White River, Phnom Penh

Semalam saya sudah berkemas. Jadi, pagi itu, sekitar jam 6, saya hanya tinggal memanggul ransel, check-out, lalu jalan kaki ke arah kantor The Sinh Tourist. Dekat perempatan Buffalo, saya berhenti sebentar untuk membeli seporsi banh mi yang kemudian terburu-buru saya santap di depan The Sinh Tourist.

Saya terkekeh mendapati bahwa The Sinh Tourist ternyata malah memberi saya tiket bus Phnom Penh Sorya. Usai melapor, saya diminta menunggu. Ruang tunggu di dalam terlalu ramai, saya keluar saja. Tak berapa lama, seorang pria berusia tiga puluhan akhir—atau empat puluh awal—berseragam Phnom Penh Sorya datang menghampiri. Perawakannya seperti orang Kamboja.

“Phnom Penh?”

Saya mengangguk. Ia meminta saya untuk naik ke boncengan sepeda motor merahnya yang barangkali diproduksi pada dekade yang sama dengan motor yang biasa dipakai para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta. Kami meluncur sebentar di jalan utama Pham Ngu Lao—Taman 23 September yang ramai oleh orang-orang berolahraga terbentang di kanan—sebelum tiba di perwakilan Phnom Penh Sorya.

Setelah mengantarkan saya melapor, sang pria kembali melajukan motor, entah ke mana. Sibuk sekali ia agaknya itu pagi.

Penumpang jurusan Ho Chi Minh City-Phnom Penh tak banyak pagi itu sehingga bus lega sekali. Tepat jam 7 pagi, roda bus mulai berputar. Sang supir membawa kami mengelilingi Taman 23 September, menembus lalu lintas ke Ben Thanh, lalu berputar di bundaran besar sebelum melaju meninggalkan Distrik 1.

Meskipun ramai, pagi di Saigon cukup santai. Di kafe-kafe kecil banyak manusia yang duduk-duduk menyeruput kopi—di bangku-bangku yang diposisikan menghadap jalan raya—sambil mengamati keramaian lalu lintas.

Kernet bus mulai mengumpulkan paspor penumpang satu jam setelah keberangkatan. Saya jadi teringat Ching—atau Xing, atau Qing, atau entah bagaimana menuliskannya—yang satu setengah tahun silam dipertemukan dengan saya dalam perjalanan Saigon-Phnom Penh. Entah di mana ia sekarang.

Di luar, lahan pertanian semakin luas. Sawah menghijau membentang sampai ke cakrawala. Kedua mata saya menangkap segala yang sebelumnya pernah mereka lihat—jalanan mulus, pertokoan, bundaran—lalu memenuhi kepala saya dengan nostalgia.

Pukul 9 lewat seperempat, bus tiba di Moc Bai. Sekilas, Moc Bai mengingatkan saya pada Pos Lintas Batas Skouw di Muara Tami, Jayapura. Namun, alih-alih Garuda Pancasila, penghias imigrasi Moc Bai adalah obelisk berelief tinggi dengan roda gigi di pucuknya.

Karena paspor kami sudah didata, saya dan para penumpang lain tinggal mengantre menunggu dokumen absurd itu dicap oleh petugas imigrasi Vietnam. Begitu paspor sudah kembali di tangan, saya beranjak ke luar imigrasi Vietnam. Bus sudah terparkir di seberang sana.

Selang sebentar, ketika semua penumpang sudah kembali duduk manis di bangku masing-masing, bus itu dipacu santai oleh sang supir membelah zona netral pemisah Vietnam dan Kamboja.

Meskipun hanya terpaut sekitar 450 meter, Moc Bai, Vietnam, dan Bavet, Kamboja, terasa terpisah beberapa puluh tahun.

“One dollar!”

Dengan kartu arrival-departure terisi, saya kembali meloncat turun dari bus lalu melangkah memasuki pos batas Bavet. Ketimbang Moc Bai, pos imigrasi Kamboja itu terasa lebih kelam, seperti tiba-tiba ada tangan tak terlihat yang sesukanya memasang filter sepia pada kornea saya.

