Menyeberang ke Thailand

Tuk-tuk Kamboja agak beda dari yang beredar di Thailand. Alih-alih menyerupai bajaj, moda transportasi itu akan lebih tepat jika digambarkan sebagai versi lebih panjang dari delman-delman yang lalu-lalang di Pantai Parangtritis. Hanya saja, bukan kuda hidup yang menarik gerobaknya, tapi kuda Jepang.

Sasis gerobaknya tampak agak jauh dari kata solid. Viar atau Tossa masih lebih baik. Lewat jalan yang kurang mulus, gerobak tuk-tuk itu akan bergoyang heboh memproduksi bunyi yang mungkin saja bisa disalah kaprah sebagai suara kerincing logam di tepian tamborin.

Maka pagi itu, ketika akhirnya tuk-tuk itu mengaspal di jalan mulus, saya gembira sekali. Getaran berkurang drastis; sel-sel dalam tubuh saya kini bisa kembali ngopi-ngopi pagi. Dari bundaran Pokambor Avenue, delman hybrid itu membawa saya meluncur di samping Old Market, melesat ke timur menyeberangi Sungai Siem Reap, melipir bundaran Wat Damnak, sebelum akhirnya berhenti di lokasi keberangkatan minivan menuju Poipet.

Lepas jam 6 pagi, minivan itu mulai bergerak. Sebentar saja kota Siem Reap sudah hilang dari zona pandang. Kini yang sering kelihatan dalam bingkai kaca depan adalah jalan lebar dan lurus yang diapit oleh persawahan, dengan jejeran tiang listrik beton yang berujung di horizon.

Siang sedikit, ujung deretan tiang itu akan dilamun riak fatamorgana.

Musim panen jelas sudah lewat sebab yang tersisa dari sawah-sawah itu hanyalah kumpulan pokok cokelat yang meranggas. Hijau—atau rona kehijauan—hanya keluar dari dedaunan pohon lontar. Di antara lanskap kecokelatan itu, manusia-manusia Kamboja sedang memulai hari. Anak-anak kecil berangkat sekolah, petani memacu traktor untuk mencari rezeki, polisi Kamboja menghentikan mereka yang hendak mencari rezeki… untuk mencari rezeki.

Teman mengobrol saya pagi itu adalah seorang pria tua dari Prancis. Ia hendak ke Pattaya. Umurnya barangkali sudah 60 tahun. Tahu saya dari Indonesia, ia nostalgia soal perjalanannya sekitar dua dekade silam. Ia pernah mampir ke Jogja.

“Melihat Angkor Wat bikin aku ingat Prambanan,” ujarnya dengan suara sengau khas Prancis.

Matanya melihat ke depan, ke arah jalan yang lurus minta ampun itu, tapi saya yakin bioskop dalam kepalanya sedang memutar gambar-gambar sepia ketika ia masih muda. Potongannya mungkin sedikit lebih langsing, uban-ubannya barangkali masih menyempil di belakang rambut hitam, keriput di wajahnya jelas belum kentara.

“Tapi, pasti berbeda sekali rasanya pelancongan dua puluh tahun lalu ketimbang yang sekarang?” saya penasaran. “Maksudku, sekarang kita sudah bisa pesan tiket lewat ponsel, pesan hotel….”

“Ya, tentu saja,” jawabnya. “Tapi aku suka. Sekarang semuanya jadi lebih mudah.”

Menarik juga. Jarang-jarang saya berjumpa orang tua yang tidak mengglorifikasi zamannya. Perjalanan pastilah sudah memberikan dirinya jutaan pelajaran. Perjumpaan dengan bapak itu jadi bikin saya merenung; meskipun susah, saya yang masih muda ini mesti belajar untuk mengurangi bilang “pas zamanku dulu” ketika berbicara dengan orang yang lebih muda.

Saya ogah jadi orang yang di keningnya tertempel poster eyang-eyang bersenyum mematikan dengan balon suara “Piye kabare? Isih penak jamanku to?”

“A hundred baht”

Dekat bundaran paling ujung Kamboja di sekitar kasino-kasino Poipet, minivan itu berhenti. Jam 9 pagi sudah lewat sekitar sepuluh menit. Saya mengucapkan selamat tinggal pada pejalan veteran dari Prancis itu. Ia, karena membeli tiket langsung ke Pattaya, mesti menunggu pengarahan dari supir minivan untuk ditransfer ke mobil lain di sisi Thailand sana.

