Malam yang Jatuh Lebih Cepat di Siem Reap

Kamar mandi White River bagi saya biasa-biasa saja, meskipun pasti akan dicela oleh pengulas akomodasi dan restoran profesional. Ada wastafel di sana, klosetnya sudah duduk, nuansanya putih, dan ubin-ubinnya yang mulai pudar menegaskan bahwa kamar mandi itu sudah veteran. Entah sudah berapa ribu tamu hostel atau bar yang pernah ke sana.

Sekitar jam 6 pagi, setelah membersihkan badan di kamar mandi itu, saya check-out. White River sedang memulai kehidupannya. Pekerja hostel dan bar itu lalu-lalang, sebagian membersihkan ruangan, menata meja dan kursi, sebagian lain sibuk beraktivitas di dapur.

Matahari juga sudah beredar di atas sana dan menyinari Phnom Penh dengan cahaya gemilang. Ia menemani saya jalan kaki dari area Museum Nasional Kamboja ke arah kantor pos, menghujani saya dengan anasir-anasir yang konon baik untuk kesehatan kulit.

Setiba di gedung Cambodia Post yang lawas itu, beberapa minivan Toyota HiAce sudah terparkir rapi di halaman. Saya melapor ke dalam lalu duduk di tangga depan menunggu jam 8. Gerombolan monyet itu tak datang pagi ini. Dan biksu-biksu berjubah safron itu di mana?

Satu setengah tahun lalu, jam segini saya sedang deg-degan menunggu Ching yang katanya hendak bareng saya ke Siem Reap—yang akhirnya tak pernah tiba.

Mungkin dulu ia ketiduran, atau memang enggan datang karena menyangka saya adalah bagian dari sindikat penipu antarnegara. Saya tak bisa menyalahkannya. Nyatanya memang susah untuk percaya begitu saja pada orang-orang yang kau jumpai di jalan. Terkadang saya juga defensif di awal, lalu ketidakpercayaan itu meluruh seiring mengalirnya percakapan. Dengan Ching, percakapan saya tak seintens itu, tak cukup sakti untuk meruntuhkan tembok-tembok kecurigaan—setidaknya tembok besar milik Ching.

Pelajaran bahasa ternyata memang sangat berguna.

Sebuah minivan distarter lalu memulai petualangan ke mana pun tujuannya. Saya tak tahu mana minivan yang akan saya tumpangi—yang itu tadi? Tak semua minivan Cambodia Post ditempeli tulisan yang menjelaskan tentang tujuannya. Demi memastikan, saya hampiri seorang petugas.

Eight o’clock,” ujarnya setelah mengamati tiket saya. Sekenanya ia menunjuk ke arah dua HiAce yang masih terparkir. Iya, jam 8. Tapi mobil saya yang mana? Sudahlah. Setidaknya saya lega bahwa minivan yang berangkat tadi bukanlah yang semestinya saya tumpangi.

Calon-calon penumpang lain mulai berdatangan. Ada yang jalan kaki, ada yang diantarkan tuk-tuk, ada pula yang dijemput oleh armada minivan kantor pos. Tapi cuma saya yang duduk santai di undakan. Lainnya, entah berdiri di trotoar atau duduk menjaga kopernya di bangku tunggu di bawah tenda sana.

“Sim Riep! Sim Riep!”

Supir minivan jurusan Siem Reap mulai memanggil penumpang. Selazimnya orang Kamboja, ia melafalkan Siem Reap “Sim Riep,” dengan “r” yang menggulung mantap dan “e” bulat sebelum “p.” Saya bergerak ke minivan, menaruh ransel di bagian belakang, lalu naik. Senang sekali rasanya; saya duduk di depan!

Duduk di sebelah kanan supir

Saya sudah cukup terbiasa naik mobil yang kemudinya di kiri, tapi baru kali ini duduk di depan, di sisi kanan.

Begitu minivan itu mulai melaju, saya merasa seperti seorang supir tak berdaya yang mesti mengendarai mobil tanpa setir, pedal gas dan kopling, dan rem. Saat minivan itu hendak memelankan laju sebelum perempatan, saya merasa harus menginjak pedal rem imajiner. Ketika mobil itu mesti dipacu, saya merasa harus menginjak pedal gas khayalan seraya melepaskan kopling pelan-pelan. Tapi, lama-lama saya terbiasa juga, kemudian sepenuhnya “menyerahkan” kendali pada sang juru mudi.

Selepas Jembatan Persahabatan Kamboja-Jepang yang panjang itu, minivan meliuk mengelilingi setengah bundaran dekat pom bensin Depot Tela—tempat saya pernah menamatkan Supernova Akar sembari menanti hujan badai reda—lalu meluncur melewati jalan besar yang suasananya seperti kota-kota perlintasan di Sumatera.

Duduk di depan bikin saya leluasa melihat rural Kamboja, yang tampaknya masih sama-sama saja seperti dulu. Boeng Prey Pras—danau raksasa berbentuk abstrak itu—masih eksis. Persawahan masih menghampar. Pohon-pohon lontar masih menjulang di sana-sini, mengingatkan saya pada Pulau Flores—atau Jeneponto. Rumah-rumah panggung yang bentuknya tak jauh beda dari yang di Prabumulih juga masih ada, lengkap dengan hammock yang dibentangkan di tiang-tiang. Menyenangkan sekali pasti siesta di sana.

Minivan itu hanya berhenti dua kali, sekali di sebuah toko kue dan sekali lagi di rumah makan Lim Bunna, Kaengkol, yang di halamannya dulu ada sebuah ruangan berisi VW kodok merah dan Mercedes-Benz lawas. Di Lim Bunna lagi-lagi saya tidak makan, hanya berdiri-berdiri saja dekat tangga depan.