Tak menunggu lama, paspor berlambang Garuda emas saya dicap oleh petugas imigrasi. Dari lorong kecil di antara bilik-bilik itu saya pindah ke ruangan yang bahkan lebih kelam.

“One dollar! One dollar!” ujar petugas perempuan berlogat Khmer dari balik meja panjang berpapan nama “Quarantine.” Sambil berkata “One dollar!” ia mengibas-ngibaskan lembaran 20.000 dong biru muda bergambar Paman Ho yang nilainya memang ekuivalen dengan 1 dolar.

Saya menepi untuk mengamati para pelintas lain; semuanya mengeluarkan entah 1 dolar atau 20.000 dong dan memberikannya—entah rela atau tidak—kepada petugas itu.

Rasa-rasanya ini tidak ofisial, sebab tak ada keterangan sama sekali soal kewajiban membayar 1 dolar, berbeda dari custom fee berkuitansi yang mesti saya bayar di sebuah loket di imigrasi Friendship Bridge ketika masuk Laos dari Thailand hampir sebulan lalu. (Kalau ini memang biaya karantina, saya tak bawa apa pun untuk dikarantina.)

Tapi, entahlah.

Mungkin saya yang keliru. Sebagai pelancong, saya memang tak tahu apa-apa. Dan hak yang saya punya hanyalah hak untuk menggerutu.

Satu setengah tahun yang lalu, saya malah tak perlu mengantre di imigrasi Bavet. Di luar, di samping pintu depan bus, seorang petugas imigrasi kala itu sudah menanti untuk menerima paspor-paspor kami, yang kemudian ia kembalikan dalam keadaan tercap di rumah makan berdebu yang berjarak beberapa menit dari perbatasan.

Terlalu pagi untuk berdebat. Karena dong di dompet tak sampai 20.000, saya keluarkan saja selembar uang 1 dolar kemudian saya berikan pada petugas perempuan yang acuh-acuh saja itu. Ia menerimanya lalu menjejalkan muka George Washington itu ke dalam wadah yang nantinya barangkali akan ia setorkan entah kepada siapa.

Dan tentu saja tak ada kuitansi.

Saya segera beranjak ke luar pos imigrasi yang kelam itu. Begitu semua penumpang kembali ke kabin, bus itu kembali melaju. Tanah merah. Di sebuah rumah makan, beberapa menit setelah imigrasi, bus itu berhenti lagi dan membiarkan penumpang makan sekitar lima belas-dua puluh menit. Saya tak makan, hanya berdiri-berdiri saja di luar sambil mengamati altar persembahan yang mirip sanggah cucuk di Bali, juga jalanan Bavet yang kemerah-merahan dengan debu tipis yang berkepul-kepul.

Whiter River

Sekitar jam setengah 2 siang, bus Phnom Penh Sorya itu merapat ke perwakilannya yang berada tak jauh dari Phsar Thmei (Pasar Baru). Phnom Penh terasa seperti Yogyakarta—kecuali daerah Malioboro—hari pertama lebaran; ramai tapi tak cukup ramai untuk menghasilkan kebisingan.

Dari sana saya jalan kaki ke kantor pos demi memesan tiket Cambodia Post Minivan menuju Siem Reap untuk jadwal keberangkatan esok pagi, 18 Desember 2018. Dengan panduan ingatan, saya jalan kaki ke arah alun-alun, lalu melipir ke jalan kecil tempat Cambodia Post berada. Satu setengah tahun berlalu, ongkos minivan ke Siem Reap masih sama: 8 dolar.

Sekarang tinggal mencari tempat menginap. Semalam, dengan Wi-Fi gratis Koniko, saya sempat berselancar di internet dan menemukan Happy Backpacker House yang sewa dipannya hanya 3 dolar per malam. Harga itu hanya setengah dari biaya sewa kamar di 10 Lakeside Guesthouse di pinggir Boeung Kak—danau legendaris Phnom Penh yang sudah tamat riwayatnya dihantam reklamasi—yang dulu pernah saya inapi.