Saya bergegas ke pos lintas batas Poipet yang bersahaja itu lalu mengantre di depan salah satu dari beberapa loket imigrasi yang buka. Tak menunggu lama sampai giliran saya tiba.

One hundred baht,” ujar seorang petugas gempal di balik loket yang mengurus dokumen saya.

Kutipan apa lagi ini?

For what?

Jika ia bisa menjawab itu, dan memberi bukti bahwa pungutan itu legal, tentu dengan senang hati saya akan membayar. Tapi, alih-alih menjawab, ia cuma tersenyum, mengambil departure card dan membolak-balik paspor saya, lalu menyeletukkan sesuatu dalam bahasa ibunya kepada kolega di sampingnya. Mereka berdua tertawa.

Jelas saya yang mereka tertawakan.

Akhirnya, tanpa menyinggung lagi soal seratus baht itu, ia membubuhkan cap keluar lalu mengembalikan paspor saya lewat lubang kecil di kaca loket. Hari masih panjang, ia masih punya sekitar delapan jam untuk mengais seratus baht dari setiap pelintas batas.

Dari sana, saya jalan kaki menelusuri rel (yang saat itu masih) mati menuju pos imigrasi Ban Klong Luk, Thailand. Dekat pasar, saya menyeberang ke sisi kiri lalu bergabung bersama puluhan pelintas batas lain di pedestrian kecil samping jembatan. Atap-atap runcing khas Thailand di depan, tiga candi Angkor di belakang. Filter sepia menipis dan dunia terasa lebih ceria ketika saya tiba di pos imigrasi Thailand.

Tapi keceriaan itu langsung hilang begitu saya mendapati antrean imigrasi yang mengular di lantai dua pos Ban Klong Luk. Untuk bergerak dari ujung belakang sampai ke depan petugas imigrasi, saya mesti merelakan waktu 1,5 jam! Satu. Setengah. Jam.

Begitu tiba di luar pos imigrasi, senang sekali rasanya kembali menghirup udara segar yang entah dari mana asalnya. Pohon-pohon di Thailand sini? Tanaman-tanaman di Kamboja sana? Duri-duri konifera di utara?

Saya masih punya waktu sekitar dua jam untuk mengejar kereta api kelas ordinary ke Bangkok dari Stasiun Aranyaprathet, sekitar 5,5 km dari perbatasan. Ingin saya naik ojek tapi enggan menghampiri pangkalan. Ah, pasti nanti ada ojek, atau tuk-tuk, atau angkot (songthaew) merah, yang berhenti melihat saya jalan kaki. Kalau tak ada yang berhenti, sekalian saja saya jalan kaki.

Saya pun semakin jauh dari perbatasan. Namun tak jua kunjung ada ojek, tuk-tuk, atau songthaew yang berhenti. Mungkin mereka sudah terbiasa melihat pejalan yang… berjalan dari perbatasan ke stasiun. Keringat saya mengucur semakin deras; matahari memang sudah hampir tiba di puncak kolong langit.

Semestinya saya tadi ke pangkalan ojek saja.

Di-warp semesta ke Stasiun Aranyaprathet

Akhirnya, setengah jalan menuju stasiun kereta, ada sepeda motor yang berhenti beberapa meter di depan saya, tapi bukan ojek. Motor lanang. Pengendaranya seorang pria berkostum hitam yang barangkali sebaya dengan saya. Ia tak berhelm dan agak kesusahan menjejakkan kaki ke aspal; motornya terlalu tinggi.

“Where do you want to go?” ia bertanya.

“Station,” jawab saya. Dengan gerakan kepala, ia meminta saya meloncat ke boncengan. Tentu saja saya menyambut dengan hati senang. Ia ngebut. Tiupan angin bikin panas berubah jadi sejuk. Tak sampai lima menit, kami tiba di depan Stasiun Aranyaprathet. Cepat sekali. Setengah jam lebih dipangkas jadi kurang dari lima menit; saya merasa seperti seorang awak USS Enterprise yang pesawat antarbintangnya baru saja di-warp, dan orang baik yang mengantarkan saya itu adalah Kapten Sulu.