Di mana pun, jarang sekali memang saya makan di rumah makan transit seperti ini. Jika tidak dengan kupon, saya enggan makan di tempat-tempat begini. Paling banter saya hanya beli Pop Mie di kios sekitar. Biang keladinya barangkali adalah rumah makan-rumah makan besar di jalur lintas Sumatera. Siapa pun yang pernah naik bus lewat jalur tengah atau timur Sumatera tentu tahu bahwa harga makanan di rumah makan-rumah makan itu tak masuk akal. Sekali waktu, saat mudik bersama semasa kuliah dulu, saya pernah bayar ekstra hanya untuk kuah!

Sekitar jam setengah 2 siang, menjelang masuk kota Siem Reap, dua orang cewek Prancis yang duduk di belakang mulai kasak-kusuk. Salah seorang dari mereka bertanya pada saya soal lokasi perhentian minivan.

“Minivan ini berhenti di kantor pos Siem Reap,” ujar saya. “Dekat dengan Old Market dan Pub Street.”

“Bisakah kamu bilang ke pak supir untuk mengantarkan kami ke hotel?” sambungnya. “Lokasinya dekat sekali dari kantor pos.”

“Bisa kucoba,” jawab saya.

“Tapi kau bisa bicara Khmer?” ia bertanya.

“Tidak,” jawab saya terkekeh.

“Kami kira kau orang Khmer,” ujarnya. Nanti mereka akan pulang membawa cerita bahwa paras manusia di negara-negara Asia Tenggara tak jauh beda.

Saya perlihatkan posisi hotel kedua pelancong itu kepada sang supir sembari bicara dan memberikan gamit yang kira-kira mendukung apa yang hendak saya sampaikan. Ia ternyata mengerti, tapi menolak untuk mengantarkan mereka ke hotel.

Post office… Post office,” tegasnya. Kedua pelancong itu tampak kecewa.

Sekitar jam 1.45 siang minivan itu memasuki halaman kantor pos Siem Reap. Beberapa orang supir tuk-tuk sudah menanti rezeki di sekitar teras depan. Begitu mobil itu sepenuhnya berhenti, saya membuka pintu lalu meloncat turun. Sembari menarik ransel dari bagian belakang, saya melirik bawaan kedua pelancong Prancis itu. Ransel-ransel mereka besar sekali memang. Pantas mereka minta diturunkan depan hotel.

Malam yang jatuh lebih cepat di Siem Reap

Pematang Sungai Siem Reap masih tetap sama, tampak teduh dinaungi pohon-pohon menjulang dan nyaman dilapisi rerumputan hijau yang tak sama tinggi. Tiang-tiang lampu jalannya, dengan relief-relief tribal, juga masih tampak seperti versi mini Menara Karin dalam komik Dragon Ball.

Pula, masih tetap sepi. Dulu, ketika berjalan ke arah Wat Damnak mencari hostel bernama Tropical Breeze, saya bahkan berpapasan dan saling melempar lambaian tangan dengan seorang pelancong yang sedang meluncur santai di jalanan dengan skateboard-nya.

Kali ini saya tidak ke Tropical Breeze. Ada hostel yang lebih murah, namanya Warm Bed. Lokasinya tak jauh dari Old Market. Dari kantor pos, saya berjalan santai ke arah Old Market, lalu terus ke selatan sampai bundaran Pokambor Avenue, kemudian melipir masuk jalan kecil di samping Major Cineplex Siem Reap.

Ada dipan kosong di dormitori.

Five dollars,” ujar wanita berusia 40-an yang menyambut saya di balik meja resepsi.

“Saya lihat di internet harganya 4USD,” saya berusaha menawar. Tak buru-buru mengiyakan, ia berdiskusi sebentar dengan pria yang sebaya dengannya, entah suami atau saudaranya; ini adalah hostel keluarga.

“Anda hendak menginap berapa lama?” ia bertanya. Dua malam, saya jawab. Kami pun sepakat di angka 4 dolar.

Lewat pintu kaca tebal di samping meja resepsi, saya dibawa naik tangga besi ke lantai dua. Kamar asrama itu lumayan besar. Dan, coba tebak, sebagian besar penghuninya adalah orang Bangladesh. Saya pilih dipan bagian atas di pojok dalam. Merasa letih dihantam panas Siem Reap yang ngentang-ngentang, saya bersih-bersih lalu menikmati siesta.

Matahari sudah lumayan condong ke barat ketika saya bangun dalam keadaan lapar. Saya turun dari dipan, keluar hostel, lalu jalan kaki menuju trotoar di seberang Old Market. Kali pertama ke Siem Reap dulu, setiap hari saya makan di tempat yang sama, sebuah gerobak motor yang penjualnya pria Khmer usia 40-an. Saya ingin mengetes apakah ia masih ingat dengan saya. Tapi ketika saya tiba di lokasi, ia dan gerobaknya tak ada. Ah, barangkali sekarang ia hanya jualan malam hari. Kadung lapar, saya beli mi di gerobak lain. Perempuan itu tampak gembira ketika saya duduk di salah satu kursi plastik ceper-nya.

Usai makan, saya sambut malam dengan duduk-duduk di salah satu bangku beton yang menghadap Sungai Siem Reap. Jika ada fitur dalam kepala yang secara otomatis menggenerasi timelapse dari bingkai-bingkai yang saya tangkap dengan mata, pastilah sekarang saya sedang mengulang-ulang video pendek Sungai Siem Reap—salah satu jamban terpanjang di dunia—yang perlahan menjadi kelam kemudian berubah jadi penuh pantulan warna-warni cahaya lampu.

Sudah malam tapi penjual mi yang saya cari tak jua muncul. Lalu, karena masih kenyang, saya kembali ke Warm Bed tanpa makan malam. Kasur empuk dan pendingin ruangan—yang hanya dinyalakan malam-malam itu—membuat saya cepat terlelap.

Lagipula, malam memang jatuh lebih cepat di Siem Reap.