Saya pun mulai melangkah ke selatan, lewat Preah Norodom Boulevard yang jadi saksi bisu pengosongan kota Phnom Penh semasa rezim Angka pada dekade 70-an dulu, kemudian belok ke timur menuju arah Museum Nasional Kamboja. Happy Backpacker House, menurut peta hasil tangkapan layar di ponsel, dekat sana. Dari perempatan Museum Nasional, saya hanya perlu melangkah sedikit ke utara.

Sebelum perempatan, saya memapas sebuah papan hitam bertuliskan “Dorm 3USD” di depan White River, bar kecil yang juga menyediakan penginapan. Tapi saya urungkan niat untuk bertanya ketersediaan kamar, sebab saya penasaran menemukan Happy Backpacker House. White River saya masukkan dalam daftar tunggu.

Dari perempatan, saya putar haluan ke utara. Saya edarkan pandangan ke kanan-kiri jalan mencari plang hostel itu. Lalu, tanpa sadar saya sudah melewati beberapa blok. Jika diteruskan, saya akan tiba di alun-alun—dan Phsar Thmei. Maka saya kembali saja ke selatan. Mungkin saya terlalu lelah sampai-sampai luput melihat plang nama hostel itu.

Ketemu. Saya berhasil menemukan hostel itu.

Tapi saya kecewa mendapati hostel itu digembok. Bagian luarnya sudah berdebu dan hanya semesta yang tahu kapan terakhir kali tempat itu menerima tamu.

Ternyata tak hanya saya yang kecewa. Beberapa detik setelah saya tiba di depan (bekas) hostel itu, ada pelancong lain yang datang memanggul ransel. Tatapannya tampak sama nanarnya dengan saya mendapati kenyataan itu.

“I guess it’s closed,” ujar saya, menegaskan apa yang sebenarnya sudah gamblang.

Merasa senasib sepenanggungan, saya berkata padanya sambil menunjuk ke arah perempatan menuju White River, “But, I found a 3-dollar room down there.”

Ia cuma menangapi dengan “meh!

Karena ingin segera melepaskan ransel dari punggung, saya segera beranjak ke White River. Ia tak mengikuti saya—barangkali sudah punya rencana lain.

Ada kamar di sana. Tapi saya mesti menunggu sekira dua puluh menit sampai tempat tidur saya siap. “Ada penghuni lain selain Anda,” ujar pemuda Kamboja yang mengantarkan saya ke kamar. “Dia sudah dua tahun tinggal di Phnom Penh. Jadi guru.”

Kamar saya di bawah. Hanya ada dua kasur tunggal di dalamnya. Kasur di ujung dalam, yang di sekitarnya ada tas dan barang-barang lain, disewa oleh sang guru. Saya kebagian yang dekat pintu.

Saya mulai lapar. Setelah istirahat sebentar, saya jalan kaki ke arah alun-alun dekat Wat Phnom, menerobos Phsar Thmei, lalu melewati Kedubes Amerika Serikat yang tertutup itu, untuk mengobati rindu menyantap mi goreng pinggir jalan. Waktu singgah di Phnom Penh dulu, setiap malam saya pergi ke dekat kolam air mancur untuk membeli mi goreng pada penjual yang sama. Namun, barangkali saya tiba terlalu dini. Belum ada pedagang mi goreng yang buka lapak di sana.

Saya balik arah ke selatan lalu menjumpai sebuah becak motor penjual mi goreng di sebuah jalan kecil tak jauh dari Canadia Bank. Karena lapar, saya pesan dua. Beberapa menit kemudian pesanan saya jadi. Sang penjual memasukkannya dalam dua Styrofoam putih yang kemudian ia masukkan pula ke dalam sebuah kantung plastik. Harga mi belum naik. Satu porsi masih 1 dolar.

Kantung plastik itu saya bawa jalan kaki menuju bantaran Sungai Tonle Sap, anak Sungai Mekong yang memagari kota Phnom Penh. Cepat sekali habisnya. Lalu saya cari sekaleng Angkor, yang kemudian saya jadikan teman untuk menyambut malam, bersama kisah masa belia John Muir dan kalimat-kalimat absurd yang saya rangkai.

Setelah malam sepenuhnya turun, saya tinggalkan Tonle Sap dan perahu-perahu kecil yang melintasinya, lalu kembali ke White River lewat Preah Norodom Boulevard. Beberapa waktu setelah saya tiba di kamar, sang guru pun pulang. Kami hanya saling sapa. Letih ia barangkali.