Begitu menjejakkan kaki di parkiran Stasiun Aranyaprathet, saya ucapkan terima kasih pada orang itu. Ia membalasnya dengan tersenyum.

Saat berjalan ke arah bangunan stasiun yang terbuat dari kayu itu, mata saya melihat tiga orang yang sedang berdiri di sekitar sepeda yang jumlahnya juga ada tiga. Helm sepeda masih bertengger di kepala mereka. Saya berjalan menghampiri. Ternyata mereka adalah keluarga kecil—ayah dan ibu berusia akhir 30 atau awal 40, dan seorang anak—dari Kanada yang sedang bertualang keliling dunia naik sepeda. Sebelum mengaspal di Asia, mereka terbang dari Kanada dan mengayuh pedal melintasi Eropa.

Mereka sedang istirahat sebentar sebelum melanjutkan petualangan ke Kamboja.

Permit-nya apa tidak susah?” saya penasaran.

“Tidak,” jawab sang bapak. Untuk melintasi benua, yang perlu mereka lakukan ternyata hanyalah membongkar sepeda, menitipkannya ke bagasi pesawat yang mereka tumpangi, lalu memasangnya kembali setiba di tujuan.

“Seru, ‘kan?”

Saya menganggu-angguk takzim, lalu menambahkan, “You should write a book about it!”

“Ya, mungkin,” ujar sang ibu tersenyum.

Ketika obrolan sedang seru, loket tiket dibuka dan calon penumpang berbaris membentuk antrean. Kami pun berpamitan. Sebelum berpisah, mereka memberikan kartu nama. Saya cerita pada mereka bahwa esok lusa saya akan kembali ke Siem Reap; saya dan Nyonya—yang besok pagi akan tiba dari Indonesia—hendak ke Angkor Wat.

“Kalau sempat, ayo ngobrol-ngobrol sambil ngebir di Siem Reap,” ajak sang bapak. “Sepertinya kami sudah akan tiba di sana sebelum Natal.”

“Sure! Why not?” Kalau semesta mengizinkan, kenapa tidak?

Saat saya sedang mengantre, mereka mulai siap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Begitu saya tiba di depan loket, mereka sudah melaju ke arah perbatasan Thailand-Kamboja. Bon voyage!

“Kamu tadi jalan kaki dari perbatasan, ‘kan?” perempuan di balik loket tiket bertanya. Mukanya tersenyum geli.

“Iya,” jawab saya, juga tersenyum.

I saw you,” ujarnya.

“Hahaha. Ya, habisnya setelah saya tunggu-tunggu tak ada ojek yang menghampiri.”

Tepat lima menit sebelum jam 2 siang, kereta kelas ordinary itu memulai perjalanan panjang ke barat. Sekitar 6,5-7 jam kemudian, selepas menempuh jarak lebih dari 250 km, ketika terang sudah berubah jadi gelap, hutan lontar digantikan hutan beton, saya akan kembali menjejakkan kaki di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok, menuju sebuah sirkumnavigasi.

63 comments

  1. Alid Abdul · Maret 23

    Loh mas ini perjalanan sampean tahun berapa? Aku ke sana Agustus 2019 loh dan kereta dari Bangkok ke Aranyaprathet dan sebaliknya sudah bisa langsung ke stasiun Ban Klong Luk Border di samping perbatasan pas. Jadi turun kereta tinggal mencolot ke perbatasan hehehe.

    Btw aku kagum sama eyang dari Prancis itu, beberapa ketemu pejalan dari Yurop. Mereka sendiri mengakui kurang begitu canggih menggunakan teknologi ehehe. Masih banyak yang aku lihat pakai peta print dll. Rata-rata begitu sih yang aku temui. Dan pernah ketemu mbak-mbak dari Jerman, dia bilang “traveler Asia canggih-canggih, apa-apa bisa via henpon”.

    • Nasirullah Sitam · Maret 23

      Kalau sesuai yang aku ikuti selama postingan, ini sekitar tahun 2018, Mas.
      Karena ada postingan waktu kemeriahan Vietnam juara AFF lawan Malaysia.

      • morishige · Maret 23

        Iya, Mas. Paruh ketiga November 2018-tahun baru 2019. 😀

    • morishige · Maret 23

      Paruh ketiga 2018, Mas Alid. Kalau nggak salah, dulu pernah baca kalau kereta shuttle Thai-Kamboja itu mulai jalan sekitar awal 2019, ya? Belum sempat nyobain jadinya. 😀 Enak banget kali ya naik kereta? Nggak perlu nego-nego ojek atau tuktuk. Hehehe.