Tiga gelas Angkor di Beatnik

Keesokan hari, saya bangun siang dan malas-malasan di kamar sampai agak sore. Sebenarnya saya enggan membakar diri dengan jalan kaki di bawah terik Siem Reap. Tapi saya mesti mencari tiket ke Poipet, kota di ujung timur Kamboja yang berbatasan dengan Thailand, untuk keesokan hari. Terlalu sore, bisa jadi saya mesti berjuang ekstra untuk mencari armada bus yang kuota kursinya masih lowong.

Six dollars,” ujar pemuda dengan ekspresi gender wanita di agen bus yang kantornya berada di seberang pojok utara Old Market. Dulu saya juga beli tiket di sana, kepada seorang perempuan (“She doesn’t work here anymore”), tapi harganya masih 5 dolar. Harganya sudah tak bisa diganggu gugat.

“Ini minivan, kok,” jelasnya. Enam dolar untuk minivan, wajar memang. Segera saya tebus tiket minivan itu. Esok pagi saya akan berangkat dengan mobil jam 6 pagi. Sekitar jam setengah 6 saya akan dijemput tuk-tuk ke titik keberangkatan.

Dari sana, saya berkeliaran sebentar sebelum mengisi perut dengan mi goreng di lapak kemarin. (Penjual yang saya cari masih belum muncul.) Usai makan, saya mampir ke sebuah toserba untuk membeli gunting kuku. Uang dolar saya berikan, lalu saya menerima kembalian berupa lembaran-lembaran riel.

Kamboja adalah salah satu negara paling ajaib yang pernah saya lewati. Di sini transaksi bisa dilakukan dalam dua mata uang, yakni dolar dan riel. Riel seakan-akan jadi subordinat dolar. Fungsinya lebih sering cuma sebagai kembalian, meskipun dolar di Kamboja lusuh-lusuh dan takkan laku jika ditukar di Indonesia.

Lalu saya ke Pub Street. Jalanan tanpa kendaraan bermotor itu ramai, begitu juga dengan restoran, kafe, dan bar di kedua sisi. Lampu warna-warni dengan bebal bersinar mengingkari malam. Musik live bersuara di mana-mana. Dari jalan besar Pub Street, saya menuju timur ke jalan yang lebih sepi.

Itu dia, masih ada: Beatnik!

Bar speakeasy itu sedang ramai; sedang ada penampilan musik live genre jazz. Tak mau mengganggu para aficionado yang sedang khusyuk menghayati jazz, saya masuk lewat pinggir dan duduk di depan meja bar.

K, orang Belarusia—yang saya curigai adalah pemilik bar ini—masih di sana. Ternyata samar-samar ia masih ingat saya.

“Kau orang Malaysia itu, ‘kan?” ia bertanya sambil mengernyitkan muka.

“Indonesia,” jawab saya.

“Ah, ya!”

“I went here with the South Korean guy one and a half years ago,” imbuh saya sembari mengingat J yang pulang ke Suwon, kampung halamannya dan “Ji-sung Park,” membawa skill melinting yang saya ajarkan padanya di beranda Tropical Breeze.

“Ya, ya, aku ingat,” katanya sambil tersenyum tipis.

“Jadi, sekarang ada live music di sini?” tanya saya.

“Ya! Tiga kali seminggu,” Jawab K tersenyum sembari menyebutkan hari-harinya.

Tiga gelas draft beer Angkor saya teguk malam itu di meja bar Beatnik. Musik jazz standar dan lagu-lagu jazzy jadi musik latar. Saya sempat tergelak mengingat kejadian di sana satu setengah tahun lalu, ketika saya me-request lagu kepada K untuk dicarikan di YouTube lalu diputar di corong Beatnik.

“Can you play an Oasis?” Bir tanpa Oasis seperti Paul Simon tanpa Art Garfunkel.

“We’ve played Oasis before. But since you’re new here, I’m gonna play it,” ujarnya. “Which song?”

“Champagne supernova!”

Oasis pun kembali mengudara kesekian kalinya malam itu.

Saya dalam keadaan tipsy ketika akhirnya kembali ke Warm Bed. Belum jam 11 malam padahal. Tipsy-tipsy begini enak sekali untuk tidur. Tapi, sebelum tidur saya mesti berurusan dengan satu persoalan lagi.

“Anda extend?” ujar pria pengelola Warm Bed ketika saya melintas di lobi. Mukanya tampak terkejut.

What do you mean?

“Anda sudah tiga malam di sini,” jelasnya. “Tapi baru membayar dua malam.”

Saya jelaskan bahwa ini baru malam kedua saya di situ. Agar ia yakin, saya sampai mengeluarkan paspor, mengecek tanggal di cap yang saya dapat di Bavet, memperlihatkan tiket Phnom Penh Sorya dan minivan Cambodia Post, lalu merasionalisasikan bahwa tidak mungkin saya check-in di mana pun di Siem Reap sore-sore hari yang sama dengan ketika paspor saya distempel di Bavet.

It’s okay,” ujarnya kemudian sambil tersenyum sopan memaklumi kesalahpahaman itu. Untung saya sedang tipsy. Kalau tidak mestilah saya mencak-mencak.

Don’t worry,” sambungnya.

75 comments

  1. Art of the Beat · Maret 16

    One day I will travel there…one day. Thanks for sharing.

    • morishige · Maret 16

      I believe you’re gonna be there one day. Looking forward to reading the story on Art of the Beat. 🙂

      You’re most welcome. And thank you for stopping by and leaving the comment. 🙂

      • Art of the Beat · Maret 16

        I believe that as well. I have wanted to see Thailand and Vietnam for years to experience the culture, the landscape and the food. I like reading (It takes me a bit because I have to translate) but it is always worth it to learn about new things.

        Stay well and thank you for your kind comments!

      • morishige · Maret 17

        Well then you’re gonna love both countries. The people are amazing, the landscape magnificent, the food, wow, mouth-watering.

        Thank you very much for reading the posts. It had to be quite an effort. But I guess the translation tools on web browsers are getting better, although sometimes they are unable to interpret some phrases, idioms, or expressions.