“Do you mind if I switch off the light?” ia bertanya.

“Sure,” jawab saya.

60 comments

  1. Zam · Maret 9

    aku masih ingat betapa ruwetnya imigrasi Moc Bai dan Bavet saat itu. 😅 tapi untung saat itu aku ngga kena biaya apa pun, cuma yang bermuka kaukasian yang entah diminta biaya apa lagi. mungkin sesama muka Asia jadi ngga dikenai biaya tambahan.. 😅

    • morishige · Maret 9

      Untung pagi itu saya sudah sarapan, Mas Zam. Kalau lagi laper, mungkin bakal debat sama yang minta 1 dolar itu. Belakangan saya juga lihat praktik serupa di Poipet. Nanti kayaknya saya ceritain juga di blog. 😀

  2. Nasirullah Sitam · Maret 9

    Mungkin yang penarikan 1 dolar itu semacam calo, mas hahahahaha. Di Indonesia pun kalau tidak biasa naik bus biasanya ada calonya ahahahhaha.

    Oya, kalau di perjalanan seperti itu apakah ada makanan khusus. Atau makanannya masih mirip-mirip di Indonesia.

    • morishige · Maret 9

      Pungli ini kayaknya, Mas. Cuma kebangetan juga kalau punglinya di beranda rumah, di pos lintas batas. Saya bakal malu sendiri kalau seandainya ada cerita seperti ini di tanah air.

      Kalau di Indochina, kebanyakan makanan yang tersedia juga olahan beras seperti nasi dan mi beras (rice noodle), Mas Sitam. Jadi, pas ke Laos, saya sering makan rice noodle, selain bebakaran plus sticky rice dan omelet baguette. Di Vietnam, saya makan pho dan banh mi (sandwich roti). Thailand dan Malaysia dan Singapura lebih mirip Indonesia, sih, soal makanan. Makanan-makanan khasnya yang benar-benar autentik juga ada, tapi sehari-hari saya makan makanan yang biasa-biasa saja, seperti keseharian saja. 😀

  3. travelingpersecond · Maret 9

    Asik nih masalah pungutan liar diperbatasan indochina.
    Suatu waktu aku pernah tawar menawar dg petugas di perbatasan Lao-Cambodia.
    Karena ga ada dollar kecil dan tinggal tersisa Kip setara 0.7 dollar.
    Diterima tuh uang mas…utk bertikar kartu karantina.
    Bule perancis ngomel ngomel kalau itu korupsi.
    Hahahaha….jadul ya

    • morishige · Maret 9

      Cerita-cerita begini kayaknya bakal sering kita temukan pas melintas lewat jalur darat ya, Mas?

      Soal Laos, saya lebih berempati sama negara itu karena letaknya yang terisolasi di daratan, nggak punya pelabuhan kayak negara-negara Indochina yang lain, jadi mereka memang bertumpu ke pariwisata. Makanya saya bisa mengerti kenapa Laos memberlakukan custom fee resmi di perbatasan (Friendship Bridge). Tapi, Kamboja pasti sudah dapat untung banyak dari Angkor Wat yang harga tiketnya lumayan itu. Dan masih saja ada pungli.

      • travelingpersecond · Maret 9

        Iya benar. Lao mengandalkan project kerjasama dg negara maju untuk bangun negrinya. Dimana mana, projectnya pasti ada bendera asing.
        Kotanya sederhana banget.
        Bersyukur mas bisa keliling indochina.

      • morishige · Maret 9

        Iya sepertinya, Mas. Waktu ke sana, saya lihat ada proyek gede deket perbatasan, kerjasama dengan Jepang. Bus-busnya yang klasik itu juga sumbangan dari Jepang.

        Daerah urbannya memang masih sedikit. Pas naik bus ke Vietnam lewat utara, sebentar saja keluar dari Luang Prabang yang kelihatan cuma hutan, pegunungan, padang rumput.

        Iya, Mas. Bisa lihat kondisi negara-negara tetangga. Merasa bener-bener bagian dari komunitas ASEAN rasanya.

