luis yang sering isi tulisan di Natgeo, inflight magazine dan sejenisnya, yang juga menjadi inspirasi saya dalam menulis.. Sekarang tulisan2 bro juga jadi inspirasi saya.. Saya suka cerita perjalanan dengan gaya bercerita seperti ini, terlebih perjalanan yang dilakukan memang seperti seharusnya seorang traveler, bukan penikmat liburan semata.. salut!

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Maret 7

      Terima kasih, Bung Bara. Senang sekali rasanya tulisan-tulisan di blog ini dibaca Bung Bara dan kawan-kawan pejalan.

      Saya juga suka sekali tulisan-tulisan naratif di blog Bung Bara. Rasa-rasanya saya terbawa ke segala penjuru, menikmati perjalanannya sekaligus suasana tempat-tempat yang bahkan namanya saja belum pernah saya dengar sebelumnya. 😀

  18. satriasalju · Maret 7

    Aji gilee animo warga Vietnam dengan sepak bola. Memang negaranya sih yang bertanding tapi salut semangat warganya untuk negaranya..

    Ditambah suasana malamnya yang begitu Fantastis dengan aneka kilau lampu yang berwarna-_warni seperti memberi semangat untuk kota itu sendiri.😊😊

    Mantaap👍👍👍

    https://satriamwb.blogspot.com

    • morishige · Maret 8

      Sama kayak kita, Mas Satria. Setiap kali timnas tanding, apalagi di kandang, pasti pada semangat menonton. Dan kita selau menunggu-nunggu timnas kita juara. 😀

  19. Zam · Maret 9

    omong-omong soal Bangladesh, jadi ingat saat di Campo de’ Fiori, Roma, Italia. saya dan istri tengah berbincang hendak membeli jus apa di pasar itu pakai Bahasa Indonesia, rupanya si penjual tahun dan menyapa kami dalam Bahasa Indonesia. rupanya ia dari Bangladesh dan bisa berbahasa Indonesia, entah dari mana. untung kami tidak membicarakan yang tidak-tidak. 😆

    • morishige · Maret 9

      Kemungkinan ia pernah tinggal di Malaysia, Mas Zam. Banyak juga soalnya orang Bangladesh di Malaysia. Sebelum mampir ke Malaysia, saya kira orang-orang berparas India di Malaysia itu benar-benar dari India, ternyata beragam juga, banyak yang dari Pakistan dan Bangladesh.

      Hahaha. Untungnya, ya. Kalau enggak udah jadi drama itu. 😀

  20. Inia · Maret 15

    wkwwk leptopnya ngerassin culture shock mungkn,

    • morishige · Maret 15

      Sepertinya iya 😀

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, lnia. 🙂

  21. Art of the Beat · Maret 20

    Love the photos. I can’t wait to travel there some day! Thanks for sharing 🙂

  22. Daeng Ipul · Maret 25

    Saya hanya membayangkan, kapan ya kita akan merasakan kegembiraan karena timnas kita menang AFF?
    AFF aja dulu, Piala Asia masih kejauhan, apalagi Piala Dunia
    😀

    • morishige · Maret 25

      Iya, Daeng. Rasanya seperti nunggu temen yang menjanjikan mau mau mampir, tapi nggak datang-datang… bertahun-tahun 😀

  23. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  24. ainunisnaeni · Mei 1

    waktu iseng jalan ngelewati gang gang yang awalnya aku kira jalan buntu, ternyata justru di jalan yang jarang dilewati mobil, banyak jejeran tempat makan penginapan.
    aku dulu iseng aja milih hotel waktu ke HCMC, lokasi persis nggak ngerti ada di pinggir jalan besar atau masih harus blusukan. dan untungnya ada di pinggir jalan yang masih bisa dilalui taksi. Tulisan hotel juga kecil banget. Aku ngebayangin seandainya waktu itu hotel berada di gang gang dan malem malem aku menyusuri, mungkin udah angkat tangan hehehe

    • morishige · Mei 1

      Memang banyak banget, ya, Mbak, gang di HCMC, apalagi di Pham Ngu Lao, Bui Vien, dsb. Saya juga pernah nyampe Saigon malem-malem, sekitar jam 9 kayaknya tiba di Pham Ngu Lao. Karena masih rame, gampang banget dapat penginapan. Memang ribet banget kalau nyampe sebelum subuh. Party baru selesai dan penginapan sudah pada ditutup pintu depannya. Sungkan juga buat nggedor. Hehehe….

  25. Ping-balik: Naik Bus dari Malaysia ke Singapura | jejaka petualang
  26. Ikhwan · Juni 5

    Mengagumkan melihat bagaimana Vietnam berkembang dalam satu dekade terakhir. Nyari dalam semua sektor (industri, pertanian, olahraga, hingga pariwisata) mereka melaju pesat. Kayanya ga bakal heran kalau dalam 1-2 dekade ke depan mereka bisa jadi salah satu negara pamuncak di Asia.

    • morishige · Juni 6

      Iya, Mas. Mengagumkan sekali. Sekali waktu saya pernah mampir ke museum di Saigon dan di sana ada grafik produksi dan ekspor Vietnam. Beberapa dekade terakhir, grafiknya memang melonjak naik. Soal menerima kunjungan wisatawan, kayaknya mereka juga lebih siap.

      • Ikhwan · Juni 7

        Juga soal penanganan corona belakangan ini ya. Mereka sangat siap dan sigap ternyata. Salut.

      • morishige · Juni 9

        Iya, Mas. Mesti pendekatan yang dipakai otoritasnya jitu banget. 🙂

Tinggalkan Balasan ke Zam Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s