        Stay well too! 🙂

  2. Imelda · Maret 16

    hahaha… kebayang deh duduk di depan samping supir, tapi kanan! Bisa injak rem terus :v

    • morishige · Maret 16

      Hehehe… Deg-degan banget awalnya, Mbak Imelda. Berasa kehilangan pegangan. 😀

  3. Titik Asa · Maret 16

    Saya baru tahu kalau dollar berlaku dalam transaksi harian disana Mas. Eh koq bisa demikian ya Mas?
    Foto-foto outdor-nya menarik Mas. Terlihat banyak pepohonan disana. Koq mirip-mirip dengan suasana di Bogor sekilas memandang sih. Udaranya sejuk disana Mas? Saya membayangkan demikian kalau melihat banyaknya pepohonan yang besar-besar begitu.
    Penasaran dengan jazz standar yang dinikmati di bar nih. Yang bermain musisi lokal kah? Hehehe…sudah lama saya gak simak live jazz nih.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    • morishige · Maret 16

      Sebelum membalas ini, saya menjelajah internet dulu untuk menemukan jawaban soal dolar di Kamboja, Pak. 😀 Jawabannya ketemu waktu saya baca sebuah wawancara Wharton School, Univ. Pennsylvania, dengan salah seorang bankir di bank sentra Kamboja. Ternyata dolar mulai banyak digunakan di Kamboja sejak UNTAC (lembaga PBB untuk transisi kekuasaan Kamboja) datang tahun 1992, Pak. Sejak itu, masyarakat terbiasa pakai dolar, sampai sekarang. Cuma, ternyata sekarang pemerintah Kamboja sedang berusaha buat memupuk kebanggan warganya sama mata uang riel.

      Di daerah pinggiran Sungai Siem Reap, suasananya memang teduh, Pak. Tapi panas banget. Mungkin karena Siem Riep letaknya di dataran rendah. Bogor sepertinya jauh lebih adem. 🙂

      Sayangnya kemarin yang main semuanya bukan orang Kamboja, Pak Asa. 🙂 Kalau nggak salah, kemarin itu mereka memainkan beberapa nomor Nat King Cole, Sinatra, ada Coltrane juga. 😀

      • Titik Asa · Maret 20

        Jadi demikian tentang dollar disana Mas. Kalau sudah terbiasa, sepertinya repot juga ya untuk masyarakat bangga dengan mata uang riel. Tantangan buat pemerintah disana.

        Oh panas rupanya disana Mas. Melihat foto dengan banyak pepohonan bayangan saya sejuk seperti di Bogor.

        Jadi ngiler simak live jazz, apalagi mereka memainkan komposisi-nya John Coltrane. Ah keren pisan Mas.

        Salam,

      • morishige · Maret 20

        Iya, Pak. Mudah-mudahan saja keadaan bisa berubah di sana dan warga Kamboja bisa lebih bangga dengan riel-nya.

        Pohon-pohon rindah itu cukup membantu, Pak. Meskipun panas, setidaknya sengat cahayanya nggak langsung mengenai kulit, ditapis dulu sama pohon-pohon itu. 🙂

        Selalu menyenangkan melihat pertunjukan jazz live yang menampilkan lagu-lagu standar jazz, Pak. 🙂

      • Titik Asa · Maret 22

        Pohon-pohon itu banyak jasanya ya Mas. Semoga saja dimanapun gak maen tebang saja ya, seperti kasus di hutan-hutan kita belakangan ini.

        Tentang pertunjukkan jazz, sudah lama saya gak hadiri. Sebenarnya April ini ada festival jazz di Bandung, KampoengJazz. Saya sudah plan mau dihadiri, tapi melihat situasi seperti sekarang ini, pastinya festival tersebut akan digagalkan.

        Salam,

      • morishige · Maret 22

        Iya, Pak. Cuma kadang kita nganggap mereka benda mati, terus seenaknya mengecat, memaku, menebang, cuma karena mereka nggak bisa ke mana-mana.

        Belum aman memang Pak buat ke mana-mana beberapa bulan ini. Mungkin sekarang waktunya kita dengerin AccuJazz.com hehehe… Dulu sering banget dengerin ini, tapi sekarang sudah jarang. Sepertinya menarik untuk dicoba lagi. 😀

      • Titik Asa · Maret 23

        Baik Mas, asik juga tune di Accujazz.

        Sehat selalu Mas dan keluarga di Yogya.

      • morishige · Maret 23

        Selamat menikmati AccuJazz, Pak Asa. 🙂

        Terima kasih, Pak. Sehat selalu juga buat Pak Asa dan keluarga di Sukabumi.

        Btw, kemarin saya lihat di berita di Sukabumi ada gempa, Pak. Bapak baik-baik saja kan di sana?

  4. Indonesia Hebat · Maret 16

    Itu receptionistnya iseng2 berhadiah ya Mas. Pura2 bego dan nanya iseng kesetiap tamu yang tampak ngantuk yak. Biar dapat lebih 😀

    • morishige · Maret 16

      Kayaknya sih memang lupa, Greatnesia. Mungkin karena di kamar dorm banyak yang datang dan pergi, jadi mereka “lost track” soal waktu check-in tamu-tamunya. 🙂

  5. Zizy Damanik · Maret 16

    Hahaha kebayang rasanya jadi supir tanpa alat perang. Kaki rasanya mo injek rem terus hahahaaa… kebayang stressnya…
    Eniwei, memang benar karena kita orang Asia Tenggara mirip2, pas pergi ke mana suka dikira orang lokal kan. Saya juga dulu diajak bicara sama orang Thai, dia kira asli orang Thai. LOL.