      • travelingpersecond · Maret 9

        Iya bus kota di Viantine cuma ada dua jalur….hihihi. Lah jakarta, jalur transjakarta sampai ga hafal.
        Aku pernah icip tuh busnya dr airport ke wat mixai. Sama jalur satu lagi dari Pha That Luang ke Central Bus Station.
        Sangat berkesan.

      • morishige · Maret 9

        Memang sepi banget kotanya ya, Mas. Tapi enak banget jadinya jalan kaki di pinggir Sungai Mekong, atau dari Istana Kepresidenan Laos sampai ke Patuxay. Jadinya bus cuma buat ke tempat-tempat yang jauh dari kota saja. Pas ke sana, kebetulan banget ada That Luang Festival, jadinya bisa ngerasain pasar malam di Vientiane.

  4. Agus warteg · Maret 9

    Calo mah sudah biasa kang, apalagi itu di perbatasan.

    Disini juga ada pungli kang, tiap truk tanah yang berisi pasir lewat maka akan dimintai uang 50 ribu, tidak boleh kurang. Kalo melawan, wah bisa bonyok.

    😂😂😂

    • morishige · Maret 9

      Iya sih, Mas Agus. Tapi saya belum pernah naik bus melintasi perbatasan Indonesia. Paling baru mampir sebentar ke Papua Nugini jalan kaki. Kayaknya nanti bisa dicoba kapan-kapan melintasi Indonesia naik kendaraan umum, biar tahu kenyataannya bagaimana. 😀

      • Agus warteg · Maret 13

        Wow, berarti pernah ke Papua ya kang. Seru ngga disana kang? Katanya jalan trans Papua sudah jadi, bener apa tidak sih?

      • morishige · Maret 13

        Jalannya sudah tembus dari Jayapura ke Wamena, Mas Agus. Tapi kayaknya masih belum sepenuhnya berfungsi. 🙂

  5. rivai hidayat · Maret 9

    Ternyata ada pungli di pos lintas batas dan sepertinya sudah jadi hal yang biasa di sana yaa mas?

    Sepertinya sangat seru mas bisa overland antar negara dengan menggunakan angkutan umum.

    • morishige · Maret 9

      Karena belum mengalami kecuali di pos lintas batas, saya belum bisa berkomentar banyak, Mas Rivai. Tapi miris mendapati kenyataan begitu. Sementara rakyat Kamboja banting tulang buat bertahan hidup, ada uang yang melayang ke saku pribadi.

      Seru sekali memang melintasi batas lewat jalur darat, Mas, karena bisa lihat kontras suasana antarnegara. 😀

  6. Anjar Sundari · Maret 10

    Sendirian ya mas? Kok berani sih -emang saya ya, penakut. Tulisannya detil banget, triknya mungkin langsung ditulis ya nggak nunggu nanti-nanti, hehe. Saya dong, kejadian hari ini nulisnya minggu depan, udah hilang semua.

    Pokoknya keren deh.

    • morishige · Maret 10

      Iya, Mbak, sendirian. 😀 Kadang saya pelupa, makanya sering mencatat di buku kecil biar ingat. 🙂

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 🙂

      • Agus warteg · Maret 13

        Pelupa itu sifat manusia dan itu manusiawi. Jadi enaknya punya catatan biar ngga lupa ya kang 😄

      • morishige · Maret 13

        Betul, Mas. 😀

  7. Alid Abdul · Maret 10

    Kejadian yang sama saat menyebrang Thailand-Kamboja, petugas imigrasi Kamboja meminta duit. Aku hanya menjawab “for what?” dan dia menggerutu sembari mencap paspor. Bayangkan berapa kayanya dia yang tiap hari iseng “one dollar” kepada tiap orang asing yang melewati negara dia. Mungkin mengalahkan gaji resmi dia jadi PNS. Ckckckck.