      Eyangnya keren banget memang, Mas. Sayangnya nggak bisa cerita-cerita banyak. Penasaran juga buat tahu gimana rasanya traveling waktu teknologi informasi belum kayak sekarang.

      Hehehe… Keknya mungkin karena kita biasa main gimbod dulu ya, Mas. Terus Nintendo, PS1, 2, 3, dll. Makanya pakai gadget apa pun cepat buat menyesuaikan diri. Hehehe…

  2. CREAMENO · Maret 23

    Waktu saya di Kamboja, beberapa kali naik tuk-tuk tapi yang mirip bajaj itu mas 😆 dan itu good experienced buat saya sampai saya tulis di blog saya, soalnya saya jarang bangettt naik tuk-tuk / bajaj (you named it) 😂 dan di Kamboja kan kebetulan naik tuk-tuk bisa pakai GRAB jadi harganya sudah fix dan bisa bayar pakai credit card. Nah tapi yang mas jabarkan di atas itu, kalau di aplikasi disebutnya Rickshaw 😍 dan saya belum pernah coba, karena terlalu tinggi pijakannya, takut jatuh sayanya 😂

    Di Kamboja, saya punya pengalaman ketemu sama orang Perancis juga, opa opa yang memiliki usaha tour (which is saya join tour historical building yang beliau punya) hihi, dan si opa baik banget, karena traktir saya minum di sebuah restoran sehabis join tournya 😁 sepertinya, banyak orang Perancis di Kamboja (atau berkunjung ke Kamboja) karena Kamboja dulunya kolonial Perancis ya, mas 😆

    Dari cerita mas di atas, saya jadi tau, sepertinya lumrah banget di perbatasan ada pungutan liar. Kok ya selalu diminta uang terus-terusan masnya setiap kali melintas perbatasan 😑 untung mereka nggak memaksa mas kasih 100 THB, lumayan soalnya uang segitu bisa untuk beli makan 😁✌ ohya, masnya habis dari Thailand, besoknya balik lagi ke Kamboja? Lewat jalur darat juga? 😱 salut sama tenaganya 😂

    • morishige · Maret 23

      Wah, keren banget ternyata udah ada aplikasinya. Naik angkutan begini yang jadi turn-off-nya buat saya tawar-menawarnya sih, Mbak. Kalau sudah ada aplikasinya dan harganya fixed, mungkin bakal sering naik kalau berkesempatan ke Kamboja lagi. Kapan-kapan Mbak Eno coba deh naik yang tipe rickshaw ini. Seru! 😀

      Pungli yang baru saya alami di Kamboja, sih, Mbak. Thailand, Malaysia, Singapura (apalagi 🙂 ), Laos, Vietnam, belum pernah dipungli. Untungnya saya sempat intip-intip cerita-cerita para pejalan dan cari tahu dikit-dikit tentang peraturan. Jadi bisa mendebat kalau lagi mood. 🙂

      Iya, Mbak. Jalur darat tapi nggak ngeteng kayak gini. 😀

  3. eL · Maret 23

    di kairo juga namanya tuk-tuk bang yang mirip bajaj itu. Nah pas main ke profinsi matruh itu tuk-tuknya udah bukan bajaj lagi tapi gerobak yang ditarik motor, entah mirip gak dengan yang di kamboja itu.

    • morishige · Maret 24

      Dilihat dari deskripsinya, kayaknya sama deh eL. Jadinya cuma kayak motor dikasih cantelan, terus gerobaknya disangkutin di cantelan itu. Kayak odong-odong lah, tapi ditarik pakai motor. 😀

  4. Titik Asa · Maret 24

    Hahaha…masih enak zamanku tokh? Ah ada-ada saja nih Mas…

    Itu yg 100 baht uang untuk apa ya Mas? Itu malak gaya orang sana kali ya Mas, jadi mereka gak bisa menjelaskan untuk apa nya. Untung ngeyel dikit, kalau gak melayang 100 bahtnya.

    Saat Mas kesana, kereta api nya masih pakai kipas angin rupanya. Apa sekarang masih begitu ya? Barangkali sudah ber-AC seperti kereta api disini.