    • morishige · Maret 16

      Hahaha. Bener, Mbak Zizy. Rasa-rasanya mesti menginjak sesuatu kalau duduk di kanan depan. 😀

      Iya, Mbak. Setiap kali jajan di Sevel, pasti diajakin ngomong Thai. Sehari dua hari sih lucu, ya. Tapi kalau sampai berminggu-minggu kayak gitu, gemes juga. 😀

      Terima kasih sudah singgah, Mbak Zizy. 😀

  6. Agus warteg · Maret 16

    Duduk di depan bikin saya leluasa melihat rural Kamboja, yang tampaknya masih sama-sama saja seperti dulu. Berarti sudah lebih dari sekali ya kang ke Kamboja, bisa jadi dua atau tiga kali.😊

    • morishige · Maret 16

      Mas Agus benr. Sebelumnya pernah sekali. 🙂

      • Agus Warteg · Maret 21

        Oh, ada keperluan apa kang balik lagi ke Kamboja sih, apa ada hal penting atau nyari janda, sepertinya terakhir ngga mungkin ya.

        Wah, bukan cuma di lintas timur sumatera kang yang harga makanan nya kalo lebaran mahal, di jalur Pantura Jawa juga kalo mudik bakal di cekek harganya.

        Pernah dua hari sebelum lebaran pulang kampung, karena lapar maka makan di pinggir jalan. Kami berempat makan nasi plus pecel lele dan teh manis, harganya 500 ribu, mendadak kok jadi kismin.😂

      • morishige · Maret 22

        Wahahaha….

        Kayaknya memang di mana-mana, Mas Agus. Mungkin mereka mikir: ini orang-orang pasti mau nggak mau makan di sini, kalau enggak mau makan di mana lagi. 😀

        Wah, 500 rb buat empat orang lumayan itu. Jangan-jangan makannya di McD ya? 😀 Kan McD juga ada tuh di pinggir jalan.

  7. M Fikri · Maret 17

    backpacker sendiri ini asik ya mas sepertinya

    -arenapublik.com-

  8. cerita nina · Maret 17

    Ternyata duduk di depan nggak bisa fokus menikmati pemandangan ya, sibuk ‘ngegas’ dan ‘ngerem’.. 🤣.
    Abis gitu klub jazz dipaksa main lagunya Oasis ckk..ckk..ckk.. 🤣

    • morishige · Maret 17

      Malah berasa jadi awak minivan. Hahaha.

      Iya juga sih, ya. Di speakeasy mestinya request lagu yang nggak berisik, sih. Kalau enggak, nggak bakal easy buat speaking. 😀

  9. Alid Abdul · Maret 17

    Entah kenapa saya nggak pernah suka dengan Pub Street di Siem Reap. Entahlah. Hypenya kurang buat saya dibandingkan night market di belahan Indochina 😀

    Ironis memang, negara ingin memupuk kebanggaan terhadap Riel, sementara ketika saya narik duit di ATM ada pilihan mau narik Dolar apa Riel. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan, seharusnya meniadakan saja Dollar.

    Masih mending mas dikatain extend. Lah aku pernah cek in nunjukin lembar bookingan, dijawab resepsionis “this reservation for tomorow, not today” bhuahahaha

    • morishige · Maret 17

      Hype-nya memang kurang banget, sih, Mas Alid. Keknya nggak banyak juga (atau malah nggak ada) yang jualan bucket kayak di Khao San. Masih lebih kedengeran suara orang jalan pakai sandal jepit ketimbang musiknya. 😀 Pasnya sih buat ngobrol-ngobrol santai aja.

      Pertimbangan mereka dulu ekonomi kayaknya, Mas. Dengan dolar, mereka berharap investor pada masuk, karena lebih aman investasi pakai dolar ketimbang mata uang lokal. Tapi masyarakat sudah kadung terbiasa pakai riel, sampai-sampai katanya–menurut wawancara sama bankir bank sentral yang saya baca–orang Kamboja sendiri mesti pakai kalkulator buat ngonversi harga dari dolar ke riel.

      Bah! Terus gimana, Mas Alid? Akhirnya bisa check-in? Bwahahaha… 😀

  10. bara anggara · Maret 18

    itu duduk di tepi kanan tanpa setir kaya lagi naik mobil masa depan, udah otomatis semuanya wkwk..

    bule2 itu liat orang asean mirip2 sama seperti kita ke eropa liat bule kali ya, mirip2 padahal beda2 negara dan bahasa 😀

    itu nembak udah 3 malam jangan2 mau scam tapi gagal 😀

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Maret 18

      Pas banget itu penggambarannya. Mungkin begini bakal rasanya pertama kali naik self-driving car. 😀

      Iya, Bung. Sama kayak kita ngeliat mereka dan kaget ternyata nggak semua yang berambut pirang bisa bahasa Inggris.

      Hahaha. Entahlah itu. Untung malam itu masih rasional dan bisa kasih bukti-bukti kuat. Pencapaian juga, sih, bisa debat tapi ngomong pelan-pelan dan terstruktur, nggak berapi-api. 😀 Orang Kamboja paling malu kalau kehilangan muka. (Apalagi di Kamboja ada konsep ‘kum’ alias dendam yang bisa sampai menahun.) Jadi waktu itu berusaha juga buat nggak saling mempermalukan. 😀

      • bara anggara · Maret 30

        noted nih! kalau ke Kamboja jangan sampai bikin mereka dendam, bisa diingat terus yaa.. bisa aja pas kita balik ke Kamboja terutama ketemu orang bersangkutan, kita mungkin lupa tapi bisa jadi dia masih ingat..

        -Traveler Paruh Waktu

      • morishige · Maret 30

        Dari referensi-referensi, orang Kamboja paling malu kalau “kehilangan muka.” Hampir sama kayak kita di sini mungkin, Bung Bara. Khum ini juga yang konon bikin rezim Khmer Merah jadi nyeremin kayak gitu.