    • morishige · Maret 10

      Saya juga ngalamin itu pas di Poipet. Tapi, karena di Poipet mereka minta duit di bilik imigrasi, saya bisa protes supaya didengar sama orang-orang di sekitar juga. Yang di Bavet ini mereka mintanya setelah lewat bilik cap paspor. Jadi kayak di-fait accompli gitu itu. Malesin banget. 😀

  8. Indonesia Hebat · Maret 10

    Fokusnya ke foto yang goviet. Nyobain gak Mas? Produk kita di negeri orang itu 🙂

    • morishige · Maret 10

      Jeli juga ternyata pengilhatan Greatnesia. Sayangnya nggak nyoba karena keasyikan jalan kaki. 😀

  9. Titik Asa · Maret 10

    Perjalanannya tambah seru saja nih Mas…

    Mas, tanya. Bagaimana rasa mie goreng disana? Seenak mie goreng disini gak ya? Mirip saja ya yang jualannya sama disini.
    Terus, itu yang dijual mbak berstelan warna pink apa Mas? Es buah ya? Coba fotonya ambil agak depan sedikit, penasaran dengan wajah si mbak penjualnya…hehehe
    Ditunggu lanjutan kisah perjalanannya Mas.

    Salam,

    • morishige · Maret 10

      Terima kasih, Pak 😀

      Soal rasa, rempahnya masih kurang ketimbang mi goreng kita di sini, Pak. Rasa penyedapnya lebih kentara, sebab mereka pakai mi lembut kemasan.

      Yang dijual mbak berbaju pink itu banh mi, Pak. Sandwich-nya Vietnam, makanan sejuta umat yang bisa ditemukan di mana-mana selain pho (mi beras berkuah yang kental aroma daun ketumbar atau cilantro). Rotinya agak panjang seperti baguette.

      🙂

      • Titik Asa · Maret 11

        Populer banget dong Mas banh mi ini sampai Mas sendiri menyebutnya sbg makanan sejuta umat. Mungkin karena harganya yang sangat terjangkau ya Mas?

        Benar-benar banyak kemiripan ya antara disini dengan di Vietnam.

        Salam,

      • morishige · Maret 11

        Iya, Pak Asa. Banh mi populer banget di Vietnam. Roti baguette yang jadi “bun” banh mi ini katanya warisan Prancis (yang lama bercokol di wilayah yang sekarang jadi Vietnam, Kamboja, dan Laos).

        😀

  10. CREAMENO · Maret 11

    Wah mas ke Kamboja naik bus? 😱 berapa jam itu perjalanannya mas? Mantaph 😁

    Saya belum pernah lewat jalur darat ketika berpindah negara, jadi belum punya pengalaman. Alhasil sekarang hanya bisa membayangkan dari cerita mas ~ mungkin saya akan bete dan menggerutu pagi siang malam kalau sampai diminta 1 dollar tanpa alasan 😂 by the way, saya baru lihat sudut pandang baru soal kota Phnom Penh dari cerita mas, karena saya waktu ke Phnom Penh (di post-post lama saya), saya melihat Phnom Penh sebagai kota yang menurut saya cukup bersih. Terus hotelnya juga bagus-bagus (ini yang saya salut, saya menginap di dua hotel dan ke duanya dari segi konsep desain sangat bagus), cuma masalahnya saya memang mainnya nggak terlalu jauh seperti mas yang eksplorasi secara mendalam 😆 akibat faktor malas 😂✌

    Sekarang saat baca post ini jadi semakin penasaran 😍
    Bagaimana perjalanan mas di Phnom Penh sanaaa ~

    • morishige · Maret 11

      Iya, Mbak. 😀 Perjalanannya, plus berhenti, sekitar 6,5 jam.

      Monggo dicoba sekali-sekali, Mbak Eno. Seru banget melintasi batas lewat darat, terlebih kalau lewat perbatasan yang sepi. 🙂 Deg-degan juga kadang-kadang; “Apakah ada aturan baru?” “Dari sana naik apa?” “Tukar duit di mana?” “Kalau kemalaman mau menginap di mana?” 😀

      Sebagian Phnom Penh kayaknya memang lumayan kinclong, Mbak. Jalan-jalan besarnya (boulevard) aspalnya bagus dan mobil-mobil baru (yang sebagian besar warna putih) juga lumayan banyak meskipun nggak sampai bikin macet. Tapi, ke utara sedikit, dekat Phsar Thmei suasana modern itu bakal hilang di terminal. Kawasan masjid yang dekat bekas Boeung Kak Lake juga lumayan kotor dan jalanannya cuma jalan tanah (sepenglihatan saya dulu pas ke sana tahun 2017). Sekali waktu saya juga jalan kaki menyeberang jembatan panjang arah Siem Riep. Lewat jembatan, suasananya kayak kota-kota kecil di Sumatera (ada di postingan tahun 2018, “Naik Cambodia Post Minivan ke Siem Reap”).