    Saya nantikan tulisan selanjutnya dan foto-fotonya juga, Mas. Dan kalau gak keberatan, tuliskan juga keterangan dibawah fotonya ya Mas.

    Salam dari saya di Sukabumi.

    • morishige · Maret 24

      Hahaha… Lagian lebih enak sekarang sih, Pak. Nggak mungkin bisa bebas beropini kalau dulu (meskipun sekarang juga kayaknya nggak terlalu mudah).

      Pungli aja, Pak Asa. Kalau ada biaya tambahan, pasti peraturannya akan ditempel di kaca atau bilik imigrasi. Yang ini nggak ada. 😀

      Dunia perkeretaapian Thailand ini agak unik, Pak Asa. Mereka punya rentang kelas gerbong kereta dari 1, 2, sampai 3. Kelas 1 yang paling mewah, kelas 2 menengah (versi non-AC kelas 1). Yang saya tumpangi dalam cerita ini kelas 3 (ordinary). Wujudnya seperti kereta ekonomi sebelum zaman Jonan, masih pakai kipas angin, tapi jendelanya bisa dibuka lebar-lebar. Kereta seperti yang saya tumpangi itu sampai sekarang masih ada, Pak Asa. 🙂

      Terima kasih, Pak Asa. Saran yang menarik, Pak. Di tulisan selanjutnya akan saya coba berikan keterangan di bawah foto. 😀

      • Himawan Sant · Maret 26

        Ternyata ada juga pungli disana ckcckk …

        Bisa bikin kapok turis datang sikap rendah seperti itu.

      • morishige · Maret 26

        Mungkin Kamboja memang baru sampai di era itu, Mas. Pasti berat banget bagi orang Kamboja buat bangkit dari sejarah kelam Khmer Merah. Badan PBB untuk Kamboja aja baru masuk tahun 1992 dan mulai benerin ekonomi Kamboja.

        Karena secara ekonomi kita lebih maju, saya cuma bisa berharap praktik di perbatasan kita di sini nggak seperti di situ. 🙂

      • Titik Asa · Maret 26

        Pungli ya Mas? Duh koq mirip dengan disini ya kalau bicara fenomena pungli. Ada seperti begitu juga disana ya.

        Oh demikian model perkeretaapian disana Mas masih ada yang non-AC. Dulu yang zaman non AC banyak pedagang asongan hilir mudik selama perjalanan. Gak tahu apa disana juga ada semacam pedagang asongan begitu pada kereta non AC.

        Ditunggu kelanjutan kisah perjalanannya Mas.

        Salam,

      • morishige · Maret 26

        Soal pungli di perbatasan Indonesia, saya belum bisa beropini, Pak. Soalnya belum bener-bener nyeberang lewat perbatasan Indonesia, cuma keliaran di zona netral dan masuk negara sebelah sebentar saja.

        Di kereta kelas 2 dan kelas 3, pedagang asongan masing ada, Pak. Sebagian besar jualan makanan dan minuman. Menariknya, pedagangnya pasti akan pakai celemek pas berdagang, Pak. 😀

        Ok, Pak Asa. Terima kasih sudah kembali mampir. 🙂

      • Titik Asa · Maret 26

        Rapi juga ya Mas pedagang asongan dengan memakai celemek begitu. Barangkali itu salah satu syarat untuk dapat berjualan di kereta ya Mas?

        Salam,

      • morishige · Maret 26

        Kalau saya lihat-lihat, pedagang makanan di Thailand memang bercelemek semua, Pak. Nggak cuma di kereta, tapi juga yang jualan di pinggir jalan, di pasar malam, di warung. Sudah jadi semacam budaya gitu, Pak.

      • Titik Asa · Maret 27

        Budaya melayani pelanggan sudah tumbuh dengan baik disana ya Mas. Salut untuk hal ini.

        Salam,

      • morishige · Maret 30

        Iya, Pak Asa. Barangkali salah satu pengalaman ajaran Buddha. 🙂

  5. andrieidmedia · Maret 25

    Wahhh salut nih sama perjalanannya buat melewati perbatasan itu, saya sebenarnya belum terlalu paham bagaimana bisa masuk dan keluar negara orang lain, apalagi yang harus berurusan dengan kantor atau urusan-urusan tertentu di tiap negara. Ada keinginan untuk bisa trip seperti ini, namun sampai saat ini saya tidak menemukan cerita yang mengkhususkan bagaimana orang bisa trip ke negeri orang yang baik dan benar di berbagai web/blog, mulai dari apa yang dibutuhkan, prosesnya kemana kemana, sehingga trip yang kita lakukan di negara tersebut bisa nyaman dan bebas dari pelanggaran di negara tersebut. Maap nih saya belum pernah kesana, jadi tidak ada gambaran lokasi disana seperti apa..