  11. Adie Riyanto · Maret 18

    Hahaha selalu ada yang menarik ya kalau trip ke Kamboja ini. Pub Street emang happening banget sekarang. Rame banget, meski paling rame tetep pas malem minggu. Soal riel, aku koleksi beberapa dari kembalian KFC. Duitnya masih gres ewes ewes, jadi tak simpen aja. Klo dollar emg uwel-uwelan macam dua ribuan di kita hahaha 🙂

    • morishige · Maret 18

      Yoi, Mas Adie. Banyak banget rasanya yang bisa diceritakan soal perjalanan di Kamboja, padahal yang saya hampiri baru secuil saja dari negara itu.

      Riel wujudnya telalu kayak uang monopoli sih, ya. Mungkin karena wujudnya itu sampai sekarang masih kalah pamor ketimbang dolar. Kalau dibikin lebih premium kayak ringgit, kalau ekonomi Kamboja sudah memungkinkan untuk begitu, kali aja reputasinya bakal naik. Hehehe.. Dolarnya, apalagi yang 1 dolar, lecek-lecek banget. Money changer di Indonesia pasti bakal nolak mentah-mentah. 😀

  12. Ella · Maret 18

    bener bgt, kadang aku naik mobil yang supirnya nggak kenal dan ugal2an bikin deg2an.. berasa ikutan nginjak rem, huhu
    eh gimana? baru dua malam udah diusir aja, wkwkwk

    • morishige · Maret 18

      Saya bakal tidur aja kalau supirnya ugal-ugalan, Mbak. Mudah-mudahan pas bangun sudah sampai, dan di tujuan. 😀

      Hahaha.. Mungkin waktu berasa berlalu terlalu cepat waktu saya nginap di hostel itu. Makanya dia ngira udah malam ketiga 😀

  13. Nasirullah Sitam · Maret 18

    Jadi ingat cerita kawan, dia dikira orang asli India. Jadi waktu masuk destinasi dikasih harga orang sana.
    Seperti itulah perjalanan mas, terlebih di luar negeri. Selalu ada cerita, kadang komunikasi tidak lancar dan yang lainnya.

    • morishige · Maret 18

      Enak banget itu, Mas. Asal nggak diajak ngobrol aja pasti lancar jaya itu pas di loket tempat wisata. 😀

      Bagaimanapun, sebenernya bahasa cuma satu aspek saja dalam berkomunikasi ya, Mas. Kalau niat kita tersampaikan dengan baik, gesture mendukung, orang pasti mengerti. Pertanyaannya sekarang, kita sendiri yang bisa sabar atau enggak. 😀

  14. aruna3 · Maret 19

    Most beautifully written with beautiful photos🌷

  15. Hanila PendarBintang · Maret 19

    Nah, di Bali sebelum ada peraturan semua bisnis harus mengeluarkan invoice IDR saya sering jualan dengan $ di toko retail tempat kerja dulu. Tapi, meski ada peraturan tersebut asal hard cash tetep juga sih, bisa terima USD. Cuman bukan semua toko retail/merchant, hehehe.

    Kalau tinggal di hostes begitu saat kita pergi apakah aman barang kita tinggal? Apalagi kalau saya denger Bangladesh, orang-orang Bangla ini sudah terpatri dengan image jelek di otak. Meski pada dasarnya manusia di mana saja sama, ada yang baik ada yang nggak.

    • morishige · Maret 19

      Hehehe… Sampai sekarang juga kayaknya resto-resto fine-dining atau resort masih banyak yang ngasih offer pakai dolar ya, Mbak? 🙂

      Aman-aman saja sebenarnya, Mbak. Biasanya di kamar atau di luar kamar ada loker. Cuma seringnya nggak dikasih gembok. Pun dikasih, biasanya mesti nyetor deposit. Buat menyiasati, biasanya pada bawa gembok sendiri-sendiri. 🙂

      Sejauh ini yang saya jumpai yang baik-baik saja. Belum pernah ada kejadian nggak enak. Pernah, seharian laptop saya tinggal di dipan, cuma ditutupi selimut saja, dan aman. Soal pencoleng ini, biasanya, menurut cerita kawan-kawan pejalan, yang nyolong malah orang yang nggak dicurigai. 🙂

  16. ysalma · Maret 19

    Ikut ngebayangin pertama kali duduk di depan dengan stir di kiri itu. Betapa gregetan penyesuaiannya dengan gas, rem virtual itu 😀 .
    Aih,, ketika harga tiket pesawat terjangkau, rumah makan di lintas Sumatera banyak yg mati suri. *kenapa di artikel Kamboja, sy malah komen lintas Sumatera? hihihi*

    • morishige · Maret 19

      “Old habits” ternyata memang “die hard,” Mbak. Keknya karena keseringan duduk di kiri pas di angkot. 😀

      Wah, beneran, Mbak? Grup Begadang masih eksis tapi ‘kan? 🙂 Tapi sekarang pas harga tiket pesawat mahal lagi, mungkin RM jadi menjamur kembali. 🙂

      • ysalma · Maret 20

        Waktu dulu duduk di angkot ditemani musik berdentum2 tapinya 😀

        Mudah2an.

      • morishige · Maret 20

        Nggak ada musik ajeb-ajeb nggak seru memang. Rasa-rasanya ada yang kurang 🙂

  17. Rudi Chandra · Maret 20

    Wah.. pengalaman baru tuh duduk di sisi kanan supir tapi nggak ada rem dan gasnya.

    • morishige · Maret 21

      Iya, Mas Rudi. Pengalaman baru banget.

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 🙂

  18. travelingpersecond · Maret 20

    Bagaimana rasanya jadi uncle Pol Pot bertahta di Cambodia?
    Menyusuri tempat tempat mengerikam di Tuol Sleng yang bisu dengan foto foto tak berdaya memohon ampun dan tolong…..
    Menyedihkan ya mase…..hikss

    • morishige · Maret 21

      Mengerikan banget, Mas. Sebagian ceritanya bisa kita lihat di The Killing Fields. Tapi, kita bakal jadi lebih bergidik lagi kalau baca memoarnya Haing Ngor (pemeran Dith Pran dalam film The Killing Fields). Dia nyeritain Kamboja pas dia kecil (sekitar tahun 40-50-an), suasana mencekam pas Khmer Rouge lagi di daerah rural Kamboja, sampai waktu dia dan jutaan orang Phnom Penh diusir dan disurh ke semacam kamp kerja paksa. Ngeri banget.