      Semoga Mbak Eno ke Kamboja lagi. 🙂 Akan saya tunggu ceritanya di blog. 😀

      • CREAMENO · Maret 13

        6.5 jam berarti lebih lama dari Hanoi ke Sa Pa, itu saja saya sudah hampir mabok karena kelamaan di jalan 😂 salut sama mas yang kuattt ~ hahaha.

        Saya sebenarnya ingin sesekali coba jalur darat, cuma nggak kuat sama waktu tempuhnya yang lama mas. Pinggang saya lemah 🤣 sering banget encok kalau kelamaan duduk di satu tempat. Waktu sesampainya di Sa Pa setelah perjalanan 5 jam saja, saya harus rebahan seharian 🤪 payah memang. Ahahaha.

        Nah itu dia, saya baru ini lihat wajah lain Phnom Penh dari post mas, karena yang saya lihat waktu itu lebih ke kota modernnya. Cafe-cafe bagusnya, dan lain sebagainya. Saya memang cuma main di sekitaran central, nggak jauh-jauh dari hotel jadi nggak belajar banyak soal kota Phnom Penh in general. Ehehe. Terus saya belum pernah ke Siem Reap, karena waktu itu saya pikir daerah Siem Reap lebih ke alam. Sekarang menyesal ingin ke sana juga 😂

        Selalu suka baca cerita perjalanan yang penuh petualangan seperti blog mas dan beberapa teman lainnya, karena saya pribadi nggak akan sanggup melakukan perjalanan demikian jadi hanya bisa menikmati dari kisah teman-teman 😍 masnya sudah cocok jadi gantinya Hamish sepertinya 🤣

      • morishige · Maret 13

        Tapi jalanannya lebih enak ketimbang Sapa-Hanoi, Mbak. Jalannya datar dan lurus saja, jadi istirahat di bus lebih enak. 😀

        Memang benar-benar menguras tenaga, Mbak. Pegel-pegel juga sih pas turun dari kereta/bus, ditambah mesti jalan kaki pula nyari tempat menginap. Tapi, setelah beberapa hari, terbiasa juga. Langkah jadi terasa ringan-ringan saja meskipun manggul ransel di belakang dan daypack kecil di depan.

        Dulu saya pernah ikut workshop gratis pas UWRF2014. Soal makanan Kamboja. Narsumnya penulis perempuan dari Kamboja. Dia bilang, “Kalian mesti segera ke Kamboja, sebab beberapa tahun ke depan pasti lanskapnya akan berubah.” Kayaknya, meskipun masih bisa melihat sisi lama dari Phnom Penh, yang saya dapat tahun 2017 dan 2018 juga sudah lumayan modern.

        Terima kasih, Mbak Eno. Hahaha. Mbak Eno bisa saja. 😀

  11. Deddy Huang · Maret 12

    kota ini masih terlihat klasik, seperti melihat wajah pembangunan masa lampau. cuma di sinilah uniknya ya 🙂

    • morishige · Maret 12

      Klasik banget, Mas. Mungkin beberapa tahun mendatang akan banyak berubah, sebab banyak gedung tinggi sedang dibangun. 🙂

      Terima kasih sudah mampir, Mas Deddy. 🙂

  12. Anggie · Maret 13

    Wah ada go-viet, dulu saat tinggal di sana baru ada grab doang *sigh

    Ya itulah jeleknya Vietnam, masih banyak pungli, dulu saat tinggal di Hai Phong, kami menyewa satu kamar, setiap ada tamu selalu ada polisi datang mereka minta uang 50.000 dong, katanya untuk imigrasi, mau berdebat tapi mereka polisi, mau lapor juga bingung kemana, ya sudah apa boleh buat.
    Tapi untungnya di imigrasi ga pernah punya pengalaman pahit, mereka fine2 aja.