    • morishige · Maret 25

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar, Mas Andrie.
      Untuk menemukan informasi soal itu, barangkali Mas Andrie bisa mencari di mesin pencari. Mungkin sebuah tulisan nggak secara menyeluruh memberikan informasi, tapi tentu saja kita bisa menjahit informasi yang diperoleh supaya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

  6. Wah kereta apinya unik, jadi ingat PJKA jaman-jaman dulu…

    • morishige · Maret 26

      Bener banget. Kayak zaman-zamannya kereta ekonomi masih belum ada AC-nya. Di kereta ekonomi Thailand pedagang asongan masih boleh masuk juga. Jadi bisa jajan hehehe…

  7. Ella Fitria · Maret 27

    Selalu senang baca ceritamu mas. Berasa di ajak jalan2 bneran. Hihihi
    Tuk tuk tak kira nama apaan td, beruntung ada orang baik hati mengantar ke stasiun yaa..

    • morishige · Maret 30

      Terima kasih, Mbak Ella. 🙂

      Di pinggir Danau Toba, “tuktuk” malah nama daerah, Mbak. Ajaib banget ya satu kata bisa punya arti yang beragam?

      Iya, beruntung banget. Hemat tenaga jadinya. 🙂

  8. Indonesia Hebat · Maret 28

    Tuk tuk nya mengingatkan pada bayangan becak di padang atau bentor di medan ya mas 😁

    Tetap ya mas, disetiap negara dan perbatasan ada oknum yang mencoba mencari tambahan ke setiap wisatawan yang melintas.

    • morishige · Maret 30

      Iya, Greatnesia. Gerobaknya bikin inget sama bendi hahaha. 🙂

      Bener. Tinggal gimana kita membekali diri dengan informasi saja supaya nggak kena. 🙂

  9. Agus Warteg · Maret 28

    Oh tuk tuk di Thailand itu mirip delman yang panjang tapi yang narik motor ya kang.

    Enaknya kalo jalan jalan keluar negeri itu kadang ketemu sama orang berbagai belahan dunia ya kang, sepertinya ketemu orang Prancis.

    Emang candi Prambanan itu mirip Angkor wat Kamboja ya kang? Soalnya bapak Prancis itu membandingkan seperti itu.😃

    • morishige · Maret 30

      Iya, Mas Agus. Kurang lebih seperti itu.

      Iya, Mas. Jadi bisa dapet cerita-cerita baru. Nggak jarang juga kita bisa dapat kesempatan buat bercermin soal diri kita sendiri. Pertemuan-pertemuan itu bermanfaat sekali deh pokoknya.

      Sekilas memang mirip, Mas Agus. 🙂 Tapi nggak ada Bandung Bondowosonya. 😀

  10. Zam · Maret 29

    soal pejalan sepeda. dulu pernah berjumpa orang dari Korea, bercita-cita keliling dunia pakai sepeda. kami berjumpa saat dia mampir di Padang. awalnya dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, akhirnya bahasa Inggrisnya mulai lancar setelah berkeliling dunia. lama tak jumpa, dapat kabar beliau meninggal kecelakaan di Iran. sempat 2 minggu tidak ada kabar di Facebook, keluarga melacak keberadaannya dan mendapat kabar. dia meninggal tersambar truk saat bersepeda. 😦

    • morishige · Maret 30

      Astaga. Sedih dengar ceritanya.

      Keknya emang yang tricky banget itu pas sepedaan di ruas-ruas yang jauh dari mana-mana, Kang. Nggak ada sinyal, nggak ada rumah, cuma jalur kendaraan. Pas baca bukunya Mas Paimo tentang sepedaan di Amerika Selatan itu aja saya bergidik. Apalagi pas lewat jalan-jalan sepi, hari sudah malam, nggak ada tempat nginap dan mesti kemping di antah berantah. Mana dingin pula.