  19. Titik Asa · Maret 22

    Ini gara-gara Mas nyambit-nyambit nama Coltrane, jadi pagi ini saya menyimak komposisi-komposisinya John Coltrane di 2 albumnya Giant Steps(1960) dan My Favorite Things (1961), karena pagi ihi disini hujan dan saya gak bisa jalan kaki pagi. Nikmati cemilan, segelas kopi dan John Coltrane. Asik juga ternyata…

    Mari simak Jazz, Mas.

    Salam,

    • morishige · Maret 22

      Hehehe… Mari simak Jazz, Pak. 🙂

      Pasti indah sekali pagi Pak Asa di Sukabumi: camilan, kopi, dan John Coltrane… 🙂

  20. Anggie · Maret 22

    Hahaha.. Saya juga dulu gitu waktu pertama kali naik mobil di eropa sebagai penumpang xD kaki tu rasanya ga bisa tenang karena merasa “nyetir” 😀

    Anyway, dulu saya pernah kecelakaan saat di Vietnam, saya sewa motor, karena kebiasaan di RI, jalan di sisi kiri, akhirnya tabrakan karena jatuhnya lawan arus :/

    • morishige · Maret 23

      Sama satu lagi: menyeberang, Masdab. Refleks saya ya khas pengguna lalu lintas Indonesia. Nyeberang dari barat ke timur, pasti yang diliat kanan duluan. Kalau kedaraannya lewat kanan, beda lagi kan refleksnya. 😀

      Wah, parah nggak, Mas? 😀 Tapi ya kebayang sih betapa susahnya nyalip kalau lalinnya di kanan 😀

  21. rivai hidayat · Maret 22

    Aku pernah naik bus lintas Sumatera Bengkulu-Padang mas. Di tengah perjalanan istirahat makan di Lubuklinggau. Kalau bus lintas Jawa, tiket sudah makan. Tapi itu tidak berlaku di Sumatera. Tiket belum termasuk makan.

    Akhirnya aku makan, karena perjalanan masih panjang. Aku hanya makan nasi, lauk ikan, dan minum teh. Menuju kasir dan diharuskan membayar Rp35.000. cukup mahal dengan menu yang sederhana. Pengalaman menarik sih bagiku..hahaha

    Cerita tentang siem riep nya asyik mas. Termasuk ketemu lagi dengan K, pemilik bar. Ternyata dia ga lupa kalau kalian pernah ketemu. Mantaap mas 😀

    • morishige · Maret 23

      Rp35 rb ngalah-ngalahin RM Sederhana ya, Mas? 😀

      Hehehe. Itulah Mas salah satu hal yang masih kurang di armada bus lintas Sumatera. Mungkin karena persaingannya nggak seketat di Jawa kali, ya, makanya service jadi urusan kesekian? 😀

      Terima kasih, Masvay. 🙂 Saya juga nggak nyangka K masih ingat. Suatu saat mungkin bisa ngumpul-ngumpul lagi sama kawan-kawan yang pernah nongkrong di sana. 😀

  22. Zam · Maret 23

    soal mata uang ganda, ini kualami juga di negara-negara Skandinavia dan Republik Ceko. mereke menerima Euro, tapi kembalian ke Kron/Krone. di Praha, ada yang menerima Euro, tapi kursnya tentu sangat tidak bagus. Di Copenhagen, saya disarankan menggunakan transaksi menggunakan kartu daripada tunai, karena malas menerima uang tunai Euro. untuk ATM, meski ada lambang € atau $, si ATM hanya mengeluarkan mata uang lokal.

    • morishige · Maret 23

      Owalah. Pantesan kawan dari Ceko dulu bawanya krona, bukannya euro. Tapi Ceko memang resminya nggak pakai euro atau popularitasnya aja yang kurang, Mas Zam?

      • Zam · Maret 24

        mata uang Republik Ceko memang Krona. tidak semua negara anggota EU pake Euro, dan tidak semua anggota Schengen anggota EU. Swis itu Schengen tapi bukan EU. mata uangnya Franc.

      • morishige · Maret 24

        Jadi krona-nya nggak cuma koin, Kang? Wah, jadi ngerti sekarang. Tak kira krona cuma dalam bentuk koin dan fungsinya kayak sen. Ternyata Ceko memang nggak ikut perjanjian moneternya EU. 😀

      • Zam · Maret 28

        Krona itu nama mata uangnya.. sama kaya Dollar gitu. Denmark, Swedia Norwegia, dan Islandia pake Krona. cuma Finlandia negara Skandinavia yang pake Euro.

      • morishige · Maret 30

        Owalah, ternyata begitu. 😀 Tapi kinclong juga sih koin krona itu, Kang. Hahaha.

  23. CREAMENO · Maret 23

    Mas, maaf baru sempat berkunjung 😁

    Ada beberapa yang mau saya komentari 🤣 pertama, saya tau banget tuuuh rasanya setir imajiner, makanya saya paling malas duduk di samping kemudi (lebih baik di kursi belakang) karena entah kenapa, setiap kali duduk di samping kemudi, saya selalu menekan kaki saya secara otomatis saat driver rem mendadak, dan perasaan itu menyebalkan 😂

    By the way, saya juga paling malas kalau makan di resto-resto lintas sumatera saat mudik ke rumah nenek di masa silam sebelum harga tiket pesawat menjadi sangat murah meriah. Pasti setelah mampir ke resto, ibu saya akan menggerutu, ‘Masa tadi makan udang, 5 pcs kecil-kecil disuruh bayar 50 ribu rupiah.’ 🤣 dan itu terjadi 20 tahun silam, entah berapa harga udang tersebut sekarang hahaha. Anehnya, meski begitu, ibu dan ayah saya tetap saja berhenti kembali di resto lintas Sumatera setiap kali mudik ke rumah nenek saya. Katanya, ‘Nggak ada pilihan, daripada nggak makan.’ 😂

    For the last, saya jadi semakin banyak tau soal Siem Reap dari blog mas 😁 thanks for sharing, ya!