    • morishige · Maret 13

      Entah kenapa posisi berhenti go-viet-nya pas banget di samping bus. Jadi bisa nangkep di kamera. 😀 Tapi kayaknya masih lebih rame Grab deh di sana, Mas Anggie. 🙂

      Sampai segitunya ternyata, ya. Itu jelas manfaatin seragam buat nyari keuntungan pribadi. Hahaha. Di imigrasi Vietnam saya juga belum pernah kena persoalan, soalnya baru coba masuk lewat Tan Son Nhat dan Tay Trang. Kayaknya kapan-kapan perlu coba masuk lewat Moc Bai dan pos lain, nih. 😀

  13. bara anggara · Maret 13

    pungli berarti ya 1 dollar itu, macam di negara +62 saja yg di pelayanan pemerintahannya banyak pungli..

    goviet itu apakah anak perusahaan gojek? atau produk asli sana ya? 😀

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Maret 13

      Iya, Bung. Nggak ada kuitansi atau tanda terima apa pun. Ah, mudah-mudahan perbatasan kita nggak seperti itu. Malu rasanya kalau begitu.

      Kalau di berita-berita, statusnya “perusahaan lokal yang jadi mitra strategis Gojek.” 😀

  14. M Fikri Fakhrezy · Maret 13

    melihat kehidupan di vietnam ya spertinya 11:12 dengan indonesia aja ya mas hhe
    https://www.arenapublik.com/

    • morishige · Maret 13

      Iya, Mas Fikri. Secara “penampilan” hampir sama. 😀

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 😀

  15. aruna3 · Maret 19

    Wonderful.🌷

  16. Daeng Ipul · Maret 25

    Penasaran dengan rasa makanan di negara Indo-China ini
    bila dibandingkan dengan makanan Indonesia (anggaplah makanan Jawa), apakah ada kesamaan rasa? atau bedanya jauh?

    • morishige · Maret 25

      Bahan dasar makanan pokoknya hampir sama dengan bahan makanan di Indonesia bagian barat, Daeng. Sama-sama beras. Olahannya saja yang beda. Kalau kita di Indonesia kebanyakan menanak beras, mereka mengolah beras itu jadi mi dan dimakan dalam bentuk sup/soto. Di antara negara-negara Indochina, yang dekat banget rasa makanannya dengan Indonesia kayaknya Thailand, karena mereka juga banyak pakai rempah.

  17. Elly · Maret 26

    Kayeknya aq pernah baca cerita ini d sosmed, seru loh ceritanya. Salut!😁👍

    • morishige · Maret 26

      Terima kasih, Elly. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar. 🙂

      • Elly · Maret 26

        Sama².
        Bnarkah ini artikel sdh pernah diposting d FB? Krn ceritanya persis sama. Sudah lama sih aq baca itu…

      • morishige · Maret 26

        Sepertinya bukan, Elly. 🙂 Ini baru saya tulis beberapa hari yang lalu. 😀 Dan nggak di-share di FB.

      • Elly · Maret 26

        Ohhh kok persis ya ceritanya, mungkin aq lupa kali ya, krn uda lama sekali . Btw, keren pngalaman dan tulisannya …;)

      • morishige · Maret 26

        Malah saya yang jadi penasaran ini, kok sampai ada yang sama. Jangan-jangan doppleganger. Hahaha. Jika berkenan, mohon dicarikan link-nya supaya rasa penasaran saya terobati, Elly.

      • Elly · Maret 26

        Iya, nanti aq cari, tp itu uda lama, uda taunan… atau mungkin aq hrs baca artikel ini sampe abis, bs jadi serupa tp tak sama toh…;)

      • morishige · Maret 26

        Hahaha. Terima kasih, Elly.

      • Elly · Maret 26

        Sama²..😁👍

  18. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  19. Ping-balik: Naik Bus dari Bangkok ke Siem Reap | jejaka petualang
  20. Ping-balik: Naik Bus dari Malaysia ke Singapura | jejaka petualang

Tinggalkan Balasan ke travelingpersecond Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s