      Btw, dulu waktu saya kecil sering lihat turis manca sepedaan melintasi Sumatera Barat. Biasanya mereka sepasang. Tapi mulai SMP dulu sampai lulus SMA sudah jarang sekali lihat turis-turis manca yang sepedaan di Sumbar.

  11. bara anggara · Maret 30

    Malah terkadang kita yang suka mengglorifikasi jaman kita ya,, terutama masa kecil kita tahun 90an (eh millenial juga kan? 😀 )..

    Dalam perjalanan panjang seperti ini terkadang kita bertemu dengan banyak “orang gila” yaa,, tapi seru bgt sih, bumbu2 perjalanan yang memperkaya wawasan kita dan bikin kita terheran2 “oh ada ya orang kaya gitu”..

    -Traveler Paruh Waktu

    • morishige · Maret 30

      Yoi, milenial juga hahaha… Kadang merasa malu juga kalau nggak sadar, dibawa suasana, jadi mengglorifikasi zaman 90-an yang “katanya” seru itu. Ngebanggain Lupus lah, Tazos lah, kartun TPI atau Indosiar lah. Keknya tiap zaman seru buat orang-orang yang hidup di zaman itu, sih. 😀

      Iya, Bung. Sepakat sama Bung Bara. Cerita-cerita itu jadi bumbu-bumbu yang bikin hidup jadi lebih berwarna, ngasih kita sudut pandang baru, ngeluarin dari kacamata kuda… Keknya itu yang bikin perjalanan jadi candu, ya? 😀

  12. Ping-balik: Sirkumnavigasi dan Bangkok | jejaka petualang
  13. Rudi Chandra · Maret 31

    Jaman sekarang emang lebih mudah karena banyak hal bisa kita lakuin dengan modal hp doang.

    Btw ngeri juga ya, 100 Bath. Bisa bikin kaya juga tuh kalo kerjanya bertahun-tahun. 😑

    • morishige · Maret 31

      Bener, Mas Rudi. Nggak perlu repot-repot lagi buat nyari info dan pesan transpor juga akomodasi. Beda banget kayaknya sama zaman dulu.

      Ngeri banget kalau diakumulasikan itu. Saya pernah baca juga di catatan perjalanan blogger lain soal pungli ini, di tempat ini juga. Berarti memang bukan cuma iseng-iseng doang itu. 😀

  14. Anggie · April 2

    Salah satu cita-cita saya untuk bersepeda keliling dunia 😀

    • morishige · April 2

      Bakal jadi cerita yang berkesan banget itu, Mas Anggie. 😀

  15. Afin Yulia · April 3

    Bilangin ke Kapten Sulu-nya, itu warp kecepatan penuh apa gimana? Bisa ngeri-ngeri sedap juga kalau yang antar dia 😀😀😀

    • morishige · April 3

      Hahaha… Kecepatan penuh tanpa helm. 😀

      Tapi yang bikin was-was itu kalau yang ngantar Mr Spock, Mbak Afin. Dingin, tanpa emosi. 😀

  16. omnduut · April 8

    Njir itu petugas ngetes. Kalau kita gak nanya, “what for?” bakalan dapet 100 baht. Lumayan banget buat beli mango sticky rice hwhw.

    • morishige · April 8

      Iya, Om. Untung dikit-dikit ngerti soal bebas visa ASEAN. Kalau nggak tau, mungkin udah menyerah dan langsung ngasih begitu aja. 😀

      100 baht bisa dapet 20 potong tempura 5-baht-an itu 😀

      • omnduut · April 8

        Iya, aku sering baca juga soal “pemalakan” model ini. Heran di zaman gini masih ada. Eh 2018 ya ini? semoga di 2020 praktik begini gak ada lagi.

      • morishige · April 8

        Iya, Om. Ini 2018 bulan Desember. Ternyata nggak cuma saya aja yang ngalamin dipalakin di perbatasan Kamboja-Thailand itu, Om. Ada beberapa blog dan vlog nyeritain soal itu juga. Tapi banyak yang pada pasrah dengan berbagai alasan (males berargumen karena takut kemalaman, misalnya).