    • morishige · Maret 23

      Halo, Mbak Eno. Semoga baik-baik saja di sana. 😀

      Wah, berarti lama banget ya itu, Mbak, menyesuaikan diri buat duduk di depan di mobil setir kiri? 🙂

      Makanya bokap lebih senang makan di warung-warung nasi goreng sekitar rm-rm lintas Sumatera itu, Mbak. Harganya memang lebih mahal ketimbang nasgor biasa, tapi tetap nggak bikin tekor kayak kalau makan di rm-rm itu. Hehehehe….

      You’re most welcome, Mbak Eno. 😀

  24. Daeng Ipul · Maret 25

    Salah satu jamban terpanjang di dunia…

    penasaran, seperti apakah posisi orang-orang ketika menggunakan jamban itu sebagai jamban terpanjang di dunia? hahaha

    • morishige · Maret 25

      Wah, senangnya Daeng Ipul baca detail itu. 😀

      Orang-orang di Siem Reap cuek-cuek saja kencing di sungai, Daeng. Bahkan di tempat-tempat yang ramai. Mereka tinggal turun dari pematang, buka ritsleting, terus BAK. Selama duduk di kursi di pinggir sungai lihat-lihat suasana, banyak sekali yang seperti itu. Semula saya kira cuma anomali, ternyata memang praktik umum. 😀

  25. dian · Maret 29

    Whaaaa… baca postingan-postingan terakhir jadi mupeng pengen ke sana lagi. Hahaha… Tapi itu beneran dikira bisa bahasa setempat sama sesama orang asing itu kejadian juga. Sayangnya waktu di Siem Reap dulu nggak sempat explore banyak tempat, khusus emang pengen ke Angkor Wat. Kayaknya emang mesti diulangi ya…
    Terima kasih pengobat rindunya ya mas 🙂

    • morishige · Maret 30

      Wah, pasti waktu Mbak Dian ke sana dulu kondisinya beda banget. (Kalau ada postingannya di blog, saya mau baca, ah. Hehehe.)

      Siem Reap keknya pas banget sih Mbak buat mager. Asal ada AC aja di kamar. Tenang banget soalnya. Sore-sore, tinggal jalan kaki aja ke taman di pusat kotanya itu, duduk santai sambil entah ngapain. 😀

      Terima kasih sudah membaca, Mbak Dian. 😀

  26. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  27. Putri Sarinande · April 8

    wk wk wk, tipsie. dipsie. lala. poooooo. 😀 dadar jamur unyu gak vrooooh? sekalian. pi susyah nyariknya, gatau jugak deh. ini gara2 ada temen, pernah nanyak mintak mamam jamur ajaib (she is a vegan, she said) 😀 jadi manjang ini tanggapan. padaL tadi mw bilang, aksaranya kok kayak aksara Thailand. trus mikir lagih, Angkor Wat mah adanya di Kamboja, lah ngapah di Thailand. Wat Arun, ada mah. sama kata “wat” nye ahahahhaaa 😀 Wat Phra Mahathat dink yiang lebih jaduL

    • morishige · April 8

      Bisa sampai pagi itu ngekeknya. Tapi ga bisa mobile kalau yang itu sih. Mesti cari selter dulu. Mary jane tapi sih yang di mana-mana bwahaha. Yang paling unyu Wat Pho…. Temennya warna-warni hahaha.

  28. Rifan Jusuf · April 16

    Sudah beberapa kali saya membaca blog ini dengan mode auto translate ke bahasa inggris, dan hasil penerjemahannya nya pancen cakep bener memukau, nggak kalah sama naskah aslinya. vocabularynya kaya dan sastra perjalanannya cakep banget. pantes pembaca bule dari memuji writingnya.
    Ini cocok banget serialnya dibukukan.. (i hope ya mas.. amiin)

    sedikit sempat katawa pas bagian “saya merasa seperti seorang supir tak berdaya yang mesti mengendarai mobil tanpa setir, pedal gas dan kopling, dan rem. ” wkwk. btw dulu pernah nyewa motor pas solotraveling ke filipina, disana juga lajur kanan.. dan saa sempat shock awal2 nyetir suka kelewat kelewat lajur kiri haha.. hari kedua baru lancar wkwk

    asyik ya obrolannya. Bisa gaul begitu kenal sama orang lokalnya dan ingat suasanya.. Saya harus belajar banyak sama bung morish biar bener2 akrab dengan sekitar, dan ngerasain travel like a local..ini yang pastinya seru dan bikin perjalanan berkesan.

    • morishige · April 16

      Wah, terima kasih untuk apresiasinya, Mas Rifan. Versi terjemahan Google-nya kayaknya masih agak kesusahan mengintrepretasi konteks “gender pronoun”-nya. Jadi kadang ketuker-tuker terjemahan “dia perempuan” dan “dia laki-laki”-nya. Tantangan juga ini. Gimana ya cara mengatasinya. Hehehe…

      Hahaha… Pasti pengalaman personal itu seru banget kalau diceritakan, Mas. Kelihatannya memang sederhana, tapi kayaknya bisa menjelaskan banyak hal juga. Hehehe.., Saya belum pernah mengendarai soalnya, baru bonceng saja di lajur kanan. 😀

      Mungkin karena saya nggak pakai SIM card, Mas Rifan. Karena mesti melakukan sesuatu untuk terus merasa terhubung dengan orang lain, jadilah saya ngobrol-ngobrol. Ada-ada saja cerita yang bisa didapat dari obrolan-obrolan itu. 😀

Tinggalkan Balasan ke Putri Sarinande Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s