  17. Putri Sarinande · April 8

    tukaaaaan bener Angkor Wat. huaaaaaay. soalnya ini dari kemarin-kemarin sedang asyik bantu-bantu jadi pembantu, yang penelitian relief Ramayana di kompleks Candi Prambanan. haghaghag duh pingun ke Angkor Wat. dan lihat cewe2 ganteng di jalanan ibukota HA HA HA 😀 😀 😀

    dari semalam lihat ini, mw menanggapi keburu sibuk meriksa bulan purnama. ahahahhaaa

    • morishige · April 8

      Wah menarik banget itu, Kaks! Mesti dapet banyak cerita selain soal Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso 😀

      Angkor Wat itu luasnya bukan main ternyata. Pasti Mbak Putri jingkrak-jingkrak pas tiba di sana 😀

      • Putri Sarinande · April 14

        iyaaaaaaak. nanti maen aaaah sono. salam buat nyonya. dan terima kasih, sudah saling berteman di WordPress 😀 😀 😀

      • morishige · April 15

        Siap, Kaks. Terima kasih jugaaa…. 😀

  18. I wonder what the length of those immigration queues at Ban Klong Luk are like now.

    • morishige · April 10

      Several days ago a friend in Kanchanaburi texted me. We chatted and she said her hostel has been closed for nearly two months. I guess Thai’s immigration posts are quite deserted these days. 😦

      • Oh my, I am so sorry to hear abuot your friend’s hostel being closed. The pandemic has wreaked such havoc on the travel industry. I hope that she is able to reopen when circumstances permit.

      • morishige · April 13

        I hope so. Yeah, I guess now human must lay really low for some time. We need to give earth a break. 🙂

  19. Daeng Ipul · April 10

    Saya pernah ketemu penjelajah bersepeda. Mereka (pasangan suami-istri) bersepada setahun lebih dari Perancis masuk ke Asia tengah, terus masuk China, masuk Indochina lalu terbang ke Indonesia. Buset deh, tahan benar ya setahun lebih di jalan pakai sepeda 😅

    • morishige · April 11

      Hehehe… Cerita-cerita kayak gitu mengagumkan banget ya, Daeng. Ada juga lho yang naik kuda dari Mongolia sampai Hungaria 3,5 tahun. Hahaha…

  20. Bang Ical · April 13

    “Kalau semesta mengizinkan, kenapa tidak?” 🙂

    Tahun lalu saya nyaris mengunjungi Thailand, dari Malaysia. Sayang sekali tidak jadi. Padahal saya sudah membayangkan akan bertemu para petarung Muaythai. Kabarnya, selain bertarung, mereka pandai memijit. Saya ingin minta diluruskan tulang punggung saya –“

    • morishige · April 13

      Manusia bisa berkehendak, Semesta yang menentukan, ya, Bang Ical? Kadang bener-bener nggak bisa ditebak, sih, ke mana kita bakal dibawa. Barangkali di kesempatan selanjutnya, petualangan Bang Ical jadi jauh lebih seru ketimbang kalau perginya kemarin.

      Hehehe… Awas, Bang Ical, nanti remuk semua itu tulang. Mending ke tukang pijit beneran aja. 😀

      • Bang Ical · April 13

        Kapan-kapan, kalau abang ke Lombok, berkabarlah. Mudah-mudahan semesta mendukung saya mentraktir sepiring sate terenak di sini 😉

        Badanku butuh yang ekstrem Bang 😂

      • morishige · April 13

        Siap, Bang Ical. Nanti kalau ditiup ke Lombok, makan sate dan ngopi-ngopi kita di sana. Pasti seru itu ngobrol-ngobrolnya. 😀

        Tahan-tahan dulu, Bang Ical, yang ekstrem-ekstremnya. We must survive first! 😀

        Btw, masih mancing-mancingkah di Lombok? 😀

      • Bang Ical · April 13

        Siaaaap:-D

        Sudah berhenti, sudah diincar patrol satpol PP malam-malam>_<

      • morishige · April 13

        Kayaknya memang mesti puasa dulu ya, Bang. Hehehe 😀

      • Bang Ical · April 13

        Sudah harus puasa, betul. Kalau dilanggar bukan bukan dosa yang didapat, tapi virus 😁

      • morishige · April 13

        Yoih. 😀

  21. Ping-balik: Naik Bus dari Bangkok ke Siem Reap | jejaka petualang
  22. Ping-balik: Mengejar Kereta menuju Bangkok | jejaka petualang

Tinggalkan Balasan ke andrieidmedia Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s